Salam.

Kok jadi mempertentangkan Imam Bukhori dan Ibnu Taimiyah (keduanya
ulama bersih dari noda bid'ah)?

Coba dicek lagi, dalam artikel yang difwd Pak Wawan tidak ada
kata-kata "Imam Bukhori" ...

Saya googling hadits maudlu'/dhaif tersebut, sepertinya diriwayatkan
oleh Imam Nasai, bukan oleh Imam Bukhori.

Sekedar ricek ...

Wassalam,
--amin

2009/1/7, M.K. Roziqin <[email protected]>:
>
> Assalamualikum Wr.Wb,
> Saya tidak dalam posisi berkomentar mengenai keshohihan hadits karena
> kedangkalan dan kefakiran ilmu saya terhadap mustolahah hadits, saya lebih
> memilih khusnuddzon terhadap pendapat-pendapat ulama',  termasuk apakah kita
> menggunakan pendapat Imam Bukhori ataukah Ibnu Taimiyyah dalam menshohihkan
> sebuah hadits. Namun yang saya tahu, pendapat Imam Bukhori lebih banyak
> dipakai di kalangan umat Islam seluruh dunia, kitab shohih bukhori dan
> shohih muslim menjadi rujukan hampir semua umat islam sedangkan pendapat
> Ibnu Taimiyyah lebih banyak dipakai di kalangan Wahabi (saat ini Wahabi
> berkuasa di Arab Saudi melalui kudeta terhadap pemerintahan Turki Utsmania
> yang saat itu dipimpin oleh salah satu Keturunan Rasuluh). Mari kita lihat
> apa yang dilakukan pemerintah petro dolar tsb dg pembantaian di Gaza. Saat
> perang teluk malah salah satu pangkalannya menjadi tempat menyerang Irak.
> Jadi manakah yang memiliki ruh jihad ????
>
> Wallohu A'lam bisshowab.
>
>
> M.Khoerur RoziqinRecommended blog for better understanding of the purposes
> of life:
> www.dalamdakwah.wordpress.com
> www.imanyakin.wordpress.com
> www.aldjo.wordpress.com
> www.hidayahku.com
> www.mualaf.com.
> www.usahadakwa.com
> www.Fakta.cjb.net
>
>
> ________________________________
> From: amin widada <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Sunday, January 4, 2009 11:36:02 PM
> Subject: Re: [Ar-Royyan-8481] Fwd: Jihad yang terbesar memerangi hawa nafsu?
>
> Salaam,
>
> Hadits ini memang populer terutama menjelang dan selama Ramadhan.
> Wallahu a'lam, bisa jadi karena kekurangtahuan ustadz-nya, atau memang
> 'by design' untuk membonsai semangat perjuangan (fisik) umat Islam.
>
> Tentunya Yahudi Israel happy banget dengan hadits ini ..... :-(
>
> Wassalam,
> --amin
>
> nb. Sekedar reminder, khatib Idul Fitri 1428 H di lapangan bola RW13
> menyitir hadits ini pula .... (afwan banget, kayaknya saat itu Ar
> Royyan panitianya ....).
>
> 2009/1/5, wawan wahyu <[email protected]>:
> >
> > Tanya :
> >
> > Bagaimana status hadits : Kita kembali dari jihad yang kecil menuju jihad
> > yang besar ? Apakah shahih ?
> >
> > Jawab :
> >
> > Hadits tersebut tidak ada asalnya, sebagaimana dikatakan oleh
> Syaikhul-Islam
> > Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-Furqaan Baina Auliyaair-Rahmaan wa
> > Auliyaaisy-Syaithaan. Beliau berkata :
> >
> >
> > فلا أصل له ولم يروه أحد من أهل المعرفة بأقوال النبي صلى الله عليه وسلم
> > وأفعاله وجهاد الكفار من أعظم الأعمال
> >
> >
> > "Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak pernah diriwayatkan oleh satupun ahli
> > ma'rifah (ulama) dari perkataan atau perbuatan Nabi shallallaahu 'alaihi
> > wasallam. Adapun jihad melawan orang-orang kafir merupakan amal yang
> paling
> > besar (dalam Islam)" [selesai].
> >
> >
> > Apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah adalah benar, karena berkesesuaian
> > dengan sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam :
> >
> >
> > رأس الأمر الإسلام وعموده الصلاة وذروة سنامه الجهاد
> >
> > "Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak
> tertingginya
> > adalah jihad" [HR. Ahmad 5/237 no. 22121, At-Tirmidzi no. 2616, dan Ibnu
> > Majah no. 4044; shahih lighairihi].
> >
> > Kata "jihad" di sini disebut secara mutlak tanpa taqyid sifat-sifat
> > tertentu. Maka jihad yang dimaksud adalah jihad dengan pedang fii
> > sabiilillah meninggikan kalimat Allah melawan kuffar.
> >
> > Adapun Al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini (yaitu hadits :
> Kita
> > kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar) hanyalah perkataan
> > Ibrahim bin 'Ablah saja.
> >
> > Sebagai satu peringatan, Al-Ghazali telah membawakan hadits tersebut dalam
> > kitabnya : Ihyaa 'Uluumiddin dengan menyandarkan pada Nabi shallallaahu
> > 'alaihi wasallam (marfu') (3/7 dan 3/66). Ia (Al-Ghazali) berkata : "Dan
> > telah bersabda Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam kepada satu kaum
> yang
> > baru datang dari peperangan :
> >
> >
> > مرحباًَ بكم ! وقدمتم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر. قيل : يا رسول
> الله،
> > وما الجهاد الأكبر؟ قال : جهاد النفس
> >
> >
> > "Selamat datang ! Kalian telah datang dari jihad yang kecil menuju jihad
> > yang besar". Dikatakan kepada beliau : "Wahai Rasulullah , apa itu jihad
> > yang besar ?". Beliau menjawab : Jihadun-Nafs (Jihad melawan hawa
> nafsu)"..
> >
> > Ini adalah salah satu contoh beberapa kesalahan Al-Ghazaly dalam kitab
> > Al-Ihyaa' yang banyak memuat hadits dla'if, palsu, bahkan tidak ada
> asalnya
> > (la ashla lahu) [1]. Al-Ghazaly sendiri mengakui bahwa pengetahuannya di
> > bidang hadits adalah minim sebagaimana perkataannya :
> >
> >
> > بِضَاعَتِيْ فِيْ عِلْمِ الْحَدِيْثِ مُزْجَاةٌُ
> >
> > "Pemahamanku di dalam ilmu hadits adalah sedikit" [Qanun Ta'wil hal. 16].
> >
> > Semoga Allah merahmati dan memafkan semua kesalahan beliau. Wallaahu
> a'lam.
> >
> >
> > Abul-Jauzaa'
> >
> >
> > Catatan kaki :
> >
> > [1] Telah berkata berberapa ulama Ahlus-Sunnah (ahlul-hadits) mengenai
> > Al-Ghazaly dan kitab Al-Ihyaa'-nya :
> >
> > Al-Mazari (w. 536 H) berkata : "Dan di dalam kitab Al-Ihyaa' sangat banyak
> > terdapat riwayat-riwayat yang lemah. Kebiasaan orang-orang yang
> > berhati-hati, tidak akan mengatakan Imam Malik telah bekata atau Imam
> > Asy-Syafi'i telah berkata dalam pekara-perkara yang tidak shahih dari
> > mereka. Dia (Al-Ghazaly) juga menganggap baik banyak perkara berdasarkan
> > apa-apa yang tidak ada hakekatnya......." [Siyaaru A'laamin-Nubalaa' juz
> 19
> > hal. 340].
> >
> > Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berkata : "Abu Hamid (Al-Ghazaly)
> > tidaklah mempunyai ilmu tentang atsar-atsar (hadits-hadits) Nabi dan
> > (riwayat-riwayat) As-Salafush-Shalih seperti yang dimiliki oleh
> orang-orang
> > yang ahli dalam bidang ini. Yaitu orang-orang yang dapat memisahkan antara
> > yang shahih dan yang dla'if. Oleh karenanya dia menyebutkan hadits-hadits
> > dan riwayat-riwayat yang palsu dan dusta di dalam kitab-kitabnya.
> Seandainya
> > dia mengetahui bahwa itu merupakan kedustaan, niscaya dia tidak akan
> > menyebutkannya" [Dar'ut-Ta'arudl juz 8 hal 149].
> >
> > Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata : "Dalam masa ini ini, dia (Al-Ghazaly)
> > menyusun kitab Ihyaa' 'Ulumiddin. Sebuah kitab yang mengherankan, memuat
> > banyak ilmu-ilmu syar'i, dan dicampuri dengan banyak perkara-perkara bagus
> > dari tashawwuf dan amalan-amalan hati. Tetapi dalam kitab ini terdapat
> > banyak hadits yang aneh, munkar, dan palsu..." [Al-Bidaayah wan-Nihaayah
> juz
> > 12 hal. 174].
> >
> >
> > Diambil dari :
> >
> >
> http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/11/hadits-kita-kembali-
> > dari-jihad-yang..html
>
>

Kirim email ke