Kata Kang Fahru :

 

1. kalimat pertanggungjawaban yg dimaksud kang Tedjo itu sebenarnya sentuhan
lain kata amanah. itu bagian dari ketentuan atas diri ssorg. tentunya tiap
org punya kapasitas pertanggungjawaban sendiri-sendiri persis spt apa
dituliskan pd dirinya. pemimpin negeri, misalnya, tuntutannya ya berkitan dg
kepemimpinan ttg kenegaraan e.g: kebijakan yg dibuat, sikap adilnya pd
rakyat, ghirahnya thd amar ma'ruf nahi munkar ... dstnya. tentu beda dgn
pemimpin RT, dlsbgnya.

 

-----------------------

Bukankah amanah mestinya tidak di-"todong"-kan? Tetapi ditawarkan? Sepahaman
saya sih, kalimat "mas'ul" (ditanyai) itu konotasinya pada resiko. Semacam
konsekuensi atas pilihan-pilihan. Lalu posisi manusia untuk menerima atau
tidak atas amanah itu dimana, Paklik? Zonder pilihankah kita?



2. ... jika setiap kejadian adalah PERBUATAN-NYA??? Kenapa kita yang harus
bertanggungjawab??? Hayoo??? ...

kayak org yg mau cuci tangan karena amalannya ... bahkan dlm suatu ayat
malah ditegaskan kerusakan di muka bumi ulah manusia, semua kebaikan itu
dari Allah SWT, yg buruk itu dari dirimu sendiri. nah lo ...???



---------------------

Dari sekian banyak sifat-Nya, yang paling nyambung dengan posting ini saya
kira adalah bahwa Allah itu Hakiimun-Aliim (Maha Adil dan Bijaksana) serta
Laa Yukhliful-mii'aad (Dialah Dzat Yang Tidak Mengingkari Janji-Janji-Nya).
Nah, Allah yang telah Mengetahui kemampuan setiap orang, tentu, dengan
sifat-nya yang Hakiimun-Aliim, hanya akan menyerahkan beban pertanggungan
(ro'iyyah) kepada seseorang sesuai dengan base-score-nya masing-masing. Tapi
kok ya ada yang gaggallll..... masa iya informasi base-score-nya salah???
Atau sebelum final-execute, kita malah diumbar sebentar??? Biar bisa
menentukan akhir cerita???

 

Nuwun;

Tejosuroso

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke