andri wrote:

>biar tidak menganggu yg lain via japri boleh?
>alamat email saya [EMAIL PROTECTED]
>  
>

Mohon maaf karena masih via milis karena masalah ini adalah sesuatu yang 
perlu kita ingat bersama. Bukankah kita sepakat bahwa kebohongan pada 
asalnya adalah keburukan?

>terimakasih, sudah mengingatkan....,
>tapi bolehkah saya berpendapat (bukan membela diri)
>ini bukan tentang kesahihan hadis tapi saya mo ngambil makna dari kalimat
>dalam hadis ini, (pendalaman ato yg tersirat dlam agama itu istilahnya apa
>ya..fiqih?, maaf ilmu agama sya masih jauh tapi msh blom terlambat utk
>belajar)
>  
>

Hadits tersebut dijelaskan oleh an-Nawawi yang kira-kira maknanya 
sebagai berikut: kabar yang diterima seseorang bisa jadi merupakan 
kebohongan. Jika dia turut menyebarkan semua berita yang didengarnya 
termasuk kebohongan tersebut maka ia dapat dikatakan sebagai pendusta.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim pada bagian awal kitab 
shahihnya yang di dalamnya beliau mengumpulkan keterangan-keterangan 
mengenai pentingnya meriwayatkan dari orang-orang terpercaya dan 
meninggalkan riwayat dari orang-orang yang tercela.

Sesuai dengan isi hadits tersebut, jelaslah bahwa kita harus 
memperhatikan validitas suatu berita. Jika sudah jelas suatu kabar 
merupakan kebohongan maka tidak sepatutnya seseorang menyebarkan kabar 
tersebut kecuali untuk memberitahukan bahwa kabar itu dusta. Dengan 
demikian hadits tersebut relevan bagi kita semua. Allahu a'lam.

Masalah seperti ini telah muncul sejak lama. Ada orang-orang yang 
membuat dan menyebarkan hadits palsu dengan alasan untuk menganjurkan 
kebaikan. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda 
(yang artinya):

"Barang siapa berdusta atas namaku, maka dia telah mempersiapkan tempat 
duduknya dalam api neraka." (HR. al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah)

Ada lagi yang dengan mudah mengklaim suatu karangan manusia sebagai 
perkataan Allah yang merupakan musibah lebih besar.

>trus yg kedua....
>bukan kah dalam perawian hadis ato kesahihan sebuah hadis dari perawi justru
>jika ia dapat menjamin apa yg didengarnya secara keselurhan dari apa yg
>disampaikan nabi Mohammad, sehingga apa yg keluar dari perawiannya bukan
>suatu kebohongan  
>
Kalau yang ini agak OOT,

Secara ringkas, hadits sahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang 
yang adil, memiliki hafalan yang sempurna, sanadnya muttashil 
(berhubungan dengan yang lainnya) lagi tidak mu’allal (tercela/bercacat) 
dan tidak pula syadz  (menyendiri/bertentangan).

Allahu a'lam.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

-- 
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)





Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke