Assalamualikum Wr.Wb,
Saya tidak dalam posisi berkomentar mengenai keshohihan hadits karena 
kedangkalan dan kefakiran ilmu saya terhadap mustolahah hadits, saya lebih 
memilih khusnuddzon terhadap pendapat-pendapat ulama',  termasuk apakah kita 
menggunakan pendapat Imam Bukhori ataukah Ibnu Taimiyyah dalam menshohihkan 
sebuah hadits. Namun yang saya tahu, pendapat Imam Bukhori lebih banyak dipakai 
di kalangan umat Islam seluruh dunia, kitab shohih bukhori dan shohih muslim 
menjadi rujukan hampir semua umat islam sedangkan pendapat Ibnu Taimiyyah lebih 
banyak dipakai di kalangan Wahabi (saat ini Wahabi berkuasa di Arab Saudi 
melalui kudeta terhadap pemerintahan Turki Utsmania yang saat itu dipimpin oleh 
salah satu Keturunan Rasuluh). Mari kita lihat apa yang dilakukan pemerintah 
petro dolar tsb dg pembantaian di Gaza. Saat perang teluk malah salah satu 
pangkalannya menjadi tempat menyerang Irak. Jadi manakah yang memiliki ruh 
jihad ????

Wallohu A'lam bisshowab.

 
M.Khoerur Roziqin
Recommended blog for better understanding of the purposes of life: 
www.dalamdakwah.wordpress.com
www.imanyakin.wordpress.com
www.aldjo.wordpress.com
www.hidayahku.com
www.mualaf.com.
www.usahadakwa.com
www.Fakta.cjb.net 




________________________________
From: amin widada <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, January 4, 2009 11:36:02 PM
Subject: Re: [Ar-Royyan-8481] Fwd: Jihad yang terbesar memerangi hawa nafsu?

Salaam,

Hadits ini memang populer terutama menjelang dan selama Ramadhan.
Wallahu a'lam, bisa jadi karena kekurangtahuan ustadz-nya, atau memang
'by design' untuk membonsai semangat perjuangan (fisik) umat Islam.

Tentunya Yahudi Israel happy banget dengan hadits ini ..... :-(

Wassalam,
--amin

nb. Sekedar reminder, khatib Idul Fitri 1428 H di lapangan bola RW13
menyitir hadits ini pula .... (afwan banget, kayaknya saat itu Ar
Royyan panitianya ....).

2009/1/5, wawan wahyu <[email protected]>:
>
> Tanya :
>
> Bagaimana status hadits : Kita kembali dari jihad yang kecil menuju jihad
> yang besar ? Apakah shahih ?
>
> Jawab :
>
> Hadits tersebut tidak ada asalnya, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul-Islam
> Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-Furqaan Baina Auliyaair-Rahmaan wa
> Auliyaaisy-Syaithaan. Beliau berkata :
>
>
> فلا أصل له ولم يروه أحد من أهل المعرفة بأقوال النبي صلى الله عليه وسلم
> وأفعاله وجهاد الكفار من أعظم الأعمال
>
>
> "Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak pernah diriwayatkan oleh satupun ahli
> ma'rifah (ulama) dari perkataan atau perbuatan Nabi shallallaahu 'alaihi
> wasallam. Adapun jihad melawan orang-orang kafir merupakan amal yang paling
> besar (dalam Islam)" [selesai].
>
>
> Apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah adalah benar, karena berkesesuaian
> dengan sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam :
>
>
> رأس الأمر الإسلام وعموده الصلاة وذروة سنامه الجهاد
>
> "Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya
> adalah jihad" [HR. Ahmad 5/237 no. 22121, At-Tirmidzi no. 2616, dan Ibnu
> Majah no. 4044; shahih lighairihi].
>
> Kata "jihad" di sini disebut secara mutlak tanpa taqyid sifat-sifat
> tertentu. Maka jihad yang dimaksud adalah jihad dengan pedang fii
> sabiilillah meninggikan kalimat Allah melawan kuffar.
>
> Adapun Al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini (yaitu hadits : Kita
> kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar) hanyalah perkataan
> Ibrahim bin 'Ablah saja.
>
> Sebagai satu peringatan, Al-Ghazali telah membawakan hadits tersebut dalam
> kitabnya : Ihyaa 'Uluumiddin dengan menyandarkan pada Nabi shallallaahu
> 'alaihi wasallam (marfu') (3/7 dan 3/66). Ia (Al-Ghazali) berkata : "Dan
> telah bersabda Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam kepada satu kaum yang
> baru datang dari peperangan :
>
>
> مرحباًَ بكم ! وقدمتم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر. قيل : يا رسول الله،
> وما الجهاد الأكبر؟ قال : جهاد النفس
>
>
> "Selamat datang ! Kalian telah datang dari jihad yang kecil menuju jihad
> yang besar". Dikatakan kepada beliau : "Wahai Rasulullah , apa itu jihad
> yang besar ?". Beliau menjawab : Jihadun-Nafs (Jihad melawan hawa nafsu)"..
>
> Ini adalah salah satu contoh beberapa kesalahan Al-Ghazaly dalam kitab
> Al-Ihyaa' yang banyak memuat hadits dla'if, palsu, bahkan tidak ada asalnya
> (la ashla lahu) [1]. Al-Ghazaly sendiri mengakui bahwa pengetahuannya di
> bidang hadits adalah minim sebagaimana perkataannya :
>
>
> بِضَاعَتِيْ فِيْ عِلْمِ الْحَدِيْثِ مُزْجَاةٌُ
>
> "Pemahamanku di dalam ilmu hadits adalah sedikit" [Qanun Ta'wil hal. 16].
>
> Semoga Allah merahmati dan memafkan semua kesalahan beliau. Wallaahu a'lam.
>
>
> Abul-Jauzaa'
>
>
> Catatan kaki :
>
> [1] Telah berkata berberapa ulama Ahlus-Sunnah (ahlul-hadits) mengenai
> Al-Ghazaly dan kitab Al-Ihyaa'-nya :
>
> Al-Mazari (w. 536 H) berkata : "Dan di dalam kitab Al-Ihyaa' sangat banyak
> terdapat riwayat-riwayat yang lemah. Kebiasaan orang-orang yang
> berhati-hati, tidak akan mengatakan Imam Malik telah bekata atau Imam
> Asy-Syafi'i telah berkata dalam pekara-perkara yang tidak shahih dari
> mereka. Dia (Al-Ghazaly) juga menganggap baik banyak perkara berdasarkan
> apa-apa yang tidak ada hakekatnya......." [Siyaaru A'laamin-Nubalaa' juz 19
> hal. 340].
>
> Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berkata : "Abu Hamid (Al-Ghazaly)
> tidaklah mempunyai ilmu tentang atsar-atsar (hadits-hadits) Nabi dan
> (riwayat-riwayat) As-Salafush-Shalih seperti yang dimiliki oleh orang-orang
> yang ahli dalam bidang ini. Yaitu orang-orang yang dapat memisahkan antara
> yang shahih dan yang dla'if. Oleh karenanya dia menyebutkan hadits-hadits
> dan riwayat-riwayat yang palsu dan dusta di dalam kitab-kitabnya. Seandainya
> dia mengetahui bahwa itu merupakan kedustaan, niscaya dia tidak akan
> menyebutkannya" [Dar'ut-Ta'arudl juz 8 hal 149].
>
> Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata : "Dalam masa ini ini, dia (Al-Ghazaly)
> menyusun kitab Ihyaa' 'Ulumiddin. Sebuah kitab yang mengherankan, memuat
> banyak ilmu-ilmu syar'i, dan dicampuri dengan banyak perkara-perkara bagus
> dari tashawwuf dan amalan-amalan hati. Tetapi dalam kitab ini terdapat
> banyak hadits yang aneh, munkar, dan palsu..." [Al-Bidaayah wan-Nihaayah juz
> 12 hal. 174].
>
>
> Diambil dari :
>
> http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/11/hadits-kita-kembali-
> dari-jihad-yang..html



      

Kirim email ke