Ada tulisan bagus, enjoy!

Salam hangat
B. Samparan

MENJAGA PEMIKIRAN DI BULAN RAMADHAN
Oleh: Adian Husaini

Suatu ketika, di akhir bulan Sya’ban, Rasulullah saw berpidato di hadapan para 
sahabat: “Wahai manusia, sungguh kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung dan 
penuh berkah;  yakni bulan yang di sana ada satu malam yang lebih baik dari 
seribu bulan; bulan yang Allah jadikan puasanya  suatu kewajiban dan ibadah di 
malam harinya suatu tathawwu’. Barangsiapa yang mendekatkan dirinya kepada 
Allah dengan suatu amalan (sunnah) di bulan itu, maka samalah dia dengan orang 
yang mengerjakan amalan fardhu di bulan lain. Dan barangsiapa mengerjakan 
amalan fardhu di bulan Ramadhan, samalah dia dengan orang yang mengerjakan 
tujuh puluh fardhu di bulan lainnya. (HR. Ibn Khuzaimah dari Salman r.a.).

Sebagai Muslim kita yakin, bahwa bulan Ramadhan berbeda dengan bulan-bulan 
lainnya. Kita bukan penganjut empirisisme atau rasionalisme yang hanya 
mempercayai hal-hal yang terindera. Secara inderawi, bulan Ramadhan memang 
tidak berbeda dengan bulan-bulan lain. Di pagi hari, matahari terbit dari 
Timur, panas di siang hari, dan sore harinya matahari terbenam di Barat. Yang 
menjadikan Ramadhan berbeda dengan bulan lain adalah iman. Orang Muslim yang 
beriman kepada wahyu yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw pasti akan menyikapi 
bulan Ramadhan dengan cara yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

Karena itulah, sebagai Muslim, kita pun meyakini ada keistimewaan yang luar 
biasa di bulan Ramadhan; bulan yang penuh berkah, penuh ampunan Allah. Di bulan 
ini, amalan sunnah di catat oleh Allah laksana amal fardhu; dan amal fardhu 
dicatat pahalanya 70 kali lipat amal yang sama di luar bulan Ramadhan. Karena 
kita yakin dengan adanya hisab (perhitungan amal) di Hari Akhir, tentu kita 
tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang diberikan Allah untuk meraih 
pahala yang besar di bulan ini.

Karena begitu besarnya ’bonus’ pahala yang dijanjikan, sebagai Muslim kita juga 
diajarkan agar senantiasa berhati-hati dalam menjaga amal ibadah kita di bulan 
Ramadhan. Sebab, disamping janji pahala yang besar, kita juga ingat, ada 
berbagai jenis virus atau parasit amal  -- seperti sikap hasad (dengki), riya’ 
– yang dapat merusak pahala amal. Amal ibadah perlu dijaga benar-benar niat dan 
keikhlasannya. Kita puasa karena mengharapkan keridhaan Allah. Begitu juga 
dengan berbagai amal ibadah lainnya.

Imam al-Ghazali menceritakan dalam Ihya’ Ulumuddin, satu hadits riwayat Imam 
Muslim, bahwa ada tiga orang yang telah berbuat amal yang besar tetapi amalnya 
sia-sia karena dilakukan untuk mencari pujian manusia. Seorang yang gugur di 
jalan Allah yang amalnya sia-sia karena dia melakukan tindakan itu karena 
mengharapkan pujian manusia, agar dia dikatakan sebagai orang pemberani. 
Seorang lagi banyak bersedekah tetapi sedekahnya itu diniatkan agar dia dipuji 
sebagai orang pemurah. Dan yang terakhir seorang yang banyak membaca Kitab 
Allah,  tetapi niatnya bukan mencari keridhaan Allah melainkan hanya mencari 
pujian manusia, agar dia dikatakan sebagai orang yang ahli dalam membaca Kitab 
Allah.

Rasulullah saw juga bersabda: “Aku sangat khawatir akan kemusyrikan yang 
menimpa umatku; mereka tidak menyembah berhala, tidak menyembah matahari, bulan 
atau batu, tetapi mereka riya’ terhadap amal ibadah mereka.” (HR Ibn Majah dan 
Al-Hakim, dalam Ihya’ Ulumuddin).

Itulah sebagian contoh parasit amal yang sangat ganas, yakni riya’. Tapi, ada 
jenis parasit amal lainnya yang lebih ganas dari itu semua, yaitu riddah 
(kemurtadan). Riddah adalah tindakan yang dapat mengeluarkan seseorang dari 
ad-Dinul Islam. Riddah bukan hanya merusak pahala amal, tetapi menghancurkan 
seluruh bangunan keimanan. Syekh Nawawi al-Bantani menguraikan masalah riddah 
ini secara panjang lebar dalam syarahnya atas Kitab Sullamut Taufiq.  
Dijelaskan, bahwa riddah adalah tindakan yang dapat merusak atau membatalkan 
keislaman seseorang.

Karena itulah, kita perlu berhati-hati agar jangan sampai terkena penyakit 
ganas yang bernama riddah ini. Caranya tentu saja dengan membersihkan hati dan 
pikiran kita dari hal-hal yang bisa merusak keimanan, seperti paham-paham yang 
meragukan kebenaran Islam, yang meragukan kenabian Muhammad saw, yang meragukan 
Al-Quran, paham yang mendukung kemuyrikan, mendukung kebebasan untuk 
bermaksiyat, dan sebagainya.

Kita tidak perlu mengikuti paham yang menyama-nyamakan semua agama. Kita tidak 
perlu ikut-ikutan paham yang menghujat kesucian Al-Quran. Kita tidak perlu 
silau dengan pemikiran yang menyatakan bahwa semua orang yang berserah diri 
kepada Tuhan – siapa pun Tuhannya dan dengan cara apa pun ibadahnya – adalah 
Muslim, karena ia telah mengikuti “islam” dalam makna generiknya, yaitu 
“berserah diri”. Kita tidak perlu ikuti paham yang melecehkan dan menganggap 
remeh syariah Islam. Kita tidak perlu ikut-ikutan orang yang menghalalkan 
pornografi dan pornoaksi dengan alasan kebebasan berekspresi.

Memang aneh! Di bulan Ramadhan kali ini, masih saja ada yang tidak takut untuk 
menyebarkan pemikiran-pemikiran yang jelas-jelas salah. Dalam salah satu acara 
pelatihan mahasiswa Islam, di satu kota di Jawa Barat, pada awal Ramadhan lalu, 
ada seorang instruktur yang menyebarkan pemahaman yang keliru tentang Islam. 
Dia menyebutkan bahwa Islam harus diartikan dalam makna generiknya, sebagai 
agama berserah diri kepada Tuhan. Pemahaman semacam ini bukan hal baru, tetapi 
meskipun terbukti lemah hujjahnya, tetap saja dikembangkan ke tangah masyarakat.

Dalam sebuah buku berjudul Islam Mazhab HMI (2007), dijelaskan juga tentang 
makna Islam secara generik:

“Dengan demikian bisa dikatakan setiap agama yang mengajarkan sikap pasrah dan 
tunduk kepada Allah harus disebut dengan islam (dalam makna generiknya) 
walaupun ajaran lokalnya berbeda-beda, dan tentu saja akan mendapat perkenan 
Tuhan. Tidak hanya agama semitik (Abrahamic religions) yang mendapat perkenan 
Tuhan, agama-agama lainnya  juga, seperti Hindu-Budha, Konghucu dan sebagainya 
akan mendapat perkenan Tuhan (rida) selama agama tersebut mengajarkan sikap 
tunduk dan pasrah kepada Tuhan (islam). (hal. 10).

“Sampai di sini, sejatinya pengertian islam harus dipahami dalam makna 
generiknya, yaitu sikap pasrah dan tunduk kepada tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal 
ini, tidaklah terlalu tepat jika islam dibatasi hanya untuk agama yang dibawa 
oleh Nabi Muhammad SAW.” (hal. 11).

Buku yang ditulis oleh dosen Fakultas Syariah IAIN Medan ini sayangnya 
dikatakan sebagai ‘Islam mazhab HMI’.  Pendapat ini memang disandarkan pada 
pemikiran tokoh HMI,  Nurcholish Madjid, yang entah kenapa masih saja 
dikeramatkan oleh sebagian kalangan.

Padahal, tidaklah memerlukan akal yang terlalu cerdas untuk mempertanyakan 
kesahihan pendapat semacam itu. Jika semua agama diridhai oleh Allah, untuk apa 
Nabi Muhammad saw mengajak umat manusia untuk memeluk Islam dan mengakuinya 
sebagai utusan Allah?

Apa kriteria sikap pasrah kepada Tuhan? Bagaimana cara pasrahnya? Apakah 
menusia bisa seenaknya sendiri mereka-reka cara pasrah kepada Tuhan? Lalu, 
pertanyaan berikutnya, siapa Tuhan yang dituju dalam kepasrahan itu? Yahwehkah? 
Allah? Yesus? Iblis?  Genderuwo?  Tuhan yang mana? Apakah Allah memperbolehkan 
manusia memanggil nama-Nya seenaknya sendiri? Bolehkah manusia memanggil Allah, 
misalnya, dengan panggilan “Bos”?

Maka, dari kacamata Islam, jelas manusia tidak boleh memanggil nama Tuhan 
sembarangan. Sebab, nama Tuhan dalam Islam sudah ditentukan dalam wahyu yang 
dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Begitu juga cara menyembah Allah pun tidak boleh 
sembarangan. Kita, umat Islam, sangat disiplin dalam masalah tata cara ibadah 
kepada Allah, karena ada contoh dari utusan Allah, yaitu Muhammad saw. Jika 
kita mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, maka tidak bisa tidak, 
untuk mengenal-Nya dan untuk memahami cara menyembah-Nya yang benar, pastilah 
harus berdasarkan petunjuk dari Allah sendiri. Dan petunjuk itu sudah diberikan 
melalui utusan-Nya yang terakhir.

Sebagai Muslim, kita yakin, bahwa cara shalat para nabi sebelumnya juga sama 
dengan shalat kita. Saat peristiwa Isra’ mi’raj, Rasulullah saw berkesempatan 
menjadi imam shalat bagi semua nabi. Sekte Kristen Ortodoks Syiria, misalnya, 
hingga kini masih mengamalkan tata cara sembahyang yang sejumlah gerakannya 
mirip dengan shalat kaum Muslim. Bagi kaum Muslim, tata cara shalat yang benar 
tentu saja yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, karena kita yakin, Nabi 
Muhammad saw tidak melakukan sesuatu kecuali atas dasar wahyu dari Allah SWT.

Dalam perspektif Islam, kaum Kristen, misalnya,  tidak mungkin memahami lagi 
bagaimana tata cara ibadah yang berdasarkan wahyu, karena manusia yang harusnya 
dijadikan contoh dalam ibadah – yakni Nabi Isa a.s. – sudah mereka sembah dan 
diangkat sebagai Tuhan. Begitu juga halnya dengan kaum Yahudi. Mereka sudah 
kehilangan jejak shalatnya Nabi Musa a.s.,  karena ajaran Nabi Musa sudah 
mereka ubah-ubah sendiri. Begitu pula umat manusia lainnya.

Karena itu, tanpa mengakui Muhammad saw sebagai utusan Allah, tidaklah mungkin 
mereka dapat mengenal Allah dan memahami cara beribadah yang benar kepada 
Allah. Karena itu kita bisa memahami, mengapa Nabi Muhammad saw senantiasa 
mengajak seluruh umat manusia untuk mengakuinya sebagai Utusan Allah yang 
terakhir. Ini adalah perspektif Islam. Dan jika seseorang sudah bersyahadat, 
mengakui bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, 
seyogyanya dia juga berpikir sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. 
Bukankah hal yang aneh, jika seorang mengakui Muhammad sebagai Nabi tetapi jika 
tidak mau menjadikannya sebagai suri tauladan (uswah hasanah)?

Dalam perspektif Yahudi dan Kristen, Muhammad saw adalah seorang penipu, yang 
mengarang Al-Quran dengan menjiplak Bibel Yahudi dan Kristen. Adanya sejumlah 
kemiripan cerita dalam Al-Quran dan Bibel mereka jadikan bukti bahwa Al-Quran 
adalah jiplakan dari Bibel. Itulah, yang antara lain, ditulis oleh Abraham 
Geiger dalam bukunya Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenomen? (Apa yang 
Muhammad pinjam dari Yahudi), terbit tahun 1833.

Itulah posisi teologis Yahudi dan Kristen yang memang secara tegas menolak 
kenabian Muhammad saw. Islam mengkritik pandangan semacam itu, tetapi kaum 
Muslim diminta tidak memaksakan posisi teologis Islam pada mereka. Posisi 
semacam itu jelas, dan tidak “abu-abu”. Yang aneh adalah jika orang mengaku 
Muslim, tetapi dia enggan berdiri pada posisi Islam dalam pemikirannya, dan 
lebih memilih posisi “netral agama” dalam pemikiran. 

Memang, kini banyak kaum Muslim mendapatkan teror pemikiran, bahwa mereka 
dikatakan sebagai sumber konflik agama-agama jika memiliki keyakinan terhadap 
kebenaran agamanya sendiri. Mereka dipaksa untuk melepaskan klaim kebenaran 
(truth claim) terhadap agamanya sendiri. Akhirnya, dia menjadi pendukung paham 
kebenaran semua agama, yang secara halus, misalnya,  dikemas dalam paham 
Kesatuan Transendensi Agama-agama (Transendent Unity of Religions). Paham ini 
menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang 
sama. Perbedaan agama-agama itu hanya terletak pada level eksoteriknya dan 
bukan pada level esoteriknya. Penulis buku Islam Mazhab HMI pun juga taklid  
begitu saja terhadap paham hasil fantasi Rene Guenon dan Fritjop Schuon ini. Ia 
menulis:

“Secara substansial jelas bahwa ketiga ajaran agama besar (semitik) bisa 
dicarikan titik temunya yang terlihat pada ajaran esoteriknya, kendati secara 
eksoteris perbedaan itu cukup jelas dan sangat terasa.” (hal. 43).

Ide adanya pertemuan esoteris (batin) antar agama-agama adalah murni sebuah 
fantasi. Menafikan begitu saja substansi dan signifikansi dari aspek eksoterik 
(aspek luar/syariah) adalah suatu kecerobohan. Sebab, cara ibadah adalah hal 
yang pokok dalam agama. Justru di antara ajaran pokok dalam Islam yang dibawa 
oleh Nabi Muhammad saw adalah tentang aspek eksoterik, aspek tata cara ibadah 
kepada Allah. Menganggap remeh soal ini adalah suatu kekeliruan besar. Dalam 
pandangan Islam, tentu saja, tidaklah setiap bentuk ibadah dapat diterima 
Allah. Jika ada orang yang menyembah Allah dengan bertelanjang bulat di tengah 
malam sambil berteriak-teriak minta ampun di kamar mandi, maka tidak bisa 
dikatakan bahwa ia akan bertemu pada level esoterik dengan orang Islam yang 
shalat tahajut di malam yang sama.

Karena itulah, dalam pandangan Islam, tata cara ibadah termasuk hal pokok dalam 
agama. Islam tidak akan mentolerir orang yang rukuk dalam shalat dengan 
membungkukkan badannya ke belakang. Dalam tahiyyat, jari yang diacungkan 
haruslah jari telunjuk, bukan jari kelingking. Ini soal prinsip dalam Islam. 
Semua tata cara ibadah yang benar itu tidak mungkin diketahui jika seseorang 
menolak kenabian Muhammad saw. Oleh sebab itu, mengikrarkan dua kalimah 
syahadat termasuk dalam rukun Islam. Itu ditegaskan dalam sebuah hadits Nabi 
saw: “Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan 
selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau 
menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan 
menunaikan ibadah haji ke Baitullah -- jika engkau berkemampuan 
melaksanakannya.” (HR Muslim).

Itulah makna Islam, sebagaimana dijelaskan oleh utusan Allah SWT sendiri. Tidak 
perlu ngarang-ngarang  soal esoterik atau eksoterik, yang akhirnya malah 
keblinger sendiri.  Adalah sangat mengherankan, di Indonesia ini, kalangan yang 
sering mengaku sebagai cendekiawan yang kritis, seringkali tidak berani 
mengkritisi teori Islam-nya Nurcholish Madjid, dan membaca banyak pendapat 
ulama atau cendekiawan besar yang jauh lebih layak dan masuk akal untuk 
diterima pemikirannya. Sebagai orang yang pernah menjadi anggota HMI, saya sama 
sekali tidak merasa bermazhab seperti yang ditulis dalam buku Islam Mazhab HMI 
ini.

Adalah menarik, misalnya, membaca teori Islam yang digariskan Prof. Syed 
Muhammad Naquib al-Attas, yang menyatakan: “There is only one genuine revealed 
religion, and its name is given as Islam, and the people who follow this 
religion are praised by God as the best among mankind… Islam,  then, is not 
merely a verbal noun signifying ‘submission’;  it is also the name of 
particular religion descriptive of true submission, as well as the definition 
of religion: submission to God.”

Secara khusus, pada tahun 1998, teori ini telah ditulis sebagai disertasi 
doktor di ISTAC Kuala Lumpur oleh  Dr. Fatimah bt. Abdullah dengan judul “An 
Analysis of The Concept of Islam as “True Submission” on the Basis of al-Attas’ 
Approach.  Islam, menurut al-Attas bukan sekedar “agama berserah diri”, tetapi 
juga penjelasan tentang bagaimana cara berserah diri yang benar (true 
submission). Islam juga menjelaskan, siapa Tuhan yang sebenarnya. Semua itu 
hanya mungkin dipahami melalui penerimaan terhadap konsep kenabian Muhammad saw.

Tanpa pengakuan kepada kenabian Muhammad saw, tidak ada Islam. Karena itulah, 
dalam CAP ke-223 lalu, kita membahas terjadinya satu tragedi keilmuan yang 
besar ketika UIN Jakarta meluluskan sebuah disertasi doktor ilmu Tafsir 
Al-Quran yang menafsirkan QS 2:62 secara sembarangan dengan menyatakan:  “Jika 
diperhatikan dengan seksama, maka jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan 
agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabi’ah beriman kepada Nabi 
Muhammad. Dengan mengikuti bunyi harafiah ayat tersebut, maka orang-orang 
beriman yang tetap dalam keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan 
Shabi’ah  yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal shaleh 
– sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh 
balasan dari Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah 
beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufasir dan bukan ungkapan 
Al-Quran.”

Meskipun dilegitimasi sebagai sebuah disertasi doktor ilmu Tafsir Al-Quran di 
UIN Jakarta, tetapi kesimpulan semacam itu tetaplah bathil, karena menafikan 
berbagai ayat dan hadits Rasulullah saw. Padahal, Rasulullah saw bersabda:  
“Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari 
hal aku ini seorangpun dari ummat sekarang ini, baik Yahudi, maupun Nasrani, 
kemudian mereka tidak mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam 
neraka.” (HR Muslim).

Jika ada yang menyatakan bahwa soal keimanan kepada Nabi Muhammad saw adalah 
soal kecil dan tidak perlu dibesar-besarkan, maka kita katakan pada mereka, 
kalau memang itu soal kecil, mengapa mereka tidak mau beriman kepada Nabi 
Muhammad saw? Apa beratnya mengakui Muhammad saw sebagai utusan Allah?

Jadi, karena soal pemikiran bukanlah soal sepele, maka kita perlu menjaga 
pemikiran kita, agar tidak tercemar virus-virus yang akhirnya dapat merusak 
keislaman kita sendiri. Kita tidak perlu risau dengan orang-orang yang 
berlomba-lomba menuju kekufuran (QS 5:41). Tugas kita hanya menjaga diri kita 
sendiri dan mengingatkan orang-orang yang masih mau berpikir dan bersedia 
mendengarkan nasehat. Wallahu A’lam. (Depok, 14 Ramadhan 1429 H/14 September 
2008/www.hidayatullah.com]









      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke