Jadi inget masa jadul, hampir tiap malam bolak-balik rapat diawali di FKUI salemba, FE, trus balik ke depok, FH, FS, dan FPsi, berturut-turut selama 1 bln, hanya untuk meminta (tepatnya, memaksa) Prof.Dr.Suyudi (rektor) memberi pengakuan atas keberadaan ForKom BPM/SM se UI sebagai sebuah lembaga dan bukan sekedar bentuk paguyuban !! Namun saking paranoidnya terhadap sejarah kemahasiswaan (terbukti dgn penggunaan dalih aturan NKK/BKK) akhirnya usul ditolak. Kite-kite pada sewot mirip anak yg dilarang main hujan-hujanan oleh sang bapak. Setelah beberapa belas tahun say goodbye to yellow jackets tiba-tiba dengar isu ada organisasi BEM-UI demo; oh ya, ada to?. usut punya usut, alamak. itu khan dulu jabang bayi yg mau kite lahirin.
Generasi berbeda, kebijakan pun berbeda. Kampus betul2 telah sukses menjadi menara gading, sukses mengalirkan darah ke-priyayi-an di benak para mahasiswa. Kalian jangan neko-neko, jangan bermain di tempat kotor (mungkin maksudnya comberan), pikirkan saja kuliah, ingat 4-5 tahun gak kelar - DO!! ;dan jangan lupa bahwa sekolah ini berbiaya tinggi bagi orangtua kalian. Mungkin dalam situasi seperti inilah BEM lahir, kegiatan pun lebih banyak mengarah pada fun, game, ataupun style. Sementara faksi2 yg sedikit lebih serius mgkn mengarah pada riset-riset (yg mgkn tak terdengar bahkan tak diketahui teman sejawat), Kelompok2 minor lainnya mungkin sekedar cangkruk di mesjid UI ataupun musholla2 lokal. Sementara yg underdog cenderung enggan berlama-lama dikampus, enggan dengan hingar-bingarnya pentas RAJA di balairung. Mungkin sekilas profil kampus yg coba saya reka-reka (tentu saja ini rekaan penuh kengawuran): - Semenjak jadi mahasiswa sudah dicekoki untuk menjadi golongan priyayi. - Semenjak jadi mahasiswa sudah dibebani pikiran utk mengembalikan modal orangtua. - Semenjak jadi mahasiswa sudah terasingkan dari fakta bahwa diluar itu kotor; dan ini pula yg melahirkan sikap mental "kagetan" ataupun sikap "latah" ketika mereka harus keluar kandang. Tentu saja saya tidak main hantam kromo bhw semua mahasiswa akan seperti itu gambarannya, akan tetapi seperti itulah budaya yg nyaris terbentuk dalam situasi saat ini. Sekarang bagaimana jika seandainya kaum cendikiawan kampus ini hendak didudukan di senayan? Tebak sendiri bae lah ya. J wassalam From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Mawan Sugiyanto Sent: Tuesday, February 10, 2009 8:59 AM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Pak Marda, PKS Memang Okay, tapi assalamu 'alaikum warahmatullah menarik sekali, berarti kaum muda ini adalah didikan BEM/Senat Mahasiswa di atas 10 tahun yang lalu, yang kalau dilihat terdapat pola yang hampir sama dengan sekarang. Partisipasi mahasiswa dalam pemilihan BEM berkisar 40-45% dari total mahasiswa aktif (tingkat 1 sampai dengan tingkat 4), belum dikurangi mahasiswa yang non aktif dan belum lulus. Waktu itu saya pernah diskusi dengan ketua DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) angkat tersebut adalah angka yang cukup bagus dibandingkan dengan pemilihan-pemilihan lainnya di luar negeri. Dalam hati saya terketuk beginikah demokrasi (suara terbanyak berlaku ). Artinya telah terjadi pengingkaran rumus suara terbanyak. Jadi Menilik generasi di atas 10 tahun yang lalu adalah didikan BEM/Senat Mahasiswa terdapat pola kira-kira seperti ini : 1. Meningkatnya jumlah golput --ketidakpedulian--, terhadap fungsi BEM sebagai wadah organisasi kemahasiswaan yang menjadi tempat aktifitas. Jumlah golput ini nota bene dilakukan juga oleh orang-orang yang berpendidikan. Sadar dan tahu sepenuhnya sistem berpolitik dan demokrasi. 2. Muncul organisasi keprofessian (himpunan profesi) yang mandiri (independent), tidak mau dicampuri dengan urusan-urusan dan birokrasi yang terlalu bertele-tele dalam lingkungan keorganisasian mahasiswa. Lanjutannya adalah ke bidang bisnis, dan ini biasanya kalau telah berhasil orang-orang BEM akan merangkul jadi sponsor, akuisisi keberhasilan BEM dalam mengembangkan unit-unit kegiatan mahasiswa. 3. Yang menang dalam pemilihan ya itu-itu saja, kelompok yang sampai sekarang menggolkan perubahan Senat Mahasiswa menjadi BEM. Karena pemilihnya ya simpatisan tetap yang hanya 30% itu. 4. Isu sekuler dan Islam tetap jadi isu utama dalam menjaring simpatisan dan pemilih. Kembali teori konspirasi akan ada di dalam percaturan para orang-orang pinter yang berpolitik ini. Isu-isu yang ndak jelas merangsek dalam sms dan lain sebagainya sebagai jalan meraih tambahan suara. 5. Dibuat calon bayangan, misalnya dalam BEM terdapat 2 calon Islam dan Nasionalis misalnya Untuk memenangkan dibuat lagi satu calon semi Islam dan Nasionalis untuk memecah suara sehingga porsi perebutan suara turun. Kemenangan tetap dengan suara terbanyak --kan demokrasi--, walaupun hanya diikuti oleh kurang dari 50% total pemilih dan yang menang bisa dipastikan kurang dari 50% dari peserta yagn datang ke TPS. Apakah dalam hal ini BEM/Senat Mahasiswa --dibaca negara-- tidak diperlukan lagi? Sebenarnya bukan tidak perlu, tapi alangkah baiknya jalankan saja sistem yang baik, tidak peduli siapa yang jadi ketua, mau si Dito, Nala, Dhadap atau si Waru yang jadi Presiden tidak masalah. Memfasilitasi dan menyampaikan amanah yagn diemban lebih penting dari kemenangan-kemenangan itu. Ya kondisi ideal memang sangat-sangat susah untuk dicapai, tapi seenggaknya rumusnya itu loh mbok ya diperbaiki. Wa'alaikum salam warahmatullah Mawan --- On Mon, 2/9/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: From: Dewa Gede Permana <[email protected]> Subject: Re: [is-lam] Pak Marda, PKS Memang Okay, tapi To: [email protected], [email protected] Date: Monday, February 9, 2009, 4:04 PM Hari ini sobari priyanta membuat ulasan (prediksi) sedikit gambaran ttg DPR periode depan, cenderung pesimistik, tak lebih baik dari periode sekarang, bahkan malah akan lebih kental dagang-sapi nya. Namun positifnya (menurut beliau) adalah semakin besarnya porsi keterlibatan generasi muda untuk duduk di senayan. Lagi-lagi ini penyandaran pada data statistik yg mati saya kira. Saya jadi inget "age-ing" nya mas Harry kemaren; lho tuwo-tuwo kalo memang tajir ya gak pa-pa, muda-muda kalo mblegedhes ya malah lebih cepet ancur tha. Jadi kesimpulan sementara ini ya masih burem, surem, dan runyem. Swear, saya jejingkrakan denger istilah sampeyan ini: "comberan politik", hi-hi-hi... comberan... bagus, bagus... :)) Salam jorkis. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan Sent: Monday, February 09, 2009 2:49 PM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Pak Marda, PKS Memang Okay, tapi Wah, kalau kabar-kabur itu seperti itu saya belum pernah juga bisa mengkonfirmasi. BTW, masuk ke dunia politik memang susah sekali. Oleh karena itu, meski saya sering mengkritik, saya sekaligus juga menaruh hormat pada rekan-rekan PKS yang berani menerjuni comberan politik. Melihat pengalaman di banyak negara yang mayoritas penduduknya muslim, partai politik yang murni mengusung Islam sebagai solusi biasanya memang minoritas, sebab standar moralnya memang sangat tinggi. Oleh kerena itu ketika ada PKS, saya juga berpikir seperti itu. Minoritas nggak apa-apa, tetapi mizan-nya terjaga. Waktu jua (Allah tentunya), yang akan membesarkannya. Kaum muslimin itu menang karena menjaga mizan, bukan karena mengkompromikan mizan untuk mendapatkan dukungan orang banyak. Salam hangat B. Samparan --- On Mon, 2/9/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: > From: Dewa Gede Permana <[email protected]> > Subject: Re: [is-lam] Pak Marda, PKS Memang Okay, tapi > To: [email protected] > Date: Monday, February 9, 2009, 12:51 PM > Saya dengar kabar-kabur PKS justru melakukan perubahan > platform, ingin > merangkul semua kalangan sampe remaja gaul n punk segala > (go public); > sehingga hal ini pula yg malah menimbulkan konflik berikut > pergeseran > identifikasi partai. Semacam senjata makan tuan, apa benar > demikian? > > :) > wassalam > > -----Original Message----- > From: [email protected] > [mailto:[email protected]] > On Behalf Of Harry Sufehmi > Sent: Monday, February 09, 2009 11:40 AM > To: [email protected] > Subject: Re: [is-lam] Pak Marda, PKS Memang Okay, tapi > > 2009/2/9 Bango Samparan <[email protected]>: > > Kalau PKS lebih menjual kadernya mungkin kondisinya > lain mas. Sayang, > sering pragmagtis. Jadinya, quality control-nya jadi susah. > > Ya, saya memang lihat sendiri kesulitan itu --- kader2nya > jujur. Tapi, > begitu diterjunkan di arena politik, kalah manuver terus > :-) > > Akhirnya ya itu, seperti kata Anda, terpaksa pragmatis. > > Kesian juga kita mendengar beberapa ustadz itu sampai > sering sakit. > Stress berat mereka ditempatkan di DPR, ha ha.... ketemu > dengan > berbagai macam manusia yang beraneka ragam polah & > tingkahnya. Tidak > bisa ditebak sama sekali. > > Mereka menyaksikan sendiri bagaimana politik itu betul2 > adalah > mengenai "kepentingan" -- kalau cocok, anda jadi > kawan. Kalau > kepentingannya berbeda, siap-siap saja kena libas dengan > berbagai cara > yang tidak terduga-duga. Dan mereka akan melibas Anda > sambil mukanya > tetap tersenyum manis :-) > > Beberapa yang cerdas malah terjerumus, sedih juga kita > melihatnya. > > Jadi saya kira, untuk di Indonesia, inilah salah satu arena > jihad umat > Islam. Dunia politik ini berkaitan langsung dengan umat, > dengan amat > signifikan. > Tapi berat, karena arenanya berbeda -- disini tidak ada > bunuh-bunuhan, > literally :-) Kalau bisa bunuh-bunuhan mungkin masih > lebih gampang, > hehe. > Disini, dunia politik, betul-betul dibutuhkan kecerdasan > & kesabaran > yang luar biasa. > > Anyway, jadi kelihatan ternyata umat Islam yang memiliki > kedua > kombinasi ini ternyata masih sangat kurang sekali. Mudah2an > kondisi > ini bisa segera kita perbaiki bersama2. > > > > Salam, HS > > > > > Salam hangat > > B. Samparan > > > > > > --- On Sat, 2/7/09, Harry Sufehmi > <[email protected]> wrote: > > > >> From: Harry Sufehmi <[email protected]> > >> Subject: Re: [is-lam] Pak Marda, PKS Memang Okay, > tapi > >> To: [email protected] > >> Date: Saturday, February 7, 2009, 11:10 PM > >> Politik itu memang sangat warna-warni. Bahkan di > dalam PKS > >> sekalipun > >> ada juga pihak-pihak yang tidak sepenuhnya bersih. > Tapi > >> itulah > >> kehidupan. Tidak cuma hitam / putih saja, tapi ada > banyak > >> warna lain > >> diantaranya juga. > >> > >> Saat ini yang sudah terlalu sering kita dengar > adalah > >> bagaimana yang > >> jahat sering berhasil memanfaatkan yang baik untuk > mencapai > >> keperluannya. > >> > >> Sudah saatnya kini muncul orang-orang baik yang > mampu > >> memperalat para > >> penjahat untuk mencapai tujuan2 baiknya. > >> > >> Mudah-mudahan teman-teman dari PKS, dan > orang-orang baik > >> dari partai > >> lainnya juga, mau terus berjuang & bersabar > untuk > >> kebaikan rakyatnya. > >> > >> > >> Salam, HS > >> > >> > >> On 2/7/09, Alkhori M > <[email protected]> wrote: > >> > Pak Marda, PKS Memang Okay, Tapi, > >> > > >> > Tingkah laku politik di Indonesia perlu > dibenahi, > >> lihat contoh dibawah: > >> > > >> > * Walikota Depok yang mantan Pres. PKS, > hampir > >> selalu diobok obok > >> > untuk menggoyang kursi beliau, tapi > alhamdulillah > >> sekarang badai itu telah > >> > berlalu. Tapi keadaan itu meng-refleksikan > betapa > >> bobroknya anggota DPR yang > >> > mereka lakukan adalah manuver politik belaka > dan > >> mereka lupa untuk > >> > memperjuankan nasib di kecil, yaitu rakyat > yang lagi > >> kesusahan sekarang ini. > >> > > >> > * Bupati Bekasi, terus digoyang, hampir > tidak > >> ada hari tanpa gangguan, > >> > hingga akhirnya Gubernur Jabar memberhentikan > beliau. > >> Sang Bupati sangat > >> > dekat dengan penulis. Tapi Allah Karim, > sekarang > >> mantan Gubernur Jabar lagi > >> > diperiksa karena diduga terlibat korupsi > DAMKAR. > >> > > >> > Keadaan Partai Politik sekarang ini sangat > >> memprihatinkan, PKB dari dulu > >> > rebutan terus, PPP karena sudah bongsai > terlihat aman > >> dari luar, partai > >> > bentukan Da'i sejuta ummat juga diterpa > pasang > >> surut. Yang masih bertahan > >> > adalah PKS, memang PKS masih mempunyai > cahaya, > >> "walaupun hanya menyalakan > >> > sebatang lilin, tapi masih cukup untuk > menerangi orang > >> yang kegelapan" . > >> > Bagaimana partai partai yang lain, > tunjukanlah bahwa > >> kalian juga ingin > >> > membela rakyat kecil. Janganlah sebelum > berkuasa > >> mengatakan ingin membela > >> > wong cilik, tapi setelah berkuasa membela > wong licik > >> dan malahan harta dan > >> > asset negara pada disales alias tanzilat > alias > >> diobral. > >> > > >> > File terlampir enak untuk bacaan sekedar > rangsangan > >> agar kita kita bisa > >> > melakukan hal yang sama. Last but absolutely > not > >> least, dulu hampir setiap > >> > bulan rekan rekan dari PKS mengadakan > pengajian rutin > >> bulanan di rumah, tapi > >> > sekarang karena ada kesalahan teknis > pengajian > >> tersebut tidak pernah > >> > diadakan lagi. > >> > > >> > > >> > > >> > Alkhori M > >> > > >> > Alkhor Community > >> > > >> > Qatar > >> > > >> > > >> _______________________________________________ > >> Is-lam mailing list > >> [email protected] > >> > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > > > > > > > _______________________________________________ > > Is-lam mailing list > > [email protected] > > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
