Haturan baraya Kabeh manusa di dunya nu beda bangsa, beda warna kulit, beda suku gaduh kayakinan nu ngajeroan hart simbol2.
Conto simbol di mimiti sora, hurup,angka, kalimat nu jadi dalil,dogma, warna; nepi ka tilu dimensi misalna patung , imah gusti, pakarang, gunung, cai, taneuh, seuneu, angin; jeung kabeh jagat raya diringkes jadi jagat alit nu ngabentuk manusa hasil foto kopi eta nu di luhur nu di handap manusa di tengah2. Sent via BlackBerry from T-Mobile -----Original Message----- From: "Rudy" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Mon, 1 Dec 2008 23:01:21 To: <[email protected]> Subject: RE: [kisunda] perdebatan teologis Di cutat tina tulisan Leonardo rimba Salila ieu rea tulisan ngenaan warna agama anu dumasar kana alesan jeung logika; buah fikir anu dumasar kana prinsip "induksi deduksi" jeung panalitian kana eusi ajaran agama. Naha teu aya cara lain? tangtuna aya, sanajan carana teu umum. Wiliam James, salah sahiji anu ngarintis psikologi di Amerika serikat, dina bukuna anu geus umur saabad judulna " Varieties of Religius Experience"(geus diterjemahkeun kana bahasa Indonesia)" geus ngama'lum yen kaagamaan teh mangrupakeun bagian anu moal bisa pisah tina kahirupan tiap individu manusa. Manusa teh mangrupakeun individu, jeung lain manusa anu ngumpul dina angka-angka statistik wungkul atawa manusa anu nyiptakeun rekor output industri.Manusa saenyana manusa... wiliam James, netelakeun yen agama(religi) bakal mangpaat lamun dialam ku pengalaman pribadi anu jero.hartina, aya pangalam pribadi anu bisa diterangkeun ku simbol-simbol tina agama anu dihayati kalintang jero anu teu bisa dipisahkeun deui tina jalan hirupna.agama anu dihartian kitu moal deui muter balik deui balik deui tina segi alesan (argeument) wungkul, tapi geus asup kana kesaksian pribadi dina hal kumha sosok imanen jeung transenden anu disebut "Tuhan/gusti" geus ngiket kongkrit dina kahirupan nu nganut salah sahiji agama. Nu jentrena kieu : Selama ini kebanyakan tulisan dengan warna agama mendasarkan argumennya pada logika belaka; penalaran berdasarkan prinsip induksi deduksi dan penelusuran arti dari ajaran agama. Apakah tidak ada cara lain? Tentu saja ada, walaupun barangkali cara itu tidak familiar. William James, seorang perintis psikologi dari Amerika Serikat, dalam bukunya yang sudah berusia satu abad dan berjudul "Varieties of Religious Experience" (sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) berusaha mengerti fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan individu manusia. Manusia sebagai individu, dan bukan manusia sebagai kelompok angka-angka statistik belaka atau manusia sebagai pembuat rekor output industri. Manusia sebagai manusia. William James melihat bahwa agama (religi) hanya berarti apabila dialami sebagai pengalaman pribadi. Artinya, ada pengalaman pribadi yang bisa diterangkan dengan menggunakan simbol-simbol dari agama tertentu yang dihayati sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari narasi kehidupan seseorang. Agama dalam arti itu tidak lagi berputar di segi argumentasi belaka, tetapi sudah masuk kedalam kesaksian pribadi tentang bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinamakan "Tuhan" telah beraksi secara konkrit dalam kehidupan pribadi seorang penganut agama. Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Argumen yang ada hanya berputar pada agama mana yang paling benar. Tentu saja jawabnya tidak ada. Sama saja dengan bertanya agama mana yang paling salah. Jawabnya tetap, tidak ada agama yang salah. Agama adalah buatan manusia. Konsepsi belaka. "Tuhan" juga adalah konsepsi belaka, suatu abstraksi dari sesuatu yang diasumsikan dialami secara pribadi oleh orang per orang. Menurut James, ajaran agama atau religi adalah suatu wadah dialog antara penganut dan sesuatu yang dipercayainya sebagai "Tuhan". Harus ada dialog berupa pengalaman pribadi. Apabila itu tidak ada, maka yang terjadi adalah seperti orang buta yang menuntun orang buta. Seperti menggunakan buku penuntun doa untuk memimpin orang-orang lain yang membeo di belakangnya. Hasilnya seperti apa tidak akan dimengerti, dan gunanya untuk apa juga tidak diketahui. Paling jauh orang itu hanya akan membuka buku lain lagi untuk memperoleh jawabnya, atau bertanya kepada orang lain yang dianggap mengerti. Inilah situasi di Indonesia. William James di dalam bukunya melihat bahwa ada dua macam manusia penghayat keagamaan; yaitu: manusia yang lahir dua kali (twice born), dan manusia yang lahir satu kali saja (once born). Manusia yang lahir dua kali adalah manusia yang mengalami suatu pengalaman relijius traumatis: suatu perjumpaan pribadi dengan yang absolut. Perjumpaan pribadi itu bisa diceritakan dengan narasi yang terstruktur rapi sehingga akan dimengerti oleh orang lain juga. Narasi akan berupa deskripsi tentang hal-hal yang sedikit demi sedikit akhirnya membawa seseorang sehingga mengalami hal traumatis tersebut. Dan setelah hal traumatis berupa pengalaman relijius yang menggoncangkan itu dialami, subyek akan berubah total. Berubah total dalam arti akan menjadi seorang yang percaya penuh bahwa "Tuhan" memang berperan dalam hidupnya dan bahwa ada misi tertentu di hidupnya. Tuhan tidak lagi menjadi suatu kata kosong seperti yang dialami oleh sebagian besar dari kita, tetapi merupakan suatu kata penuh makna yang terkait erat dengan hidupnya hari per hari, menit per menit, detik per detik. Tuhan hidup di dalam diri subyek. Manusia yang lahir satu kali adalah mereka yang tidak pernah mengalami pengalaman relijius traumatis. Hidup berjalan sebagaimana adanya tanpa merasa perlu adanya intervensi Tuhan dalam kehidupan pribadi. Tanpa merasa perlu adanya intervensi yang benar-benar terasakan bahwa "Tuhan" berbicara kepada subyek dengan kata-kata yang jelas dan tidak bisa diartikan lain. Karena tidak ada keinginan dan harapan bahwa Tuhan perlu hadir secara pribadi, maka kehidupan subyek akan berjalan seperti itu saja selama hidupnya. Memang relijius, tetapi relijius suam-suam kuku saja. Tidak ada yang istimewa, semuanya seperti terstruktur dalam buku petunjuk. Hidup seperti apa adanya. Gembira bila sedang gembira, dan sedih bila sedang sedih Mereka yang mengalami kelahiran dua kali secara relijius terutama berasal dari kalangan Protestan, dan mereka yang cuma lahir sekali terutama berasal dari kalangan Katolik. Itu menurut penelitian William James dengan kesaksian-kesaksian tertulis yang tak terhitung banyaknya di dalam bukunya itu. Mereka yang mengalami kelahiran dua kali adalah mereka yang hidupnya bisa berubah total setelah bertemu "Tuhan". Bisa menjadi seorang yang taat beragama walaupun tadinya seorang yang tidak percaya. Bisa melakukan hal-hal luar biasa walaupun tadinya tidak memiliki tenaga dan daya untuk itu. Tetapi mereka yang hanya lahir sekali saja hanya akan seperti itu saja selama hidupnya. Pengalaman relijiusnya terutama bersifat komunal, dan bukan pengalaman pribadi bertemu dengan "Tuhan" dalam suatu ruang dan waktu tertentu. Masyarakat Indonesia terutama terdiri dari mereka yang lahir satu kali saja. Jarang kita bertemu seseorang yang asli, yang mengalami sentuhan "Tuhan", yang memiliki pengalaman relijius traumatik sehingga tidak lagi tergoyahkan di dalam imannya. Yang tahu bahwa sesuatu yang dipercayainya adalah benar walaupun semua orang lain tidak percaya. Dan lahir dua kali tidaklah harus berarti memiliki suatu pengalaman relijius dalam arti orthodoks konvensional atau menuruti ajaran-ajaran majelis ulama ini atau majelis ulama yang itu. Tidak seperti itu maksudnya. Kelahiran dua kali melalui pengalaman relijius traumatik adalah pengalaman pribadi yang berada di luar jangkauan kategori-kategori KTP. Bisa saja dikategorikan sebagai musyrik atau bidah. Tetapi itu genuine, asli, dan itulah yang berarti besar secara rohaniah karena tidak ada lagi yang bisa menggoyahkan keyakinan orang itu. Kalau yang lahir hanya satu kali, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu saja. Komunal berupa hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan. Yang mencari "Tuhan" kesana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. Begitulah kurang lebih menurut William James. From: Halimun An haturan kang maman, aduh meni rareuwas sim kuring, maksad sim kuring mah nu naros bade di waler ku kayakinan naon? sanes sim kuring terang ti rupi2 kayakinan kulan. Supados teu pasea we masihan ide kitu teh hehehe nu sim kuring terang mah urusan kaimanan jawab ku akal tina hate, urusan kadunyaan jawab ku kapinteran, kacerdasan, IQ tina otak. Sabab otak mah sok bangor, sok ngareka-reka, digambar2, dikira2. urusan hate urusan jiwa/ruh, urusan otak urusan raga. teu langkung bade nguping gerentes nu mana. teu sadaya sunda islam, teu sadaya islam sunda sim kuring rumaos tuturut munding ka ajaran rosul Muhammad saw, nu saurna budaya arab atanapi budaya deungeun hehehehe
