Yah, itulah perbedaan mendasar antara pendidikan sekarang dengan dulu. Saya bukan mau mengambil komparasi apapun karena toh masing-masing zaman memiliki tantangan yang berbeda dan kondisional. Tapi apa yang dikemukakan [EMAIL PROTECTED] ini ada benarnya. Pendidikan sekarang bukan lagi sebuah sistem yang mendidik, tapi hanya mengajar, seolah-olah sistem pendidikan, sekolah dan instansi pendidikan sebagai sebuah mesin yang menggandakan dan memperbanyak manusia dengan pola pikir seragam. Dan lebih seramnya hanya menjadi sekrup-sekrup kapitalis.

Apalagi untuk lulusan SMU 1 Padang. Mungkin saya punya pandangan yang berbeda dengan rekan alumnus sekalian, tapi sejauh pengamatan saya di kampus dulu (saya kul di UNPAD, jur HI), saya seringkali mencoba menghubungi dan mengamati adik-adik kita di UNPAD. Dan dari pengamatan saya, rata-rata lulusan SMU 1 yang ada di UNPAD agak kesulitan berinteraksi/bersosialisasi, terutama dengan sesama mahasiswA dari SUMBAR apalagi dengan mahasiswa lain.

Fokus perhatian kuliah hanya terbatas pada materi kuliah, sebatas ruang kuliah yang bersegi empat dan hanya 'mau' disibukkan dengan kepentingan kuliah (tugas). Mereka lupa obligasi lainnya, yakni pengabdian masyarakat, dimana kampus adalah sarana mencetak dan kemampuan baik dari sisi IQ maupun EQ.

Saya juga tidak mermaksud menggeneralisasi, karena banyak juga alumnus SMANSA yang ternyata bisa berkiprah, baik dari sisi akademis bmaupun dari sisi keorganisasian tapi saya jamin mereka yang berhasil ini adalah orang-orang yang terasah secara intelektual dan sosial (dalam artian mereka-mereka ini adalah kebanyakan mantan aktifis eksul dan OSIS di SMANSA). Nah, apakah kelas akselerasi juga bisa menjamin siswa yang IQ up to 135 ini bisa mendapatkan semua ini. Atau mereka yang potensial ini hanya akan menjadi sekrup-sekrup kapitalis, menjadi pekerja seumur hidup. Bukan jadi motor penggerak pembangunan, akan tetapi hanya menjadi gerbong yang mengikuti lokomotif pembangunan saja??

Saya rasa, peruntukan kelas eksel patut dikaji kembali, atau mungkin juga kurikulum juga dikaji ulang.

Satu lagi yang saya usulkan, bagaimana kalau pihak sekolah kita ajak untuk ikut dalam milis ini, karena rasanya mubazir saja kalau apa yang kita bicarakan tentang smansa hanya beredar dikalangan SMANSA-ers yang netter saja, tapi tenggelam ketika keluar dari batas wacana, gimana, setuju gak???

Saya rasa tak ada masalah koneksi/jaringan, masa kelas internasional tidak ada koneksi internetnya???PLZ.. deh!!!

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED]




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke