Pertama harus dipahami dulu bahwa dinar yang sering dipromosikan mas Nizami 
tersebut, pada dasarnya belum bisa dianggap sebagai uang. Posisi dinar dalam 
konteks yang semacam itu, ya tetep emas sebagai komoditas.

Nah tentang harga dinar dari hasil panen 14 ton, yang ditanyakan mas Nung itu, 
bisa dijawab sbb:

akhir tahun 2008 --> 14 ton padi

misalnya harga per kuintal pada 2008 adalah Rp 120.000
maka nilai 14 ton padi adalah:

14 x 10 x 120.000 = Rp. 16.800.000

untuk menjadi dinar, ya harus dilihat kurs dinarnya, misalnya 1 dinar = Rp. 
100.000
maka nilai panen dalam dinar:

16.800.000/100.000 = 168 dinar

akhir tahun 2009 --> 14 ton

kalau harga patokan per kuintal tidak berubah, dan kurs dinar juga tidak 
berubah, nilai panen dalam dinar ya tidak berubah, tetap 168 dinar. Tapi kalau 
berubah, ya nilainya berubah, rumusnya:

14 x 10 x (120.000 + dh) = 16.800.000 + 140dh

misalnya kurs dinar berubah menjadi 1 dinar = Rp. 100.000 + dd, maka nilai 
panen dalam dinar:

(16.800.000 + 140dh)/(100.000+dd)

nah, jadi nilai dinarnya akan sangat bergantung pada dh (kenaikan harga patokan 
panen/kuintal) dan dd (kenaikan kurs dinar). dh dan dd pada pokoknya akan 
dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran atas beras dan dinar. Misal 
dh = 10.000, dan dd = 30.000 maka nilai dinar:

[16.800.000+ (140 x 10.000)] /(100.000 + 30.000) = 140 dinar

Kondisi akan berbeda kalau dinar sudah menjadi standar moneter (rupiah 
dihilangkan diganti dengan dinar). Rumusnya bisa seperti:

akhir tahun 2008 --> 14 ton = x dinar
akhir tahun 2009 --> 14 ton = x dinar atau 14 ton = [x + y] dinar

nilai panen dalam dinar kini lebih tergantung pada dinamika permintaan dan 
penawaran beras. Yang jelas, sudah tidak bergantung lagi pada kurs dinar 
terhadap rupiah.

Di milis ekonomi nasional, saya dan mas Nizami diskusi ramai tentang wacana 
emas sebagai standar moneter, sayang kami belum sepakat dalam banyak 
persoalan:-)

Mas Nizami, mohon dipikirkan dengan sangat nih, kalau panjenengan sekarang 
menjual jasa atau barang dan njenengan minta dibayar dengan dinar. Apa ini 
malah tidak makin menyengsarakan umat?

Bukankah dinar (emas) untuk saat ini adalah termasuk barang mewah. Bukankah 
dengan demikian banyak yang tidak bisa mengaksesnya karena anggota umat ini 
banyak yang miskin dan masih dihargai nilai tambahnya dengan rupiah. Jadi 
dengan penyelesaian gaya dinar panjenengan itu, bukankah itu malah makin 
menyengsarakan mereka? Rasanya panjenengan tidak bisa secara sederhana 
menyatakan, "salahkan pemerintah dong, yang tidak mau menggunakan dinar sebagai 
alat bayar", karena kita tahu bahwa solusi yang semacam ini tidak mungkin 
diambil pemerintah bahkan dalam jangka waktu yang sifatnya jangka panjang.

Salam hangat
B. Samparan


--- On Fri, 3/6/09, A Nizami <[email protected]> wrote:

> From: A Nizami <[email protected]>
> Subject: Re: [is-lam] Dinar Emas Sebagai Alat Jual-Beli di Indonesia
> To: [email protected]
> Date: Friday, March 6, 2009, 4:10 PM
> Wa'alaikum salam wr wb,
> Kemungkinan besar dengan dinar emas nilainya akan sama
> seperti halnya harga 1-2 ekor kambing di zaman Nabi yang
> nilainya sekitar 1 dinar (sekarang Rp 1,5 juta).
> 
> Kalau dengan rupiah kita tahu pasti beda, dulu Rp 700/kg
> sekarang sudah RP 6000/kg.
> 
> ===
> Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490
> ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
> Informasi selengkapnya ada di:
> http://www.media-islam.or.id
> Ingin belajar Islam?
> Kirim email ke: [email protected]



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke