Beningnya Hati
28 Mar 08 07:33 WIB

Oleh Jojo Wahyudi

Sabtu siang, aku terpaksa berangkat ke kantor. Pekerjaan menumpuk menunggu 
untuk segera diselesaikan. Anak sulungku Zalfa yang duduk di bangku kelas dua 
SD, sudah sejak pukul 9.00 tiba di rumah karena mendapat giliran masuk pagi di 
sekolah. Dia merengek untuk ikut menemaniku ke kantor. 
Wajarlah pikirku, karena aku jarang sekali mengajak anak-anakku pergi ke luar 
rumah pada saat hari libur. Sebenarnya aku lebih senang bercengkerama dengan 
mereka di rumah. Nonton berita ataupun film kartun di TV, walaupun sebenarnya 
kurang baik bagi anak-anak bila sering menyaksikan aksi kekerasan atau 
kekonyolan film-film kartun yang kadang sulit diterima akal sehat namun sanggup 
menghanyutkan kami ber-jam-jam dalam pengaruh "magis"nya yang luar biasa.

Kami berangkat menggunakan KRL dari Bojong Gede menuju Cikini. Begitu padatnya 
kereta, sehingga aku terpaksa berdiri, Alhamdulillah anakku masih bisa duduk 
dalam pangkuan seorang ibu yang berbaik hati. 
Kepadatan semakin jadi dengan bersliwerannya para pedagang asongan, pengamen, 
penyapu kereta dan para pengemis. Sebagai pengguna setia KRL, sebenarnya aku 
sangat terganggu dengan kehadiran mereka, walaupun kadang bisa memanfaatkan 
kehadiran pedagang asongan untuk membeli buah-buahan murah ataupun produk 
import murah dari China yang banyak diperdagangkan di moda transportasi rakyat 
tersebut.

Pukul 12.30 kereta tiba di stasiun Cikini, kami langsung menuju Musholla untuk 
menunaikan sholat Dzuhur. Segera setelah selesai kukebut pekerjaan agar bisa 
rampung sebelum sore hari. Kubiarkan Zalfa menulis dalam "binder" princessnya, 
entah apa yang dia tulis. Sekali-sekali anak sulungku itu melihat-lihat 
pemandangan di luar jendela ruanganku yang berada di lantai delapan.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.20, bergegas kumatikan komputer 
dan kuajak anakku untuk bersiap-siap pulang, berharap agar dapat mengejar KRL 
AC tujuan Bojong Gede yang tidak berhenti di stasiun Cikini. Kami harus 
menumpang KRL ekonomi tujuan Jakarta Kota dahulu untuk dapat menaiki KRL AC 
yang memang hanya menaikan penumpang di stasiun Kota, Juanda, Gambir dan 
Gondangdia. 
Setelah lima menit menunggu, datanglah KRL ekonomi menuju Jakarta Kota, kuraih 
tangan anakku dan segera masuk ke dalam rangkain gerbong kumuh yang tidak 
terlalu penuh dengan penumpang. Kami langsung duduk di bangku kayu panjang 
layaknya bangku "warteg" di bawah stasiun Cikini. 
KRL merayap perlahan, mungkin menunggu antrian kereta diesel yang memang padat 
memasuki stasiun Gambir di sore hari. 
Seperti biasa para pedagang, pengamen dan pegemis berebut mencari rupiah. Dalam 
keadaan padat saja mereka nekad masuk, apalagi KRL dalam kondisi tidak "full 
contact body", mereka leluasa menjalankan aktifitasnya masing-masing, dari 
penjual tissue dan cotton bud sampai penjaja suara yang tak jarang tuna netra.

Pikiranku masih melayang dan mengendap di meja kantor, memikirkan kerjaan yang 
masih jauh dari rampung. Sekelebat kulihat penjual "gulali" lewat di depan 
kami, kulirik wajah Zalfa, matanya tertuju pada makanan kesukaan anak-anak yang 
menjadi musuh para ibu itu. Dia melihat hanya sekejap lalu matanya beralih ke 
pedagang buku mewarnai. Biarlah ujarku dalam hati, toh anak-anakku tak kurang 
kubelikan buku, majalah bahkan mainan anak-anak yang rata-rata kubeli dengan 
harga miring di dalam KRL. Tak lama pedagang buku mewarnai lewat, di 
belakangnya muncul penjual jeruk "lokam" yang katanya dari China. Cukup murah, 
seribu rupiah sebuah. Kutawari anakku, dia menggeleng. Aku tetap merogoh saku 
celana, selembar ribuan cukup sebagai pengganti ketergiuranku pada kuningnya 
jeruk tersebut. Segera kukupas kulitnya untuk menikmati kesegarannya. Kulit 
yang kubuang langsung di sambut sapu lidi penyapu kereta yang menggusur sampah 
dari ujung ke ujung gerbong, berharap ada yang memberinya recehan. Bajunya 
lusuh, begitu juga balita yang di gendongnya. Perhatianku beralih ke penjual 
koran dan memanggilnya, lumayan sebagai bacaan nanti di atas KRL AC yang tidak 
bisa dimasuki para pedagang asongan tersebut. 
Saat kumasukan koran ke dalam ransel, sekelebat kulihat mata anakku memerah. 
Cukup terkejut aku melihatnya.

"Lho kenapa mata kakak?" tanyaku heran, karena sebelumnya tidak apa-apa. 
Zalfa diam tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Aku tahu kebiasaan 
anakku, bila ditanya tak langsung menjawab, berarti ada yang tidak berkenan di 
hatinya.

" Kakak haus?" dia tetap diam hanya menggeleng.

" Mau beli permen?" saat itu pedagang permen lewat di depan kami, dia hanya 
menggeleng. Aku jadi penasaran.

" Kakak ingin gulali yang tadi?" aku jadi ingat ketika penjual gulali lewat, 
dia tidak kutawarkan. 
Aku semakin penasaran, karena kembali dia menggelengkan kepalanya, bahkan kali 
ini memalingkan mukanya ke kanan, menutupi sesuatu. 
Kutengok kembali wajahnya, aku semakin heran, air mata sudah mengalir deras di 
pipi merahnya.

" Lho kenapa kakak menangis? Kalau memang ingin gulali, nanti kalau lewat lagi 
kita beli ya." ujarku berusaha menghibur seraya menghapus air matanya, karena 
anak sulungku itu memang tak berani membantah keputusanku yang sering 
mengatakan kalau gulali itu tidak baik untuk kesehatan giginya. Aku berpikir, 
walau suka tetapi dia tidak berani memintanya, karena itu sudah menjadi 
kesepakatan kami di rumah.

Zalfa tetap terdiam, sampai kami turun di stasiun Gondangdia. Setelah tiket KRL 
AC tujuan Bojong Gede kubeli, kami menuju peron tujuan Bogor. Kulihat wajah 
anakku masih muram walau air mata sudah kering dari pipinya.

Memang sangat berbeda menaiki KRL sumpek dan kumuh dengan KRL berpendingin 
udara. Harga tiketnya pun berbeda jauh, dua ribu rupiah berbanding sebelas ribu 
rupiah. Kami langsung memilih tempat untuk duduk yang memang lengang dari 
penumpang. Setelah kuletakan ransel di tempatnya, aku berusaha mendekati anakku 
yang sudah sedikit tenang, dengan melontarkan pertanyaan yang sama "Kenapa 
kakak menangis?"

Wajah lugunya kali ini memandangku dengan sorotan mata yang sulit aku duga.

" Ayah tadi lihat ibu yang menggendong dede kecil?" dia balik bertanya padaku.

" Ibu yang menggendong dede kecil?" aku berusaha mengingat-ingat.

" Iya Yah, yang bajunya kotor dan menyapu kereta sambil menggendong dede kecil 
", dia mulai mau bicara rupanya

"...mmm yang di atas KRL penuh sesak itu maksud kakak?" dia menganggukan 
kepalanya, lalu aku melanjutkan dengan pertanyaan "Memang kenapa dengan Ibu itu 
kak?" aku tidak tahu terjadi apa antara anakku dengan penyapu kereta itu.

" Kakak jadi ingat Ibu dan dede Zaidan di rumah" katanya lirih penuh perasaan. 
" Kasihan sekali ya Yah, mereka berdesak-desakan sambil menyapu kereta yang 
kotor itu".

" Memang apa yang kakak inginkan?" tanyaku ingin mengetahui pendapat anakku 
selanjutnya.

" Seharusnya Ayah memberikan ibu itu uang Yah " katanya dengan wajah kecewa.

Aku terhenyak kaget mendapati kenyataan anakku bisa demikian terpengaruhnya 
dengan kejadian yang baru saja dilihatnya. Aku yang sudah terbiasa melihat 
kejadian seperti itu sudah tak tergerak lagi untuk menekuri perhelatan hidup 
manusia di Jakarta, yang sangat berat dan penuh perjuangan. Aku sudah terbiasa 
membaca slogan dan anjuran pemerintah untuk tidak memberikan uang pada pengemis 
dan membeli pada pedagang asongan. Tidak mendidik kata mereka.

Tapi kali ini aku jadi tersadar, betapa nuraniku sudah demikian mem"batu"nya 
hingga tak sempat berpikir tentang betapa sulitnya beras murah didapatkan, 
betapa berat perjuangan kaum tak punya mengantri minyak tanah berkilo-kilo 
panjangnya. Sementara aku yang mampu membeli gas hanya melihatnya dari layar 
televisi dan koran-koran.

Aku tidak pernah membayangkan, kenapa seorang anak kelas 6 Sekolah Dasar 
meninggal gantung diri karena malu belum membayar uang sekolah. Aku cuma bisa 
menyayangkan sikap pemerintah yang tidak cepat tanggap, tetapi menyetujui 
anjurannya untuk tidak memberi pada pengemis yang miskin. 
Begitu asyiknya aku dengan pergulatan mencari materi, hingga tidak sempat 
melihat jika tetangga sebelah tersungkur sekarat mati kekurangan gizi.

Anak sulungku yang belum genap delapan tahun, telah membukakan mataku, bila 
ternyata hati orang tuanya sudah tidak sebening pualam. Kepedulian telah 
tertutup oleh ketamakan. Emphati telah lama terkubur egoisme pribadi, hingga 
tak tergerak hati melihat kesengsaraan di depan mata telanjang.

" Maafkan Ayahmu Kak, yang tak lagi mempunyai hati yang bening " kataku hanya 
dalam hati.

(dalam KRL antara Cikini - Bojong Gede)

Jojo_wahyudi dot manulife dot com

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8327201929-beningnya-hati.htm

Kirim email ke