ajaran kepercayaan leluhur bertumpu kepada MANUSIA DENGAN ALAMNYA (termasuk
lingkungan, ekosistem) dengan berintikan pemahaman JIWA.
manusia berada pada dan di dalam alam dan sekitarnya, bahkan berakar di dalam
alam sekitar. Manusia berada dalam alam maka manusia melihat alsm dalam
dirinya, juga berarti alam melihat diri manusia.
Realitas manusia dan alam sekitarnya adalah KE-AKU-AN YANG SEJATI tetapi
bukan berati EGO melainkan AKU yang telah diperoleh melalui penerangan
langsung, saat menggali kedalaman kodratnya.
sebagaimana disimbolkan Bhima ruci ketika mencari dirinya dengan mengaduk air
lautan mencari amerta dan kembali kepada dirinya
seagaimana yang disuratkan pada BATU KAWALI "... pakena keureuta bener pakena
gawe rahayu pakeun nanjeur na juritan pakeun heubeul jaya dina buana.... bati
peureu tingal nu atis tina rasa"
mengetahui tentang diri dan dirinya dan mengetahui dirinya dengan alam nya
adalah layaknya ingin tahu rasanya air, sorang manusia harus meminumnya dan
baru bisa menyatakan tentangnya, demikian sebagaimana adanya, alam menjadi
bagian dari ada manusia "manusia dalam alam dan alam dalam manusia" bukan hanya
saling ambil bagian di dalamnya tetapi adalah perbedaan dan kesamaan antara
alam dan manusia.
maka menggali ke AKU an adalah melalui pengalaman kodratnya sendiri yang
disebut "seeing into one's nature" bahwa tiap yang ada di alam memiliki aku
atau objektivitasnya sendiri2.
masing2 aku tidak hidup dalam dunia yang sama objektifnya dan dengan pola
tingkahlaku yang tidak sama pula; juga tidak satupun aku yang memiliki
lingkungan yang sama, maka setiap aku memiliki penerangannya sendiri2 dengan
kediriannya.
Begitupun setiap mahluk manusia terpaut dengan lingkungan alam sekitarnya
sendiri2 di dalam memahami kodrat diri dan inti,
Kodrat inti inilah yang terpeting dalam SUNDA yang adalah bidang kosong
(sunyata) yang terdapat pada semua realitas atau tataran tathata atau suchnes
yakni melihat sesuatu sebagaimana adanya, etapi sadar akan dirinya atau menjadi
sadar tentang dirinya. Tathata telah ada dan telah terjadi sejak sebelum
mengatakan atau menyebutkan apadari realitas itu ... ini atu itu.
Inilah agama Sunda: memahami kodratnya sendiri dan tidak bisa lepas dimana
seseorang makhluk disituasikan dalam kehidupan dan menjadi satu dengan alamnya,
penyesuaian diri dengan alamnya sebagai objek sejati.
sebagai objek sejati pada alamnya dengan perbedaa dan kesamaan itu tidak
engandung peniadaan antara yang satu dengan yang lainnya. Diri sejati bukan
meniadakan kenyataan tetapi mempertegas setiap yang didapat dan disentuhnya.
Buka dicapai melalui analisis tetapi melaui kehidupan sehari-hari dimana
seseorang meng IYA kan setiap kenyataan yakni LAKU TAPA menuju dan menjadi yang
terang dan diterangi, melalui pendalaman dirinya sendiri dengan kehidupan dan
pengalama konkritnya
hingga benar2 paham dirinya siapa, dimana, bagaimana, mau kemana?
"... we speak seeing into one's nature... but not of practising and seeking
deliferance thereby..."
ajaran ini tertulis nyata pada prasasti2 KAWALI
janten jelerma teh gaduh tanggungjawab sorangan2 komo dina kayakinan mah....
dimana2 di dunya mana oge... lamun ngritik agama batur PASTI KASIGEUNG
Tabe pun
AMBU
________________________________