--- On Sun, 7/5/09, Setyo Wibowo <[email protected]> wrote:

> [Setyo Wibowo]
> Mengapa ketika partai-partai ISlam mendukung SBY dianggap
> sebagai dukungan elit (massanya tdk mendukung), sedangkan
> ketika ormas Islam mendukung JK dianggap seolah sebagai
> dukungan hingga ke akar rumput?
> Pertanyaan ini tentu bukan buat Kang BS, karena setau saya
> Kang BS indifferent apakah dukungan elit itu efektif ;-) (tp
> kalo kang Bango mau jawab juga ya monggo)
> Menganggap demikian tentu sah-sah saja. Tapi saya ingin
> mengingatkan bahwa PMB dan PKNU lah yang mendapatkan
> dukungan dari elit ormas-ormas Islam terbesar itu. Hasilnya?
> Kita semua tahu, PAN dan PKB yang masuk ke parlemen.

Setahu saya mah, masyarakat tuh berpikirnya tidak rumit kok mas. Jika mereka 
senang, mereka akan memilih yang mereka senangi. Bagi awam, rasanya capaian SBY 
cukup menyenangkan. Awam rasanya juga tak rumit berpikir detail, capaian SBY 
cukup menyenangkan, berarti partainya juga oke. Makanya perolehan partai 
demokrat melejit tho, saya yakin perolehan SBY juga akan mengesankan. Coba 
dianalisis sendiri, apa perolehan partai-partai yang berkoalisi dengan SBY 
kemarin naik?

Itulah, mengapa saya tidak suka koalisi, yang untung biasanya yang memimpin 
koalisi. Saya berharap PKS mengejar branding (perang di benak konsumen bahwa 
PKS istimewa), ini yang akan memenangkan PKS dalam jangka panjang. Campur 
aduk-nya PKS dalam koalisi, bisa merusak branding yang ingin dibangunnya 
sendiri: dakwah.

Kembali ke analisis. PAN dan PKB masing-masing mendapatkan perolehan 6,25 juta 
dan 5,15 juta. Saya kebetulan ada di kultur Muhammadiyah, yang klaimnya 
memiliki 25 juta anggota. Nah, lihat 6,25 juta itu hanya 1/4-nya saja. Saya 
tidak tahu untuk kultur NU. BTW, rasanya hampir sama. Itulah mengapa saya 
indifferent.

BTW, dari itungan saya itu, kalau saya jadi kader partai yang punya suara 
menjual, pasti akan saya sarankan partai saya untuk berkoalisi dengan demokrat 
dan SBY. Lumayan tho, probabilitas kemenangannya > 0,50. Partai saya bisa dapat 
1-2 menterilah, atau jabatan di bawahnya.

Nah, begitupun saya menjadi indifferent juga dengan dukungan yang berasal dari 
ormas Islam. Opo iya efektif? Rasanya, mah tidak juga. Yah, sekali lagi, kita 
lihat saja nanti.

Rasanya dukungan yang bisa berarti elit dan akar rumput, ya hanya dari PKS, 
wong PKS partai kader - sekitar 8,20 juta perolehan. Meski saya amati, beberapa 
kader sebenarnya juga sangat kecewa dengan gaya PKS dalam berkoalisi dengan 
SBY, kok seperti tidak memiliki harga diri (izzah) katanya. Yah sekali lagi, 
mereka bukan elit, jadi tidak tahu soal SBY merengek-rengek dengan tangis minta 
jangan ditinggalkan. Kalau mereka tahu, apa mereka makin mantep mendukung SBY 
atau golput saya tidak tahu. Hanya, dalam tradisi Islam orang yang 
merengek-rengek minta jabatan tuh biasanya malah dijauhkan dari jabatan.

Seperti Boediono saya lihat cukup aneh juga, selama ini tidak pernah dia punya 
greget untuk menandaskan keislamannya, lha kok sekarang jadi perlu 
meyakin-yakinkan kalau dia dan istrinya tuh Muslim sejati, sampai sowan-sowan 
ke para KIAI. Dalam berbagai diskusi permasalahan ekonomi, tidak pernah dia 
mereken soal agama atau syariat, lha kok sekarang semangat juga ngomongin soal 
syariat. Endak tahu, wong saya tidak punya TV, apa di kepala istrinya sekarang, 
meminjam istilah seorang petinggi PKS, juga telah ada "hanya sekedar selembar 
kain".

> [Setyo Wibowo]
> Betul sekali, Kang.
> Kata tetangga saya yang ikut nyiapin MoU platform PD-PKS,
> PKS dari awal sdh menyadari konsekuensi dari sistem
> presidensial ya seperti itu. Presiden terpilih, kalopun mau
> mengabaikan semua kontrak politik, tidak akan membuat ambruk
> pemerintahannya.
> Oleh karena itu lah, garansi personal menjadi penting.
> Komitmen personal lebih diharapkan menjamin dilaksanakannya
> kontrak daripada perikatan kontrak itu sendiri. Dan, masih
> kata tetangga saya itu, evaluasi PKS bekerja sama dengan
> SBY-JK selama lima tahun terakhir menunjukkan SBY lebih
> bertanggung jawab atas komitmennya terhadap (agenda) PKS.
> Konon, itu salah satu alasan penting PKS lebih mendukung SBY
> ketimbang JK.

Maaf, agendanya apa? Ukuran tanggung jawab komitmennya bagaimana? Terus menilai 
SBY lebih bertanggung jawabnya juga bagaimana? Semua itu tetep jadi misteri 
bagi saya dan publik. Kalau menunggu punya tetangga yang bisa menjelaskan semua 
itu, susah juga tho mas.

Yang jelas, melihat marketing PKS yang nabrak sana-sini, membuat saya menilai 
PKS tuh seperti anak-anak yang mendapat mainan baru, lupa mainan lamanya atau 
seperti orang yang panik, ingin mengejar target. Jadi ingat nasehat Jack Trout, 
target tuh sering membuat CEO mata gelap untuk mengejarnya, sehingga lupa untuk 
"do the right thing to keep the branding of his company BOLD."

Dalam banyak hal, saya ini sebetulnya menyandarkan sikap politik saya kepada 
PKS lho mas, begitu PKS kacau, ya saya tidak mencari alternatif lain, saya 
GOLPUT. Tidak ada yang bisa mengobati itu, kecuali PKS kembali kepada 
branding-nya. Salam untuk tetangga-tetangga mas, yang elit PKS. Sampaikan 
keluhan saya, seorang wong biasa, mantan pendukung.

Salam hangat
B. Samparan


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke