Salam damai, > > > [Handi] Memang benar dari orang terkenal kita bisa mengaguminya, > apakah dengan mengaguminya kita bergeser dengan memujanya ? Tentu tidak > bukan ? reply : "Apakah dengan mengaguminya kita bergeser dengan memujanya?" Kalau menurut pandangan saya, silahkan saja. Bukankah nantinya dia sendiri yang menerima karmanya? Kenapa kita harus repot melarang dia memuja apa yang dikaguminya? Dia yang berbuat dia yang menanggung akibatnya, gitu aja pandangan saya.
> > Tradisi? Mengapa disebut dgn "melanjutkan tradisi"? Dimana letak > > ke-tradisi-annya? Mohon bung Handi bisa menjelaskan. > > > > Meletakkan makanan adalah penghormatan kepada Kwankong? Saya pribadi > > setuju > > dgn hal itu. Apakah penghormatan selalu dgn meletakkan makanan? Menurut > > saya > > tidak. Terserah pada kita sendiri, penghormatan itu dalam bentuk apa, yang > > penting adalah hati kita, rasa hormat kita, bukan makanannya. Apakah Dewa > > itu perlu dgn makanan yang kita sajikan? Jelas tidak perlu. Dewa tidak > > diberi sajian juga nggak akan menuntut kok .. :-). Setiap agama dan > > keyakinan mempunyai caranya sendiri utk menghormati Tuhan/Allah/Dewanya. > > Apakah penghormatan dgn menyajikan makanan itu salah? Relatif, tergantung > > dari sisi mana kita melihatnya. Kalau kita pandang dari keyakinan/agama > > lain > > mungkin salah. Jangankan dari agama/keyakinan lain, dari satu agama saja > > banyak terdapat perbedaan yang kadang2 menimbulkan benturan yang keras. > > > > [Handi] Disinilah letal tradisi menurut pandangan saya, * Apakah Dewa > itu perlu dgn makanan yang kita sajikan? Jelas tidak perlu. Dewa > tidak diberi sajian juga nggak akan menuntut kok .. :-) * Lalu siapakah > yang mempelopori sajian ini ? dan siapa yang melanjutkan, sejak kapan > dimulainya, apakah diajarkan makna sajian ini untuk penghormatan kepada > generasi penerusnya, kenapa yang beredar menjadi pemujaan ? > Bukankah pemujaan identik dengan sajian. Apakah penghormatan sama dengan pemujaan ? reply : Saya ingin menerangkan satu hal disini. Saya tidak mewakili kaum Tridarma dalam hal ini, .... karena pengetahuan saya masih cetek ... :-). Saya mewakili diri saya sendiri. Masalah sajian, siapa pelopornya, kapan dimulainya, .... kalau boleh jujur saya juga tidak tahu. Sejak saya belajar ttg Tridarma, hal tsb sudah dilakukan. Adakah rekan lain yang tahu? Tapi itu tidak penting, yang penting adalah rasa hormat itu sendiri, ..... sekali lagi, rasa hormat itu sendiri. Coba bung Handi teliti tulisan saya yang lalu. Ingin menghormati dengan menyajikan makanan, silahkan. Ingin menghormati hanya dalam hati saja, silahkan. Kenapa kita meributkan masalah pemujaan dengan peletakkan makanan? Kalau bung Handi tidak setuju rasa hormat diwujudkan dalam bentuk penyajian makanan, silahkan bung Handi wujudkan dalam bentuk yang bung Handi suka, bagi saya no problem. Kenapa? Karena saya berpandangan, siapa berbuat dia yang menanggung. Salam, kris. ---------------------------------------------------------------------------- Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 250.000 tunai ---------------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
