Saya apreciate ceritanya mas. Tapi ketika lihat alinea terakhir, kog
saya jadi ngerasa taste pahit gitu lho. Saya yakin sampeyan sebetulnya
masih bisa lebih arif dlm mengungkapkan maksud. Cuman ya gitu deh....
kenapa harus selalu jatuh ke ekspresi seperti itu lagi... seperti itu
lagi... why?
Dulu kan sudah pernah disinggung rame-rame si A begini gaya dan
karakternya, si B begini verbalisasinya... ya sudah ya mbok diterima
aja sebagai perbedaan yg apa adanya gitu lho. Saya masih punya
keyakinan andai kita disini semua lakukan kopidarat ketemu langsung
secara fisik, saya ragu bahwa ekspresi seperti text-text "keras" dan
"kasar" di milis ini akan muncul. Kenapa? krn kita orang timur !!
Sebetulnya tanpa kita sadari dulu sejak kecil orangtua kita dah
melakukan penanaman rasa penghormatan ke orang lain dengan kuat kog.
Itu yg belum tentu ada di semua negara-negara lain di barat, krn
memang perbedaan budaya. Lha sekarang, ketika di dunia maya, kenapa
kog cenderung gimanaaaaa gitu... bingung sendiri saya cari istilah yg
tepat.. he..he..he..
Ya sudah lah... terima apa adanya sajalah....
:)
salam hangat
On May 1, 2009, at 12:15 PM, Alkhori M wrote:
Maaf rekan-rekan yang lain, saya merubah style/ gaya jawaban saya
khusus untuk yang satu ini, sekali mohon maaf utk yang lain. Untuk
pembelajaran ini juga baik untuk meningkatkan daya nalar seseorang
alias IQRA’. Dibawah ini ada pesan seorang teman saya waktu itu
beliau di AKABRI. Beliau itu berpesan dan wanti-wanti kepada saya:
Rekan saya (RS): Kamu hati-hati kalau berteman dengan prajurit
(prajurit maksudnya bukan perwira).
Saya (S): Mengapa harus hati-hati berteman dengan prajurit?
RS: Prajurit itu kalau main-main, ingin menembak kaki, kena yang
lain dan salah-salah nanti kamu bisa mati
S: Kalau perwira, bagaimana?
RS: Kalau perwira, kalau tembak kaki, kena kaki dan kalau tembak
kepala kena kepala
S: Oh begitu maksudnya, paham saya sekarang !!!
Diharapkan rekan-rekan yang lain maklum akan maksud tersirat pada
dialog diatas. Maaf rekan-rekan yang lain, hati-hati dengan prajurit
karena SERING SALAH SASARAN & SOK PINTAR, maklumlah prajurit.
Salam kompak selalu buat yang lainya, tidak untuk prajurit yang satu
ini. Sekali kali tukar style bolehkan? He.. he.. kebakaran jenggot
dia sekarang.
Alkhori M
Alkhor Community
Qatar
From: [email protected] [mailto:[email protected]
] On Behalf Of AFR
Sent: Friday, May 01, 2009 8:00 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Khataman Nabiyin, La Nabiya Ba'dahu, lanjutan2
--c|
waduh maaf ya soal pahala. itu urusan Allah SWT, saya gak pernah
itung-itungan ttg pahala. sementara pada org yg kurang pantes
dihormati
karena tidak bisa menghargai dirinya sendiri, saya gak berharap pahala
dgn bersopan-santun koq, mas?
saya lebih senang berharap pahala karena nggebukin maling dgn niat
beri
pelajaran dr pada berlemah-lembut tapi nyolong lagi .. nyolong lagi.
salam,
Fahru
From: Alkhori M <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, May 1, 2009 10:34:09 AM
Subject: Re: [is-lam] Khataman Nabiyin, La Nabiya Ba'dahu, lanjutan2
Mas AFR,
Sebenarnya saya tertarik untuk menjawabnya, tapi gaya pertanyaan
anda ibarat seorang GOEROE (maaf pernah ini saya tuliskan doeloe,
seorang GOEROE dengan bertolak pinggang bertanya pada muridnya)
apakah anda AFR seorang GOEROE (sengaja dipakai ejaan lama, karena
itu adalah gaya GOEROE zaman dulu, tapi GURU zaman sekarang tidak
begitu lagi, tentu guru yang terlahir jadi guru, bukan guru karena
tak ada dapat kerja lain maka ngelamar jadi guru). Nah kalau
pertnyaan anda itu manis dan sopan tentu akan dijawab. Berbuat sopan
dan santun itu adalha berpahala dan sebenarnya sudah diajarkan dari
rumah. Salam kompak selalu.
Alkhori M
Alkhor Community
Qatar
From: [email protected] [mailto:[email protected]
] On Behalf Of AFR
Sent: Friday, May 01, 2009 6:11 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Khataman Nabiyin, La Nabiya Ba'dahu, lanjutan2
Alkhori:
1. Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, apakah setelah itu tidak ada
lagi wahyu yang turun kepada manusia atau jika bukan wahyu mungkin
level yang rendah dari wahyu, yang biasa diterima oleh para wali?
dua pertanyaan saja ...
1. sampeyan (alkhori) ngartikan wahyu itu spt apa dulu?
2. apa maksudnya adlh memungkinkan ada ayat baru yg
akan turun lagi lewat perantara si fulan karena ada yg
kurang lengkap dlm Qur'an & hadist?
---
kalo pertanyaan 2 sampeyan jawab: iya --> secara qath'i itu salah!
skrg tergantung sampeyan, tolong jelaskan jabarkan pertanyaan 1.
salam,
Fahru
From: Alkhori M < [email protected] >
To: [email protected]
Sent: Friday, May 1, 2009 9:37:31 AM
Subject: [is-lam] Khataman Nabiyin, La Nabiya Ba'dahu, lanjutan2
KHATAMAN NABIYIN, LA NABIYA BA'DAHU, lanjutan2.
Dalam Ushul Fiqih, jika sudah jelas kalimat/ wahyu yang disampaikan,
arti tersebut tidak boleh diabandon. KHATAMAN NABIYIN, LA NABIYA
BA'DAHU artinya sudah tetap dan harus digunakan sebagai argumentasi
utama. Artinya KHATAMAN NABIYIN, LA NABIYA BA'DAHU adalah Muhammad
SAW adalah nabi terakhir dan tidak ada lagi nabi setelah beliau
TITIK. Arti dan pemahaman itu tidak boleh dikurang dan tidak boleh
ditambah, karena kalimat tsb sudah gamblang artinya. Tapi tentu ada
arti derivative-nya, nah inilah yang akan diulaskan dan diperhalus
apa saja yang relevan sebagai bukti bahwa Muhammad SAW adalah
sebagai nabi terkahir yang lebih indah dan mudah dilhat dari sudut
sebab akibat.
Bukti Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, dengan kemajuan IT
sekarang ini, maka informasi dalam sekejap bisa menyebar kemana-
mana, jadi ajaran adhienul islam dengan sangat mudah diakses oleh
ummat manusia, sehingga kesinambungan ajaran adhienul islam bisa
terus on and on diterima manusia
Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, dibuktikan dengan ayat “hari ini
kusempurnakan agamamu …” yang berarti kita kita tidak diminta lagi
untuk meng-expansikan Islam, tapi lebih diutamakan untuk menjaga/
melestarikan Islam dalam artian Islam itu harus dijaga kemurnian
ajaranya. Karena dalam setiap ajaran agama terdapat proses yang
terus berlanjut dalam dua wilayah yang besar yaitu PEMBARUAN &
PEMURNIAN AGAMA. (disini agak kesulitan saya dalam mengungkapan apa
kalimat yang tepat, insya allah nanti direvised)
Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, apakah setelah itu tidak ada
lagi wahyu yang turun kepada manusia atau jika bukan wahyu mungkin
level yang rendah dari wahyu, yang biasa diterima oleh para wali?
Insya Allah bersambung, salam kompak selalu.
Alkhori M
Alkhor Community
Qatar
KHATAMAN NABIYIN , LA NABIYA BA'DAHU
Kalau judul diatas hanya diterjemahkan secara TERSURAT, makanya
muncul kasus AHMADIYAH?
Tapi kalau mau jujur, memang mostly ummat Isalam memaknai KHATAMAN
NABIYIN, LA NABIYA BA'DAHU secara FIQIH saja. Maka dengan lantang
mengatakan AHMADIYAH kafir dan ramai-ramai minta Ahmadiyah dibubarkan.
Seandainya ummat yang sekarang ini dimisalkan lahir dizaman
Rasulullah, tentu mereka mereka inilah yang paling didepan untuk
membunuh Rasulullah, mengapa demikian? Tentu rekan-rekan dimilis ini
sudah tahu jawabanya. Karena pemahaman KHATAMAN NABIYIN, LA NABIYA
BA'DAHU adalah dilihat secara sederhana saja, padahal Allah telah
memberikan aqal alias brain agar manusia bisa berpikir dengan OTAK
dan bukan mengedepankan OTOT untuk menyelesaikan persoalan. Makanya
wahyu yang pertama turun adalah IQRA’ maknanya BACA atau BELAJAR dan
bukan sebaliknya untuk MENGHAJAR!!!
Adakah yang bisa menambahkan dengan bahasa sendiri arti dari
KHATAMAN NABIYIN, LA NABIYA BA'DAHU yang sesuai dengan ajaran
Adhienul Islam?
Insya Allah bersambung, salam kompak selalu.
Alkhori M
Alkhor Community
Qatar
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam