Wa'alaikum salam wr wb,

Dalam Al Fatihah kita hanya bertawasul dgn nama Allah
(Bismillah) dan kita hanya menyembah dan meminta hanya
kepada Allah (iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin).

Nah yang jadi masalah dalam sholawat Badar orang
berdo'a bukan hanya dengan perantaraan nama Allah,
tapi juga nabi dan para mujahidiin. Ini yang jadi
kontroversi.

Inilah lirik Shalawat Badar yang jadi kontroversi:

Tawassalna Bibismillah (ini masih sesuai tuntunan
Allah dan rasulnya).

Wabil Hadi Rasulillah (dengan petunjuk rasulullah)
Wakulli Mujahidilillah (dan semua mujahid Allah)
Bi Ahlil Badri Ya Allah  (dan peserta perang Badar)

Penyakit sebagian ummat Islam adalah taqlid atau
membeo tanpa paham artinya. Meski isi syair
bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadits, karena
dirasa enak terus saja mereka ikuti.

Sesatnya orang2 nasrani dan Yahudi karena mereka
mengikuti para pendetanya secara membabi buta meski
ulamanya sudah tidak berpegang lagi kepada kitab suci.
Semoga kita tidak seperti itu. 

5. Al Maa'idah 
63. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta
mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan
bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk
apa yang telah mereka kerjakan itu.  

9. At Taubah 
31. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan
rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan
(juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam,
padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.
Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. 
 
[639]. Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran
orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi
buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu
menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.
 

9. At Taubah 
34. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya
sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan
rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang
dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi
(manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang
menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada
jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa
mereka akan mendapat) siksa yang pedih,  

Saat ini masih ada sebagian ulama yang lurus yang
mencoba mengkoreksi penyimpangan ini. Mudah2an kita
semua mengikuti ulama yang sesuai dengan Al Qur'an dan
Hadits.

Mungkin tulisan saya sebelumnya bisa jadi bahan
referensi.

Wassalam

Benarkah Do’a “Ya Robbi bil Musthofa”?   Message List 
  

Reply | Forward | Delete   Message #13143 of 13156 <
Prev | Next >  

Assalamu’alaikum wr wb,

Di berbagai pengajian sering didendangkan “do’a”, “Yaa
robbi bil musthofaa balligh maqoosidana waghfir lana
ma maadlo...” Artinya adalah: Ya Tuhanku dengan
perantaraan Musthofa (Nabi Muhammad) sampaikanlah
maksud kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang lalu...

Doa tersebut tidak ada di Al Qur’an mau pun hadits.
Para ulama besar seperti Imam Syafi’ie, Imam Maliki,
dsb juga tidak pernah mengajarkan do’a seperti itu.
Lalu apakah karena itu doa tersebut tidak boleh ?

Tentu tidak. Doa bisa dilakukan dengan bahasa apa saja
serta kata-kata kita sendiri. Tapi tetap ada aturannya
misalnya tidak boleh berdo’a kepada selain Allah dan
juga tidak boleh berdo’a yang bertentangan dengan
syariat seperti meminta agar orang-orang kafir yang
telah meninggal diampuni dan dimasukkan ke sorga atau
meminta agar orang yang tidak berdosa ditimpa
kecelakaan.

Yang jadi masalah adalah do’a tersebut tidak meminta
langsung kepada Allah. Tapi memakai perantaraan Nabi.

Ini tentu saja sudah seperti kelakuan orang-orang
kafir Quraisy yang memakai berhala untuk mendekatkan
diri kepada Allah meski mereka tidak menyembah
berhala:

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih
(dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil
pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan
kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya."
Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka
tentang apa yang mereka berselisih padanya.
Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang
pendusta dan sangat ingkar.” [Az Zumar:3]

Karena memakai perantaraan itulah mereka disebut
musyrik.

Itu juga seperti kelakuan orang-orang Nasrani yang
memakai perantaraan Yesus untuk mendekatkan diri
kepada Tuhan Allah.

Padahal di dalam Al Qur’an dan Hadits, Allah dan Nabi
mengajarkan untuk meminta langsung kepada Allah.
Ud’uuni astajib lakum. Mintalah padaKu niscaya
Kukabulkan, kata Allah.

Dalam surat Al Ikhlas disebut Allahush Shomad. Allah
tempat meminta.

Do’a-do’a yang berasal dari Al Qur’an dan Hadits serta
yang diamalkan oleh para imam Madzhab tidak ada yang
pakai “Bil Musthofa” (dengan perantaraan Musthofa).
Coba perhatikan do’a sebagai berikut:
“Robbighfir lii” (ya Allah ampunilah aku). Bukan Robbi
bil musthofaghfir li (Ya Tuhanku dengan perantaraan
Musthofa ampunilah aku)
“Robbana aatina” (Ya Tuhan kami berilah kami). Bukan
Robbana bil musthofa aatina.
“Allahumma inni a’udzubika” (Ya Allah sesungguhnya aku
berlindung padaMu). Bukan Allahumma bil Musthofa...
“Allahumma nawwir quluubana...”, dsb

Tidak ada satu pun do’a yang diajarkan Allah lewat Al
Qur’an dan Nabi lewat hadits-haditsnya yang
menganjurkan doa dengan perantaraan Musthofa. Tidak
pula para imam Mazdhab. Oleh karena itu hendaknya kita
tidak ikut taqlid (membeo) sesuatu yang tidak kita
ketahui.

Dengan memakai bil Musthofa ada kesan kita telah
mengangkat posisi Nabi Muhammad seperti orang Nasrani
mengangkat posisi Nabi Isa menjadi sekutu Allah.
Padahal dalam surat Al Ikhlas disebut wa lam yakun
lahu kufuwwan ahad (dan tidak ada sekutu bagi Allah).

Itu tentu sudah musyrik. Kaum Nasrani menganggap hanya
dengan perantaraan Yesus lah mereka bisa selamat. Nah
jika kita berkata hanya dengan perantaraan Nabi
Muhammad bisa selamat, apa bedanya kita dengan ummat
Nasrani.

Ummat Nasrani hanya menganggap Yesus sebagai anak
Tuhan meski Al Qur’an menegaskan lain:

“Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul
yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa
rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar,
kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan
bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab)
tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah
bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan
ayat-ayat Kami itu). “ [Al Maa’idah:75]

Nah, Nabi Muhammad juga merupakan manusia biasa:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.
Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat
kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [Ali
‘Imran:144]

Meski Allah menganjurkan kita bershalawat kepada Nabi
Muhammad, namun hendaknya sholawat yang kita lakukan
sesuai dengan tuntunan yang diberikan Allah dan
Rasulnya. Tidak berlebih-lebihan:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah [1230] kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [Al Ahzab:56]



[1229]. Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti
memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan
ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti
berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan
perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad.

[1230]. Dengan mengucapkan perkataan
seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga
keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi.

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita untuk teguh
berpegang kepada Al Qur’an dan Hadits dan tidak
menyimpang dari ajaran Imam Madzhab yang 4.

Wassalamu’alaikum wr wb 

--- IPD Wiska Susetio <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> 
> 
> 
> Wa'alaikum salam warohmatullaahi wabarokaatuh.
> 
> Barangkali agar kita lebih mudah memandangnya,
> sholawat kepada Rasulullah
> sholallaahu 'alaihi wa sallam itu memiliki 2 aspek,
> yakni
> - lafadzh bacaannya
> - doa dan penghormatan bagi beliau
> 
> Setiap sholawat yang diucapkan bagi baginda Rasul
> tentu telah mencakup doa dan
> penghormatan bagi beliau, yang mendapatkan barokah
> dan pahala doa dari Allah.
> 
> Akan tetapi bagi lafadzh-lafadzh sholawat yang
> bersumber dari Allah diajarkan
> langsung oleh Rasulullah (yang terdapat dalam
> hadits-hadits shohih), terdapat
> rahasia-rahasia yang belum tentu kita ketahui,
> berkaitan dengan barokah dan
> balasannya di sisi Allah yang KHUSUS BERKAITAN
> DENGAN BACAAN, LAFADZH. Sehingga
> bagi yang membaca sholawat dengan lafadzh bacaan
> yang diajarkan langsung dari
> Rasulullah ini, selain mendapatkan pahala doa, juga
> mendapatkan pahala dan
> barokah melalui bacaan.
> 
> Adapun lafadzh-lafadzh sholawat bikinan manusia, hal
> ini mirip sya'ir, yakni
> ungkapan-ungkapan ekspresi kecintaan yang dituangkan
> dengan gubahan sastra yang
> indah. Jadi seperti puisi saja. Sebagai ungkapan doa
> mungkin ada pahala doa-nya.
> Akan tetapi dari sisi bacaan dan lafadzh tidak ada
> jaminan suatu pahala dan
> barokah yang KHUSUS BACAAN yang tersembunyi. Jaminan
> pahala dan barokah KHUSUS
> BACAAN ini hanya ada bagi lafadzh yang bersumber
> langsung dari Allah melalui
> Rasulullah.
> 
> Kalau kita berkeyakinan bahwa puisi bikinan manusia
> yang tidak ada dalam hadits
> shohih ini memiliki suatu barokah KHUSUS MELALUI
> BACAAN, maka kita harus
> mendatangkan dalil hujjah yang shohih dan rojih
> (kuat), kalau tidak maka
> keyakinan tersebut adalah mengada-ada, klaim tak
> berdasar, atau disebut sebagai
> bid'ah.
> 
> Jadi sholawat Badar, Nariyah, Barzanji, dsb, itu
> anggap saja sebagai puisi, atau
> bacaan sastra lainnya. Kalau mau dibaca ya
> boleh-boleh saja, tapi untuk
> memahaminya memerlukan APRESIASI SASTRA, jadi jangan
> dibaca seperti membaca
> kitab kajian ilmiah atau polos-polos saja, nanti
> malah bisa salah paham. Tentu
> saja kecintaan membaca puisi tentang Rasulullah ini
> memiliki nilai tersendiri
> dari sisi doa, penghormatan dan kecintaan kepada
> beliau. Tapi hanya melalui
> lafadzh sholawat yang shohih dari Rasulullah saja
> lah, selain nilai doa dan
> penghormatan kita juga mendapatkan barokah khusus
> dari kesakralan bacaannya
> sendiri.
> 
> Wallaahu 'alam,
> 
> = Wizh =
> 
> 
> 
> Please respond to Milis is-lam
> <[email protected]>
> 
> To:   "Milis is-lam" <[email protected]>
> cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)
> 
> Subject:  [is-lam] sholawat badar
> 
> 
> 
> Assalamu alaikum warrohmatullohi wabarokatuh
> 
> Hari ini saya menonton acara TV yg diisi oleh ustadz
> Jefri, beliau
> menyanyikan sholawat badar seperti yg kita tahu
> lafadznya, mohon
> dijelaskan tentang hokum sholawat badar boleh apa
> tidak, karena saya
> pernah di nasehati saudara bahwa itu tidak boleh,
> tapi saya tidak paham
> arti sholawat badar  itu. Jika itu tdk boleh apakah
> ustadz jefri tidak
> menyesatkan umat karena itu duliput oleh umat, dan
> sekiranya boleh
> alangkah baiknya hilang keragu2an dalam hati saya,
> terima kasih
> 
> Abdullah
> 
> 
> 
> _______________________________________________
> is-lam mailing list
> [email protected]
>
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
> 


===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
http://www.media-islam.or.id


 
____________________________________________________________________________________
Yahoo! Music Unlimited
Access over 1 million songs.
http://music.yahoo.com/unlimited
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke