--- On Thu, 7/2/09, Setyo Wibowo <[email protected]> wrote:

> Oh ya, saya terlewat utk nambahin tanda petik di frase
> informasi-warung-indomie itu. Maksud saya, itu informasi
> informal, tapi dari para pelakunya sendiri. Tidak identik
> hasil rumpian di warung Indomie, karena saya juga takut
> diomelin istri kalo ketauan makan mie :)
> Selebihnya, saya gak kompeten utk komentar kejauhan, Kang.
> Sori.

Oh sorry kalau begitu. Kok ya perumpamaannya warung Indomie:-)

> After all, saya mau bilang, kali ini saya sepakat dengan
> komentar Ulil ketika PKS memulai politik praktis: "Selamat
> datang di dunia nyata, kamerad"*). Dan saya sungguh
> berempati kepada mereka yang HARUS berlepotan di "dunia
> nyata" tersebut. Itu artinya saya akan berusaha tasamuh dan
> salamatus sadr kpd mereka2 itu utk hal2 yg mutaghayyirat.
> Itu artinya saya akan berusaha se-konservatif mungkin
> memberikan judgement atas apa2 yg mereka upayakan, apalagi
> kalo tdk punya informasi yg memadai. Itu artinya juga saya
> akan selalu mendoakan saudara2 saya itu untuk senantiasa
> mendapatkan hidayah dan bashirah dr Allah swt dalam beramal
> siyasi. Amin.

Saya-pun pada dasarnya punya empati itu kok mas, saya pernah nyoblos untuk PKS, 
baru kemudian mundur. Padahal dalam tradisi pembelajaran Islam saya, sikap 
seperti itu dikritik sangat keras. 

Saya justru tidak berani menilai PKS dengan istilah-istilah semacam 
mutaghayyirat (nisbi) dan tsawwabit (baku) lagi, soalnya saat ini persepsi 
terhadap soal-soal seperti itu justru sangat berpotensi mendatangkan tabrakan 
besar. Sekali lagi, kalau ingin menikmati tabrakan besar itu, lihat pkswatch. 
He ... he, tapi sudah dua bulanan ini saya juga nggak dolan ke sana.

Saya lebih melihat adanya beda persepsi dalam meninjau PKS karena yang satu 
memakai madzab marketing, yang satu memakai madzab branding. Kebetulan saya ada 
di madzab branding.

Saya sendiri tetap menaruh hormat kok terhadap teman-teman di PKS, monggo 
dilanjut perjuangannya. Hanya sebagai calon konstituen partai politik, saya 
juga merasa bebas untuk menilai, mengkritik, dan bersikap, sesuai dengan 
informasi yang bisa masuk ke benak dan kapasitas berpikir saya.

Secara akademik sebetulnya banyak hal yang bisa didiskusikan kok berkenaan 
dengan kepemimpinan dalam Islam, termasuk misalnya tentang hubungan Majelis 
Syuro dengan umat/kader yang diwakilinya. Dalam banyak hal, interpretasi 
konservatif saya lihat sangat berpotensi membuat Majelis Syuro menjadi lembaga 
super yang anti kritik sehingga berpotensi tidak mewakili preferensi 
umat/kader, bahkan ketika preferensi umat/kader tidak menerak syariah. Demikian 
pula, Imam juga berpotensi menjadi lembaga super, yang seringkali hanya 
menempatkan keputusan Majelis Syuro, hanya sebagai sekedar masukan. Padahal, 
intepretasi konservatif juga tidak membatasi masa jabatan iman. Jadi, jika imam 
kinerjanya tidak baik, hampir tidak mungkin untuk menggantinya, kecuali yang 
bersangkutan meninggal dunia.

Salam hangat
B. Samparan


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke