________________________________
From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan
Sent: Thursday, July 02, 2009 11:17 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Is-lam] Ilaah Baru itu Bernama "MASHLAHAT DAKWAH"

Mas Setyo Wibowo, sebagai kader PKS, ya monggo njenengan sendiri hayati 
dinamika partai Anda. Saya mah termasuk massa mengambang kok, hanya kebetulan 
tradisi pembelajaran Islam saya dulu juga banyak memakai buku-bukunya IM, 
terutama Sayyid Qutb dan Sayyid Hawwa.
[Setyo Wibowo]
Kang Bango,
Saya nggak berpretensi mewakili PKS, karena saya sendiri nggak menjadi anggota 
PKS.
Simpati saya memang utk PKS, karena pertama, istri saya mjd pengurus PKS. Tapi 
dia nggak pernah ngurus politik juga, karena di Biro Quran, yg ngurusin tahsin 
dan tahfidz utk seluruh kader dan masyarakat pondok gede. (tp jangan keburu 
curiga ini 'tahsin politis' ya :). istri saya sdh punya banyak sekali murid 
sejak sebelum ada PK/PKS). Kedua, krn tinggal di 'kampung PKS', maka temen2 
obrolan-warung-indomie saya ya dari pengurus dan anggota legislatif PKS dari 
pusat sampai RT.

Soal informasi yang njenengan dkk. persepsikan sebagai gosip atau yang 
sejenisnya,  ya monggo. Membahas soal ini, nggak akan pernah selesai, lihat 
keriuhan di pkswatch.blogspot.com. Satu pihak merasa segala info yang 
dipermasalahan di pkswatch sebagai tidak benar, pihak lainnya merasa sebagai 
kebenaran. Hampir tak pernah bisa ketemu tho mas? Meskipun sebenarnya, bila 
diukur dengan materi-materi tarbiyah pra 1997, IMHO, soal kebenaran itu agak 
lebih mudah dirasakan.
Yang jelas, PKS tuh organisasi publik, dan dari apa yang terungkap di publik, 
saya menilainya sebagai telah merusak branding sebagai partai dakwah. Oleh 
karena itu, hari ini saya berlepas diri dari PKS dan pilihan-pilihan PKS. Kalau 
ada yang merasa tidak demikian, tentu saja juga tidak masalah, selama semua 
didasarkan pada ILMU.
[Setyo Wibowo]
Setuju, Kang. Beda pendapat biasa ada lah, apalagi utk pilihan2 yg 
diskresional. Lha, wong utk masalah aqidah yg qath'i aja, ada aja, tho, yg 
pengen beda?
Yang saya ingatkan di butir 1 itu justru untuk melandasi itu kang. Karena 
banyak faktor, informasi seringkali tidak simetris. Saya ingin mengingatkan, 
bahwa informasi yang ada di media massa dan di internet saja menurut saya belum 
cukup. Setidaknya, banyak informasi-warung-indomie yg saya peroleh banyak yang 
nggak muncul di sana. Org yg berhati2 saya kira akan terus mengumpulkan 
informasi tambahan, sehingga confidence level meningkat dari gosip/sya'/dzon 
hingga menjadi ilmu, ketika dia melakukan judgement. Ini lepas dr apakah pada 
akhirnya dia akan pro atau malah kontra.
Mengenai risiko brand yg bisa cedera, saya sempat ngobrol dg tetangga yg 
kebetulan salah seorang koord wilda DPP. Itu bukan tdk disadari, kang. Ya, kan, 
jer basuki mawa bea. Kata dia, PKS menghitung itu, kalopun terjadi (harus diuji 
di pemilu mendatang, kan?) adalah bagian dari bea politik. Lha, 'basuki'-nya 
emang apa? Kalo itu, tanya aja langsung ke org di PKS yg kompeten.
Btw, manhaj tarbiyah sudah direvisi, Kang... yg terakhir edisi 1427H, mgkin 
tersedia juga di pasar (?). Ya, jamaah kan juga organisme yg tdk statis tho, 
Kang. Kriteria pengukurnya jangan terlalu daluwarsa lah :).


Habis jamaah maghrib kemarin, saya dikelilingi beberapa teman PKS yang mulai 
kebingungan atas sikap PKS. Mereka terutama bertanya-tanya soal istri Boediono. 
Saya jawab, saya tidak tahu. Tapi kalau soal Boediono punya mantu non-muslim, 
Insya Allah itu bisa dipastikan. Untuk soal-soal lain, saya bilang kepada 
mereka, "kalian kader, jadi mesti harus mendengar dan taat, tapi sikap kritis 
agar tahu kondisi yang sebenarnya juga jangan ditinggalkan, kan di akhirat 
nanti, tanggung jawabnya individual. Mohon maaf, seperti yang diungkapkan mas 
Hamami, para kader seringnya memang hanya disuruh taat, tanpa diberi kesempatan 
untuk mendiskusikan banyak hal.
[Setyo Wibowo]
Saya punya ipar non-muslim, tapi please anda jangan mempertanyakan keislaman 
saya, ya hehehe...
Btw, mengenai "Orang-PKS" ini kan macam2 ya, Kang. Ada yg bukan anggota macam 
saya, tapi cukup melek informasi PKS, gara2 nongkrong di warung indomie :). 
Sebaliknya, ada juga org yg merasa menjadi kader, tapi kok nggak well-informed. 
Ya saya kira itu masalah internal PKS, bagaimana membuat informasi berjalan 
lancar ke atas, ke bawah, ke samping, dst. Tapi kalo dilihat di AD/ART PKS, 
anggota memang berjenjang kan? Kayak di perusahaan lah, kan mungkin informasi 
juga ada klasifikasinya (bebas, terbatas, rahasia, dll) sesuai dg jenjangnya. 
Jadi lain kali ada bagusnya anda tanya temen PKS itu jenjangnya apa, sehingga 
anda bisa perkirakan literasi dia thd informasi internal PKS bagaimana.


Saya sekarang sering berseloroh lho, jangan-jangan walaupun semua orang 
Indonesia golput, SBY-Boediono tetap terpilih! Seloroh teman saya yang lain, 
hatta disandingkan dengan kambing saja, SBY itu akan tetap terpilih kok. 
Makanya, saya sering ketawa geli melihat gaya PKS, yang sok punya bargaining 
terhadap SBY dan demokrat. Yah ... tapi ini hanya selorohan mas, jangan diambil 
hati. Bisa-bisa saya hanya disangka berkhayal saja ...
[Setyo Wibowo]
It's OK, Kang. Informasi anda kayaknya nggak sama dg yg saya punya. Kalo gaya 
yg anda maksud, gaya secara visual, nyerah, deh. Saya nggak nonton TV, jadi 
nggak tau gimana body-language org PKS bargain sama SBY. Tapi kalo saya bilang, 
SBY sampe nangis2 ketika PKS mau hengkang, mungkin anda juga gak akan percaya, 
walaupun sumber saya valid (menurut saya). Gak apa2 juga. Oke2 aja.

Salam hangat
B. Samparan
[Setyo Wibowo]
Wassalam


--- On Thu, 7/2/09, Setyo Wibowo <[email protected]> wrote:

From: Setyo Wibowo <[email protected]>
Subject: Re: [Is-lam] Ilaah Baru itu Bernama "MASHLAHAT DAKWAH"
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Thursday, July 2, 2009, 8:51 AM

Kang BS: Kalau kita pakai jalur Sayyid Qutb, hampir pasti semua pada golput. 
Kalau kita pakai jalur Hasan Hudaibi, bisa golput bisa tidak, tergantung 
bagaimana seseorang menilai manuver-manuver PKS, masih bermartabat sebagai 
partai Dakwah, atau tidak. Aahh ... banyak sih - terutama kader pra 1997 - yang 
sudah berlepas tangan. Golput memang warna-warni kan :-)
Komen:
1. Seringkali penilaian manuver2 itu hanya berdasarkan pemberitaan di media 
massa dan gosip2 di internet. Buat temen2 yg kadang terlalu bernafsu membuat 
penilaian, sdhkan anda mendapatkan seluruh pertimbangan PKS, termasuk strategi 
yg TIDAK terungkap di luaran? Siapa tahu anda akan berubah penilaian. Kalaupun 
tak mengubah, sekurangnya anda mengambil sikap dengan dasar info yg lengkap.
2. Kalau di IM sendiri ada Sayyid Quthb atau Yusuf Qaradhawi, yg berpandangan 
warna-warni, (kalau benar sinyal kang BS) mengapa kader pra-97 tsb (merasa 
lebih benar dan) berlepas tangan? Kalo di kampung saya di pondok gede, yg 
bahkan kader thn 80-an berjibun, kayaknya ngga ada tuh yg "berlepas tangan". 
Bahkan ada yg terhitung assabiqunalawwalun-nya tarbiyah, masih dg bersemangat 
dan bersahaja, menjadi sekedar ketua DPC (ini jabatan level kecamatan dan murni 
'pengabdian'). Ada juga sih beberapa yg (kayaknya) mufarraqah, tapi malah 
kebanyakan yg pasca-98.

Wassalam
SW - Tinggal di 'Kampung PKS'


________________________________
From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan
Sent: Thursday, July 02, 2009 6:10 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Is-lam] Ilaah Baru itu Bernama "MASHLAHAT DAKWAH"

Wah lha buku terjemahan Ma'alim Fit Thariq tuh masih ada je di rak buku saya. 
Saya dulu suka koleksi bukunya Sayyid Qutb. Dari Sayyid Qubt inilah kemudian 
lahir anak-anak muda yang tak kenal kompromi - jamaah-jamaah jihadiyah. Sedang 
dari Hasan Hudaibi, lahirnya anak-anak muda yang kompromi - IM jalur parlemen, 
kalau di Ina tarbiyah lalu PKS.

Kalau kita pakai jalur Sayyid Qutb, hampir pasti semua pada golput. Kalau kita 
pakai jalur Hasan Hudaibi, bisa golput bisa tidak, tergantung bagaimana 
seseorang menilai manuver-manuver PKS, masih bermartabat sebagai partai Dakwah, 
atau tidak. Aahh ... banyak sih - terutama kader pra 1997 - yang sudah berlepas 
tangan. Golput memang warna-warni kan :-)

Ilmu itu mendahului amal, begitu kaidahnya. Kalau kita berbuat karena ada 
ilmunya, monggo-monggo diLANJUTKAN. Nah ilmu inilah yang nanti kita pakai 
mempertanggungjawabkan perbuatan kita saat proses auditing di akhirat nanti. 
Sekedar mengingatkan iman adalah sikap antara harap cemas, jadi jangan terlalu 
yakin akan sesuatu, tetapi jangan terlalu cemas pula akan sesuatu. WASPADALAH 
WAHAI DIRI.

Salam hangat
B. Samparan

--- On Thu, 7/2/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:

From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
Subject: Re: [Is-lam] Ilaah Baru itu Bernama "MASHLAHAT DAKWAH"
To: [email protected]
Date: Thursday, July 2, 2009, 12:59 AM

Wah sebetulnya buanyak sekali mutiara-mutiara yg bisa digali dari
artikel ini. Dari kalimat per kalimat, dari paragraf per paragraf,
kalo direnungkan dan dibolak-balik hubungan sebab-akibat, dan kemudian
di match dengan keadaan riil kekinian..... dalam dunia dakwah memang
harus banyak yg diperbaiki, atau kalo pinjam istilahnya mas Syarif itu
"hidup reformasi"... Mungkin tepatnya reformasi DIRI, reformasi aku...
:)

Syukron atas artikelnya...

:)
salam hangat




-----Inline Attachment Follows-----

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]</mc/[email protected]>
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke