term kesakralan angka SATU.

Allah SWT, Tuhan ummat Islam, boleh dipersepsikan sama oleh ummat/golongan lain 
sebagai tuhan yg satu. untuk mencapai yg SATU itu petunjuk jalannya juga satu, 
tidak mungkin plural karena itu pasti akan menimbulkan persepsi yg berbeda. itu 
pun hanya dpt melewati satu perantara dr golongan manusia sendiri yaitu nabi 
Muhammad SAW.

ketika sbgian org yg sdh bertuhan Allah SWT, bernabi Muhammad SAW, berkitab 
rujukan yg sama (Qur'an & Hadist) masih berbeda persepsi, itu sunatullah. 
disitulah hadist ummat pecah menjadi 73 golongan berlaku.

semua air 'berhasrat' menuju lautan. namun tak mudah mencapainya hingga ada yg 
tergenang di suatu tempat. itu tamsil org yg keliru jalan memahami Islam shg 
menghadapi kebuntuan. 


salam,
Fahru

--- On Tue, 9/23/08, Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [is-lam] Renungan Akhir Ramadhan
To: "Milis Is-lam" <[email protected]>
Date: Tuesday, September 23, 2008, 10:10 AM

Ada tulisan bagus, enjoy!

Salam hangat
B. Samparan

MENJAGA PEMIKIRAN DI BULAN RAMADHAN
Oleh: Adian Husaini

...

Dalam sebuah buku berjudul Islam Mazhab HMI (2007), dijelaskan juga tentang
makna Islam secara generik:

“Dengan demikian bisa dikatakan setiap agama yang mengajarkan sikap pasrah
dan tunduk kepada Allah harus disebut dengan islam (dalam makna generiknya)
walaupun ajaran lokalnya berbeda-beda, dan tentu saja akan mendapat perkenan
Tuhan. Tidak hanya agama semitik (Abrahamic religions) yang mendapat perkenan
Tuhan, agama-agama lainnya  juga, seperti Hindu-Budha, Konghucu dan sebagainya
akan mendapat perkenan Tuhan (rida) selama agama tersebut mengajarkan sikap
tunduk dan pasrah kepada Tuhan (islam). (hal. 10).

“Sampai di sini, sejatinya pengertian islam harus dipahami dalam makna
generiknya, yaitu sikap pasrah dan tunduk kepada tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal
ini, tidaklah terlalu tepat jika islam dibatasi hanya untuk agama yang dibawa
oleh Nabi Muhammad SAW.” (hal. 11).

Buku yang ditulis oleh dosen Fakultas Syariah IAIN Medan ini sayangnya
dikatakan sebagai ‘Islam mazhab HMI’.  Pendapat ini memang disandarkan pada
pemikiran tokoh HMI,  Nurcholish Madjid, yang entah kenapa masih saja
dikeramatkan oleh sebagian kalangan.

Padahal, tidaklah memerlukan akal yang terlalu cerdas untuk mempertanyakan
kesahihan pendapat semacam itu. Jika semua agama diridhai oleh Allah, untuk apa
Nabi Muhammad saw mengajak umat manusia untuk memeluk Islam dan mengakuinya
sebagai utusan Allah?

Apa kriteria sikap pasrah kepada Tuhan? Bagaimana cara pasrahnya? Apakah
menusia bisa seenaknya sendiri mereka-reka cara pasrah kepada Tuhan? Lalu,
pertanyaan berikutnya, siapa Tuhan yang dituju dalam kepasrahan itu? Yahwehkah?
Allah? Yesus? Iblis?  Genderuwo?  Tuhan yang mana? Apakah Allah memperbolehkan
manusia memanggil nama-Nya seenaknya sendiri? Bolehkah manusia memanggil Allah,
misalnya, dengan panggilan “Bos”?

Maka, dari kacamata Islam, jelas manusia tidak boleh memanggil nama Tuhan
sembarangan. Sebab, nama Tuhan dalam Islam sudah ditentukan dalam wahyu yang
dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Begitu juga cara menyembah Allah pun tidak boleh
sembarangan. Kita, umat Islam, sangat disiplin dalam masalah tata cara ibadah
kepada Allah, karena ada contoh dari utusan Allah, yaitu Muhammad saw. Jika kita
mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, maka tidak bisa tidak, untuk
mengenal-Nya dan untuk memahami cara menyembah-Nya yang benar, pastilah harus
berdasarkan petunjuk dari Allah sendiri. Dan petunjuk itu sudah diberikan
melalui utusan-Nya yang terakhir.

Sebagai Muslim, kita yakin, bahwa cara shalat para nabi sebelumnya juga sama
dengan shalat kita. Saat peristiwa Isra’ mi’raj, Rasulullah saw
berkesempatan menjadi imam shalat bagi semua nabi. Sekte Kristen Ortodoks
Syiria, misalnya, hingga kini masih mengamalkan tata cara sembahyang yang
sejumlah gerakannya mirip dengan shalat kaum Muslim. Bagi kaum Muslim, tata cara
shalat yang benar tentu saja yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, karena kita
yakin, Nabi Muhammad saw tidak melakukan sesuatu kecuali atas dasar wahyu dari
Allah SWT.

Dalam perspektif Islam, kaum Kristen, misalnya,  tidak mungkin memahami lagi
bagaimana tata cara ibadah yang berdasarkan wahyu, karena manusia yang harusnya
dijadikan contoh dalam ibadah – yakni Nabi Isa a.s. – sudah mereka sembah
dan diangkat sebagai Tuhan. Begitu juga halnya dengan kaum Yahudi. Mereka sudah
kehilangan jejak shalatnya Nabi Musa a.s.,  karena ajaran Nabi Musa sudah mereka
ubah-ubah sendiri. Begitu pula umat manusia lainnya.

Karena itu, tanpa mengakui Muhammad saw sebagai utusan Allah, tidaklah mungkin
mereka dapat mengenal Allah dan memahami cara beribadah yang benar kepada Allah.
Karena itu kita bisa memahami, mengapa Nabi Muhammad saw senantiasa mengajak
seluruh umat manusia untuk mengakuinya sebagai Utusan Allah yang terakhir. Ini
adalah perspektif Islam. Dan jika seseorang sudah bersyahadat, mengakui bahwa
“Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, seyogyanya dia
juga berpikir sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Bukankah hal
yang aneh, jika seorang mengakui Muhammad sebagai Nabi tetapi jika tidak mau
menjadikannya sebagai suri tauladan (uswah hasanah)?

Dalam perspektif Yahudi dan Kristen, Muhammad saw adalah seorang penipu, yang
mengarang Al-Quran dengan menjiplak Bibel Yahudi dan Kristen. Adanya sejumlah
kemiripan cerita dalam Al-Quran dan Bibel mereka jadikan bukti bahwa Al-Quran
adalah jiplakan dari Bibel. Itulah, yang antara lain, ditulis oleh Abraham
Geiger dalam bukunya Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenomen? (Apa yang
Muhammad pinjam dari Yahudi), terbit tahun 1833.

Itulah posisi teologis Yahudi dan Kristen yang memang secara tegas menolak
kenabian Muhammad saw. Islam mengkritik pandangan semacam itu, tetapi kaum
Muslim diminta tidak memaksakan posisi teologis Islam pada mereka. Posisi
semacam itu jelas, dan tidak “abu-abu”. Yang aneh adalah jika orang mengaku
Muslim, tetapi dia enggan berdiri pada posisi Islam dalam pemikirannya, dan
lebih memilih posisi “netral agama” dalam pemikiran. 

Memang, kini banyak kaum Muslim mendapatkan teror pemikiran, bahwa mereka
dikatakan sebagai sumber konflik agama-agama jika memiliki keyakinan terhadap
kebenaran agamanya sendiri. Mereka dipaksa untuk melepaskan klaim kebenaran
(truth claim) terhadap agamanya sendiri. Akhirnya, dia menjadi pendukung paham
kebenaran semua agama, yang secara halus, misalnya,  dikemas dalam paham
Kesatuan Transendensi Agama-agama (Transendent Unity of Religions). Paham ini
menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang
sama. Perbedaan agama-agama itu hanya terletak pada level eksoteriknya dan bukan
pada level esoteriknya. Penulis buku Islam Mazhab HMI pun juga taklid  begitu
saja terhadap paham hasil fantasi Rene Guenon dan Fritjop Schuon ini. Ia
menulis:

“Secara substansial jelas bahwa ketiga ajaran agama besar (semitik) bisa
dicarikan titik temunya yang terlihat pada ajaran esoteriknya, kendati secara
eksoteris perbedaan itu cukup jelas dan sangat terasa.” (hal. 43).

Ide adanya pertemuan esoteris (batin) antar agama-agama adalah murni sebuah
fantasi. Menafikan begitu saja substansi dan signifikansi dari aspek eksoterik
(aspek luar/syariah) adalah suatu kecerobohan. Sebab, cara ibadah adalah hal
yang pokok dalam agama. Justru di antara ajaran pokok dalam Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad saw adalah tentang aspek eksoterik, aspek tata cara ibadah
kepada Allah. Menganggap remeh soal ini adalah suatu kekeliruan besar. Dalam
pandangan Islam, tentu saja, tidaklah setiap bentuk ibadah dapat diterima Allah.
Jika ada orang yang menyembah Allah dengan bertelanjang bulat di tengah malam
sambil berteriak-teriak minta ampun di kamar mandi, maka tidak bisa dikatakan
bahwa ia akan bertemu pada level esoterik dengan orang Islam yang shalat tahajut
di malam yang sama.

Karena itulah, dalam pandangan Islam, tata cara ibadah termasuk hal pokok dalam
agama. Islam tidak akan mentolerir orang yang rukuk dalam shalat dengan
membungkukkan badannya ke belakang. Dalam tahiyyat, jari yang diacungkan
haruslah jari telunjuk, bukan jari kelingking. Ini soal prinsip dalam Islam.
Semua tata cara ibadah yang benar itu tidak mungkin diketahui jika seseorang
menolak kenabian Muhammad saw. Oleh sebab itu, mengikrarkan dua kalimah syahadat
termasuk dalam rukun Islam. Itu ditegaskan dalam sebuah hadits Nabi saw:
“Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain
Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan
shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah
haji ke Baitullah -- jika engkau berkemampuan melaksanakannya.” (HR Muslim).

Itulah makna Islam, sebagaimana dijelaskan oleh utusan Allah SWT sendiri. Tidak
perlu ngarang-ngarang  soal esoterik atau eksoterik, yang akhirnya malah
keblinger sendiri.  Adalah sangat mengherankan, di Indonesia ini, kalangan yang
sering mengaku sebagai cendekiawan yang kritis, seringkali tidak berani
mengkritisi teori Islam-nya Nurcholish Madjid, dan membaca banyak pendapat ulama
atau cendekiawan besar yang jauh lebih layak dan masuk akal untuk diterima
pemikirannya. Sebagai orang yang pernah menjadi anggota HMI, saya sama sekali
tidak merasa bermazhab seperti yang ditulis dalam buku Islam Mazhab HMI ini.

Adalah menarik, misalnya, membaca teori Islam yang digariskan Prof. Syed
Muhammad Naquib al-Attas, yang menyatakan: “There is only one genuine revealed
religion, and its name is given as Islam, and the people who follow this
religion are praised by God as the best among mankind… Islam,  then, is not
merely a verbal noun signifying ‘submission’;  it is also the name of
particular religion descriptive of true submission, as well as the definition of
religion: submission to God.”

Secara khusus, pada tahun 1998, teori ini telah ditulis sebagai disertasi
doktor di ISTAC Kuala Lumpur oleh  Dr. Fatimah bt. Abdullah dengan judul “An
Analysis of The Concept of Islam as “True Submission” on the Basis of
al-Attas’ Approach.  Islam, menurut al-Attas bukan sekedar “agama berserah
diri”, tetapi juga penjelasan tentang bagaimana cara berserah diri yang benar
(true submission). Islam juga menjelaskan, siapa Tuhan yang sebenarnya. Semua
itu hanya mungkin dipahami melalui penerimaan terhadap konsep kenabian Muhammad
saw.

Tanpa pengakuan kepada kenabian Muhammad saw, tidak ada Islam. Karena itulah,
dalam CAP ke-223 lalu, kita membahas terjadinya satu tragedi keilmuan yang besar
ketika UIN Jakarta meluluskan sebuah disertasi doktor ilmu Tafsir Al-Quran yang
menafsirkan QS 2:62 secara sembarangan dengan menyatakan:  “Jika diperhatikan
dengan seksama, maka jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan agar orang
Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad.
Dengan mengikuti bunyi harafiah ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang
tetap dalam keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah  yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal shaleh – sekalipun
tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari
Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah beriman
kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufasir dan bukan ungkapan
Al-Quran.”

Meskipun dilegitimasi sebagai sebuah disertasi doktor ilmu Tafsir Al-Quran di
UIN Jakarta, tetapi kesimpulan semacam itu tetaplah bathil, karena menafikan
berbagai ayat dan hadits Rasulullah saw. Padahal, Rasulullah saw bersabda: 
“Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar
dari hal aku ini seorangpun dari ummat sekarang ini, baik Yahudi, maupun
Nasrani, kemudian mereka tidak mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke
dalam neraka.” (HR Muslim).

Jika ada yang menyatakan bahwa soal keimanan kepada Nabi Muhammad saw adalah
soal kecil dan tidak perlu dibesar-besarkan, maka kita katakan pada mereka,
kalau memang itu soal kecil, mengapa mereka tidak mau beriman kepada Nabi
Muhammad saw? Apa beratnya mengakui Muhammad saw sebagai utusan Allah?

Jadi, karena soal pemikiran bukanlah soal sepele, maka kita perlu menjaga
pemikiran kita, agar tidak tercemar virus-virus yang akhirnya dapat merusak
keislaman kita sendiri. Kita tidak perlu risau dengan orang-orang yang
berlomba-lomba menuju kekufuran (QS 5:41). Tugas kita hanya menjaga diri kita
sendiri dan mengingatkan orang-orang yang masih mau berpikir dan bersedia
mendengarkan nasehat. Wallahu A’lam. (Depok, 14 Ramadhan 1429 H/14 September
2008/www.hidayatullah.com]









      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke