Andaikan dibolehkan bisa nge-rem pelan-pelan kemelut berpolitik dan
berbangsa ini, mungkin memang perbaikan kondisi ekonomi dan pemerataan
kesejahteraan rakyat yg harus di nomorsatu kan. Dan itu hrs dilakukan
secara mandiri, bukan mengandalkan bantuan dari luar. Jadi belum
urgent utk ditambah-tambahi dgn pencabangan beban berat peningkatan
kualitas pendidikan, layanan kesehatan, penegakan syariat, dll.
Mungkin saja memang indonesia kita ini masih berada di fase itu, fase
disekitar perut, dan belum bergerak ke kepala. Cuman pendapat spt ini
juga akan ngundang protes dan trus ada yg tereak : ¨emang gue
binatang, cuman mikirin makan doang¨... nah lho.... wong diajak jalan
pelan-pelan bareng kog malah tersinggung. Lha kan semua juga ada
fase-fase nya. Tapi yang jelas kalo perut dah kelamaan kosong pasti
kerja otak juga terganggu lah, dan ketika keadaan seperti ini dibawa
ke dalam kancah perpolitikan so pasti pada cakar-cakaran utk menutupi
perut yg tadinya lapar dan kosong. Ya mbok blio-blio itu teriak hidup
UUD45, hidup pancasila, hidup syariat.... tetep aja yg tereak2 itu
perutnya lagi kosong. Kenapa kog gak tereak hidup nasi putih, hidup
air putih, hidup singkong aja, kan tdk menipu orang banyak jadinya...
:)

:)
salam hangat



2009/6/5 Bango Samparan <[email protected]>:
> Nyang susah itu mas, partai yang iklan kontrak politik tuh, kalau udah jalan
> nggak pernah ngevaluasi berjalannya kontrak politik secara terbuka.
> Mana laporan PKS tentang pelaksanaan kontrak politik dengan SBY periode ini?
> Kalau bisa diurus di pengadilan dunia, itu omong kosong-lah mas. Sekali
> lagi, "Anda boleh milih saja, tidak memecat." Apa ada pemilu menurunkan
> presiden?
> Kalau pengadilan akhirat, ya jelas bisa, wong yang mengajukan ke pengadilan,
> Sang Raja Hari Pembalasan sendiri. Nah, barangkali yang dimintai
> pertanggungjawaban pertama adalah:
> Mengapa demi target 20% suara kalian wahai petinggi PKS: memperbolehkan
> orang berdangdut ria, ber-rock ria, bilang Pancasila dan UUD45 final,
> syariat tidak relevan lagi, dll., dll.
> He .. he, tapi memang rasional kok mas. Gini lho logikanya: PKS tuh ingin
> jadi partai besar, makanya dia harus ikut masuk ke eksekutif. Mengapa?
> Karena dengan menjadi eksekutif kesempatan untuk cari dana menjadi lebih
> besar. Untuk memperbesar suara, kan perlu duit besar, wong di Indonesia tuh
> yang berpengaruh dalam urusan dapat suara, uang.
> Rasional juga, menurut petinggi PKS lho, isu keterbukaan - ikut arus -
> digadang-gadang tinggi-tinggi. Sayang kata Jack Trout, Differentiate or Die.
> Akhirnya suara PKS stagnan, yah naik dikitlah. Barangkali konsumen mikirnya,
> kalau mau pilih partai Nasionalis, apa iya sih PKS lebih nasionalis dari
> partai-partai lain; kalau mau pilih partai terbuka, apa iya sih PKS lebih
> terbuka dari partai-partai lain. Orang kan sudah tahu, kalau bukan kader
> mana bisa kalian jadi penggede partai:-) Kecuali anda terkenal dan mampu
> kasih biaya kampanye:-) Makanya, PD yang melejit.
> Faktor lain kenapa PD melejit ya faktor mudahnya masyarakat terilusi: "Kalau
> saya merasa mendapat manfaat dari kebijakan pemerintah/presiden periode ini,
> berarti partai mereka hebat." He ... he, jadi kontrak-kontrak partai itu
> sebetulnya malah tidak menguntungkan tho, piye-piye yang dapat nama
> presidennya dan partainya! Ingat tuh rebutan prestasi swasembada pangan.
> Eee, nggak malu ya, impor beras toh jalan terus, kesejahteraan petani juga
> masih gitu-gitu saja, pencari rente faktor-faktor produksi sektor pertanian
> juga masih marak menjalankan praktek-prakteknya.
> Jadi, silahkan dimakan tuh rasionalisme Anda, saya Golput sajalah, saya
> memang penganut irasional expectation. Waktu kuliah ekonomi dulu saya memang
> selalu "ratek donk" saat mempelajari madzab ratex atau rational expectation.
> Heran, orang makin takut saja sama Golput, di Amrik golput sampai 45% saja,
> orang kagak ada yang ribut nuduh ini itu kok.
> BTW, tolong deh baca Public Economics pada bahasan Arrow Paradoks, biar tahu
> apa yang dimaksud dengan rasionalitas dalam politik demokrasi=))
> Salam hangat
> B. Samparan
>
> --- On Fri, 6/5/09, Yandi Dwiputra F <[email protected]>
> wrote:
>
> From: Yandi Dwiputra F <[email protected]>
> Subject: Re: [Is-lam] Mendingan mikirin ...... was RE: Melawan
> PenjajahanKompeni AS - FPI Haramkan Pilih SBY
> To: [email protected]
> Date: Friday, June 5, 2009, 1:42 PM
>
> ada pertanyaan apakah kontrak politik bisa dituntut secara hukum apabila ada
> penyimpangan?
> jawabannya HARUS BISA!!!! apalagi kalo penyimpangan tersebut merugikan
> rakyat yang jelas2 dilindungi oleh UUD 1945.
>
> tuntutannya bukan cuma didunia tetapi juga diakhirat....
> tuntutannya juga bukan hanya secara hukum tapi juga secara politik....
>
> jangankan kontrak politik, kontrak rumah aja bisa dituntut dipengadilan
> kok....
> jangankan kontrak politik, kontrak kerja aja kalo ada pelanggaran bisa
> dituntut kok...
> jangankan kontrak politik, orang berkeluh kesah diinternet aja bisa dituntut
> kok...
>
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[email protected]]on Behalf Of Wong Lim Pok
> Sent: Friday, June 05, 2009 11:15 AM
> To: [email protected]
> Subject: [Is-lam] Mendingan mikirin ...... was RE: Melawan
> PenjajahanKompeni AS - FPI Haramkan Pilih SBY
>
>
> Sampai di mana dokumen kontrak politik itu dapat dipertanggung jawabkan?
> Apakah dapat dibawa ke Mahkamah Agung bila ternyata yang bersangkutan tidak
> dapat memenuhi isi kontrak tersebut? Dan ... antara siapa dengan siapa
> kontrak tersebut dilaksanakan? Ada panitia tender? Berapa? :) :)
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke