menurut saya, ibadah dgn motif 'memburu' makhluk & bukannya ridha Allah SWT, 
itu beresiko tertolak walaupun objek yg diburu itu bukan sesuatu yg salah, atw 
bahkan hal yg dijanjikan-Nya. 

bbrp org adalah yg terlanjur jiwanya bermental bhw segala harapan, sbgmana thd 
urusan  duniawi, harus ditempuh dgn usaha. lalu ketika tak tecapai tujuan org 
ini mengatakan: wajarlah, wong namanya juga usaha. saya kira utk urusan ukhrawi 
dihadapan Allah SWT tidak bisa begitu. kalo saja nilai amalan utk ukhrawi 
tertolak, sia-sialah amalan itu.

jadi akan lebih baik jika kita perbaiki niatan, bukan lailatul qadr yg dicari, 
tapi ridha Allah SWT. dipaparkannya ssorg bertaqarub sedemikian khusyu' 
mengharap ridha Allah SWT lalu mendptkan itu. ternyata begitu indah karunia itu 
yg jika narasikan cara didptkannya saja butuh waktu sedikitnya
 1000 bulan. sang abid sendiri mungkin gak terpikir mendaptkannya. 

dari paparan spt itu jangan lantas di by-pass, jadi kalo ingin memperoleh malam 
Qadr, mesti begini-begitu sebab ada kisah demikian. inilah yg membuat amalan 
itu tertolak sebab niatnya tak langsung kepada Allah SWT. sekalipun org lakukan 
shaleh utk mendukung itu, niscaya saja tertolak secara hakikat. 

bukankah berbuat utk makhluk itu akan membuat sang al-Khaliiq 'cemburu'? 
hanya Allah SWT tempat bergantung dan dituju.

selaras dgn kisah bgmana seorg Bilal yg oleh Rasulullah SAW disebut sbgai salah 
satu calon penghuni surga yg dekat dgn beliau. begitu cintanya Bilal pada 
Rasulullah SAW, apapun dia lakukan agar bisa kulitnya yg legam bisa bersentuhan 
dgn kulit mulia beliau. Subhanallah, Bilal pun tak menyadari kalau ternyata itu 
karunia yg pasti akan dia terima. lalu apakah lantas karena itu org lalu 
mencari-cari kulit beliau?
 
kawans Muslim, 
berikut saya sampaikan hadist Qudsi dari Abu Hurairah, dikisahkan di hari 
berhisab
 ada org yg diwafatkan dlm keadaan syahid, ada yg wafat dgn ilmu agama yg 
tinggi (ulama), ada yg wafat dikenal kedermawannya. saat dihisab mereka ini 
ditanyain satu per satu ttg hasratnya sblm apa yg mereka dapatkan predikat itu, 
niat mereka mengakunya mengharap ridha Allah. 

maasya Allah, 
ternyata semua niatnya itu ditolak-Nya karena menurut Allah SWT, semua itu 
bohong lalu lenyap amalan itu. laa hawla walaa quwwata illa billahil adziim, 
berlindung kita pada Allah SWT akan nasib seperti itu. 

marilah kita perbaiki niat ibdaha kita mumpung masih ada waktu. kalau ada niat 
yg lalu itu keliru, sedikit kesadaran kita hari ini, insya Allah akan 
membukakan ampunan dan rahmat-Nya. berusaha mensucikan niat semata demi Allah 
SWT saja walau mungkin gagal itu jauh lebih baik dr pd salah berniat walaupun 
sptnya berhasil.


salam,
Fahru
--- On Sat, 9/19/09, Alkhori M <[email protected]> wrote:

From: Alkhori M <[email protected]>
Subject: [Is-lam] Lailatul Qadar Dipersimpangan Jalan Diantara Dua Pemikiran, 
lanjutan2
To: [email protected]
Date: Saturday, September 19, 2009, 3:16 AM




 
 

 

 

 







Lailatul Qadar
Dipersimpangan Jalan Diantara Dua Pemikiran,
lanjtan2 

Abstraks: Pertanyaan
yang menggelitik kadang-kadang perlu ENERGI
untuk memikirkanya yaitu ADILKAH TUHAN DALAM
DISTRIBUSI LAILATUL QADAR, jika hanya diberikan pada seseorang yang
hanya MENGEJAR LAILATUL QADAR pada
malam-malam Ramadan saja, atau tuhan akan memantau hasil performance setahun
ummat yang bertaqwa, sehingga tanpa harus mengejar, Lailatul Qadar akan
merupakan BONUS bagi mereka-mereka
yang bertaqwa yaitu yang melaksanakan rukun iman dan rukun islam secara
menyeluruh plus full option menjadi seorang yang IKHSAN dan MUKHLISIN? 

Makanya judul diatas dituliskan dengan
kalimat Lailatul Qadar Dipersimpangan Jalan
Diantara Dua Pemikiran. 

ü       Kelompok pemikiran yang pertama, mereka
beranggapan, Kun Fa Ya Kun, semuanya urusan Tuhan, kalau pada Laitul Qadar,
beliau itu tidak tidur-tidur dan terus saja ber-ibadah, who knows kejiprat
lailatul qadar, alhamdulillah, maka type-type manusia begini, ada istilah pada
mereka yaitu berburu, mengejar, memburu, HUNTING lailatul qadar. 

ü       Kelompok pemikiran kedua, mereka tidak ada istilah
berburu atau HUNTING lailatul qadar, karena pemikiran yang kedua ini lailatul
qadar bukanlah urusan yang hanya Kun Fa Ya Kun, tapi adalah proses yang terjadi
pada periode 355 hari dimana pada periode 10 hari berikutnya adalah PEMATANGAN,
maka satu tahun yang 365 hari dimana 10 hari terakhir pada bulan ramadan adalah
perlu peningkatan ibadah karena hari-hari tersebut adalah merupakan IMTIHAN/
EXAMINATION kalau pada hari-hari UJIAN tersebut nilai-nya bagus ditambah HOME
WORK selama 355 hari yang lalu, maka BONUS lailatul qadar akan di-REWARD tanpa
harus membuat istilah berburu lalitul qadar. 

Diantara kedua pemikiran tersebut janganlah
di-PILAH tapi disinergi-kan, insya Allah lailatul qadar yang menjadi dambaan
akan di-PETIK sebagai tanda orang-orang yang ber-TAQWA. Tanda bertaqwa itu akan
ter-REFLEKSI dari perbuatan, ucapan dan BEHAVIOR setelah menggapai hari
KEMENANGAN untuk mengalahkan NAFSU DIRI SENDIRI, maka segala perbuatan
tergantung dari NIAT. Maka setelah ramadan tanda-tanda memperoleh lailatul
qadar terlihat dari behaviour seseorang setelah ramadan. Getting better or
getting worse or not changing, masya Allah. 

 Insya Allah bersambung, salam kompak
selalu dari Doha ,
State of Qatar. 

Alkhori M 

Alkhor Community 

Qatar 

================================================ 

Lailatul Qadar
Dipersimpangan Jalan Diantara Dua Pemikiran, 

Abstarks:Didalam
perjalanan Islam yang panjang telah terdapat dua aliran pemikiran Islam yang
mana diantara keduanya saling mengisi jika dilihat secara menyeluruh, tapi akan
sangat bertentangan kalau hanya dilihat satu sisi saja. Pemikiran tersebut
adalah JABARIYAH & QADARIYAH.
Disini pembaca dianggap telah mengerti akan kedua konsep tersebut sama seperti 
ADAGIUM. Selanjutnya beranjak kepada konsep
Lailatul Qadar. 

Pertanyaan pertama yang harus dijawab
adalah kapan malam Lailatul Qadar
tersebut? 

Berdasarkan alqur’an malam lailatul
qadar ada dibulan Ramadan, kenapa? 

ü       Karena pada lailatul qadar adalah dimana
al-Qur’an diturunkan 

ü       Karena pada lailatul qadar adalah lebih baik dari
1000 bulan 

Specifikasi kedua bullet diatas terdapat
pada bulan Ramadan 

ü       Pada bulan Ramadan al-Qur’an diturunkan 

ü       Ramadan adalah bulan Mulia 

Selanjutnya, kapan dibulan Ramadan
puncaknya Lailatul Qadar? 

ü       10 hari yang pertama dinamakan rahmah 

ü       10 hari yang kedua dinamakan maghfirah/ pengampunan 

ü       10 hari ketiga dinamakam Ithqun min (al) Naar
(terhindar dari api NERAKA), tidak ada yang lebih hebat selain terhindar dari
api neraka, yaitu orang-orang yang terhindar dari api neraka adalah orang-orang
yang telah ter-ampunkan segala doas-dosa-nya yang mana berarti beliau-beliau
itulah adalah CALPENGSUR yaitu calon penghuni surga. 

Maka berdasarkan ketiga bullet diatas, maka
sepakat ulama-ulama bahwa Lailatul Qadar adalah terjadi pada hari-hari setelah
malam ke-20 dari ramadan yaitu pada hari ke-10 yang ketiga yaitu yang dikenal
dengan Ithqun min  (al) Naar (ithqun minan naar), yaitu terbebas pada api
neraka. Ulama-ulama sepakat bahwa Laitul Qadar adalah setelah malam 20 keatas
puasa ramadan. Tapi mereka berbeda untuk tidak sepakat cara menggapai Laitul
Qadar, makanya judul diatas tertuliskan sbb: Lailatul
Qadar Dipersimpangan Jalan Diantara Dua Pemikiran. 

Insya Allah bersambung, salam kompak selalu
dari Doha ,
State of Qatar. 

Alkhori M 

Alkhor Community 

Qatar 



 


-----Inline Attachment Follows-----

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke