Akh Harry, Antum kan punya perusahaan, produk, dan service, kenapa tidak pasang harga dengan dinar dan dirham untuk penjualan ke customer Muslim. Di www.wakalanusantara.com sudah ada jaringan vendor yg menerima pembayaran dgn dinar/dirham (meski ada yang masih dikaitkan dgn rupiah).
Ana sendiri pasang harga saja 2 dinar untuk web development. Laku tidak laku masalah nanti, yang penting kalau semua ummat Islam kembali ke dinar, insya Allah rupiah kertas yang terus dipermainkan spekulan valas (transaksi US$-Rp sekitar Rp 7000 Trilyun/tahun) bisa dihentikan. Nilai rupiah hancur dari 1 US$=Rp 1,88 hingga tinggal Rp 12.000. Siapa pun orangnya yang menjaga rupiah, jika sistem uang kertas FIAT Money dipertahankan, maka rupiah akan terus hancur bersama2 dengan rakyat yang memakai rupiah sebagai standar gajinya. Ini adalah pemiskinan massal yang terus-menerus selama kita tidak berusaha untuk berubah. --- Pada Ming, 8/3/09, Harry Sufehmi <[email protected]> menulis: > Dari: Harry Sufehmi <[email protected]> > Topik: Re: [is-lam] Dinar Emas Sebagai Alat Jual-Beli di Indonesia > Kepada: [email protected], [email protected] > Tanggal: Minggu, 8 Maret, 2009, 10:14 PM > Menarik sekali, topik ini sangat > bermanfaat. Terimakasih. > > Beberapa pertanyaan : > > >Posisi dinar dalam konteks yang semacam itu, ya tetep > emas sebagai komoditas. > > Jika dinar emas dijadikan mata uang, apakah kemudian bisa > menghindari > efek penurunan nilai uang ? > > Masih segar di ingatan kita kasus2 seperti hancurnya nilai > uang > Zimbabwe, Turki (tapi sekarang sudah jauh mendingan ya?), > dan > Indonesia sendiri. > > Kalau saya membaca penjelasan mas Bango, sepertinya > fluktuasi harga > itu akan tetap ada. > > Karena memang ada faktor2 lainnya; seperti supply & > demand. > Contoh: harga kambing 1 dinar. Tapi, pada saat idul adha, > harganya > menjadi 2 dinar, karena memang ada demand yang besar pada > saat tsb > > Anyway, tapi saya perkirakan fluktuasi harga ini akan JAUH > lebih kecil > daripada sistem yang digunakan saat ini. Ayah saya masih > suka curhat > bagaimana dulu beras harganya hanya 25 sen, dst, ha > ha :-) > > Kembali ke topik - apakah pemahaman saya ini benar ? > > > > Bukankah dinar (emas) untuk saat ini adalah termasuk > barang mewah. Bukankah dengan demikian banyak yang tidak > bisa mengaksesnya karena anggota umat ini banyak yang miskin > dan masih dihargai nilai tambahnya dengan rupiah. > > Bukannya bisa menggunakan pecahan yang lebih kecil, seperti > dirham ? > > Anyway, saya kira ada alternatif satu lagi -- yaitu; tetap > menggunakan > uang kertas, namun dijamin dengan emas di bank sentral. > > Jadi nilai yang tertera di kertas itu memang riil. Bukan > cuma virtual, > yang rentan terhadap spekulasi. > > Ada satu grafik yang menarik : > http://research.stlouisfed.org/fred2/fredgraph?s[1][id]=AMBNS > Perhatikan bagaimana jumlah uang yang tercetak sejak zaman > Nixon > meningkat secara drastis. > > > > karena kita tahu bahwa solusi yang semacam ini tidak > mungkin diambil pemerintah bahkan dalam jangka waktu yang > sifatnya jangka panjang. > > Jangan remehkan people's power > :-) jika umat sudah bergerak, maka > yang mustahil pun bisa menjadi kenyataan dalam waktu yang > singkat. > > > > Salam, HS > > > > 2009/3/6 Bango Samparan <[email protected]>: > > > > Pertama harus dipahami dulu bahwa dinar yang sering > dipromosikan mas Nizami tersebut, pada dasarnya belum bisa > dianggap sebagai uang. Posisi dinar dalam konteks yang > semacam itu, ya tetep emas sebagai komoditas. > > > > Nah tentang harga dinar dari hasil panen 14 ton, yang > ditanyakan mas Nung itu, bisa dijawab sbb: > > > > akhir tahun 2008 --> 14 ton padi > > > > misalnya harga per kuintal pada 2008 adalah Rp > 120.000 > > maka nilai 14 ton padi adalah: > > > > 14 x 10 x 120.000 = Rp. 16.800.000 > > > > untuk menjadi dinar, ya harus dilihat kurs dinarnya, > misalnya 1 dinar = Rp. 100.000 > > maka nilai panen dalam dinar: > > > > 16.800.000/100.000 = 168 dinar > > > > akhir tahun 2009 --> 14 ton > > > > kalau harga patokan per kuintal tidak berubah, dan > kurs dinar juga tidak berubah, nilai panen dalam dinar ya > tidak berubah, tetap 168 dinar. Tapi kalau berubah, ya > nilainya berubah, rumusnya: > > > > 14 x 10 x (120.000 + dh) = 16.800.000 + 140dh > > > > misalnya kurs dinar berubah menjadi 1 dinar = Rp. > 100.000 + dd, maka nilai panen dalam dinar: > > > > (16.800..000 + 140dh)/(100.000+dd) > > > > nah, jadi nilai dinarnya akan sangat bergantung pada > dh (kenaikan harga patokan panen/kuintal) dan dd (kenaikan > kurs dinar). dh dan dd pada pokoknya akan dipengaruhi oleh > dinamika permintaan dan penawaran atas beras dan dinar. > Misal dh = 10.000, dan dd = 30.000 maka nilai dinar: > > > > [16.800.000+ (140 x 10.000)] /(100.000 + 30.000) = 140 > dinar > > > > Kondisi akan berbeda kalau dinar sudah menjadi standar > moneter (rupiah dihilangkan diganti dengan dinar). Rumusnya > bisa seperti: > > > > akhir tahun 2008 --> 14 ton = x dinar > > akhir tahun 2009 --> 14 ton = x dinar atau 14 ton = > [x + y] dinar > > > > nilai panen dalam dinar kini lebih tergantung pada > dinamika permintaan dan penawaran beras. Yang jelas, sudah > tidak bergantung lagi pada kurs dinar terhadap rupiah. > > > > Di milis ekonomi nasional, saya dan mas Nizami diskusi > ramai tentang wacana emas sebagai standar moneter, sayang > kami belum sepakat dalam banyak persoalan:-) > > > > Mas Nizami, mohon dipikirkan dengan sangat nih, kalau > panjenengan sekarang menjual jasa atau barang dan njenengan > minta dibayar dengan dinar. Apa ini malah tidak makin > menyengsarakan umat? > > > > Bukankah dinar (emas) untuk saat ini adalah termasuk > barang mewah. Bukankah dengan demikian banyak yang tidak > bisa mengaksesnya karena anggota umat ini banyak yang miskin > dan masih dihargai nilai tambahnya dengan rupiah. Jadi > dengan penyelesaian gaya dinar panjenengan itu, bukankah itu > malah makin menyengsarakan mereka? Rasanya panjenengan tidak > bisa secara sederhana menyatakan, "salahkan pemerintah dong, > yang tidak mau menggunakan dinar sebagai alat bayar", karena > kita tahu bahwa solusi yang semacam ini tidak mungkin > diambil pemerintah bahkan dalam jangka waktu yang sifatnya > jangka panjang. > > > > Salam hangat > > B. Samparan > > > > > > --- On Fri, 3/6/09, A Nizami <[email protected]> > wrote: > > > >> From: A Nizami <[email protected]> > >> Subject: Re: [is-lam] Dinar Emas Sebagai Alat > Jual-Beli di Indonesia > >> To: [email protected] > >> Date: Friday, March 6, 2009, 4:10 PM > >> Wa'alaikum salam wr wb, > >> Kemungkinan besar dengan dinar emas nilainya akan > sama > >> seperti halnya harga 1-2 ekor kambing di zaman > Nabi yang > >> nilainya sekitar 1 dinar (sekarang Rp 1,5 juta).. > >> > >> Kalau dengan rupiah kita tahu pasti beda, dulu Rp > 700/kg > >> sekarang sudah RP 6000/kg. > >> > >> === > >> Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 > >> ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 > >> Informasi selengkapnya ada di: > >> http://www.media-islam.or.id > >> Ingin belajar Islam? > >> Kirim email ke: [email protected] > > > > > > > > > > _______________________________________________ > > Is-lam mailing list > > [email protected] > > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > ___________________________________________________________________________ Dapatkan nama yang Anda sukai! Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com. http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
