Wah sebetulnya kita bisa satu kampus, Kang Bango? Saya sempat diterima di Akt UGM th 87, tapi terpaksa ngambil kuliah gratisan di Jakarta, karena bapak ibu sdh masuk pensiun.
Oh ya, saya terlewat utk nambahin tanda petik di frase informasi-warung-indomie itu. Maksud saya, itu informasi informal, tapi dari para pelakunya sendiri. Tidak identik hasil rumpian di warung Indomie, karena saya juga takut diomelin istri kalo ketauan makan mie :) Selebihnya, saya gak kompeten utk komentar kejauhan, Kang. Sori. After all, saya mau bilang, kali ini saya sepakat dengan komentar Ulil ketika PKS memulai politik praktis: "Selamat datang di dunia nyata, kamerad"*). Dan saya sungguh berempati kepada mereka yang HARUS berlepotan di "dunia nyata" tersebut. Itu artinya saya akan berusaha tasamuh dan salamatus sadr kpd mereka2 itu utk hal2 yg mutaghayyirat. Itu artinya saya akan berusaha se-konservatif mungkin memberikan judgement atas apa2 yg mereka upayakan, apalagi kalo tdk punya informasi yg memadai. Itu artinya juga saya akan selalu mendoakan saudara2 saya itu untuk senantiasa mendapatkan hidayah dan bashirah dr Allah swt dalam beramal siyasi. Amin. Wassalam, SW *) mungkin tdk persis seperti itu. ada di salah satu posting milis islam liberal, bertahun2 lalu. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan Sent: Thursday, July 02, 2009 2:57 PM To: [email protected] Subject: Re: [Is-lam] Ilaah Baru itu Bernama "MASHLAHAT DAKWAH" Trims kang, telah merespon secara santai. [Setyo Wibowo] Saya punya ipar non-muslim, tapi please anda jangan mempertanyakan keislaman saya, ya hehehe... [BS] Saya ini bekas mahasiswa pak Budiono (Angkatan 85). Sejauh yang saya tahu meski pak Budiono berasal dari keluarga Muhammadiyah, pak Budi bukan termasuk orang yang cukup concern dengan keislamannya. Kesan ini rasanya bukan mengada-ngada, wong temen-temen HMI yang cukup liberal saja, waktu itu memiliki penilaian yang sama. Saya juga punya ipar nasrani mas, dan saya mengerti benar itu terjadi karena orang tua saya, dalam mengsikapi keislaman, ya mirip pak Budiono. Istilah sosiologinya adalah abangan. Berkenaan dengan pertanyaan teman-teman PKS, saya hanya menegaskan yang saya tahu. Saya memang tidak tahu istri pak Budiono itu nasrani atau bukan. Kalau mantunya ada yang nasrani, insya Allah ada saksinya. [Setyo Wibowo] Btw, mengenai "Orang-PKS" ini kan macam2 ya, Kang. Ada yg bukan anggota macam saya, tapi cukup melek informasi PKS, gara2 nongkrong di warung indomie :). Sebaliknya, ada juga org yg merasa menjadi kader, tapi kok nggak well-informed. Ya saya kira itu masalah internal PKS, bagaimana membuat informasi berjalan lancar ke atas, ke bawah, ke samping, dst. Tapi kalo dilihat di AD/ART PKS, anggota memang berjenjang kan? Kayak di perusahaan lah, kan mungkin informasi juga ada klasifikasinya (bebas, terbatas, rahasia, dll) sesuai dg jenjangnya. Jadi lain kali ada bagusnya anda tanya temen PKS itu jenjangnya apa, sehingga anda bisa perkirakan literasi dia thd informasi internal PKS bagaimana. [BS] Kang, kalau temen-temen saya yang di masjid tuh, memang kebanyakan kader awal. Tapi, kalau yang di kampus enggak kang, malah ada kok yang nyaleg untuk pusat. Dari melihat perilaku mereka itu juga, saya kemudian undur dari mendukung PKS. Di kampus kami juga ada yang anggota MS, saya tidak perlu sebutkan tho namanya:-) Kalau sudah ditanya mengenai beberapa manuver PKS, juga kesulitan sekali menjawab, dan karenanya sering menempatkan diri, "saya di MS lebih sering berposisi sebagai orang yang memperingatkan." Kang, 3 kakak ipar saya dari istri semuanya adalah kader lama PKS. Mereka kalau saya ajak berdiskusi, ya tampak sekali lebih bersandar pada mekanisme "mendengar dan taat". Akhir-akhir ini, mereka tampaknya juga sangat kebingungan dengan manuver-manuver PKS, akhirnya ya lebih memilih aktif di sayap dakwahnya, agar nggak disuruh ikutan jadi pengurus partai. BTW, saya kalau ketemu kader PKS, nggak pernah kok menyuruh mereka golput, apalagi menghimbau keluar dari PKS. Saya hanya minta kritis saja, sehingga amar ma'ruf nahi munkar tetep jalan. Bukankah PKS itu hanya ikatan jamaatul minal muslimin, jadi ada ikatan atau pengukur yang lebih besar, yakni ISLAM. Justru itu, temen-temen PKS yang di masjid masih mau ngobrol dengan saya tentang ini-itu, wong saya memang tidak berpretensi apa-apa kecuali suka berdiskusi ini-itu. Hanya sekedar tanya juga lho kang, tuh informasi di warung indomie apa juga bisa dinilai sebagai valid untuk memelekkan mata? [Setyo Wibowo] It's OK, Kang. Informasi anda kayaknya nggak sama dg yg saya punya. Kalo gaya yg anda maksud, gaya secara visual, nyerah, deh. Saya nggak nonton TV, jadi nggak tau gimana body-language org PKS bargain sama SBY. Tapi kalo saya bilang, SBY sampe nangis2 ketika PKS mau hengkang, mungkin anda juga gak akan percaya, walaupun sumber saya valid (menurut saya). Gak apa2 juga. Oke2 aja. [BS] Selorohan saya itu biasanya dipakai untuk menggambarkan betapa kuat popularitas dari SBY saat ini, itu saja. Jadi kalau pemilihan langsung, hampir pasti SBY menang, soalnya dalam pemilihan yang semacam itu, partai sering tidak signifikan lagi. Sekarang sudah banyak kok kang, konstituen yang bilang, "kalau partai ini, kalau presiden itu". Saya bisa kok percaya, tapi justru malah bertanya-tanya, kalau keputusannya hanya dibuat berdasarkan tangis seseorang, itu malah menjadi persoalan serius. Bagi saya yang terpenting dari PKS adalah menjaga branding-nya, partai dakwah yang punya harga diri sekaliber pelaku dakwah juga, kalau branding ini rusak, wah ... besar sekali risikonya. Coba baca sejarah IM di Mesir, banyak tho politisi besar yang menangis-nangis minta dukungan IM, tapi akhirnya yang mereka bawa bukan berkah tapi bencana bagi IM. Sekali lagi kang, saya memang lebih melihat apa yang muncul di publik, nah dalam pandangan saya, paling tidak untuk saat ini, branding dakwah itu rusak sudah. Kekalahan PKS untuk meraih target suara rasional 12% dan ambisius 20%, IMHO, menunjukkan hal tersebut. Adalah tidak logis kalau teman-teman PKS, menuntut konstituen non-kader memasuki wilayah informasi non-publik (internal) untuk menentukan sikapnya. Wilayah itu lebih sering bersifat untouchable dan justru mudah dianggap sebagai biased. Salam Hangat B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
