Pak Amin, terima kasih atas ide, saran dan motivasinya
Kayaknya lebih baik kalau buku tersebut berupa kompilasi dari beberapa
"penulis" (tepatnya orang yg suka nulis)
di lingkungan BDB komplek kita tercinta.
Nanti hasilnya bisa untuk (ini cuma angan2) mbantu mbangun Masjid, mbantu
mbenerin jalan :)) dll
Bagaimana Pak Amin ?
dan dalam sebuah buku , bagusnya juga bukan berisi perenungan melulu atau
yang menyentuh melulu
boleh juga ada yang mencubit bahkan menampar
Sebab "kita" (orang Indonesia) gak bisa cuma di nasehatin doank :))
kadang2 selain nasehat kita perlu di cubit, kalo gak mempan juga......
ya terpaksa dech di "tampar" he he he
jadi boleh juga Pak Amin, kita berkolaborasi

salam,

Jojo Wahyudi
Marketing & Communications Dept
PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
T (62-21) 2355 9966 ext. 1292
F (62-21) 391 1560
www.manulife-indonesia.com

"Bringing Dreams to Life"
 Manulife Indonesia is part of Manulife Financial - Proud Worldwide Sponsor
of the Beijing 2008 Olympic Games


                                                                           
             "amin widada"                                                 
             <[EMAIL PROTECTED]                                             
             .com>                                                      To 
                                       [email protected]                 
             03/31/2008 01:28                                           cc 
             PM                                                            
                                                                   Subject 
                                       Re: [Ar-Royyan-7504] Beningnya Hati 
             Please respond to                                             
             [EMAIL PROTECTED]                                             
                    om                                                     
                                                                           
                                                                           
                                                                           




Salam kenal juga, Pak Jojo.

Konon, novel laskar pelangi muncul bukan inisiatif penulisnya (Andrea
Hirata), tapi teman Andrea-lah yang justru mengirimkannya ke penerbit.

Jadi kalau ada yang berinisiatif mengcompile tulisan-tulisan Pak Jojo,
edit seperlunya, mintakan sambutan seorang public figure, kasih judul
keren (misal "Percik Permenungan" ... :-)), kirim ke penerbit, insya
Allah sudah jadi tuh buku, hehehe ...
Soal pemasaran serahkan ke Pak Agus Rasyidi ...

Sebenarnya saya juga senang menulis refleksi atau opini. Tapi bahasa
tutur saya kurang menyentuh, malah cenderung mencubit atau bahkan
menampar. Dijamin tidak bakalan diserap pasar ... :-)



Pada tanggal 31/03/08, [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> InsyaAllah Pak Aep
>
> nanti pak Aep yg modalin ya :)))
>
>
> salam,
>
> Jojo Wahyudi
> Marketing & Communications Dept
> PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
> T (62-21) 2355 9966 ext. 1292
> F (62-21) 391 1560
> www.manulife-indonesia.com
>
> "Bringing Dreams to Life"
>  Manulife Indonesia is part of Manulife Financial - Proud Worldwide
Sponsor
> of the Beijing 2008 Olympic Games
>
>
>
>             [EMAIL PROTECTED]
>             ndofood.co.id
>                                                                        To
>             03/31/2008 12:07          [email protected]
>             PM                                                         cc
>
>                                                                   Subject
>             Please respond to         Re: [Ar-Royyan-7504] Beningnya Hati
>             [EMAIL PROTECTED]
>                    om
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Jojo
>
> Bikin Novel tuh, kayak Ayat-ayat cinta
>
>
>
>
>
>
>  [EMAIL PROTECTED]
>
>                                                                        To
>  03/31/2008 12:05 PM                         [email protected]
>                                                                        cc
>                                             [email protected]
>        Please respond to                                          Subject
>       [email protected]                   Re: [Ar-Royyan-7504]
>                                             Beningnya Hati
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Amin ya Robbalaalamin Pak Amin
> mudah2an bisa terus diberikan Allah kekuatan tangan untuk menulis yg
> "baik-baik"
> Salam kenal dari saya di RT 06/14
>
> salam,
>
> Jojo Wahyudi
> Marketing & Communications Dept
> PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
> T (62-21) 2355 9966 ext. 1292
> F (62-21) 391 1560
> www.manulife-indonesia.com
>
> "Bringing Dreams to Life"
> Manulife Indonesia is part of Manulife Financial - Proud Worldwide
Sponsor
> of the Beijing 2008 Olympic Games
>
>
>
> Numpang nanya, penulis artikel yang sering muncul di Eramuslim.com ini
> (Pak Jojo Wahyudi) apakah warga Ar Royyan? (kalau gak salah ...).
>
> Btw, gaya tuturnya lumayan enak dan menyentuh. Mungkin kelak bisa
> menyaingi Habiburrahman El Shirazy ... :-).
> Barakallah ...
>
> Wassalam,
> --amin
>
> 2008/3/28, Agus Rasidi <[EMAIL PROTECTED]>:
> >
> > Beningnya Hati
> >
> > 28 Mar 08 07:33 WIB
> >
> > Oleh Jojo Wahyudi
> >
> > Sabtu siang, aku terpaksa berangkat ke kantor. Pekerjaan menumpuk
> menunggu
> > untuk segera diselesaikan. Anak sulungku Zalfa yang duduk di bangku
kelas
> > dua SD, sudah sejak pukul 9.00 tiba di rumah karena mendapat giliran
> masuk
> > pagi di sekolah. Dia merengek untuk ikut menemaniku ke kantor.
> > Wajarlah pikirku, karena aku jarang sekali mengajak anak-anakku pergi
ke
> > luar rumah pada saat hari libur. Sebenarnya aku lebih senang
> bercengkerama
> > dengan mereka di rumah. Nonton berita ataupun film kartun di TV,
walaupun
> > sebenarnya kurang baik bagi anak-anak bila sering menyaksikan aksi
> kekerasan
> > atau kekonyolan film-film kartun yang kadang sulit diterima akal sehat
> namun
> > sanggup menghanyutkan kami ber-jam-jam dalam pengaruh "magis"nya yang
> luar
> > biasa.
> >
> > Kami berangkat menggunakan KRL dari Bojong Gede menuju Cikini. Begitu
> > padatnya kereta, sehingga aku terpaksa berdiri, Alhamdulillah anakku
> masih
> > bisa duduk dalam pangkuan seorang ibu yang berbaik hati.
> > Kepadatan semakin jadi dengan bersliwerannya para pedagang asongan,
> > pengamen, penyapu kereta dan para pengemis. Sebagai pengguna setia KRL,
> > sebenarnya aku sangat terganggu dengan kehadiran mereka, walaupun
kadang
> > bisa memanfaatkan kehadiran pedagang asongan untuk membeli buah-buahan
> murah
> > ataupun produk import murah dari China yang banyak diperdagangkan di
moda
> > transportasi rakyat tersebut.
> >
> > Pukul 12.30 kereta tiba di stasiun Cikini, kami langsung menuju
Musholla
> > untuk menunaikan sholat Dzuhur. Segera setelah selesai kukebut
pekerjaan
> > agar bisa rampung sebelum sore hari. Kubiarkan Zalfa menulis dalam
> "binder"
> > princessnya, entah apa yang dia tulis. Sekali-sekali anak sulungku itu
> > melihat-lihat pemandangan di luar jendela ruanganku yang berada di
lantai
> > delapan.
> >
> > Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.20, bergegas kumatikan
> komputer
> > dan kuajak anakku untuk bersiap-siap pulang, berharap agar dapat
mengejar
> > KRL AC tujuan Bojong Gede yang tidak berhenti di stasiun Cikini. Kami
> harus
> > menumpang KRL ekonomi tujuan Jakarta Kota dahulu untuk dapat menaiki
KRL
> AC
> > yang memang hanya menaikan penumpang di stasiun Kota, Juanda, Gambir
dan
> > Gondangdia.
> > Setelah lima menit menunggu, datanglah KRL ekonomi menuju Jakarta Kota,
> > kuraih tangan anakku dan segera masuk ke dalam rangkain gerbong kumuh
> yang
> > tidak terlalu penuh dengan penumpang. Kami langsung duduk di bangku
kayu
> > panjang layaknya bangku "warteg" di bawah stasiun Cikini.
> > KRL merayap perlahan, mungkin menunggu antrian kereta diesel yang
memang
> > padat memasuki stasiun Gambir di sore hari.
> > Seperti biasa para pedagang, pengamen dan pegemis berebut mencari
rupiah.
> > Dalam keadaan padat saja mereka nekad masuk, apalagi KRL dalam kondisi
> tidak
> > "full contact body", mereka leluasa menjalankan aktifitasnya
> masing-masing,
> > dari penjual tissue dan cotton bud sampai penjaja suara yang tak jarang
> tuna
> > netra.
> >
> > Pikiranku masih melayang dan mengendap di meja kantor, memikirkan
kerjaan
> > yang masih jauh dari rampung. Sekelebat kulihat penjual "gulali" lewat
di
> > depan kami, kulirik wajah Zalfa, matanya tertuju pada makanan kesukaan
> > anak-anak yang menjadi musuh para ibu itu. Dia melihat hanya sekejap
lalu
> > matanya beralih ke pedagang buku mewarnai. Biarlah ujarku dalam hati,
toh
> > anak-anakku tak kurang kubelikan buku, majalah bahkan mainan anak-anak
> yang
> > rata-rata kubeli dengan harga miring di dalam KRL. Tak lama pedagang
buku
> > mewarnai lewat, di belakangnya muncul penjual jeruk "lokam" yang
katanya
> > dari China. Cukup murah, seribu rupiah sebuah. Kutawari anakku, dia
> > menggeleng. Aku tetap merogoh saku celana, selembar ribuan cukup
sebagai
> > pengganti ketergiuranku pada kuningnya jeruk tersebut. Segera kukupas
> > kulitnya untuk menikmati kesegarannya. Kulit yang kubuang langsung di
> sambut
> > sapu lidi penyapu kereta yang menggusur sampah dari ujung ke ujung
> gerbong,
> > berharap ada yang memberinya recehan. Bajunya lusuh, begitu juga balita
> yang
> > di gendongnya. Perhatianku beralih ke penjual koran dan memanggilnya,
> > lumayan sebagai bacaan nanti di atas KRL AC yang tidak bisa dimasuki
para
> > pedagang asongan tersebut.
> > Saat kumasukan koran ke dalam ransel, sekelebat kulihat mata anakku
> memerah.
> > Cukup terkejut aku melihatnya.
> >
> > "Lho kenapa mata kakak?" tanyaku heran, karena sebelumnya tidak
apa-apa.
> > Zalfa diam tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Aku tahu
> kebiasaan
> > anakku, bila ditanya tak langsung menjawab, berarti ada yang tidak
> berkenan
> > di hatinya.
> >
> > " Kakak haus?" dia tetap diam hanya menggeleng.
> >
> > " Mau beli permen?" saat itu pedagang permen lewat di depan kami, dia
> hanya
> > menggeleng. Aku jadi penasaran.
> >
> > " Kakak ingin gulali yang tadi?" aku jadi ingat ketika penjual gulali
> lewat,
> > dia tidak kutawarkan.
> > Aku semakin penasaran, karena kembali dia menggelengkan kepalanya,
bahkan
> > kali ini memalingkan mukanya ke kanan, menutupi sesuatu.
> > Kutengok kembali wajahnya, aku semakin heran, air mata sudah mengalir
> deras
> > di pipi merahnya.
> >
> > " Lho kenapa kakak menangis? Kalau memang ingin gulali, nanti kalau
lewat
> > lagi kita beli ya." ujarku berusaha menghibur seraya menghapus air
> matanya,
> > karena anak sulungku itu memang tak berani membantah keputusanku yang
> sering
> > mengatakan kalau gulali itu tidak baik untuk kesehatan giginya. Aku
> > berpikir, walau suka tetapi dia tidak berani memintanya, karena itu
sudah
> > menjadi kesepakatan kami di rumah.
> >
> > Zalfa tetap terdiam, sampai kami turun di stasiun Gondangdia. Setelah
> tiket
> > KRL AC tujuan Bojong Gede kubeli, kami menuju peron tujuan Bogor.
Kulihat
> > wajah anakku masih muram walau air mata sudah kering dari pipinya.
> >
> > Memang sangat berbeda menaiki KRL sumpek dan kumuh dengan KRL
> berpendingin
> > udara. Harga tiketnya pun berbeda jauh, dua ribu rupiah berbanding
> sebelas
> > ribu rupiah. Kami langsung memilih tempat untuk duduk yang memang
lengang
> > dari penumpang. Setelah kuletakan ransel di tempatnya, aku berusaha
> > mendekati anakku yang sudah sedikit tenang, dengan melontarkan
pertanyaan
> > yang sama "Kenapa kakak menangis?"
> >
> > Wajah lugunya kali ini memandangku dengan sorotan mata yang sulit aku
> duga.
> >
> > " Ayah tadi lihat ibu yang menggendong dede kecil?" dia balik bertanya
> > padaku.
> >
> > " Ibu yang menggendong dede kecil?" aku berusaha mengingat-ingat.
> >
> > " Iya Yah, yang bajunya kotor dan menyapu kereta sambil menggendong
dede
> > kecil ", dia mulai mau bicara rupanya
> >
> > "...mmm yang di atas KRL penuh sesak itu maksud kakak?" dia
menganggukan
> > kepalanya, lalu aku melanjutkan dengan pertanyaan "Memang kenapa dengan
> Ibu
> > itu kak?" aku tidak tahu terjadi apa antara anakku dengan penyapu
kereta
> > itu.
> >
> > " Kakak jadi ingat Ibu dan dede Zaidan di rumah" katanya lirih penuh
> > perasaan. " Kasihan sekali ya Yah, mereka berdesak-desakan sambil
menyapu
> > kereta yang kotor itu".
> >
> > " Memang apa yang kakak inginkan?" tanyaku ingin mengetahui pendapat
> anakku
> > selanjutnya.
> >
> > " Seharusnya Ayah memberikan ibu itu uang Yah " katanya dengan wajah
> kecewa.
> >
> > Aku terhenyak kaget mendapati kenyataan anakku bisa demikian
> terpengaruhnya
> > dengan kejadian yang baru saja dilihatnya. Aku yang sudah terbiasa
> melihat
> > kejadian seperti itu sudah tak tergerak lagi untuk menekuri perhelatan
> hidup
> > manusia di Jakarta, yang sangat berat dan penuh perjuangan. Aku sudah
> > terbiasa membaca slogan dan anjuran pemerintah untuk tidak memberikan
> uang
> > pada pengemis dan membeli pada pedagang asongan. Tidak mendidik kata
> mereka.
> >
> > Tapi kali ini aku jadi tersadar, betapa nuraniku sudah demikian
> mem"batu"nya
> > hingga tak sempat berpikir tentang betapa sulitnya beras murah
> didapatkan,
> > betapa berat perjuangan kaum tak punya mengantri minyak tanah
> berkilo-kilo
> > panjangnya. Sementara aku yang mampu membeli gas hanya melihatnya dari
> layar
> > televisi dan koran-koran.
> >
> > Aku tidak pernah membayangkan, kenapa seorang anak kelas 6 Sekolah
Dasar
> > meninggal gantung diri karena malu belum membayar uang sekolah. Aku
cuma
> > bisa menyayangkan sikap pemerintah yang tidak cepat tanggap, tetapi
> > menyetujui anjurannya untuk tidak memberi pada pengemis yang miskin.
> > Begitu asyiknya aku dengan pergulatan mencari materi, hingga tidak
sempat
> > melihat jika tetangga sebelah tersungkur sekarat mati kekurangan gizi.
> >
> > Anak sulungku yang belum genap delapan tahun, telah membukakan mataku,
> bila
> > ternyata hati orang tuanya sudah tidak sebening pualam. Kepedulian
telah
> > tertutup oleh ketamakan. Emphati telah lama terkubur egoisme pribadi,
> hingga
> > tak tergerak hati melihat kesengsaraan di depan mata telanjang.
> >
> > " Maafkan Ayahmu Kak, yang tak lagi mempunyai hati yang bening " kataku
> > hanya dalam hati.
> >
> > (dalam KRL antara Cikini - Bojong Gede)
> >
> > Jojo_wahyudi dot manulife dot com
> >
> > http://www.eramuslim.com/atk/oim/8327201929-beningnya-hati.htm
>
> ------------------------------------------------------------------
> - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
> - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
>
> Dari Hudzaifah Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu
alaihi
> wasalam biasa menggosok giginya dengan siwak setiap kali bangun dari
tidur.
> (HR. Muslim)
>
>
>
>
> ------------------------------------------------------------------
> - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
> - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
>
> Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian,
> sehingga aku lebih dicintai dari keluarganya, hartanya, dan dari semua
> manusia. (HR. Muslim).
>
>
> ______________________________________________
> This message is for the designated recipient only and may contain
> privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have
> received it in error, please notify the sender and delete the message
> immediately. Any other use of the email is prohibited.
>
>  ______________________________________________
>  This message is for the designated recipient only and may contain
>  privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have
>  received it in error, please notify the sender and delete the message
>  immediately. Any other use of the email is prohibited.
>
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------------------------------------------
> - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
> - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
>
> Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian,
> sehingga aku lebih dicintai dari keluarganya, hartanya, dan dari semua
> manusia. (HR. Muslim).
>
>

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian,
sehingga aku lebih dicintai dari keluarganya, hartanya, dan dari semua
manusia. (HR. Muslim).




------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian, 
sehingga aku lebih dicintai dari keluarganya, hartanya, dan dari semua 
manusia. (HR. Muslim).

Kirim email ke