Sabenerna di urang mah teu aneh aya hirup dua kali atawa matamorphosis tea 
sabab secara tradisi hal anu kitu tos aya cara ngadalianana khususna 
dilingkungan kulawarga,  oge anu kitu hal ieu teh pan teu ilahar tapi penomena 
ieu aya diurang khususna ditatar sunda. ieu aya pepernian tina pabetekan uing, 
ieu meunang nimu ti kolot urang, nyaeta hambalan hirup ceunah. Kusabab budaya 
lisan tea jadi uing teu nyaho iraha mimiti aya pamikiran ieu tapi ari nitenan 
basana mah sigana geus aya samemeh Islam, terus jaman Islam dilarapkeun kana 
ajaran Isalam. didieu ngagambarkeun ayana proses "metamorphosis" atawa 
"kelahiran ke-2" nyaeta dina hambalan anu ka 4. 

Hambalan-hambalan hirup, 

1.Hambalan mangsa urang dina lindungan atanapi asuhan, 
2.Hambalan mangsa milarian 
3.Hambalan mangsa ngawula kana kawasa, 
4.Hambalan mangsa urang kedah ngagem rasa kamanusaan, 
5.Hambalan pinandita, 
6.Hambalan wali, 
7.Hambalan rosul, 

sakitu heula ah, bisi kaberangan ka sawah yeuh! 

wassalam,
dudi_ss

  ----- Original Message ----- 
  From: Rudy 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, December 02, 2008 2:31 AM
  Subject: RE: [kisunda] perdebatan teologis


  Di cutat tina tulisan Leonardo rimba

  Salila ieu rea tulisan ngenaan warna agama anu dumasar kana alesan jeung
  logika; buah fikir anu dumasar kana prinsip "induksi deduksi" jeung
  panalitian kana eusi ajaran agama.

  Naha teu aya cara lain? tangtuna aya, sanajan carana teu umum. Wiliam James,
  salah sahiji anu ngarintis psikologi di Amerika serikat, dina bukuna anu
  geus umur saabad judulna " Varieties of Religius Experience"(geus
  diterjemahkeun kana bahasa Indonesia)" geus ngama'lum yen kaagamaan teh
  mangrupakeun bagian anu moal bisa pisah tina kahirupan tiap individu manusa.
  Manusa teh mangrupakeun individu, jeung lain manusa anu ngumpul dina
  angka-angka statistik wungkul atawa manusa anu nyiptakeun rekor output
  industri.Manusa saenyana manusa...

  wiliam James, netelakeun yen agama(religi) bakal mangpaat lamun dialam ku
  pengalaman pribadi anu jero.hartina, aya pangalam pribadi anu bisa
  diterangkeun ku simbol-simbol tina agama anu dihayati kalintang jero anu teu
  bisa dipisahkeun deui tina jalan hirupna.agama anu dihartian kitu moal deui
  muter balik deui balik deui tina segi alesan (argeument) wungkul, tapi geus
  asup kana kesaksian pribadi dina hal kumha sosok imanen jeung transenden anu
  disebut "Tuhan/gusti" geus ngiket kongkrit dina kahirupan nu nganut salah
  sahiji agama.

  Nu jentrena kieu :

  Selama ini kebanyakan tulisan dengan warna agama mendasarkan argumennya pada
  logika belaka; penalaran berdasarkan prinsip induksi deduksi dan penelusuran
  arti dari ajaran agama. 

  Apakah tidak ada cara lain? Tentu saja ada, walaupun barangkali cara itu
  tidak familiar. William James, seorang perintis psikologi dari Amerika
  Serikat, dalam bukunya yang sudah berusia satu abad dan berjudul "Varieties
  of Religious Experience" (sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) berusaha
  mengerti fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari
  kehidupan individu manusia. Manusia sebagai individu, dan bukan manusia
  sebagai kelompok angka-angka statistik belaka atau manusia sebagai pembuat
  rekor output industri. Manusia sebagai manusia.

  William James melihat bahwa agama (religi) hanya berarti apabila dialami
  sebagai pengalaman pribadi. Artinya, ada pengalaman pribadi yang bisa
  diterangkan dengan menggunakan simbol-simbol dari agama tertentu yang
  dihayati sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari narasi
  kehidupan seseorang. Agama dalam arti itu tidak lagi berputar di segi
  argumentasi belaka, tetapi sudah masuk kedalam kesaksian pribadi tentang
  bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinamakan "Tuhan" telah beraksi
  secara konkrit dalam kehidupan pribadi seorang penganut agama.

  Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Argumen yang ada hanya
  berputar pada agama mana yang paling benar. Tentu saja jawabnya tidak ada.
  Sama saja dengan bertanya agama mana yang paling salah. Jawabnya tetap,
  tidak ada agama yang salah. Agama adalah buatan manusia. Konsepsi belaka.
  "Tuhan" juga adalah konsepsi belaka, suatu abstraksi dari sesuatu yang
  diasumsikan dialami secara pribadi oleh orang per orang.

  Menurut James, ajaran agama atau religi adalah suatu wadah dialog antara
  penganut dan sesuatu yang dipercayainya sebagai "Tuhan". Harus ada dialog
  berupa pengalaman pribadi. Apabila itu tidak ada, maka yang terjadi adalah
  seperti orang buta yang menuntun orang buta. Seperti menggunakan buku
  penuntun doa untuk memimpin orang-orang lain yang membeo di belakangnya.
  Hasilnya seperti apa tidak akan dimengerti, dan gunanya untuk apa juga tidak
  diketahui. 

  Paling jauh orang itu hanya akan membuka buku lain lagi untuk memperoleh
  jawabnya, atau bertanya kepada orang lain yang dianggap mengerti. Inilah
  situasi di Indonesia.

  William James di dalam bukunya melihat bahwa ada dua macam manusia penghayat
  keagamaan; yaitu: manusia yang lahir dua kali (twice born), dan manusia yang
  lahir satu kali saja (once born).

  Manusia yang lahir dua kali adalah manusia yang mengalami suatu pengalaman
  relijius traumatis: suatu perjumpaan pribadi dengan yang absolut. Perjumpaan
  pribadi itu bisa diceritakan dengan narasi yang terstruktur rapi sehingga
  akan dimengerti oleh orang lain juga. Narasi akan berupa deskripsi tentang
  hal-hal yang sedikit demi sedikit akhirnya membawa seseorang sehingga
  mengalami hal traumatis tersebut. Dan setelah hal traumatis berupa
  pengalaman relijius yang menggoncangkan itu dialami, subyek akan berubah
  total. Berubah total dalam arti akan menjadi seorang yang percaya penuh
  bahwa "Tuhan" memang berperan dalam hidupnya dan bahwa ada misi tertentu di
  hidupnya.

  Tuhan tidak lagi menjadi suatu kata kosong seperti yang dialami oleh
  sebagian besar dari kita, tetapi merupakan suatu kata penuh makna yang
  terkait erat dengan hidupnya hari per hari, menit per menit, detik per
  detik. Tuhan hidup di dalam diri subyek.

  Manusia yang lahir satu kali adalah mereka yang tidak pernah mengalami
  pengalaman relijius traumatis. Hidup berjalan sebagaimana adanya tanpa
  merasa perlu adanya intervensi Tuhan dalam kehidupan pribadi. Tanpa merasa
  perlu adanya intervensi yang benar-benar terasakan bahwa "Tuhan" berbicara
  kepada subyek dengan kata-kata yang jelas dan tidak bisa diartikan lain.
  Karena tidak ada keinginan dan harapan bahwa Tuhan perlu hadir secara
  pribadi, maka kehidupan subyek akan berjalan seperti itu saja selama
  hidupnya. Memang relijius, tetapi relijius suam-suam kuku saja. Tidak ada
  yang istimewa, semuanya seperti terstruktur dalam buku petunjuk. Hidup
  seperti apa adanya. Gembira bila sedang gembira, dan sedih bila sedang sedih
  Mereka yang mengalami kelahiran dua kali secara relijius terutama berasal
  dari kalangan Protestan, dan mereka yang cuma lahir sekali terutama berasal
  dari kalangan Katolik. Itu menurut penelitian William James dengan
  kesaksian-kesaksian tertulis yang tak terhitung banyaknya di dalam bukunya
  itu.

  Mereka yang mengalami kelahiran dua kali adalah mereka yang hidupnya bisa
  berubah total setelah bertemu "Tuhan". Bisa menjadi seorang yang taat
  beragama walaupun tadinya seorang yang tidak percaya. Bisa melakukan hal-hal
  luar biasa walaupun tadinya tidak memiliki tenaga dan daya untuk itu. Tetapi
  mereka yang hanya lahir sekali saja hanya akan seperti itu saja selama
  hidupnya. Pengalaman relijiusnya terutama bersifat komunal, dan bukan
  pengalaman pribadi bertemu dengan "Tuhan" dalam suatu ruang dan waktu
  tertentu.

  Masyarakat Indonesia terutama terdiri dari mereka yang lahir satu kali saja.
  Jarang kita bertemu seseorang yang asli, yang mengalami sentuhan "Tuhan",
  yang memiliki pengalaman relijius traumatik sehingga tidak lagi tergoyahkan
  di dalam imannya. Yang tahu bahwa sesuatu yang dipercayainya adalah benar
  walaupun semua orang lain tidak percaya.

  Dan lahir dua kali tidaklah harus berarti memiliki suatu pengalaman relijius
  dalam arti orthodoks konvensional atau menuruti ajaran-ajaran majelis ulama
  ini atau majelis ulama yang itu. Tidak seperti itu maksudnya. Kelahiran dua
  kali melalui pengalaman relijius traumatik adalah pengalaman pribadi yang
  berada di luar jangkauan kategori-kategori KTP. Bisa saja dikategorikan
  sebagai musyrik atau bidah. Tetapi itu genuine, asli, dan itulah yang
  berarti besar secara rohaniah karena tidak ada lagi yang bisa menggoyahkan
  keyakinan orang itu.

  Kalau yang lahir hanya satu kali, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu
  saja. Komunal berupa hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan.
  Yang mencari "Tuhan" kesana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. Begitulah
  kurang lebih menurut William James.

  From: Halimun An

  haturan kang maman,

  aduh meni rareuwas sim kuring, maksad sim kuring mah nu naros bade di

  waler ku kayakinan naon? sanes sim kuring terang ti rupi2 kayakinan kulan.

  Supados teu pasea we masihan ide kitu teh hehehe

  nu sim kuring terang mah urusan kaimanan jawab ku akal tina hate, urusan
  kadunyaan jawab 

  ku kapinteran, kacerdasan, IQ tina otak.

  Sabab otak mah sok bangor, sok ngareka-reka, digambar2, dikira2.

  urusan hate urusan jiwa/ruh, urusan otak urusan raga.

  teu langkung bade nguping gerentes nu mana. 

  teu sadaya sunda islam, teu sadaya islam sunda

  sim kuring rumaos tuturut munding ka ajaran rosul Muhammad saw,

  nu saurna budaya arab atanapi budaya deungeun hehehehe


   

Kirim email ke