oh gitu ya.... saya malah baru ngeh dari sampeyan nih, bisa begitu dahsyat dan meluasnya efek bacaan terhadap perilaku kelompok. Barangkali mungkin diluaran ada semacam fans club Sayyid Qutb, atau fans club Hasan Hudaibi, fans club Gazhali, SSJ, Einstein, Al Jabbar, Newton, Socrates, Descartes, Kolmogorov, Marrie Currie, Michael Jackson, The Beatlles, Dewa matahari, Gatot Kaca, Tintin, Bobo, Tom & Jerry, Mr. Bean, Linus Torvald.... dst.. dst... Wah banyak betul option tokoh2 yg potensial bisa dijadikan berhala-berhala.. :)) Saya sendiri cenderung punya kebiasaan buruk; suka lupa siapa menulis apa. Setelah baca buku, trus coba dimengerti maksudnya, setelah itu ada proses link & match dgn existing knowledge yg sdh ada...dan setelah itu trus ya lupa gitu aja... :)
Betul mas amal memang kudu didasarkan pada ilmu supaya tidak keliru. dan dalam perkembangannya, ilmu dan amal akan menggulung dan akan saling menguatkan hingga tak lagi dapat dipisah-pisah bagian perbagiannya. Dan kata orang2 nih, ketika menghadap Sang Raja selayaknya kita gak bawa-bawa barang begituan. Justru dengan memposisikan diri seperti itu kalo lagi mujur kog ya malah akan kebanjiran ilmu-ilmu yang laennya lagi. Jadi kalo pas lagi sholat kita itu kudu kosong, bukan butek ruwet dengan pikiran sendiri. krn kalo masih berisi justru malah tdk bisa dituangi dengan sesuatu yang lain.... mudah2an ini gak nyambung... he..he..he... :) salam hangat 2009/7/2 Bango Samparan <[email protected]>: > Wah lha buku terjemahan Ma’alim Fit Thariq tuh masih ada je di rak buku > saya. Saya dulu suka koleksi bukunya Sayyid Qutb. Dari Sayyid Qubt inilah > kemudian lahir anak-anak muda yang tak kenal kompromi - jamaah-jamaah > jihadiyah. Sedang dari Hasan Hudaibi, lahirnya anak-anak muda yang kompromi > - IM jalur parlemen, kalau di Ina tarbiyah lalu PKS. > > Kalau kita pakai jalur Sayyid Qutb, hampir pasti semua pada golput. Kalau > kita pakai jalur Hasan Hudaibi, bisa golput bisa tidak, tergantung bagaimana > seseorang menilai manuver-manuver PKS, masih bermartabat sebagai partai > Dakwah, atau tidak. Aahh ... banyak sih - terutama kader pra 1997 - yang > sudah berlepas tangan. Golput memang warna-warni kan :-) > > Ilmu itu mendahului amal, begitu kaidahnya. Kalau kita berbuat karena ada > ilmunya, monggo-monggo diLANJUTKAN. Nah ilmu inilah yang nanti kita pakai > mempertanggungjawabkan perbuatan kita saat proses auditing di akhirat nanti. > Sekedar mengingatkan iman adalah sikap antara harap cemas, jadi jangan > terlalu yakin akan sesuatu, tetapi jangan terlalu cemas pula akan sesuatu. > WASPADALAH WAHAI DIRI. > > Salam hangat > B. Samparan > > --- On Thu, 7/2/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: > > From: Dewa Gede Permana <[email protected]> > Subject: Re: [Is-lam] Ilaah Baru itu Bernama “MASHLAHAT DAKWAH” > To: [email protected] > Date: Thursday, July 2, 2009, 12:59 AM > > Wah sebetulnya buanyak sekali mutiara-mutiara yg bisa digali dari > artikel ini. Dari kalimat per kalimat, dari paragraf per paragraf, > kalo direnungkan dan dibolak-balik hubungan sebab-akibat, dan kemudian > di match dengan keadaan riil kekinian..... dalam dunia dakwah memang > harus banyak yg diperbaiki, atau kalo pinjam istilahnya mas Syarif itu > "hidup reformasi"... Mungkin tepatnya reformasi DIRI, reformasi aku... > :) > > Syukron atas artikelnya... > > :) > salam hangat > > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
