BAgus banget ceritanya tuhh mas.... layak dijadikan sebuah film dokumenter tuh.... hik...hik...
----- Original Message ----- From: "Dewa Gede Permana" <[email protected]> To: <[email protected]> Sent: Tuesday, May 05, 2009 2:53 PM Subject: Re: [is-lam] Khataman Nabiyin, La Nabiya Ba'dahu, lanjutan 5 --x| Saya jadi inget teman dekat yg katholik di fakultas yang berbeda. Satu tahun lebih tua dari saya dan ngakunya dulu masa SMA dia habiskan di sekolah kepastoran Medan. Dia sangat lihai dalam berorasi dan kemampuan itu memang diasah di kurikulum pendidikannya. Postur badan tinggi besar (oleh krn itu dia cocok sekali aktif di MenWa), face keras layaknya orang batak dan suaranya cenderung mengglegar bagi kebanyakan mahasiswa non-batak. Dengan keadaan seperti itu rupanya banyak dari teman2 mahasiswa yg lain pada "ngeri" jika dekat dengan dia, pun ketika berpapasan dijalan, menunggu di halte bis kampus, ataupun ketika kebetulan sedang makan bareng di warung. Entah kenapa kog tiba-tiba saya bisa dekat dengan kawan batak satu ini. Padahal kalo dilihat perbandingan pembawaan ya sangat jauh berbeda. Dia pendiam, tampang seram dan kaku, muka kutu buku dengan kacamata yg tebal. Sedangkan saya berbadan kecil, krempeng, kalo ngobrol suka nyrocos... gak peduli ditempat umum, bahkan seringkali orang lain yg awalnya gak kenal jadi kenal gara2 saya paksa cerita... he..he..he.. Karena sudah merasa akrab barangkali akhirnya suatu saat teman batak ini mengeluarkan uneg-uneg pribadinya. Dia katakan bahwa dirinya ini sebetulnya tidak disukai digerejanya, menurutnya dirinya sebetulnya termasuk kafir karena tidak suka dengan ajaran Paulus maupun gerakan renaissance, dan dia hanya menyukai figur seperti Yesus, figur Nabi Muhammad, serta figur2 para Wali. Oleh krn merasa didiskreditkan oleh orang2 gerejanya itulah akhirnya dia tak lagi mau datang ke gereja hanya untuk menghindari cemoohan. Lantas saya memberanikan diri utk bertanya bagaimana cara dia melakukan ibadah sehari-hari. Dia bilang bahwa dirinya punya seorang guru (yg Jawa katholik blasteran) yg bisa dia percaya (salah satu dari dosen favoritnya), jika ada masalah2 spiritualitas biasanya dia konsultasikan ke guru tsb. Dia bilang cara ibadah sehari-harinya ya kalo malam tidur setengah telanjang dibawah kolong tempat tidur dengan mengheningkan cipta !! Trus saya tanya lagi apa efek dari ibadah seperti itu? Dia jawab "itulah yg gue bingung... kagak ada efek apa-apa, cuma kedinginan doang.... tapi tetep aja gue lakuin yang kayak gituan... goblok gak!".... Kontan saya ketawa ngakak dan tanya lagi lha trus kalo gak ada dipan apa elo bisa sembahyang? Trus dia bilang elo jangan nambah-nambah gue ngrasa jadi tambah goblok dong !! Lantas saya bilang, bukan hanya elo yg ngrasa goblok... gue dulu lebih goblok dari elo.... mosok sembahyang di pura pake dicipratin air dah gitu jampi-jampi nya gue kagak ngerti, dah gitu panas terik dilapangan nyiksa bener dan waktunya lamaaaa banget. Dan kalo tiba-tiba hujan, wah pada bubar semua ngacirrrr... pake ditonton penduduk sekitar pulak !! Itu juga gue ulang-ulang. Nah lebih goblok mana, elo atau gue ? Trus beberapa selang saya tanya lagi ke dia, jadi sebetulnya yg salah ini dimana, bokap elo kan pastor dan elo anak nomer satu, pastinya elo akan dijadikan contoh buat adik-adik dan akan dituntut nerusin garis marga kan ? Dia jawab, ya iya gue tahu itu... tapi gue belum kepikiran coy. lagian bokap dikampung juga nggak tahu kondisi gue kayak begini. Mereka taunya ya gue kuliah dan nanti jadi pengacara sukses ! tapi yang jelas gue kudu ngrombak diri lah... nggak ada yang bisa gue salah-salahin... gue sadar itu. Semenjak itu doski jadi lebih sering main ke tempat kost saya (tanpa nginap, krn dia pasti bingung kalo mau sembahyang krn kolong dipan sdh dipenuhi oleh buku) dan dia lahap buku-buku islam dan psikologi yg ada di rak. Dasar kutu buku ! Dengan berjalannya waktu dia juga sudah tdk seangker dulu lagi, mau berbasa-basi dengan mahasiswa2 lain disekitarnya, bergaul dengan tetangga dan penduduk kampung asli sekitar. Tutur katanya sangat santun dan sangat tepo-sliro dengan orang lain. Itu memang pembawaan asli dia sebetulnya, cuman selama ini tdk bisa keluar saja. Berita terakhir denger2 dia sudah sholat di masjid, (tidak dibawah dipan lagi) tetapi saya sdh kehilangan kontak. Jadi kalo direnungkan kembali, sebetulnya yang dirombak ya memang diri sendiri ya. Bukan agama yg dirombak, tetapi ya orangnya dirombak, insya Allah dia akan ketemu dengan yang namanya agama. :) salam hangat 2009/5/5 AFR <[email protected]>: >>> Memang pada setiap agama PEMBARUAN dan PEMURNIAN >>> kalau dipermukaan terlihat berbeda tapi sebenarnya keduanya >>> merupakan kebutuhan dasar setiap agama. > > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
