Mas BS, Aksioma yg saya gunakan adalah yg terpakai di Matematika, jadi logika sejarah yg bersinggungan dg kekuasaan/ politik aksioma secara sederhana adalah, sejarah cerita yg menang sedangkan yg kalah dibuat kesanya bersalah dan segala bukti bukti pd regim yg kalah dihilangkan, maka sejarah yg jenis ini sangat bias. Contoh yg masih dekat G30S PKI & Supersemar bagaimana pada kedua peristiwa itu orde baru membohongi publik, hingga sekarang belum berhasil diluruskan sejarah ysb.
Untuk Sirah nabi, ada dua hal, pertama logika mas BS anda terbalik, yg teraniaya itu adalah nabi sedangkan penguasa adalah suku Quraisy. Kedua sirah nabi adalah disusun berdasarkan al-Qur'an dan al-Hadis, bagaimana ketat-nya penulisan al-Qur'an dan al-Hadis baca sendiri. Mostly sudah terbentuk opini ANA -AL-HAQQ diartikan TUHAN, hanya beberapa sumber yang menuliskan The TRUTH. Dan juga orang yg belajar Tauhid apa artinya surat al-Ikhlas. Berdasarkan ke-3 hal tsb yaitu: the TRUTH, al-Ikhlas & aksioma diatas, pada tulisan diatas dicoba lihat UNSEEN/ INVISIBLE dari eveny-nya seorang Mansur Al-Hallaj. Yg sudah pasti Fir'aun dan Al-Hallaj adalah berbeda. Fir'aun DZALIM, begitu beliau mengaku jelas-jelas kata-kata yg digunakan adalah RABB & ILA, maka dimulailah suatu KEGELAPAN dan KEDZALIMAN dengan perintah membunuh anak-anak laki laki yg lahir. Sehingga Tuhan menyuruh Musa mendatangi Fir'aun karena beliau telah keterlaluan, bacalah kisah Musa & Fir'aun. Mansur Al-Hallaj, ketika beliau mengucapkan saya kebenaran yang banyak versi menterjemahkan saya tuhan (suatu bukti intervensi sejarah yg terkontaminasi kekuasaan/ politik) padahal hanya dalam al-qur'an juga dalam koridor kalamullah al-Haqq harus diartikan sebagai Tuhan. Bukan untuk orang jika mengucapkan al-Haqq boleh diartikan Tuhan, harus ada sifat-sifat 99 sifat baru boleh dikatakan tuhan, itu baru dari sifat belum dari ZAT plu dll. Menyimpang sedikit MONYET MAKAN PISANG, MANUSIA MAKAN PISANG, apakah lantas monyet tersebut boleh mengatakan dia sudah jadi MANUSIA? Saya tidak tahu, berapa prosentase-nya agt member ini yang muslim, tapi sejak NINE-ELEVEN banyak non-muslim yang curriously about Islam. Sejak saat itu seringlah saya menuliskan kecil-kecilan tentang Islam. Kalau dia non-Muslim bisalah muncul Snoek Hugronje yg baru karena Islam digunakan sebagai Ilmu. Kalau dia Muslim diharapkan insyaallah bisa menggunakan FTT secara kamil. Jika yang berdiskusi ini banyak yg muslimnya maka ada intersesting case antara SUNI dan SYIAH yang boleh dituliskan, disana akan terlihat sangat kentalnya pengaruh AKSIOMA SEJARAH seperti mas BS kuatirkan, tapi bukan sirah nabi, tapi aksioma sejarah yg terjadi antara SUNI dan SIRAH. Alkhori M Alkhor Community Qatar -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan Sent: Friday, March 06, 2009 1:59 AM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Fir'aun vs. Al-Hallaj Sebuah Phenomena --- On Thu, 3/5/09, Alkhori M <[email protected]> wrote: > maka berlakulah > aksioma sbb: 1. > Sejarah Adalah Cerita Rekayasa Rejim Yang Menang. 2. Yang > Kalah Direkayasa > Adalah Sebagai Kelompok Yang SALAH. 3. Semua Bukti Kelompok > Yang Kalah > Dimusnahkan. Suhu, panjenengan tahu nggak definisi AKSIOMA? Kalau tahu, point-point aksioma yang panjenengan sebutkan itu bermasalah lho. Contoh AKSIOMA itu misalnya seperti ini lho suhu: 1/2 < 1 atau sebagian < keseluruhan Konsekuensi uraian suhu itu juga berat lho: Jadi sirah Nabawiyah itu juga rekayasa dari rezim yang menang tho, uh ... uh bisa predikat nabi itu dianggap rekayasa rezim yang menang donk:-) > Mansur Al-Hallaj, terkenal dengan ucapanya yaitu ANA > AL-HAQQ, artinya "SAYA > ADALAH KEBENARAN, I AM THE TRUTH ada juga yang > menterjemahkan SAYA TUHAN???" Terjemahannya apa nggak begini tho suhu: AKU ADALAH KEBENARAN ITU; ini mengingat definite artikel AL. Nah, klaim yang kayak begitu, secara sosiologis, kalau tidak dilakukan orang yang sedang TELER atau SAKAU, ya biasanya dilakukan mbahnya para diktator atau kakek moyangnya para penguasa rezim, seperti Hitler, Firaun, dan yang sejenisnya. Pada fikih tasauf, kalau ada orang teler, dan sudah di SP1 dan SP2,nggak sadar-sadar juga, hukumannya kan dipenggal tho, lawong yang dirancaukan sama dia adalah Allah je:-) Nah, kalau ijtihad hukum ini salah, pahalanya kan tetap satu. Dalam hal ini, kalau hati Al Hallaj tidak seperti yang dinilai oleh para pengadilnya, Allah kan tetap akan memasukkan doi ke sorga tho. Tasauf dan filsafat itu banyak samanya kok mas, banyak karang dengan ombak besar di pinggir-pinggirnya, tapi ada ketenangan yang dalam (keimanan yang sangat kuat) di tengah-tengah. Sayang banyak orang yang lebih dulu kandas di pinggir-pinggirnya. Tasauf sekarang juga sering menyedihkan, dulu zuhud itu menjadi salah satu thoriqoh utamanya. Meminjam Roger Garaudy, karena zuhud adalah beban berat yang tidak membawa kita ke bawah tetapi justru mengangkat kita naik ke atas. Kini pengertian zuhud pun dimain-mainkan. Halnya tasauf,banyak dijual sebagai CANDU bagi orang-orang yang pada dasarnya sudah putus asa atau malas melawan kemunkaran. Di jakarta dan kota-kota besar, CANDU ini katanya LARIS MANIS je. Salam hangat B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
