Trims kang, telah merespon secara santai.

[Setyo Wibowo] 
Saya punya ipar non-muslim, tapi please anda jangan mempertanyakan keislaman 
saya, ya hehehe...

[BS]
Saya ini bekas mahasiswa pak Budiono (Angkatan 85). Sejauh yang saya tahu meski 
pak Budiono berasal dari keluarga Muhammadiyah, pak Budi bukan termasuk orang 
yang cukup concern dengan keislamannya. Kesan ini rasanya bukan mengada-ngada, 
wong temen-temen HMI yang cukup liberal saja, waktu itu memiliki penilaian yang 
sama.

Saya juga punya ipar nasrani mas, dan saya mengerti benar itu terjadi karena 
orang tua saya, dalam mengsikapi keislaman, ya mirip pak Budiono. Istilah 
sosiologinya adalah abangan.

Berkenaan dengan pertanyaan teman-teman PKS, saya hanya menegaskan yang saya 
tahu. Saya memang tidak tahu istri pak Budiono itu nasrani atau bukan. Kalau 
mantunya ada yang nasrani, insya Allah ada saksinya.

[Setyo Wibowo] 
Btw, mengenai "Orang-PKS" ini kan macam2 ya, Kang. Ada yg bukan anggota macam 
saya, tapi cukup melek informasi PKS, gara2 nongkrong di warung indomie :). 
Sebaliknya, ada juga org yg merasa menjadi kader, tapi kok nggak well-informed. 
Ya saya kira itu masalah internal PKS, bagaimana membuat informasi berjalan 
lancar ke atas, ke bawah, ke samping, dst. Tapi kalo dilihat di AD/ART PKS, 
anggota memang berjenjang kan? Kayak di perusahaan lah, kan mungkin informasi 
juga ada klasifikasinya (bebas, terbatas, rahasia, dll) sesuai dg jenjangnya. 
Jadi lain kali ada bagusnya anda tanya temen PKS itu jenjangnya apa, sehingga 
anda bisa perkirakan literasi dia thd informasi internal PKS bagaimana.

[BS]       
Kang, kalau temen-temen saya yang di masjid tuh, memang kebanyakan kader awal. 
Tapi, kalau yang di kampus enggak kang, malah ada kok yang nyaleg untuk pusat. 
Dari melihat perilaku mereka itu juga, saya kemudian undur dari mendukung PKS.

Di kampus kami juga ada yang anggota MS, saya tidak perlu sebutkan tho 
namanya:-) Kalau sudah ditanya mengenai beberapa manuver PKS, juga kesulitan 
sekali menjawab, dan karenanya sering menempatkan diri, "saya di MS lebih 
sering berposisi sebagai orang yang memperingatkan."

Kang, 3 kakak ipar saya dari istri semuanya adalah kader lama PKS. Mereka kalau 
saya ajak berdiskusi, ya tampak sekali lebih bersandar pada mekanisme 
"mendengar dan taat". Akhir-akhir ini, mereka tampaknya juga sangat kebingungan 
dengan manuver-manuver PKS,  akhirnya ya lebih memilih aktif di sayap 
dakwahnya, agar nggak disuruh ikutan jadi pengurus partai.

BTW, saya kalau ketemu kader PKS, nggak pernah kok menyuruh mereka golput, 
apalagi menghimbau keluar dari PKS. Saya hanya minta kritis saja, sehingga amar 
ma'ruf nahi munkar tetep jalan. Bukankah PKS itu hanya ikatan jamaatul minal 
muslimin, jadi ada ikatan atau pengukur yang lebih besar, yakni ISLAM. Justru 
itu, temen-temen PKS yang di masjid masih mau ngobrol dengan saya tentang 
ini-itu, wong saya memang tidak berpretensi apa-apa kecuali suka berdiskusi 
ini-itu.

Hanya sekedar tanya juga lho kang, tuh informasi di warung indomie apa juga 
bisa dinilai sebagai valid untuk memelekkan mata?

[Setyo Wibowo] 
It's OK, Kang. Informasi anda kayaknya nggak sama dg yg saya punya.       Kalo 
gaya yg anda maksud, gaya secara visual, nyerah, deh. Saya nggak      nonton 
TV, jadi nggak tau gimana body-language org PKS bargain sama       SBY. Tapi 
kalo saya bilang, SBY sampe nangis2 ketika PKS mau hengkang, mungkin anda juga 
gak akan percaya, walaupun sumber saya valid (menurut saya). Gak apa2 juga. 
Oke2 aja.

[BS]
Selorohan saya itu biasanya dipakai untuk menggambarkan betapa kuat popularitas 
dari SBY saat ini, itu saja. Jadi kalau pemilihan langsung, hampir pasti SBY 
menang, soalnya dalam pemilihan yang semacam itu, partai sering tidak 
signifikan lagi. Sekarang sudah banyak kok kang, konstituen yang bilang, "kalau 
partai ini, kalau presiden itu".

Saya bisa kok percaya, tapi justru malah bertanya-tanya, kalau keputusannya 
hanya dibuat berdasarkan tangis seseorang, itu malah menjadi persoalan serius. 
Bagi saya yang terpenting dari PKS adalah menjaga branding-nya, partai dakwah 
yang punya harga diri sekaliber pelaku dakwah juga, kalau branding ini rusak, 
wah ... besar sekali risikonya. Coba baca sejarah IM di Mesir, banyak tho 
politisi besar yang menangis-nangis minta dukungan IM, tapi akhirnya yang 
mereka bawa bukan berkah tapi bencana bagi IM.

Sekali lagi kang, saya memang lebih melihat apa yang muncul di publik, nah 
dalam pandangan saya, paling tidak untuk saat ini, branding dakwah itu rusak 
sudah. Kekalahan PKS untuk meraih target suara rasional 12% dan ambisius 20%, 
IMHO, menunjukkan hal tersebut. Adalah tidak logis kalau teman-teman PKS, 
menuntut konstituen non-kader memasuki wilayah informasi non-publik (internal) 
untuk menentukan sikapnya. Wilayah itu lebih sering bersifat untouchable dan 
justru mudah dianggap sebagai biased.

Salam Hangat
B. Samparan
       



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke