Hi,,,.. hi...hi...
Namanya aja udah DEMOKRASI,.. berasal darimana ya? kalo gak salah demos kratos 
kali...?
Lah wong budaya non Islam kok mau di Islamisasi... hi...hi...hi....
Hidup Revolusi......!!!


  ----- Original Message ----- 
  From: Bango Samparan 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, June 28, 2009 10:13 AM
  Subject: Re: [Is-lam] [***SPAM*** Score/Req: 08.50/05.00] Memilih 
Pemimpinyang Beriman dan Saleh - Re: Muslim yang Baik Jelas Identitasnya


        Beberapa hari lalu saya diajak rasan-rasan tentang demokrasi dan pemilu 
di hadapan para aktivis kampus. Obrolan kesana-kemari, sampai pada hal-hal sbb:


        Demokrasi tuh lucu kok, masa semua orang dibobot sama. Ada pembicara 
yang bersoloroh "masak pak Bango Samparan dibobot sama dengan pelacur di 
alon-alon keraton itu". Wah, pendapat ini sama persis tho dengan keberatan 
Alexis Carrel dalam Man the Unknown. Waktu itu, tak balas-lah selorohan itu, 
"makanya, kalau mau menjalankan demokrasi secara utuh-tuh, langkah awal yang 
harus dilakukan ya menyekolahkan para pelacur itu dulu, sekolahkan setinggi 
mungkin, kalau perlu sampai level doktor." Hadirin, langsung pada ngakah-lah. 
Lho, tapi memang syarat demokrasi sebetulnya ya seperti itu tho, rakyat harus 
dibuat pintar.


        Begitulah, karena orang diasumsikan berbobot sama, padahal kenyataan 
tidak, prakteknya demokrasi hampir selalu berarti dominasi kaum sophist 
terhadap kaum awam. Nih, kaum sophist menjadi ilusionist-ilusionist ulung, yang 
menciptakan ilusi agar masyarakat bertindak sesuai dengan keinginan mereka. 
Makanya, yang dinamakan vox populi vox dei tuh sebetulnya, ya omong kosong 
saja. Meski ini yang selalu diteriak-teriak sama pendukung demokrasi, yang 
tentu saja biar orang mau percaya sama demokrasi. Lucunya, aktivis Islam yang 
kelewat semangat juga percaya diktum ini, lalu teriak-teriak keras demokrasi 
itu agama. Lha kalau demokrasi agama, kapitalisme harus disebut apa, mbah-nya 
agama donk.


        Begitulah, karena orang diasumsikan berbobot sama, padahal kenyataan 
tidak, maka di milist ini ada tho yang menyatakan "Pokoknya ... ". Padahal, 
kalau kita mau kritis sedikit, demokrasi sebetulnya merupakan salah satu sumber 
terbesar penderitaan masyarakat Indonesia. Kalau nggak percaya, coba hitung 
berapa biaya yang telah dikeluarkan oleh negera untuk penyelenggaran rangkaian 
pemilu dan pilkada selama ini. Mengapa tidak untuk yang lain saja.


        Weleh, tapi yang sudahlah wong yang dominan juga aura pergugukan, 
makanya kebanyakan orang ya pada merem-melek saja, keenakan menggigiti 
tulang-belulang. Coba para penggigit tulang ini apa ya masih ingat untuk 
menuntut bukti dari tulisan Rizal Malarangeng berikut ini:


        Kondisi seperti itu yang mendorong pemerintah segera menghidupkan 
kembali proses perundingan Blok Cepu yang telah terbengkalai selama lebih dari 
lima tahun. Jika dikelola dengan baik, blok ini mampu memompa minyak dalam 
jumlah yang cukup fantastis, yaitu sekitar 20 persen kapasitas produksi 
nasional. Dengan ini kita akan bisa kembali menjadi net exporter, dan 
menggunakan hasilnya demi kemakmuran rakyat.


        Dari perhitungan kasar, nilai produksi yang dapat diperoleh dalam 
sepuluh tahun pertama bisa mencapai Rp 200-300 triliun, atau sekitar Rp 25 
triliun per tahun. Berapa sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik yang dapat 
dibangun dengan duit sebanyak itu setiap tahun?


        Karena itu, setiap pemerintahan yang bertanggung jawab harus 
mengupayakan agar perundingan ini sukses dan tidak bertele-tele. Jika gagal, 
kita harus menunggu lagi hingga 2010, yaitu berakhirnya masa kontrak Exxon, dan 
baru bisa menikmati hasil dari Blok Cepu paling cepat pada 2012. Itu pun jika 
kita menang dalam perkara ini di pengadilan arbitrase internasional.

        ... Masalahnya bukan terletak pada kebanggaan atau kepercayaan terhadap 
satu atau beberapa perusahaan milik negara. Soalnya lebih terletak pada pilihan 
prioritas dan keberanian untuk memilih. Lewat negosiasi Blok Cepu, pemerintah 
telah menetapkan dan memilih prioritas. Hasil yang diharapkan pada akhirnya 
adalah percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat. Jika ini terjadi, di 
situlah letak kebanggaan kita yang sesungguhnya sebagai sebuah bangsa.

        Nah, berarti kita harusnya sudah menikmati tho hasilnya? Tapi mana? 
Begitulah, kita memang pinter buat kontrak-kontrak politik, tapi malas mengawal 
dan mengevaluasi pelaksanaannya.


        Salam hangat
        B. Samparan

        --- On Sun, 6/28/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> 
wrote:


          From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
          Subject: Re: [Is-lam] [***SPAM*** Score/Req: 08.50/05.00] Memilih 
Pemimpin yang Beriman dan Saleh - Re: Muslim yang Baik Jelas Identitasnya
          To: [email protected]
          Date: Sunday, June 28, 2009, 1:19 AM


          Kalo kata saya golput mah nggak haram lah. Yang haram itu nyolong
          suara, makan babi, berjudi... :))
          Jangan-jangan justru yg mengatakan "golput haram" itulah yg melakukan
          tindakan haram. krn mereka berusaha merampok suara meskipun itu tdk
          dilakukan secara langsung... tetapi dengan modus pressure, teror media
          dan memanipulasi rasa takut akibat ketidak-tahuan yg berkembang di
          masyarakat. Yang kelihatannya benar bisa saja salah, dan yang
          kelihatan salah bisa saja benar; dan ini bisa mudah terjadi
          sebagaimana mudahnya memutar arah jari jempol.

          Terserah apakah akan "gol.put" ataupun "gol.*" yang penting keputusan
          itu diambil atas dasar kebebasan individualnya, atas kemauan / intensi
          / tanggungjawab sendiri, bukan krn tekanan dari luar.... dan seperti
          itulah ciri2 keputusan yang elegan, yang mandiri, yang matang. Kalo si
          A memilih capres X krn spy bisnis tetep lancar, gaji dan job sbg
          pegawai negri tetep terjamin, krn masih ada hubungan premordial, krn
          sekolah anaknya gratis, krn pak ustadz nyuruh begitu, krn boss kasih
          perintah begitu, dst.. dst... Ya sudah ke lauuuuut sono.... bungkus
          tuh sejuta alasan.

          Jika pengambilan keputusan ini tdk didasarkan pada kedewasaan dan
          kemandirian perorangan maka tdk heran jika setelah pemilu nanti,
          siapapun yg muncul sebagai pemenangnya, tetap akan menyisakan suasana
          yg buruk (non kooperatif). meskipun jauh-jauh hari ngoceh sana-sini
          sebagai pemilu damai.

          Kalo disuruh mbela kontestan, orang awam macam saya tentu ogah,
          mendingan mbela kebebasan itu sendiri. Setiap orang pasti menghendaki
          sebuah kebebasan namun dalam perjalanan tidak sedikit yang membiarkan
          diri selalu terjebak oleh kurungan pikiran2 orang lain.

          :)
          salam hangat


       




------------------------------------------------------------------------------


  _______________________________________________
  Is-lam mailing list
  [email protected]
  http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke