InsyaAllah Pak Aep
nanti pak Aep yg modalin ya :)))
salam,
Jojo Wahyudi
Marketing & Communications Dept
PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
T (62-21) 2355 9966 ext. 1292
F (62-21) 391 1560
www.manulife-indonesia.com
"Bringing Dreams to Life"
Manulife Indonesia is part of Manulife Financial - Proud Worldwide Sponsor
of the Beijing 2008 Olympic Games
[EMAIL PROTECTED]
ndofood.co.id
To
03/31/2008 12:07 [email protected]
PM cc
Subject
Please respond to Re: [Ar-Royyan-7504] Beningnya Hati
[EMAIL PROTECTED]
om
Pak Jojo
Bikin Novel tuh, kayak Ayat-ayat cinta
[EMAIL PROTECTED]
To
03/31/2008 12:05 PM [email protected]
cc
[email protected]
Please respond to Subject
[email protected] Re: [Ar-Royyan-7504]
Beningnya Hati
Amin ya Robbalaalamin Pak Amin
mudah2an bisa terus diberikan Allah kekuatan tangan untuk menulis yg
"baik-baik"
Salam kenal dari saya di RT 06/14
salam,
Jojo Wahyudi
Marketing & Communications Dept
PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
T (62-21) 2355 9966 ext. 1292
F (62-21) 391 1560
www.manulife-indonesia.com
"Bringing Dreams to Life"
Manulife Indonesia is part of Manulife Financial - Proud Worldwide Sponsor
of the Beijing 2008 Olympic Games
Numpang nanya, penulis artikel yang sering muncul di Eramuslim.com ini
(Pak Jojo Wahyudi) apakah warga Ar Royyan? (kalau gak salah ...).
Btw, gaya tuturnya lumayan enak dan menyentuh. Mungkin kelak bisa
menyaingi Habiburrahman El Shirazy ... :-).
Barakallah ...
Wassalam,
--amin
2008/3/28, Agus Rasidi <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> Beningnya Hati
>
> 28 Mar 08 07:33 WIB
>
> Oleh Jojo Wahyudi
>
> Sabtu siang, aku terpaksa berangkat ke kantor. Pekerjaan menumpuk
menunggu
> untuk segera diselesaikan. Anak sulungku Zalfa yang duduk di bangku kelas
> dua SD, sudah sejak pukul 9.00 tiba di rumah karena mendapat giliran
masuk
> pagi di sekolah. Dia merengek untuk ikut menemaniku ke kantor.
> Wajarlah pikirku, karena aku jarang sekali mengajak anak-anakku pergi ke
> luar rumah pada saat hari libur. Sebenarnya aku lebih senang
bercengkerama
> dengan mereka di rumah. Nonton berita ataupun film kartun di TV, walaupun
> sebenarnya kurang baik bagi anak-anak bila sering menyaksikan aksi
kekerasan
> atau kekonyolan film-film kartun yang kadang sulit diterima akal sehat
namun
> sanggup menghanyutkan kami ber-jam-jam dalam pengaruh "magis"nya yang
luar
> biasa.
>
> Kami berangkat menggunakan KRL dari Bojong Gede menuju Cikini. Begitu
> padatnya kereta, sehingga aku terpaksa berdiri, Alhamdulillah anakku
masih
> bisa duduk dalam pangkuan seorang ibu yang berbaik hati.
> Kepadatan semakin jadi dengan bersliwerannya para pedagang asongan,
> pengamen, penyapu kereta dan para pengemis. Sebagai pengguna setia KRL,
> sebenarnya aku sangat terganggu dengan kehadiran mereka, walaupun kadang
> bisa memanfaatkan kehadiran pedagang asongan untuk membeli buah-buahan
murah
> ataupun produk import murah dari China yang banyak diperdagangkan di moda
> transportasi rakyat tersebut.
>
> Pukul 12.30 kereta tiba di stasiun Cikini, kami langsung menuju Musholla
> untuk menunaikan sholat Dzuhur. Segera setelah selesai kukebut pekerjaan
> agar bisa rampung sebelum sore hari. Kubiarkan Zalfa menulis dalam
"binder"
> princessnya, entah apa yang dia tulis. Sekali-sekali anak sulungku itu
> melihat-lihat pemandangan di luar jendela ruanganku yang berada di lantai
> delapan.
>
> Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.20, bergegas kumatikan
komputer
> dan kuajak anakku untuk bersiap-siap pulang, berharap agar dapat mengejar
> KRL AC tujuan Bojong Gede yang tidak berhenti di stasiun Cikini. Kami
harus
> menumpang KRL ekonomi tujuan Jakarta Kota dahulu untuk dapat menaiki KRL
AC
> yang memang hanya menaikan penumpang di stasiun Kota, Juanda, Gambir dan
> Gondangdia.
> Setelah lima menit menunggu, datanglah KRL ekonomi menuju Jakarta Kota,
> kuraih tangan anakku dan segera masuk ke dalam rangkain gerbong kumuh
yang
> tidak terlalu penuh dengan penumpang. Kami langsung duduk di bangku kayu
> panjang layaknya bangku "warteg" di bawah stasiun Cikini.
> KRL merayap perlahan, mungkin menunggu antrian kereta diesel yang memang
> padat memasuki stasiun Gambir di sore hari.
> Seperti biasa para pedagang, pengamen dan pegemis berebut mencari rupiah.
> Dalam keadaan padat saja mereka nekad masuk, apalagi KRL dalam kondisi
tidak
> "full contact body", mereka leluasa menjalankan aktifitasnya
masing-masing,
> dari penjual tissue dan cotton bud sampai penjaja suara yang tak jarang
tuna
> netra.
>
> Pikiranku masih melayang dan mengendap di meja kantor, memikirkan kerjaan
> yang masih jauh dari rampung. Sekelebat kulihat penjual "gulali" lewat di
> depan kami, kulirik wajah Zalfa, matanya tertuju pada makanan kesukaan
> anak-anak yang menjadi musuh para ibu itu. Dia melihat hanya sekejap lalu
> matanya beralih ke pedagang buku mewarnai. Biarlah ujarku dalam hati, toh
> anak-anakku tak kurang kubelikan buku, majalah bahkan mainan anak-anak
yang
> rata-rata kubeli dengan harga miring di dalam KRL. Tak lama pedagang buku
> mewarnai lewat, di belakangnya muncul penjual jeruk "lokam" yang katanya
> dari China. Cukup murah, seribu rupiah sebuah. Kutawari anakku, dia
> menggeleng. Aku tetap merogoh saku celana, selembar ribuan cukup sebagai
> pengganti ketergiuranku pada kuningnya jeruk tersebut. Segera kukupas
> kulitnya untuk menikmati kesegarannya. Kulit yang kubuang langsung di
sambut
> sapu lidi penyapu kereta yang menggusur sampah dari ujung ke ujung
gerbong,
> berharap ada yang memberinya recehan. Bajunya lusuh, begitu juga balita
yang
> di gendongnya. Perhatianku beralih ke penjual koran dan memanggilnya,
> lumayan sebagai bacaan nanti di atas KRL AC yang tidak bisa dimasuki para
> pedagang asongan tersebut.
> Saat kumasukan koran ke dalam ransel, sekelebat kulihat mata anakku
memerah.
> Cukup terkejut aku melihatnya.
>
> "Lho kenapa mata kakak?" tanyaku heran, karena sebelumnya tidak apa-apa.
> Zalfa diam tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Aku tahu
kebiasaan
> anakku, bila ditanya tak langsung menjawab, berarti ada yang tidak
berkenan
> di hatinya.
>
> " Kakak haus?" dia tetap diam hanya menggeleng.
>
> " Mau beli permen?" saat itu pedagang permen lewat di depan kami, dia
hanya
> menggeleng. Aku jadi penasaran.
>
> " Kakak ingin gulali yang tadi?" aku jadi ingat ketika penjual gulali
lewat,
> dia tidak kutawarkan.
> Aku semakin penasaran, karena kembali dia menggelengkan kepalanya, bahkan
> kali ini memalingkan mukanya ke kanan, menutupi sesuatu.
> Kutengok kembali wajahnya, aku semakin heran, air mata sudah mengalir
deras
> di pipi merahnya.
>
> " Lho kenapa kakak menangis? Kalau memang ingin gulali, nanti kalau lewat
> lagi kita beli ya." ujarku berusaha menghibur seraya menghapus air
matanya,
> karena anak sulungku itu memang tak berani membantah keputusanku yang
sering
> mengatakan kalau gulali itu tidak baik untuk kesehatan giginya. Aku
> berpikir, walau suka tetapi dia tidak berani memintanya, karena itu sudah
> menjadi kesepakatan kami di rumah.
>
> Zalfa tetap terdiam, sampai kami turun di stasiun Gondangdia. Setelah
tiket
> KRL AC tujuan Bojong Gede kubeli, kami menuju peron tujuan Bogor. Kulihat
> wajah anakku masih muram walau air mata sudah kering dari pipinya.
>
> Memang sangat berbeda menaiki KRL sumpek dan kumuh dengan KRL
berpendingin
> udara. Harga tiketnya pun berbeda jauh, dua ribu rupiah berbanding
sebelas
> ribu rupiah. Kami langsung memilih tempat untuk duduk yang memang lengang
> dari penumpang. Setelah kuletakan ransel di tempatnya, aku berusaha
> mendekati anakku yang sudah sedikit tenang, dengan melontarkan pertanyaan
> yang sama "Kenapa kakak menangis?"
>
> Wajah lugunya kali ini memandangku dengan sorotan mata yang sulit aku
duga.
>
> " Ayah tadi lihat ibu yang menggendong dede kecil?" dia balik bertanya
> padaku.
>
> " Ibu yang menggendong dede kecil?" aku berusaha mengingat-ingat.
>
> " Iya Yah, yang bajunya kotor dan menyapu kereta sambil menggendong dede
> kecil ", dia mulai mau bicara rupanya
>
> "...mmm yang di atas KRL penuh sesak itu maksud kakak?" dia menganggukan
> kepalanya, lalu aku melanjutkan dengan pertanyaan "Memang kenapa dengan
Ibu
> itu kak?" aku tidak tahu terjadi apa antara anakku dengan penyapu kereta
> itu.
>
> " Kakak jadi ingat Ibu dan dede Zaidan di rumah" katanya lirih penuh
> perasaan. " Kasihan sekali ya Yah, mereka berdesak-desakan sambil menyapu
> kereta yang kotor itu".
>
> " Memang apa yang kakak inginkan?" tanyaku ingin mengetahui pendapat
anakku
> selanjutnya.
>
> " Seharusnya Ayah memberikan ibu itu uang Yah " katanya dengan wajah
kecewa.
>
> Aku terhenyak kaget mendapati kenyataan anakku bisa demikian
terpengaruhnya
> dengan kejadian yang baru saja dilihatnya. Aku yang sudah terbiasa
melihat
> kejadian seperti itu sudah tak tergerak lagi untuk menekuri perhelatan
hidup
> manusia di Jakarta, yang sangat berat dan penuh perjuangan. Aku sudah
> terbiasa membaca slogan dan anjuran pemerintah untuk tidak memberikan
uang
> pada pengemis dan membeli pada pedagang asongan. Tidak mendidik kata
mereka.
>
> Tapi kali ini aku jadi tersadar, betapa nuraniku sudah demikian
mem"batu"nya
> hingga tak sempat berpikir tentang betapa sulitnya beras murah
didapatkan,
> betapa berat perjuangan kaum tak punya mengantri minyak tanah
berkilo-kilo
> panjangnya. Sementara aku yang mampu membeli gas hanya melihatnya dari
layar
> televisi dan koran-koran.
>
> Aku tidak pernah membayangkan, kenapa seorang anak kelas 6 Sekolah Dasar
> meninggal gantung diri karena malu belum membayar uang sekolah. Aku cuma
> bisa menyayangkan sikap pemerintah yang tidak cepat tanggap, tetapi
> menyetujui anjurannya untuk tidak memberi pada pengemis yang miskin.
> Begitu asyiknya aku dengan pergulatan mencari materi, hingga tidak sempat
> melihat jika tetangga sebelah tersungkur sekarat mati kekurangan gizi.
>
> Anak sulungku yang belum genap delapan tahun, telah membukakan mataku,
bila
> ternyata hati orang tuanya sudah tidak sebening pualam. Kepedulian telah
> tertutup oleh ketamakan. Emphati telah lama terkubur egoisme pribadi,
hingga
> tak tergerak hati melihat kesengsaraan di depan mata telanjang.
>
> " Maafkan Ayahmu Kak, yang tak lagi mempunyai hati yang bening " kataku
> hanya dalam hati.
>
> (dalam KRL antara Cikini - Bojong Gede)
>
> Jojo_wahyudi dot manulife dot com
>
> http://www.eramuslim.com/atk/oim/8327201929-beningnya-hati.htm
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Dari Hudzaifah Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam biasa menggosok giginya dengan siwak setiap kali bangun dari tidur.
(HR. Muslim)
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian,
sehingga aku lebih dicintai dari keluarganya, hartanya, dan dari semua
manusia. (HR. Muslim).
______________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have
received it in error, please notify the sender and delete the message
immediately. Any other use of the email is prohibited.
______________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have
received it in error, please notify the sender and delete the message
immediately. Any other use of the email is prohibited.
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian,
sehingga aku lebih dicintai dari keluarganya, hartanya, dan dari semua
manusia. (HR. Muslim).