Salam tridharma, saya rasa menyembah berhala itu identik dengan menghormati menggunakan sajian kepada dewa tidak merupakan hal yg negatif seperti saudara handi katakan...menyembah berhala bukan berarti menyembah binatang2 hebat atau siluman tapi melainkan menyembah dewa...saya kasih contoh dikehidupan sehari2...kamu mengenal seseorang yang begitu hebat, kaya, baik, dan penuh kasih sayang yg membuat sampe kamu itu kagum. Nah, dalam hal ini pasti anda sangat menghormatinya dan merasa bahwa dia adalah pujaan anda atau dalam lain hal dia lebih hebat dari anda. Jadi misalnya anda mengundang dia dalam suatu acara resmi pasti anda akan menyajikan makanan dan minuman yang sangat istimewa meskipun sesungguhnya tidak perlu. Namun, karena orang ini sangat sangat hebat sampe membuat kamu kagum maka hal demikian kamu lakukan. Ini berarti sama seperti menghormati seseorang yang begitu hebat seperti Dewa. Meskipun udah menjadi dewa tapi toh tetap namanya masih dikagumi orang mungkin karena dulu sebelum jadi dewa atau masih seperti kita sebagai manusia banyak berbuat amal, berbudi baik, dan suka menolong orang sampai orang2 sangat kagum kepadanya dan akhirnya sampe dia meninggal pun masih di kagumi. ini bisa juga terjadi pada diri anda. Misalkan anda itu banyak berbuat kebaikan kepada orang laen dan suka menolong sesama, tentu nama anda tidak akan dilupakan oleh orang laen meskipun anda telah meninggal. Mungkin contoh ini bisa bermanfaat. Dalam ajaran Kong Hu Cu telah dikatakan bahwa Hormatilah orang tua kamu baik semasa hidup maupun sesudah hidup. Nah, kalo dalam ajaran ini kita diwajibkan untuk menghormati orang tua kita dengan cara menyajikan makanan untuk menhormati mereka. Makanan ini tidak akan dimakan tapi sebagai lambang rasa hormat kita kepada orang tua yang telah membesarkan kita dan telah memberikan yg terbaik bagi kita. Dan saya yakin dan percaya rekan2 sekalian pasti menghormati orang tua kalian semasa hidup dengan cara memberikan mereka yang terbaik baik dalam hal makanan, material dsb sebagai wujud balas budi kepada orang tua kalian. Hal ini perlu anda lakukan juga apabila mereka sudah meninggal. Saya rasa demikian. Kalau kita menghormati orang tua kita sedemikian rupa, bagaimana kita menghormati seorang Dewa yang telah banyak memberikan pertolongan kepada umat manusia. Tentu hal ini hanya sebagian kecil buat seorang dewa. Namun, hati dan maksud anda untuk menghormati para dewalah yang membuat sangat berarti. Contoh dalam kehidupan, misalkan anda dibantu atau diselamatkan hidup anda oleh seorang tabib dari sakit yang mungkin bisa mengakibatkan kematian, pasti anda akan sangat menghormati dan memujanya walaupun sama2 masih manusia. Kalau hal ini benar, berarti menghormati seorang dewa atau memujanya sudah tidak hal yang biasa lagi melainkan hal yang harus kita lakukan sebagai rasa terima kasih dan balas budi. Demikian penjelasan dari saya. Mudah2an bisa bermanfaat bagi kita semua. Wandi Handi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Thanks, ini membuka cakrawala baru, bahwa siapa yang berbuat dia yang menanggung. Melarang jelas boleh, siapa sih orangtua yang tidak melarang anaknya yang bandel, soal dia menurut atau tidak kan yang repot orangtuanya juga, disamping dia yang menanggung. Itu seputar keluarga, agama memang berbeda. Yang penting saya sudah mengerti hal - hal negatif yang beredar di luar mengenai "menyembah berhala" itu identik dengan menghormati memakai sajian untuk Dewa. Satu yang belum terjawab apakah menghormati itu identik dengan menyembah/memuja ?
> -----Original Message----- > From: Krisantio [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Wednesday, November 27, 2002 11:09 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: Re: [Kelenteng] Menyembah berhala > > Salam damai, > > > > > > [Handi] Memang benar dari orang terkenal kita bisa mengaguminya, > > apakah dengan mengaguminya kita bergeser dengan memujanya ? Tentu tidak > > bukan ? > reply : > "Apakah dengan mengaguminya kita bergeser dengan memujanya?" Kalau menurut > pandangan saya, silahkan saja. Bukankah nantinya dia sendiri yang menerima > karmanya? Kenapa kita harus repot melarang dia memuja apa yang > dikaguminya? > Dia yang berbuat dia yang menanggung akibatnya, gitu aja pandangan saya. > > > > Tradisi? Mengapa disebut dgn "melanjutkan tradisi"? Dimana letak > > > ke-tradisi-annya? Mohon bung Handi bisa menjelaskan. > > > > > > Meletakkan makanan adalah penghormatan kepada Kwankong? Saya pribadi > > > setuju > > > dgn hal itu. Apakah penghormatan selalu dgn meletakkan makanan? > Menurut > > > saya > > > tidak. Terserah pada kita sendiri, penghormatan itu dalam bentuk apa, > yang > > > penting adalah hati kita, rasa hormat kita, bukan makanannya. Apakah > Dewa > > > itu perlu dgn makanan yang kita sajikan? Jelas tidak perlu. Dewa tidak > > > diberi sajian juga nggak akan menuntut kok .. :-). Setiap agama dan > > > keyakinan mempunyai caranya sendiri utk menghormati > Tuhan/Allah/Dewanya. > > > Apakah penghormatan dgn menyajikan makanan itu salah? Relatif, > tergantung > > > dari sisi mana kita melihatnya. Kalau kita pandang dari > keyakinan/agama > > > lain > > > mungkin salah. Jangankan dari agama/keyakinan lain, dari satu agama > saja > > > banyak terdapat perbedaan yang kadang2 menimbulkan benturan yang > keras. > > > > > > [Handi] Disinilah letal tradisi menurut pandangan saya, * Apakah > Dewa > > itu perlu dgn makanan yang kita sajikan? Jelas tidak perlu. Dewa > > tidak diberi sajian juga nggak akan menuntut kok .. :-) * Lalu siapakah > > yang mempelopori sajian ini ? dan siapa yang melanjutkan, sejak kapan > > dimulainya, apakah diajarkan makna sajian ini untuk penghormatan kepada > > generasi penerusnya, kenapa yang beredar menjadi pemujaan ? > > Bukankah pemujaan identik dengan sajian. Apakah penghormatan sama dengan > pemujaan ? > reply : > Saya ingin menerangkan satu hal disini. Saya tidak mewakili kaum Tridarma > dalam hal ini, .... karena pengetahuan saya masih cetek ... :-). Saya > mewakili diri saya sendiri. > Masalah sajian, siapa pelopornya, kapan dimulainya, .... kalau boleh jujur > saya juga tidak tahu. Sejak saya belajar ttg Tridarma, hal tsb sudah > dilakukan. Adakah rekan lain yang tahu? Tapi itu tidak penting, yang > penting > adalah rasa hormat itu sendiri, ..... sekali lagi, rasa hormat itu > sendiri. > Coba bung Handi teliti tulisan saya yang lalu. Ingin menghormati dengan > menyajikan makanan, silahkan. Ingin menghormati hanya dalam hati saja, > silahkan. Kenapa kita meributkan masalah pemujaan dengan peletakkan > makanan? > Kalau bung Handi tidak setuju rasa hormat diwujudkan dalam bentuk > penyajian > makanan, silahkan bung Handi wujudkan dalam bentuk yang bung Handi suka, > bagi saya no problem. Kenapa? Karena saya berpandangan, siapa berbuat dia > yang menanggung. > > Salam, > kris. > > > > -------------------------------------------------------------------------- > -- > Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah > masing-masing Rp 250.000 tunai > > -------------------------------------------------------------------------- > -- > > --------------------------------------------------------------------- > Milis Kelenteng - Quan Shui > URL: http://lists.quanshui.org > Posting, email: [EMAIL PROTECTED] > Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! Mail Plus - Powerful. Affordable. Sign up now
