Harian Ekonomi Neraca, Jumat (24/2)
Sri Mulyani: Gerakan Anti Korupsi Bisa Ancam Pertumbuhan
- Dikecam sebagai menteri yang tak cocok dengan siapa pun.
Presiden perlu menegur.

JAKARTA - Ini adalah pernyataan Menteri Keuangan Sri
Mulyani Indrawati yang paling mencengangkan dan sulit
dipercaya,setelah sebelumnya sempat bersitegang dengan
Bank Indonesia. Di tengah upaya Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono memberantas korupsi, Sri Mulyani sebaliknya
justru memperingatkan, bahwa arus gerakan anti korupsi
bisa menghasilkan efek kontraproduktif bagi pertumbuhan
ekonomi Indonesia.

"Jika kita mengejar pemerintahan yang bersih, arus gerakan
anti korupsi yang terlalu deras atau terlalu berlebihan
akan membahayakan pertumbuhan ekonomi kita," kata Sri
Mulyani, dalam forum "Jakarta Foreign Correspondent Club"
di Jakarta, Kamis (23/2).

Pernyataannya ini dilontarkan, padahal dalam beberapa
waktu terakhir,Yudhoyono terus mengampanyekan pembersihkan
korupsi di Indonesia. Korupsi ibarat kanker di negeri ini,
sehingga pada masa lalu justru kerap dicap sebagai biang
keladi perlambatan pertumbuhan di negara terbesar di Asia
Tenggara ini.

"Tindakan keras bagus, tapi yang terlalu keras membuat
semua orang takut," kata Sri Mulyani enteng. "Mereka tidak
berani mengambil keputusan."

Dia memberikan alasan, saat ini para pejabat bank menjadi
enggan untuk menyalurkan kredit, karena khawatir kreditnya
menjadi macet(non-performing loan/NPL) dan mereka akan
dipersalahkan, sehingga berdampakn pada belanja yang
menurun.

Meskipun demikian, tak urung Sri Mulyani memberikan
apresiasinya dengan mengatakan, gerakan anti korupsi sudah
mulai menuai hasil.

"Memang ada perubahan di Indonesia. Hasilnya belum terlalu
terlihat, tapi perubahannya terasa dan perubahan itu ke
arah yang lebih baik," katanya.

Yudhoyono Harus Tegur Sri Mulyani
Kasus ketegangan dan perselisihan antara Sri Mulyani
dengan lembaga pemerintah lainnya, seperti BI, belakangan
ini, tak luput dari kecaman. Bahkan, Yudhoyono diminta
agar menegur Sri Mulyani Indrawati,karena perilakunya itu
dinilai sebagai cerminan dari kekurangmampuannya memimpin.

Sri Mulyani tak cuma berselisih dengan BI soal penarikan
dana pemerintah dari bank sentral itu, sebelumnya dia juga
berselisih dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, menyangkut
penanganan utang luar negeri.

"Itu membuktikan, Sri Mulyani tidak cocok dengan
siapapun," kata pengamat ekonomi dari Institute for
Development of Economics and Finance (Indef), Iman Sugema,
di Jakarta, Rabu.

Iman mengatakan, seorang menteri tidak hanya dituntut
untuk cakap berbicara, namun juga harus mempunyai
kemampuan melakukan koordinasi, melakukan kerjasama
antardepartemen, serta mementingkan kepentingan publik.
"Itu tidak ada (pada Sri Mulyani)," kata Iman.

Mengenai kemungkinan perlunya Sri Mulyani diganti, Iman
mengatakan,itu adalah hak Yudhoyono sebagai presiden.
Namun katanya, paling tidak Yudhoyono harus menegur Sri
Mulyani.

Mengenai perselisihan antara Departemen Keuangan dan BI,
Iman merasa heran karena sebenarnya pertemuan antara
pemerintah dan BI sudah sering dilakukan. Dia juga tak
habis pikir,bagaimana bisa otoritas moneter dan fiskal
berseteru, padahal keduanya seharusnya bekerja sama.

Antara, AFP

--------------------------------------
TSUKAME EIKOU! KAGAYAKE EGAO!
Yahoo! JAPAN JPC OFFICIAL PARTNER INTERNET PORTAL SITE
http://pr.mail.yahoo.co.jp/wintergames/


Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke