(^_^)   .....,??@@#$%^zzzz ,....., ketika ada email masuk inbox, suka atawa 
tidak, terpaksa ato tidak (IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN) ,  pasti saya 
buka, baca,..dst..terkadang ada rasa senang, kadang ada rasa kesal, 
dst......he.he.he..


--- Pada Sen, 9/3/09, Alkhori M <[email protected]> menulis:
Dari: Alkhori M <[email protected]>



 
 

 

 





>Kalimat LA
ILA (ha) ILLA ALLAH (hu), bisa ditambahkan menjadi super >kompleks yang
berdasarkan riwayat singkat diatas yaitu: 

>LA ILA (ha) ILLA ALLAH
(hu), 

mas, coba di lihat lagi tekstual arab nya bgm, coba anda liat di Qur'an, saya 
lupa ayat nya tapi bunya nya begini:.."fa'lam anahu laa ilaha 
illallahu"...Pertama: apakah betul terjemah "ila" dalam bahasa indonesia adalah 
ALLAH?Kedua: apakah anda tidak salah dalam melakukan pemenggalan lafadz, 
seharusnya : laa ilaha, ..jangan di penggal la ila, ha  nya dalam 
kurung..maksud judul mungkin perspektif ngkali ya..

mas, dalam al-Qur'an ada ayat yang berbunyi "laa takfuma laysa laka bihi 
'ilmun",..kalo gak salah surah al-Israa..dan banyak dalil2 lain yang mengatakan 
jangan berbicara tentang AKU bila tidak mengetahui...pada ayat di atas ada kata 
"fa'lam",..maka keTAHUilah..sebenarnya mengucapkan "laa ilaha illallahu" pun 
harus dengan ILMU.

 

>LA ILA (ha) ILLA ALLAH
(hu), Allah minimal 5x sebagai muslim anda
>menghadapnya atau minimal 34x anda sujud dihadapanya, pada saat itu, 
>>Subhanallah, Masyalaah kita-kita bisa
langsung berkomunikasi dengan >Allah..
Dzikron katsiiro...
Jangankan cuma komunikasi, bahkan bisa mendapati-NYA...
ada sebuah hadits qudsi " wahai anak adam carilah AKU,  NISCAYA  kamu akan 
mendapati-KU. Bila kamu mendapati-KU maka kamu akan mendapati segala sesuatu, 
bila kamu tidak mendapati-KU, maka kamu tidak akan mendapati segala sesuatu. 
sesungguhnya AKU lebih mencuntai kepada kamu dari pada kepada segala 
sesuatu"..mo tahu bgmana mendapati-NYA. bung Khori?..

"menurut saya" ... sampeyan ini sedang ber "tholabul ilmi", tapi kok kaya nya 
kurang tepat dalam hal  positioning nya....
_____________________________________________________________________________

menjelang pesta demokrasi ini ada hal yg ingin saya diskusikan sbb:
pada suatu saat saya pernah menonton di salah satu tv, waktu itu yg di 
diskusikan adalah kata "rijal", pada saat itu JIL di wakili oleh DR. musdah 
mulia, dan ada seorang ustadz (laki2) dan juga wanda hamidah..

yang ingin saya diskusikan/tanyakan apakah kata "rijal" dalam al Quran mutlak 
melekat pada dzat, artinya harus laki-laki, atau bisa saja melekat pada sifat, 
bila demikian maka perempuan pun bisa saja. bila kata rijal bisa melekat pada 
sifat (mungkin baru wacana) maka ada dalil naqli lain yang memang mendukungnya.
mungkin ada yang punya kumpulan tafsir, kamus, dll..untuk ber sharing ria..

syukron katsiir
wassalam.
a.s. 



      Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di 
Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke