yah pada kesimpulannya, tidak bisa disamakan derajat siapa yg salah melafadz Qur'an sementara itu adlh proses pembelajaran dibanding dgn siapa tidak mau membacanya karena takut salah. jgn juga spt org yg mapan harta, kemana bumi sanggup disinggahi utk urusan perbisnisan, yakinkan kolega/partner dslbgnya pede-nya selangit. tapi urusan Mekkah merasa minder & gak sempurna diri.
pahami saja, kita ini generasi belasan abad berlalu dari yg sdh sgt sempurna, pastilah byk bias kesana-kemari, apakah itu dr internal atw intervensi external. janganlah memimpikan masa lalu atw menanti yg baru dgn harap sedekat mungkin dgn kesempurnaan, tapi dari yg ada ini tegakkan syari'at sekecil apapun yg masih kita sanggup dgn ilmu, harta atwpun da'wah. demikian proses pemilihan & sekitarnya mungkin hal yg sangat amat kecil nilai dampak amalannya buat diri sendiri apalagi buat ummat byk sdgkan itu bagian dari sistem yg besar, yg berlaku saat ini terlepas itu Islami atw tidak. Islam sendiri mengakui dunia perpolitikan & aturannya saat ini, itu adlh bagian dr permainan yg melalaikan (al-Hadiid:20). maka mau-tidak mau Muslim harus terima hadapi. dan amalan pemilihan itu tidak bisa digantikan dgn hal lain shg tetap akan ada pertanyaan tersendiri utk itu kelak. ingat al-Zalzalah 2 ayat terakhir. lihat bangsa Iran, walau kelir Islamnya beda dgn kita, kafirin saja masih gak mau menerima begitu saja padahal taghut demokrasi spt mereka mau diikuti dan valid menang, juga Taliban, Hamas. di kita kelihatannya gak ada intervensi, padahal jauh lebih berbahaya walau gak frontal. mereka itu menerapkan prinsip "killing softly but painfully at the end ..." --- jadi silahkan direnung, masih ada waktu bbrp jam lagi menuju TPS. sikap saya pribadi adlh lbh suka jadi bemper intervensi asing dr mendongkrak performa internal. makanya kalo ada posting nyleneh gak tahan lunak terus2an, gatel ... :-) salam, Fahru ________________________________ From: Bango Samparan <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thursday, July 2, 2009 9:16:24 PM Subject: Re: [Is-lam] Ilaah Baru itu Bernama "MASHLAHAT DAKWAH" --- On Thu, 7/2/09, Setyo Wibowo <[email protected]> wrote: > Oh ya, saya terlewat utk nambahin tanda petik di frase > informasi-warung-indomie itu. Maksud saya, itu informasi > informal, tapi dari para pelakunya sendiri. Tidak identik > hasil rumpian di warung Indomie, karena saya juga takut > diomelin istri kalo ketauan makan mie :) > Selebihnya, saya gak kompeten utk komentar kejauhan, Kang. > Sori. Oh sorry kalau begitu. Kok ya perumpamaannya warung Indomie:-) > After all, saya mau bilang, kali ini saya sepakat dengan > komentar Ulil ketika PKS memulai politik praktis: "Selamat > datang di dunia nyata, kamerad"*). Dan saya sungguh > berempati kepada mereka yang HARUS berlepotan di "dunia > nyata" tersebut. Itu artinya saya akan berusaha tasamuh dan > salamatus sadr kpd mereka2 itu utk hal2 yg mutaghayyirat. > Itu artinya saya akan berusaha se-konservatif mungkin > memberikan judgement atas apa2 yg mereka upayakan, apalagi > kalo tdk punya informasi yg memadai. Itu artinya juga saya > akan selalu mendoakan saudara2 saya itu untuk senantiasa > mendapatkan hidayah dan bashirah dr Allah swt dalam beramal > siyasi. Amin. Saya-pun pada dasarnya punya empati itu kok mas, saya pernah nyoblos untuk PKS, baru kemudian mundur. Padahal dalam tradisi pembelajaran Islam saya, sikap seperti itu dikritik sangat keras. Saya justru tidak berani menilai PKS dengan istilah-istilah semacam mutaghayyirat (nisbi) dan tsawwabit (baku) lagi, soalnya saat ini persepsi terhadap soal-soal seperti itu justru sangat berpotensi mendatangkan tabrakan besar. Sekali lagi, kalau ingin menikmati tabrakan besar itu, lihat pkswatch. He ... he, tapi sudah dua bulanan ini saya juga nggak dolan ke sana. Saya lebih melihat adanya beda persepsi dalam meninjau PKS karena yang satu memakai madzab marketing, yang satu memakai madzab branding. Kebetulan saya ada di madzab branding. Saya sendiri tetap menaruh hormat kok terhadap teman-teman di PKS, monggo dilanjut perjuangannya. Hanya sebagai calon konstituen partai politik, saya juga merasa bebas untuk menilai, mengkritik, dan bersikap, sesuai dengan informasi yang bisa masuk ke benak dan kapasitas berpikir saya. Secara akademik sebetulnya banyak hal yang bisa didiskusikan kok berkenaan dengan kepemimpinan dalam Islam, termasuk misalnya tentang hubungan Majelis Syuro dengan umat/kader yang diwakilinya. Dalam banyak hal, interpretasi konservatif saya lihat sangat berpotensi membuat Majelis Syuro menjadi lembaga super yang anti kritik sehingga berpotensi tidak mewakili preferensi umat/kader, bahkan ketika preferensi umat/kader tidak menerak syariah. Demikian pula, Imam juga berpotensi menjadi lembaga super, yang seringkali hanya menempatkan keputusan Majelis Syuro, hanya sebagai sekedar masukan. Padahal, intepretasi konservatif juga tidak membatasi masa jabatan iman. Jadi, jika imam kinerjanya tidak baik, hampir tidak mungkin untuk menggantinya, kecuali yang bersangkutan meninggal dunia. Salam hangat B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
