Beberapa hari lalu saya diajak rasan-rasan tentang demokrasi dan pemilu di 
hadapan para aktivis kampus. Obrolan kesana-kemari, sampai pada hal-hal sbb:
Demokrasi tuh lucu kok, masa semua orang dibobot sama. Ada pembicara yang 
bersoloroh "masak pak Bango Samparan dibobot sama dengan pelacur di alon-alon 
keraton itu". Wah, pendapat ini sama persis tho dengan keberatan Alexis Carrel 
dalam Man the Unknown. Waktu itu, tak balas-lah selorohan itu, "makanya, kalau 
mau menjalankan demokrasi secara utuh-tuh, langkah awal yang harus dilakukan ya 
menyekolahkan para pelacur itu dulu, sekolahkan setinggi mungkin, kalau perlu 
sampai level doktor." Hadirin, langsung pada ngakah-lah. Lho, tapi memang 
syarat demokrasi sebetulnya ya seperti itu tho, rakyat harus dibuat pintar.
Begitulah, karena orang diasumsikan berbobot sama, padahal kenyataan tidak, 
prakteknya demokrasi hampir selalu berarti dominasi kaum sophist terhadap kaum 
awam. Nih, kaum sophist menjadi ilusionist-ilusionist ulung, yang menciptakan 
ilusi agar masyarakat bertindak sesuai dengan keinginan mereka. Makanya, yang 
dinamakan vox populi vox dei tuh sebetulnya, ya omong kosong saja. Meski ini 
yang selalu diteriak-teriak sama pendukung demokrasi, yang tentu saja biar 
orang mau percaya sama demokrasi. Lucunya, aktivis Islam yang kelewat semangat 
juga percaya diktum ini, lalu teriak-teriak keras demokrasi itu agama. Lha 
kalau demokrasi agama, kapitalisme harus disebut apa, mbah-nya agama donk.
Begitulah, karena orang diasumsikan berbobot sama, padahal kenyataan tidak, 
maka di milist ini ada tho yang menyatakan "Pokoknya ... ". Padahal, kalau kita 
mau kritis sedikit, demokrasi sebetulnya merupakan salah satu sumber terbesar 
penderitaan masyarakat Indonesia. Kalau nggak percaya, coba hitung berapa biaya 
yang telah dikeluarkan oleh negera untuk penyelenggaran rangkaian pemilu dan 
pilkada selama ini. Mengapa tidak untuk yang lain saja.
Weleh, tapi yang sudahlah wong yang dominan juga aura pergugukan, makanya 
kebanyakan orang ya pada merem-melek saja, keenakan menggigiti tulang-belulang. 
Coba para penggigit tulang ini apa ya masih ingat untuk menuntut bukti dari 
tulisan Rizal Malarangeng berikut ini:
Kondisi seperti itu yang mendorong pemerintah segera menghidupkan kembali 
proses perundingan Blok Cepu yang telah terbengkalai selama lebih dari lima 
tahun. Jika dikelola dengan baik, blok ini mampu memompa minyak dalam jumlah 
yang cukup fantastis, yaitu sekitar 20 persen kapasitas produksi 
nasional. Dengan ini kita akan bisa kembali menjadi net exporter, dan 
menggunakan hasilnya demi kemakmuran rakyat.Dari perhitungan kasar, nilai 
produksi yang dapat diperoleh dalam sepuluh tahun pertama bisa mencapai Rp 
200-300 triliun, atau sekitar Rp 25 triliun per tahun. Berapa sekolah, rumah 
sakit, dan fasilitas publik yang dapat dibangun dengan duit sebanyak itu setiap 
tahun?Karena itu, setiap pemerintahan yang bertanggung jawab harus mengupayakan 
agar perundingan ini sukses dan tidak bertele-tele. Jika gagal, kita harus 
menunggu lagi hingga 2010, yaitu berakhirnya masa kontrak Exxon, dan baru bisa 
menikmati hasil dari Blok Cepu paling cepat pada 2012. Itu pun
 jika kita menang dalam perkara ini di pengadilan arbitrase 
internasional.... Masalahnya bukan terletak pada kebanggaan atau kepercayaan 
terhadap satu atau beberapa perusahaan milik negara. Soalnya lebih terletak 
pada pilihan prioritas dan keberanian untuk memilih. Lewat negosiasi Blok Cepu, 
pemerintah telah menetapkan dan memilih prioritas. Hasil yang diharapkan pada 
akhirnya adalah percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat. Jika ini terjadi, 
di situlah letak kebanggaan kita yang sesungguhnya sebagai sebuah bangsa.Nah, 
berarti kita harusnya sudah menikmati tho hasilnya? Tapi mana? Begitulah, kita 
memang pinter buat kontrak-kontrak politik, tapi malas mengawal dan 
mengevaluasi pelaksanaannya.
Salam hangat
B. Samparan

--- On Sun, 6/28/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:

From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
Subject: Re: [Is-lam] [***SPAM*** Score/Req: 08.50/05.00] Memilih Pemimpin yang 
Beriman dan Saleh - Re: Muslim yang Baik Jelas Identitasnya
To: [email protected]
Date: Sunday, June 28, 2009, 1:19 AM

Kalo kata saya golput mah nggak haram lah. Yang haram itu nyolong
suara, makan babi, berjudi... :))
Jangan-jangan justru yg mengatakan "golput haram" itulah yg melakukan
tindakan haram. krn mereka berusaha merampok suara meskipun itu tdk
dilakukan secara langsung... tetapi dengan modus pressure, teror media
dan memanipulasi rasa takut akibat ketidak-tahuan yg berkembang di
masyarakat. Yang kelihatannya benar bisa saja salah, dan yang
kelihatan salah bisa saja benar; dan ini bisa mudah terjadi
sebagaimana mudahnya memutar arah jari jempol.

Terserah apakah akan "gol.put" ataupun "gol.*" yang penting keputusan
itu diambil atas dasar kebebasan individualnya, atas kemauan / intensi
/ tanggungjawab sendiri, bukan krn tekanan dari luar.... dan seperti
itulah ciri2 keputusan yang elegan, yang mandiri, yang matang. Kalo si
A memilih capres X krn spy bisnis tetep lancar, gaji dan job sbg
pegawai negri tetep terjamin, krn masih ada hubungan premordial, krn
sekolah anaknya gratis, krn pak ustadz nyuruh begitu, krn boss kasih
perintah begitu, dst.. dst... Ya sudah ke lauuuuut sono.... bungkus
tuh sejuta alasan.

Jika pengambilan keputusan ini tdk didasarkan pada kedewasaan dan
kemandirian perorangan maka tdk heran jika setelah pemilu nanti,
siapapun yg muncul sebagai pemenangnya, tetap akan menyisakan suasana
yg buruk (non kooperatif). meskipun jauh-jauh hari ngoceh sana-sini
sebagai pemilu damai.

Kalo disuruh mbela kontestan, orang awam macam saya tentu ogah,
mendingan mbela kebebasan itu sendiri. Setiap orang pasti menghendaki
sebuah kebebasan namun dalam perjalanan tidak sedikit yang membiarkan
diri selalu terjebak oleh kurungan pikiran2 orang lain.

:)
salam hangat





      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke