Salaam,

Hadits ini memang populer terutama menjelang dan selama Ramadhan.
Wallahu a'lam, bisa jadi karena kekurangtahuan ustadz-nya, atau memang
'by design' untuk membonsai semangat perjuangan (fisik) umat Islam.

Tentunya Yahudi Israel happy banget dengan hadits ini ..... :-(

Wassalam,
--amin

nb. Sekedar reminder, khatib Idul Fitri 1428 H di lapangan bola RW13
menyitir hadits ini pula .... (afwan banget, kayaknya saat itu Ar
Royyan panitianya ....).

2009/1/5, wawan wahyu <[email protected]>:
>
> Tanya :
>
> Bagaimana status hadits : Kita kembali dari jihad yang kecil menuju jihad
> yang besar ? Apakah shahih ?
>
> Jawab :
>
> Hadits tersebut tidak ada asalnya, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul-Islam
> Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-Furqaan Baina Auliyaair-Rahmaan wa
> Auliyaaisy-Syaithaan. Beliau berkata :
>
>
> فلا أصل له ولم يروه أحد من أهل المعرفة بأقوال النبي صلى الله عليه وسلم
> وأفعاله وجهاد الكفار من أعظم الأعمال
>
>
> "Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak pernah diriwayatkan oleh satupun ahli
> ma'rifah (ulama) dari perkataan atau perbuatan Nabi shallallaahu 'alaihi
> wasallam. Adapun jihad melawan orang-orang kafir merupakan amal yang paling
> besar (dalam Islam)" [selesai].
>
>
> Apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah adalah benar, karena berkesesuaian
> dengan sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam :
>
>
> رأس الأمر الإسلام وعموده الصلاة وذروة سنامه الجهاد
>
> "Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya
> adalah jihad" [HR. Ahmad 5/237 no. 22121, At-Tirmidzi no. 2616, dan Ibnu
> Majah no. 4044; shahih lighairihi].
>
> Kata "jihad" di sini disebut secara mutlak tanpa taqyid sifat-sifat
> tertentu. Maka jihad yang dimaksud adalah jihad dengan pedang fii
> sabiilillah meninggikan kalimat Allah melawan kuffar.
>
> Adapun Al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini (yaitu hadits : Kita
> kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar) hanyalah perkataan
> Ibrahim bin 'Ablah saja.
>
> Sebagai satu peringatan, Al-Ghazali telah membawakan hadits tersebut dalam
> kitabnya : Ihyaa 'Uluumiddin dengan menyandarkan pada Nabi shallallaahu
> 'alaihi wasallam (marfu') (3/7 dan 3/66). Ia (Al-Ghazali) berkata : "Dan
> telah bersabda Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam kepada satu kaum yang
> baru datang dari peperangan :
>
>
> مرحباًَ بكم ! وقدمتم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر. قيل : يا رسول الله،
> وما الجهاد الأكبر؟ قال : جهاد النفس
>
>
> "Selamat datang ! Kalian telah datang dari jihad yang kecil menuju jihad
> yang besar". Dikatakan kepada beliau : "Wahai Rasulullah , apa itu jihad
> yang besar ?". Beliau menjawab : Jihadun-Nafs (Jihad melawan hawa nafsu)"..
>
> Ini adalah salah satu contoh beberapa kesalahan Al-Ghazaly dalam kitab
> Al-Ihyaa' yang banyak memuat hadits dla'if, palsu, bahkan tidak ada asalnya
> (la ashla lahu) [1]. Al-Ghazaly sendiri mengakui bahwa pengetahuannya di
> bidang hadits adalah minim sebagaimana perkataannya :
>
>
> بِضَاعَتِيْ فِيْ عِلْمِ الْحَدِيْثِ مُزْجَاةٌُ
>
> "Pemahamanku di dalam ilmu hadits adalah sedikit" [Qanun Ta'wil hal. 16].
>
> Semoga Allah merahmati dan memafkan semua kesalahan beliau. Wallaahu a'lam.
>
>
> Abul-Jauzaa'
>
>
> Catatan kaki :
>
> [1] Telah berkata berberapa ulama Ahlus-Sunnah (ahlul-hadits) mengenai
> Al-Ghazaly dan kitab Al-Ihyaa'-nya :
>
> Al-Mazari (w. 536 H) berkata : "Dan di dalam kitab Al-Ihyaa' sangat banyak
> terdapat riwayat-riwayat yang lemah. Kebiasaan orang-orang yang
> berhati-hati, tidak akan mengatakan Imam Malik telah bekata atau Imam
> Asy-Syafi'i telah berkata dalam pekara-perkara yang tidak shahih dari
> mereka. Dia (Al-Ghazaly) juga menganggap baik banyak perkara berdasarkan
> apa-apa yang tidak ada hakekatnya......." [Siyaaru A'laamin-Nubalaa' juz 19
> hal. 340].
>
> Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berkata : "Abu Hamid (Al-Ghazaly)
> tidaklah mempunyai ilmu tentang atsar-atsar (hadits-hadits) Nabi dan
> (riwayat-riwayat) As-Salafush-Shalih seperti yang dimiliki oleh orang-orang
> yang ahli dalam bidang ini. Yaitu orang-orang yang dapat memisahkan antara
> yang shahih dan yang dla'if. Oleh karenanya dia menyebutkan hadits-hadits
> dan riwayat-riwayat yang palsu dan dusta di dalam kitab-kitabnya. Seandainya
> dia mengetahui bahwa itu merupakan kedustaan, niscaya dia tidak akan
> menyebutkannya" [Dar'ut-Ta'arudl juz 8 hal 149].
>
> Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata : "Dalam masa ini ini, dia (Al-Ghazaly)
> menyusun kitab Ihyaa' 'Ulumiddin. Sebuah kitab yang mengherankan, memuat
> banyak ilmu-ilmu syar'i, dan dicampuri dengan banyak perkara-perkara bagus
> dari tashawwuf dan amalan-amalan hati. Tetapi dalam kitab ini terdapat
> banyak hadits yang aneh, munkar, dan palsu..." [Al-Bidaayah wan-Nihaayah juz
> 12 hal. 174].
>
>
> Diambil dari :
>
> http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/11/hadits-kita-kembali-
> dari-jihad-yang..html

Kirim email ke