1. amanah memang tidak ditodongkan, tapi ditawarkan (al-Ahzab:72) dan itu sdh ditetapkanNya bhw yg mewarisi amanat itu adlh manusia. penetapan itu sdh masuk blue print sblm penciptaan manusia itu sendiri.
sama aja dgn org memilihan spare part rem utk perbaiki mobilnya yg mana itu sdh ditulis sblm pemilik mobil itu dilahirkan. 2. gagal atw berhasilnya dlm suatu urusan itu term menurut pandangan manusia. taqdir tidak peduli itu melainkan apapun yg sdh nyata terjadi & dilakoni manusia itulah yg terbaik, bukan hal buruk & bukan hal yg sia2. ambil selintas peristiwa 'buruk' dlm sejarah manusia, mulai dari Hiroshima & Nagasaki hingga .. bom Mumbai yg baru saja terjadi. bencana, menurut Islam itu tidak ada yg buruk. apa yg mesti terjadi itulah yg terbaik sekalipun menimpa org2 mu'min. --- a'udzubillahi min asyiathaanirajiim, Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):"Berimanlah kamu kepada Tuhanmu"; maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji". (Ali 'Imran:190-194) salam, Fahru ________________________________ From: Tejosuroso <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, December 7, 2008 12:38:27 PM Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c8| Kata Kang Fahru : 1. kalimat pertanggungjawaban yg dimaksud kang Tedjo itu sebenarnya sentuhan lain kata amanah. itu bagian dari ketentuan atas diri ssorg. tentunya tiap orgpunya kapasitas pertanggungjawaban sendiri-sendiri persis spt apa dituliskanpd dirinya. pemimpin negeri, misalnya, tuntutannya ya berkitan dg kepemimpinan ttg kenegaraan e.g: kebijakan yg dibuat, sikap adilnya pd rakyat, ghirahnya thd amar ma'ruf nahi munkar ... dstnya. tentu beda dgn pemimpin RT, dlsbgnya. ----------------------- Bukankah amanah mestinya tidak di-”todong”-kan? Tetapi ditawarkan? Sepahaman saya sih, kalimat “mas’ul” (ditanyai) itu konotasinya pada resiko. Semacam konsekuensi atas pilihan-pilihan. Lalu posisi manusia untuk menerima atau tidak atas amanah itu dimana, Paklik? Zonder pilihankah kita? 2. ... jika setiap kejadian adalah PERBUATAN-NYA??? Kenapa kita yang harus bertanggungjawab??? Hayoo??? ... kayak org yg mau cuci tangan karena amalannya ... bahkan dlm suatu ayat malah ditegaskan kerusakan di muka bumi ulah manusia, semua kebaikan itu dari Allah SWT, yg buruk itu dari dirimu sendiri. nah lo ...??? --------------------- Dari sekian banyak sifat-Nya, yang paling nyambung dengan posting ini saya kira adalah bahwa Allah itu Hakiimun-Aliim (Maha Adil dan Bijaksana) serta Laa Yukhliful-mii’aad (Dialah Dzat Yang Tidak Mengingkari Janji-Janji-Nya). Nah, Allah yang telah Mengetahui kemampuan setiap orang, tentu, dengan sifat-nya yang Hakiimun-Aliim, hanya akan menyerahkan beban pertanggungan (ro’iyyah) kepada seseorang sesuai dengan base-score-nya masing-masing. Tapi kok ya ada yang gaggallll..... masa iya informasi base-score-nya salah??? Atau sebelum final-execute, kita malah diumbar sebentar??? Biar bisa menentukan akhir cerita??? Nuwun; Tejosuroso
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
