metomorfosis mah aya oge dina hileud janten kukupu. buruy janten bangkong.
jalmi mah teu tiasa, kecuali mun palay disebut hileud hehehehehe

--- On Tue, 12/2/08, dudi_ss <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: dudi_ss <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [kisunda] perdebatan teologis
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 2, 2008, 10:34 PM










    
            


Sabenerna di urang mah teu aneh aya 
hirup dua kali atawa matamorphosis tea sabab secara tradisi hal anu kitu tos 
aya 
cara ngadalianana khususna dilingkungan kulawarga,  oge anu kitu 
hal ieu teh pan teu ilahar tapi penomena ieu aya diurang khususna ditatar 
sunda. 
ieu aya pepernian tina pabetekan uing, ieu meunang nimu ti kolot urang, nyaeta 
hambalan hirup ceunah. Kusabab budaya lisan tea jadi uing teu nyaho iraha 
mimiti 
aya pamikiran ieu tapi ari nitenan basana mah sigana geus aya samemeh Islam, 
terus jaman Islam dilarapkeun kana ajaran Isalam. didieu ngagambarkeun ayana 
proses "metamorphosis" atawa "kelahiran ke-2" nyaeta dina hambalan anu ka 4.. 

 
Hambalan-hambalan hirup, 
 
1.Hambalan mangsa urang dina lindungan atanapi asuhan, 
2.Hambalan 
mangsa milarian 
3.Hambalan mangsa ngawula kana kawasa, 
4.Hambalan mangsa urang kedah ngagem rasa kamanusaan, 
5.Hambalan pinandita, 
6.Hambalan wali, 
7.Hambalan rosul, 
 
sakitu heula ah, bisi kaberangan ka sawah yeuh! 

 
wassalam,
dudi_ss
 

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  Rudy 
  To: [EMAIL PROTECTED] .com 
  Sent: Tuesday, December 02, 2008 2:31 
  AM
  Subject: RE: [kisunda] perdebatan 
  teologis
  

  
  Di cutat tina tulisan Leonardo rimba

Salila ieu rea tulisan ngenaan 
  warna agama anu dumasar kana alesan jeung
logika; buah fikir anu dumasar 
  kana prinsip "induksi deduksi" jeung
panalitian kana eusi ajaran 
  agama.

Naha teu aya cara lain? tangtuna aya, sanajan carana teu umum. 
  Wiliam James,
salah sahiji anu ngarintis psikologi di Amerika serikat, dina 
  bukuna anu
geus umur saabad judulna " Varieties of Religius 
  Experience"( geus
diterjemahkeun kana bahasa Indonesia)" geus ngama'lum 
  yen kaagamaan teh
mangrupakeun bagian anu moal bisa pisah tina kahirupan 
  tiap individu manusa.
Manusa teh mangrupakeun individu, jeung lain manusa 
  anu ngumpul dina
angka-angka statistik wungkul atawa manusa anu nyiptakeun 
  rekor output
industri.Manusa saenyana manusa...

wiliam James, 
  netelakeun yen agama(religi) bakal mangpaat lamun dialam ku
pengalaman 
  pribadi anu jero.hartina, aya pangalam pribadi anu bisa
diterangkeun ku 
  simbol-simbol tina agama anu dihayati kalintang jero anu teu
bisa 
  dipisahkeun deui tina jalan hirupna.agama anu dihartian kitu moal 
  deui
muter balik deui balik deui tina segi alesan (argeument) wungkul, tapi 
  geus
asup kana kesaksian pribadi dina hal kumha sosok imanen jeung 
  transenden anu
disebut "Tuhan/gusti" geus ngiket kongkrit dina kahirupan nu 
  nganut salah
sahiji agama.

Nu jentrena kieu :

Selama ini 
  kebanyakan tulisan dengan warna agama mendasarkan argumennya pada
logika 
  belaka; penalaran berdasarkan prinsip induksi deduksi dan penelusuran
arti 
  dari ajaran agama. 

Apakah tidak ada cara lain? Tentu saja ada, 
  walaupun barangkali cara itu
tidak familiar. William James, seorang 
  perintis psikologi dari Amerika
Serikat, dalam bukunya yang sudah berusia 
  satu abad dan berjudul "Varieties
of Religious Experience" (sudah 
  diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) berusaha
mengerti fenomena keagamaan 
  sebagai bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan individu manusia. 
  Manusia sebagai individu, dan bukan manusia
sebagai kelompok angka-angka 
  statistik belaka atau manusia sebagai pembuat
rekor output industri. 
  Manusia sebagai manusia.

William James melihat bahwa agama (religi) 
  hanya berarti apabila dialami
sebagai pengalaman pribadi. Artinya, ada 
  pengalaman pribadi yang bisa
diterangkan dengan menggunakan simbol-simbol 
  dari agama tertentu yang
dihayati sedemikian rupa sehingga tidak dapat 
  dipisahkan lagi dari narasi
kehidupan seseorang. Agama dalam arti itu tidak 
  lagi berputar di segi
argumentasi belaka, tetapi sudah masuk kedalam 
  kesaksian pribadi tentang
bagaimana sosok imanen dan transenden yang 
  dinamakan "Tuhan" telah beraksi
secara konkrit dalam kehidupan pribadi 
  seorang penganut agama.

Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. 
  Argumen yang ada hanya
berputar pada agama mana yang paling benar. Tentu 
  saja jawabnya tidak ada.
Sama saja dengan bertanya agama mana yang paling 
  salah. Jawabnya tetap,
tidak ada agama yang salah. Agama adalah buatan 
  manusia. Konsepsi belaka.
"Tuhan" juga adalah konsepsi belaka, suatu 
  abstraksi dari sesuatu yang
diasumsikan dialami secara pribadi oleh orang 
  per orang.

Menurut James, ajaran agama atau religi adalah suatu wadah 
  dialog antara
penganut dan sesuatu yang dipercayainya sebagai "Tuhan". 
  Harus ada dialog
berupa pengalaman pribadi. Apabila itu tidak ada, maka 
  yang terjadi adalah
seperti orang buta yang menuntun orang buta. Seperti 
  menggunakan buku
penuntun doa untuk memimpin orang-orang lain yang membeo 
  di belakangnya.
Hasilnya seperti apa tidak akan dimengerti, dan gunanya 
  untuk apa juga tidak
diketahui. 

Paling jauh orang itu hanya akan 
  membuka buku lain lagi untuk memperoleh
jawabnya, atau bertanya kepada 
  orang lain yang dianggap mengerti. Inilah
situasi di 
  Indonesia.

William James di dalam bukunya melihat bahwa ada dua macam 
  manusia penghayat
keagamaan; yaitu: manusia yang lahir dua kali (twice 
  born), dan manusia yang
lahir satu kali saja (once born).

Manusia 
  yang lahir dua kali adalah manusia yang mengalami suatu pengalaman
relijius 
  traumatis: suatu perjumpaan pribadi dengan yang absolut. Perjumpaan
pribadi 
  itu bisa diceritakan dengan narasi yang terstruktur rapi sehingga
akan 
  dimengerti oleh orang lain juga. Narasi akan berupa deskripsi 
  tentang
hal-hal yang sedikit demi sedikit akhirnya membawa seseorang 
  sehingga
mengalami hal traumatis tersebut. Dan setelah hal traumatis 
  berupa
pengalaman relijius yang menggoncangkan itu dialami, subyek akan 
  berubah
total. Berubah total dalam arti akan menjadi seorang yang percaya 
  penuh
bahwa "Tuhan" memang berperan dalam hidupnya dan bahwa ada misi 
  tertentu di
hidupnya.

Tuhan tidak lagi menjadi suatu kata kosong 
  seperti yang dialami oleh
sebagian besar dari kita, tetapi merupakan suatu 
  kata penuh makna yang
terkait erat dengan hidupnya hari per hari, menit per 
  menit, detik per
detik. Tuhan hidup di dalam diri subyek.

Manusia 
  yang lahir satu kali adalah mereka yang tidak pernah mengalami
pengalaman 
  relijius traumatis. Hidup berjalan sebagaimana adanya tanpa
merasa perlu 
  adanya intervensi Tuhan dalam kehidupan pribadi. Tanpa merasa
perlu adanya 
  intervensi yang benar-benar terasakan bahwa "Tuhan" berbicara
kepada subyek 
  dengan kata-kata yang jelas dan tidak bisa diartikan lain.
Karena tidak ada 
  keinginan dan harapan bahwa Tuhan perlu hadir secara
pribadi, maka 
  kehidupan subyek akan berjalan seperti itu saja selama
hidupnya. Memang 
  relijius, tetapi relijius suam-suam kuku saja. Tidak ada
yang istimewa, 
  semuanya seperti terstruktur dalam buku petunjuk. Hidup
seperti apa adanya. 
  Gembira bila sedang gembira, dan sedih bila sedang sedih
Mereka yang 
  mengalami kelahiran dua kali secara relijius terutama berasal
dari kalangan 
  Protestan, dan mereka yang cuma lahir sekali terutama berasal
dari kalangan 
  Katolik. Itu menurut penelitian William James dengan
kesaksian-kesaksian 
  tertulis yang tak terhitung banyaknya di dalam bukunya
itu.

Mereka 
  yang mengalami kelahiran dua kali adalah mereka yang hidupnya bisa
berubah 
  total setelah bertemu "Tuhan". Bisa menjadi seorang yang taat
beragama 
  walaupun tadinya seorang yang tidak percaya. Bisa melakukan hal-hal
luar 
  biasa walaupun tadinya tidak memiliki tenaga dan daya untuk itu. 
  Tetapi
mereka yang hanya lahir sekali saja hanya akan seperti itu saja 
  selama
hidupnya. Pengalaman relijiusnya terutama bersifat komunal, dan 
  bukan
pengalaman pribadi bertemu dengan "Tuhan" dalam suatu ruang dan 
  waktu
tertentu.

Masyarakat Indonesia terutama terdiri dari mereka 
  yang lahir satu kali saja.
Jarang kita bertemu seseorang yang asli, yang 
  mengalami sentuhan "Tuhan",
yang memiliki pengalaman relijius traumatik 
  sehingga tidak lagi tergoyahkan
di dalam imannya. Yang tahu bahwa sesuatu 
  yang dipercayainya adalah benar
walaupun semua orang lain tidak 
  percaya.

Dan lahir dua kali tidaklah harus berarti memiliki suatu 
  pengalaman relijius
dalam arti orthodoks konvensional atau menuruti 
  ajaran-ajaran majelis ulama
ini atau majelis ulama yang itu. Tidak seperti 
  itu maksudnya. Kelahiran dua
kali melalui pengalaman relijius traumatik 
  adalah pengalaman pribadi yang
berada di luar jangkauan kategori-kategori 
  KTP. Bisa saja dikategorikan
sebagai musyrik atau bidah. Tetapi itu 
  genuine, asli, dan itulah yang
berarti besar secara rohaniah karena tidak 
  ada lagi yang bisa menggoyahkan
keyakinan orang itu.

Kalau yang 
  lahir hanya satu kali, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu
saja. 
  Komunal berupa hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan.
Yang 
  mencari "Tuhan" kesana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. 
  Begitulah
kurang lebih menurut William James.

From: Halimun 
  An

haturan kang maman,

aduh meni rareuwas sim kuring, maksad sim 
  kuring mah nu naros bade di

waler ku kayakinan naon? sanes sim kuring 
  terang ti rupi2 kayakinan kulan.

Supados teu pasea we masihan ide kitu 
  teh hehehe

nu sim kuring terang mah urusan kaimanan jawab ku akal tina 
  hate, urusan
kadunyaan jawab 

ku kapinteran, kacerdasan, IQ tina 
  otak.

Sabab otak mah sok bangor, sok ngareka-reka, digambar2, 
  dikira2.

urusan hate urusan jiwa/ruh, urusan otak urusan 
  raga.

teu langkung bade nguping gerentes nu mana. 

teu sadaya 
  sunda islam, teu sadaya islam sunda

sim kuring rumaos tuturut munding 
  ka ajaran rosul Muhammad saw,

nu saurna budaya arab atanapi budaya 
  deungeun hehehehe


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke