Menarik sekali, topik ini sangat bermanfaat. Terimakasih. Beberapa pertanyaan :
>Posisi dinar dalam konteks yang semacam itu, ya tetep emas sebagai komoditas. Jika dinar emas dijadikan mata uang, apakah kemudian bisa menghindari efek penurunan nilai uang ? Masih segar di ingatan kita kasus2 seperti hancurnya nilai uang Zimbabwe, Turki (tapi sekarang sudah jauh mendingan ya?), dan Indonesia sendiri. Kalau saya membaca penjelasan mas Bango, sepertinya fluktuasi harga itu akan tetap ada. Karena memang ada faktor2 lainnya; seperti supply & demand. Contoh: harga kambing 1 dinar. Tapi, pada saat idul adha, harganya menjadi 2 dinar, karena memang ada demand yang besar pada saat tsb Anyway, tapi saya perkirakan fluktuasi harga ini akan JAUH lebih kecil daripada sistem yang digunakan saat ini. Ayah saya masih suka curhat bagaimana dulu beras harganya hanya 25 sen, dst, ha ha :-) Kembali ke topik - apakah pemahaman saya ini benar ? > Bukankah dinar (emas) untuk saat ini adalah termasuk barang mewah. Bukankah > dengan demikian banyak yang tidak bisa mengaksesnya karena anggota umat ini > banyak yang miskin dan masih dihargai nilai tambahnya dengan rupiah. Bukannya bisa menggunakan pecahan yang lebih kecil, seperti dirham ? Anyway, saya kira ada alternatif satu lagi -- yaitu; tetap menggunakan uang kertas, namun dijamin dengan emas di bank sentral. Jadi nilai yang tertera di kertas itu memang riil. Bukan cuma virtual, yang rentan terhadap spekulasi. Ada satu grafik yang menarik : http://research.stlouisfed.org/fred2/fredgraph?s[1][id]=AMBNS Perhatikan bagaimana jumlah uang yang tercetak sejak zaman Nixon meningkat secara drastis. > karena kita tahu bahwa solusi yang semacam ini tidak mungkin diambil > pemerintah bahkan dalam jangka waktu yang sifatnya jangka panjang. Jangan remehkan people's power :-) jika umat sudah bergerak, maka yang mustahil pun bisa menjadi kenyataan dalam waktu yang singkat. Salam, HS 2009/3/6 Bango Samparan <[email protected]>: > > Pertama harus dipahami dulu bahwa dinar yang sering dipromosikan mas Nizami > tersebut, pada dasarnya belum bisa dianggap sebagai uang. Posisi dinar dalam > konteks yang semacam itu, ya tetep emas sebagai komoditas. > > Nah tentang harga dinar dari hasil panen 14 ton, yang ditanyakan mas Nung > itu, bisa dijawab sbb: > > akhir tahun 2008 --> 14 ton padi > > misalnya harga per kuintal pada 2008 adalah Rp 120.000 > maka nilai 14 ton padi adalah: > > 14 x 10 x 120.000 = Rp. 16.800.000 > > untuk menjadi dinar, ya harus dilihat kurs dinarnya, misalnya 1 dinar = Rp. > 100.000 > maka nilai panen dalam dinar: > > 16.800.000/100.000 = 168 dinar > > akhir tahun 2009 --> 14 ton > > kalau harga patokan per kuintal tidak berubah, dan kurs dinar juga tidak > berubah, nilai panen dalam dinar ya tidak berubah, tetap 168 dinar. Tapi > kalau berubah, ya nilainya berubah, rumusnya: > > 14 x 10 x (120.000 + dh) = 16.800.000 + 140dh > > misalnya kurs dinar berubah menjadi 1 dinar = Rp. 100.000 + dd, maka nilai > panen dalam dinar: > > (16.800.000 + 140dh)/(100.000+dd) > > nah, jadi nilai dinarnya akan sangat bergantung pada dh (kenaikan harga > patokan panen/kuintal) dan dd (kenaikan kurs dinar). dh dan dd pada pokoknya > akan dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran atas beras dan dinar. > Misal dh = 10.000, dan dd = 30.000 maka nilai dinar: > > [16.800.000+ (140 x 10.000)] /(100.000 + 30.000) = 140 dinar > > Kondisi akan berbeda kalau dinar sudah menjadi standar moneter (rupiah > dihilangkan diganti dengan dinar). Rumusnya bisa seperti: > > akhir tahun 2008 --> 14 ton = x dinar > akhir tahun 2009 --> 14 ton = x dinar atau 14 ton = [x + y] dinar > > nilai panen dalam dinar kini lebih tergantung pada dinamika permintaan dan > penawaran beras. Yang jelas, sudah tidak bergantung lagi pada kurs dinar > terhadap rupiah. > > Di milis ekonomi nasional, saya dan mas Nizami diskusi ramai tentang wacana > emas sebagai standar moneter, sayang kami belum sepakat dalam banyak > persoalan:-) > > Mas Nizami, mohon dipikirkan dengan sangat nih, kalau panjenengan sekarang > menjual jasa atau barang dan njenengan minta dibayar dengan dinar. Apa ini > malah tidak makin menyengsarakan umat? > > Bukankah dinar (emas) untuk saat ini adalah termasuk barang mewah. Bukankah > dengan demikian banyak yang tidak bisa mengaksesnya karena anggota umat ini > banyak yang miskin dan masih dihargai nilai tambahnya dengan rupiah. Jadi > dengan penyelesaian gaya dinar panjenengan itu, bukankah itu malah makin > menyengsarakan mereka? Rasanya panjenengan tidak bisa secara sederhana > menyatakan, "salahkan pemerintah dong, yang tidak mau menggunakan dinar > sebagai alat bayar", karena kita tahu bahwa solusi yang semacam ini tidak > mungkin diambil pemerintah bahkan dalam jangka waktu yang sifatnya jangka > panjang. > > Salam hangat > B. Samparan > > > --- On Fri, 3/6/09, A Nizami <[email protected]> wrote: > >> From: A Nizami <[email protected]> >> Subject: Re: [is-lam] Dinar Emas Sebagai Alat Jual-Beli di Indonesia >> To: [email protected] >> Date: Friday, March 6, 2009, 4:10 PM >> Wa'alaikum salam wr wb, >> Kemungkinan besar dengan dinar emas nilainya akan sama >> seperti halnya harga 1-2 ekor kambing di zaman Nabi yang >> nilainya sekitar 1 dinar (sekarang Rp 1,5 juta). >> >> Kalau dengan rupiah kita tahu pasti beda, dulu Rp 700/kg >> sekarang sudah RP 6000/kg. >> >> === >> Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 >> ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 >> Informasi selengkapnya ada di: >> http://www.media-islam.or.id >> Ingin belajar Islam? >> Kirim email ke: [email protected] > > > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
