Teori Bigbang, teori dina elmu pangaweruh nu paling dipikaresep ku kaum
agamawan. Tapi Stephen Hawking (Ahli Fisika Teori paling beken di era
ayeuna) boga gagasan mupus "singularitas", ruang-waktu "berhingga", Kosmos
hadir dari fluktuasi kuantum. Sagalana bisa diterangkeun ku nalar/ elmu
pangaweruh, tepi ka Hawkings nanya: "Masih tersisakah peran bagi Tuhan?"
(Hawkiing lamun teu salah mah ngaku Atheis).
Nyanggakeun artikel kenging Teh Karlina Supelli (Eteh da urang Sukabumi)
dina Kompas 4 April 2003, kumaha manusa "bercanda dengan Tuhan" ......
Bercanda dengan Tuhan
Karlina Supelli
(Kompas, 4 April 2003)
DALAM buku indah Rahasia Wajah Suci Ilahi, Annemarie Schimmel menulis bahwa
para sufi mempunyai ungkapan kesayangan, yaitu "pelepasan kedua sandal".
Seorang "pencari" melepas sandal sebagai lambang pelepasan semua yang
bersifat duniawi untuk memasuki wilayah Tuhan yang Paling Suci. Begitu
memulai perjalanan, ia dibimbing oleh cahaya batin yang kian terang,
sementara ia membebaskan diri dari keterikatan dengan dunia. Ia, kata para
sufi, menggosok cermin jiwanya sampai mengkilap.
SESUDAH masa pemurnian yang lama-dalam mistik Kristiani disebut via
purgavita-si pencari mencapai via illuminativa, tempat ia diberkati cinta
dan kearifan. Demikian tulis Schimmel dalam buku lain, Dimensi Mistik dalam
Islam.
Dalam diskusi kecil (diselenggarakan Femina-Pesona, November 2002) terungkap
bahwa gerbang pengalaman rohani terbuka melalui cara berlainan, pada tahap
yang berbeda dalam kehidupan tiap orang. Kerinduan akan "yang maha lebih"
bisa timbul ketika seseorang mendengarkan riak air danau. Bagi orang lain,
kesedihan membuat hatinya-bak nyanyian Fiesco dalam Simon Boccanegra karya
Giuseppe Verdi-seperti sumur air mata tak berdasar; hempasan oleh
batas-batas kemanusiaannya sendiri membuat ia merindu bersapa dengan Sang
Pengulur Tangan.
Banyak pengalaman kerohanian didahului dengan pengembaraan jiwa dari senyap
ke senyap, melalui hening yang seolah tak hendak putus ketika jawaban tak
kunjung datang. Orang menempuh berbagai jalan sebagai pengantar.
Dalam dua dasa warsa terakhir, sains muncul sebagai ruang baru pengembaraan
spiritualitas. Temuan sains menakjubkan serentak menggelisahkan. Kehidupan
yang selama ribuan tahun sedemikian keramat, kini dicacah hingga bagian
terkecilnya; kosmos dijelajah sampai titik paling dini yang masih
terjangkau.
Tak terhitung orang yang mencoba membongkar sekat-sekat yang memilah dunia
kehidupan menurut kotak-kotak sains, filsafat, agama, seni, dan lainnya. Di
tengah harapan hangat itu kita mendengar ucapan pemenang Nobel Fisika Steven
Weinberg (The First Three Minutes) yang mungkin membuat tidak nyaman para
"pencari" lewat sains, "the more the universe seems comprehensible, the more
it seems pointless". Apakah sebagaimana ditafsirkan Gerard de Vaucouleurs,
ucapan Weinberg bersifat nostalgia saja?
Nostalgia bagi sebuah pandangan dunia yang pernah memberi manusia kehangatan
spiritual, ketika langit dan seluruh isinya tampil bagai kerajaan manusia
yang bertakhta di pusat penciptaan.
Selamat tinggal filsafat dan teologi
Tak ada gambar lebih baik yang dapat merepresentasikan kisah perceraian
sains dari semua unsur religius daripada lukisan Galileo berlutut di hadapan
Inkuisitor Gereja Katolik, berjubah terdakwa, dengan satu tangan diletakkan
di atas Injil untuk mengucapkan sumpah bahwa ia akan meninggalkan pendapat
sesat, yang tak lain sistem heliosentris Copernicus.
Latar belakang peristiwa tahun 1633 itu banyak disalahpahami. Sekalipun
berhubungan dengan masalah hakikat sains serta pesan-pesan keimanan, kasus
Galileo berintikan tantangan epistemologis dan metodologis terhadap
pemikiran para intelektual pada zamannya, lalu melebar ke teologi begitu
berkait dengan penafsiran kitab suci.
Salah satu warisan abad tengah bagi kosmologi Eropa abad ke-16 adalah
leburan fisika Aristoteles dengan astronomi Ptolemeus dalam sebuah kosmologi
yang membentang di atas mistik neo-platonis dan teologi Kristiani.
Aristoteles juga meletakkan dasar bagi keabadian langit dan kefanaan bumi.
Ketika Ptolemeus (abad ke-2) menulis bahwa semua pengetahuan tentang langit,
kecuali matematika gerak benda langit, hanya mungkin diperoleh lewat
persentuhan dengan yang ilahiah, maka pemilahan Aristoteles terhela ke ranah
teologis. Ptolemeus juga menyingkirkan fisika yang ia nilai spekulatif dan
tidak relevan bagi astronomi.
Ia menggugurkan keyakinan yang dibangun para filsuf Yunani klasik, yaitu
nalar manusia mampu mengenali prinsip dasar penataan alam.
Kosmologi pun menghilang dari risalah-risalah astronomi, dan baru muncul
lagi dalam karya Thomas Aquinas, Summa Theologiae (ditulis mulai tahun
1267). Di luar lapis-lapis kosmos yang berpusat di bumi, di luar kawasan
terjauh bola langit hunian bintang-bintang, terletak surga. Seperempat abad
kemudian, Dante (The Divine Comedy) menaruh neraka di pusat bumi.
Manusia sungguh menempati posisi khusus. Ia begitu dekat ke neraka, tetapi
masih mungkin terselamatkan oleh kubah langit spiritual. Dalam kerangka
kosmologi seperti itu, menggeser bumi dari pusat tata surya sama dengan
memutus rantai hubungan-hubungan penciptaan.
Apalagi kemudian Galileo menyingkirkan kekekalan langit Aristotelian. The
Starry Messenger (1610) berisi argumen keserupaan bulan dengan bumi, yang
berarti benda langit bukan kesempurnaan abadi. Risalah pendek itu juga
menunjukkan bahwa Sabuk Bimasakti, yaitu bentangan kabut bak selendang
malam, tidak lain bintang yang jumlahnya tak terkira.
Galileo tidak membuktikan bahwa bintang-bintang tersebar menuju tak hingga
sebagaimana dipopulerkan Thomas Digges (1576). Namun, kesimpulan bahwa kian
lemah cahaya bintang kian jauh letaknya, meruntuhkan hierarki langit. Dalam
langit Galileo, Tuhan menabur bintang tanpa aturan, tanpa pola. Bola terluar
langit terbuang.
Terlempar ke manakah surga?
Belum usai kegelisahan yang ditimbulkan Galileo, terbit Letters on Sunspots
(1613). Galileo mencatat, noktah-noktah hitam di permukaan matahari bergerak
serta muncul-hilang secara teratur. Lagi-lagi ini bukti bagi langit yang
fana dan berubah. Galileo menemukan landasan untuk penyatuan mekanika
langit-bumi, namun itu berarti memupus harapan akan sebuah dunia sempurna
naungan manusia.
Ketaksesuaian antara sains dan keyakinan tradisional yang mulai mencuat ke
permukaan abad ke-17, tidak terletak dalam temuan-temuan sains, melainkan
dalam konflik antara sikap senantiasa meragu dan sikap percaya atas sesuatu
yang tampak terberi dan benar. Dengan menerapkan matematika secara konsisten
ke fisika serta fisika ke astronomi, Galileo merangkai ketiganya menjadi
untaian tak terpisahkan yang menyediakan cara baru untuk memahami alam.
Cara itu tidak mengizinkan otoritas di luar sains menjalankan fungsi
metodologis. Maka, walaupun Injil berbicara tentang benda-benda langit, bagi
Galileo, Injil tidak mengurusi hal-hal teknis astronomi. Rupanya ia terkesan
dengan ucapan Kardinal Baronio, bahwa Kitab Suci merupakan a book about how
one goes to Heaven-not how Heaven goes.
Manusia yang kehilangan keilahian dan kemanusiaan manusianya
Drama Galileo berakhir memilukan. Namun, panggung bagi sains untuk memulai
sejarahnya tanpa kerja sama dengan filsafat dan arahan dari teologi sudah
tersedia.
Kala Newton berhasil membingkai langit dan bumi dengan hukum-hukum yang
dimengerti manusia, ia menyediakan sarana kepastian bagi umat manusia untuk
menjelaskan alam, memprediksikan gejala masa depan, mengontrol lalu
menguasainya. Newton bukan saja melahirkan fisika agung, tetapi juga
landasan bagi filsafat mekanistik-deterministik.
Dalam genggaman manusia berpengetahuan, masa depan hanyalah persoalan
kalkulasi ilmiah. Itu yang dikumandangkan Laplace akhir abad ke-19, "tak ada
lagi yang tak pasti . masa depan, sebagaimana masa lampau terbentangkan di
hadapannya". Manusia mengelana dalam kosmos dengan mengandaikan sains
memberinya "Mata Tuhan" untuk menghasilkan pengetahuan lengkap.
Terlepas dari kesalehan mereka, Copernicus, Galileo, Kepler, dan Newton
bersama-sama berhasil membuang langit religius dari peta kosmos. Mereka
menanggalkan kualitas spiritual alam yang selama ribuan tahun menghadirkan
makna kosmik bagi manusia, dan memutus hubungan pengetahuan dengan yang
ilahiah.
Integrasi mistik antara kata dan benda pecah. Kebenaran tidak hanya
tercantum dalam teks suci atau naskah kuno, melainkan dapat diperoleh dan
diuji lewat alam.
Lewat The Origin of Species (1859), Darwin menyeret lebih jauh konsekuensi
langkah sains, sampai-sampai lengkaplah alasan untuk memandang sains sebagai
penghambar makna spiritual menurut pengertian apa pun. Setelah Newton
menjelaskan tatanan material kosmos melalui teori gravitasi, Darwin
menjelaskan evolusi biologis melalui mekanisme seleksi alam. Kedua teori itu
menyediakan gelanggang tempat alam berproses.
Manusia tersingkir dari pusat kosmos sekaligus dari puncak penciptaan. Ia
semata hewan amat sukses buah eksperimen alam, dengan nasib yang tak pasti.
Bisa saja ia punah, sebagaimana berjenis-jenis spesies yang mendahuluinya.
Rasionalitas yang diagungkannya cuma hasil permainan acak prinsip kebetulan
dan keniscayaan. Alam, bukan Tuhan yang merupakan sumber permutasi kehadiran
manusia.
Dalam alam semesta yang deterministik dan di atas bumi yang ditata oleh
kebetulan yang bisa menghasilkan apa saja, masih adakah ruang bagi mukjizat
Tuhan, kekuatan doa dan kebebasan manusia?
Freud melanjutkan pergulatan memahami diri secara dramatik. Bukan alam lawan
tarung abadi manusia, melainkan kodrat dirinya yang menciptakan sebuah
kawasan tak sadar. Di belakang kesadaran rasional-satu-satunya elemen yang
membedakan manusia dari alam-bersembunyi kekuatan ampuh nonrasional yang tak
masuk sepenuhnya ke dalam analisis rasional: the unconscious.
Bukan hanya elemen keilahian manusia yang terguncang, kemanusiaan manusia
sendiri dipertanyakan. Mungkin di sini tepat mengutip Nietzsche (The Birth
of Tragedy), "as the circle of science grows larger it touches paradox at
more places".
Manusia yang terbelah
Pemenang Nobel Fisika Richard Feynman pernah berujar, "Belajarlah dari sains
bahwa engkau perlu menyangsikan para pakar . sains adalah keyakinan pada
ketidaktahuan para pakar." Menjelang akhir abad ke-19, kesangsian itu
menjelma dalam fisika yang melunakkan pandangan dunia
mekanistik-deterministik.
Orang pun menyadari, sains tidak menjamin sepenuhnya pengetahuan yang
obyektif, benar, dan nonkontekstual. Hanya saja, dunia kehidupan manusia
(Barat) sudah kepalang terbelah.
Di satu sisi ada dunia obyektif berciri ilmiah serta batas bagi pengetahuan
yang menyuguhkan kebenaran. Di sisi lain ada dunia subyektif wilayah ideal
moral manusia yang tak mungkin mencapai taraf obyektivitas dan kebenaran,
yang parameter dasarnya ditentukan oleh sains. Kehirauan estetik, daya
kreatif imajinasi manusia, dan pengalaman religius-spiritual mendapat
tempat, tetapi tidak mungkin membuat klaim ontologis dalam dunia obyektif.
Filsafat yang melandaskan diri pada gairah intelektual untuk memburu sains
yang impersonal, membidani sebuah dunia yang tidak lagi mengenali manusia.
Sebuah kosmos, kata Michael Polanyi, tempat kita tak lagi berada di
dalamnya.
Sebuah kosmos yang menghambar dalam kumpulan definisi serta aturan ilmiah
dan filosofis yang ditawarkan para pakar.
Memanggil-manggil kembali Tuhan
Tahun 1929 Edwin Hubble merumuskan hubungan sederhana antara kecepatan
galaksi dan jaraknya. Hukum Hubble bukan hanya merupakan salah satu temuan
terpenting astronomi abad ke-20, melainkan juga pembuka pintu paling
awal-sejak insiden Galileo-bagi Tuhan untuk masuk kembali ke dalam tafsiran
hasil-hasil sains. Sejak itu, hampir semua bidang sains mencoba atau dipaksa
membuka ruang bagi Tuhan.
Georges Lemaître (1931) adalah orang pertama yang menghubungkan hukum Hubble
dengan gerak muai alam semesta. Andai film kosmik berputar balik, maka
Jakarta, London, Tokyo, bumi, matahari, bintang, kosmos, dan hiruk-pikuk
kehidupan di dalamnya tampak saling mendekat, bertumbukan, dan teremas oleh
tarikan gravitasi menjadi gumpalan kecil mampat panas tak hingga. Lemaître
menyebutnya atom permulaan.
"Para astronom menemukan Tuhan," begitu tertera dalam beberapa surat kabar,
kala model asal usul alam semesta yang lebih lengkap, Big Bang, menerima
peneguhan observasional tahun 1965. Temuan radiasi sisa masa awal kosmos
cepat sekali membangkitkan gairah orang untuk menunjuk ke Penciptaan menurut
bahasa religius. "Jika engkau orang yang religius, engkau seperti menatap
wajah Tuhan," kata George Smoot dalam konferensi pers tahun 1992 yang
memperkuat temuan tahun 1965 itu.
Tak ada yang lebih menggetarkan sukma para agamawan, sekaligus mengusik
benak ilmuwan, selain ada tanda bahwa kosmos mempunyai awal. Big Bang
berintikan skenario mengenai kosmos yang mengembang dan mendingin, tetapi
tidak memaparkan bagaimana dan mengapa proses itu bermula. Teori umum
relativitas, yang sejauh ini dinilai memberikan gambaran paling lengkap
mengenai kosmos, mengalami kegagalan di titik mula tak terdefinisi itu,
singularitas, yang diramalkannya sendiri.
Singularitas yang mengangkat semangat agamawan ke tingkat euforia itu justru
menjadi mimpi buruk bagi ilmuwan. Penelusuran menggairahkan ke masa lampau
di bawah bimbingan daya nalar berakhir di kebuntuan pengetahuan.
Arthur Eddington berperan besar membuat karya Lemaître mendapat perhatian.
Namun, saat Lemaître menyebut atom awal, Eddington mencibir. Gagasan
"permulaan" bagi tata kosmos secara filosofis membuatnya mual.
Padahal, sekalipun padri, Lemaître tidak menyebut-nyebut Tuhan. Sementara,
astronom agnostik seperti Robert Jastrow malah tergoda, "Para ilmuwan
mendaki gunung-gunung ketidaktahuan; mereka hampir saja menundukkan
puncaknya yang tertinggi; ketika mencapai undakan batu teratas, mereka
disambut oleh serombongan teolog yang sudah duduk di sana selama
berabad-abad."
Dan Tuhan, bisa dipanggil memenuhi kepentingan yang sama sekali berbeda.
Simaklah pertentangan menyangkut generation spontaneous. Bagi
Félix-Archimède Pouchet, menolak ide bahwa mikroorganisme muncul spontan
dari materi, sama dengan memihak para ateis dan pendukung Darwinisme.
Bukankah Tuhan terus mencipta? Sebaliknya, untuk menggugurkan argumen
Pouchet, Louis Pasteur bertanya, kalau materi punya daya sendiri untuk
bangkit hidup, apa guna Sang Pencipta?
Pasteur mau menegaskan diri dan mengambil keuntungan dari posisi sebagai
ilmuwan. Dalam rangkaian kuliah terbuka di Sorbonne (1864), ia menaruh
Pouchet-seorang Katolik saleh penolak keras Darwinisme-di kubu materialisme
ateis.
Secara anggun ia lalu "menyelamatkan" Pouchet. Ia menekankan, Pouchet,
layaknya ia sendiri, hanya mengacu ke fakta, ". cukuplah puisi, cukuplah
imajinasi dan solusi instingtif; ini saat bagi sains, metode sungguhan .
agama, filsafat, atau ateisme, materialisme, serta spiritualisme tidak
relevan . sebagai ilmuwan bisa saya katakan bahwa semua itu tidak penting.
Permasalahannya adalah fakta.."
Dalam konteks Perancis masa itu, berbicara teori Darwin ataupun spontaneous
generation berarti terlibat dalam masalah biologi, sosial, politik,
pemerintahan, dan Tuhan. Pasteur menegaskan, eksperimen laboratorium memang
satu-satunya hakim adil bagi perdebatan mereka. Pouchet setuju.
Seperti pendapat sejarawan sains Bruno Latour, Pasteur dengan cerdas membawa
para sekutu yang tidak semestinya disertakan, yaitu antipati terhadap
materialisme dan ateisme, ke lingkungan akademik Sorbonne.
Menggusur lagi Tuhan
Dalam Konferensi Vatikan tentang Kosmologi (1981) yang diselenggarakan para
imam Jesuit, Stephen Hawking memperkenalkan gagasan yang menghapus
singularitas. Ruang-waktu berhingga, tetapi tak ada penciptaan. Kosmos hadir
dari fluktuasi kuantum.
Bagi Alan Guth, yang melahirkan model inflasi kosmos sehingga kondisi masa
kini bebas dari situasi tahap amat dini, kosmos sepenuhnya "makan siang
gratisan". Tak perlu apa pun di luar kosmos untuk membuatnya ada.
Di manakah kita mau menempatkan Tuhan? Dalam kalimat Hawking, masih
tersisakah peran bagi Tuhan?
Epistemologi juga bisa menolak pemahaman realis atas Big Bang. Singularitas
merupakan batas konseptual saja; cakrawala ketaklengkapan ruang-waktu
sebagaimana dinyatakan lewat relativitas klasik nonkuantum. Upaya Hawking
dan Guth, serta-yang lebih eksotik-Vilenkin untuk meniadakan atau menggusur
singularitas tentu amat menggiurkan; walau itu berarti menyingkirkan lagi
Tuhan yang sempat dipanggil.
Sekali lagi, Tuhan
Sungguh, Tuhan menjadi sekadar pengisi retakan ketidaktahuan manusia. Ia
diabaikan lagi saat sains menawarkan kemungkinan jawaban.
Ketika prinsip antropik terangkat ke khazanah ilmiah populer tahun 1980-an,
orang menemukan cara baru menggapai Tuhan.
"Lihatlah, sains menunjukkan kosmos terancang demi kelahiran manusia,"
begitu kira-kira pesan yang diyakini mau disampaikan oleh prinsip antropik.
Prinsip itu mencoba menjelaskan banyak "kebetulan" mempesona hasil jalinan
berbagai tetapan dasar (kecepatan cahaya, muatan elektron, tetapan
gravitasi, dan lain-lain), baik di aras kosmologis maupun subatom. Ada tiga
versi, namun pengheboh utama adalah versi kuat prinsip antropik: kosmos
"harus" begitu rupa sehingga memungkinkan para pengamat hadir pada suatu
tahap evolusinya.
Brandon Carter yang melahirkan prinsip antropik (1970) memang jenaka. Tanpa
keterangan, ia memainkan diktum filsafat René Descartes cogito ergo sum
(saya berpikir, maka saya ada), menjadi cogito ergo mundus tali est (saya
berpikir, maka alam semesta seperti ini). Interpretasi teleologis (telos =
tujuan) dan teologis segera mengganduli prinsip itu.
Sementara, fungsi prinsip antropik sesungguhnya antara lain mengintegrasikan
historisitas pengamat ke dalam penyelidikan kosmologi. Pengamat (sebut saja,
kita) menaruh efek seleksi bagi model-model kosmologi. Kita, misalnya, tak
mungkin ada dalam kosmos Dirac yang sedikit lebih tua daripada tata surya.
Prinsip antropik mau mengatakan, "untuk memahami kosmos, kembalilah ke
faktisitas makhluk-makhluk berkesadaran yang mempertanyakan keberadaannya
sendiri". Syarat apa yang diperlukan? Model alam semesta bagaimana yang
menampung persyaratan itu?
Ketika informasi rinci bagi langkah deduktif amat terbatas sehingga hampir
tak mungkin diterapkan dalam kosmologi, prinsip antropik menyediakan sarana
pragmatik yang menunjuk ke harga-harga a priori tetapan dasar dengan merujuk
ke kenyataan bahwa kita ada. Kosmologi dapat bekerja lebih efisien. Prinsip
antropik tidak memberi penjelasan ontologis bagi pertanyaan, "mengapa alam
semesta seperti ini?" Apalagi menunjuk tujuan dan rancangan yang
mengagungkan antroposentrisme.
Sayang sekali. Tuhan yang kita panggil demi kenyamanan psikologis, yang
koyak akibat takhta kosmik manusia sudah berkali-kali direnggut oleh sains,
sebetulnya belum diperlukan.
Kawasan tak bertuan
Sains masa kini memuaskan bukan saja karena temuan-temuannya kian teruji
secara empiris, tetapi juga banyak pertanyaan yang selama dua abad
terpinggirkan akibat beban metafisika, kini dapat dirumuskan ulang.
Dari manakah kita datang? Ke manakah kita akan pergi? Mengapa semua ini
demikian? Mengapa sintesis inti karbon di pusat bintang berlangsung di aras
energi talunan hingga prosesnya amat efisien? Sementara pada tahap
berikutnya aras itu tiada sehingga karbon yang terbentuk terselamatkan dari
pengubahan menjadi oksigen.
Sains menjawab pertanyaan yang dulu terpagar dalam wilayah teologi. Rambu
metodologis ketat, bagaimanapun, sering menimbulkan kekecewaan bagi kehausan
arkaik dalam diri kita.
Saat mengetahui bahwa karbon adalah unsur dasar kehidupan, dan tanpa dua
"kebetulan" di atas, kejerahan karbon dalam kosmos mungkin tak cukup untuk
mendasari kehidupan, banyak orang tergoda menoleh lagi ke Tuhan.
Kebutuhan menghangati keterpukauan dengan spiritualitas membuat orang
membiarkan saja ketertalaan kosmos yang merupakan konsekuensi interaksi amat
halus, tepat, namun rentan dari berbagai tetapan dasar, tinggal dalam
kategori "kebetulan". Betapapun penting bagi iman, dengan segala hormat,
langkah itu tidak mencerahkan bahkan memberi agama landasan yang goyah.
Kedalaman emosi yang muncul saat mempelajari kosmos hanya terasakan, kata
Einstein, oleh mereka yang mengerti tuntutan kejam sains terhadap para
ilmuwan: pengabdian total demi sebuah kosmos yang dapat dipahami oleh
manusia. Pun setelah melewati pergulatan keraguan-kepastian-keraguan yang
menyakitkan, tetaplah kosmos terpahami bukan jaminan bagi terjangkaunya
struktur yang ada dan mendahului kepemahaman itu sendiri. Yang saya maksud,
kosmos dalam pengertian ontik yaitu Kosmos (K kapital).
Kosmos terpahami terikat ke konsep manusia. Refleksi epistemologis, misal
bagi konsep singularitas di atas, menyentak karena menghentikan ketergesaan
langkah sukacita yang mau menariknya ke realitas transenden. Benturan pada
cakrawala epistemologi memang sudah lama menjadi pangkal tolak bagi
pencarian pengalaman kerohanian.
Ketika cakrawala adalah ketegangan antara keberhinggaan daya pengetahuan
manusia dan kehendak untuk melampauinya, tidak jarang orang terbawa oleh
kegundahan mengenai yang tak berhingga. Bagi banyak ilmuwan, lewat
perspektif bidangnya, inilah kawasan "tak bertuan." Ketika kakinya masih
menapak di tanah keilmuan, ia seperti memasuki ruang-ruang pengalaman tak
tertuturkan.
Apakah seperti ujaran para sufi, bahwa memasuki samudra spiritual, kata-kata
hanya menjangkau pantainya saja?
Bercanda dengan Tuhan
Dalam sebuah wawancara, Weinberg mengatakan bahwa sains kian membawa orang
ke sebuah kemahaluasan yang membuatnya menggigil dingin; untunglah manusia
adalah pemain drama yang menghangatkan panggung kosmik tak berbelas kasih
itu.
Weinberg mungkin lupa bahwa setting panggung berperan besar dalam
keberhasilan sebuah drama. Sains bisa mengantar orang-meminjam kata-kata
Franz Magnis Suseno pada peringatan 50 tahun astronomi di Indonesia-ke
tepian dunia bermakna, tetapi tidak untuk masuk.
Mungkin itu yang coba saya tangkap dari kalimat astrofisikawan Freeman
Dyson, "I do not feel like an alien in this universe." Sebuah drama
memerlukan kesalingan antara para pemain dan panggungnya.
Sains, khusus kosmologi dan penalaran antropik, menyodorkan sebuah kosmos
yang berevolusi dan mengevolusikan dunia kehidupan, namun yang tak mungkin
menjelma andai semua unsurnya tidak berorkestrasi indah. Satu saja tetapan
dasarnya berbeda, kita tak hadir di sini sekarang.
Selanjutnya, kosmos dan seluruh kepemahaman di dalamnya adalah
antropometrik. Memanusia, melekat pada keberhinggaan manusia.
Sains, filsafat, maupun bidang kehidupan lainnya menyodorkan pesonanya
sendiri-sendiri yang dapat merangsang orang meneruskan upaya memperluas
cakrawala pembatas masing-masing bidang. Hanya saja, kejatuhan yang terlalu
mudah pada glorifikasi temuan-temuan sementara yang berubah cepat karena
kemajuan pemikiran manusia sendiri, membuat saya dengan sedih dan gulana
memberi judul tulisan ini seperti di atas.
Akhirnya, kita hanya mampu bercanda dengan pemahaman manusiawi kita tentang
Tuhan. Ia kita panggil, Ia kita singkirkan, Ia kita panggil, dan kita
mengira sudah masuk ke spiritualitas sejati, tanpa pernah sungguh-sungguh
menggosok cermin jiwa untuk memahami spiritualitas dalam pengertiannya yang
paling sederhana, hidup ini kita hayati untuk apa?
There are more things in heaven and on earth, Horatio,
Than are dreamt of in your philosophy
(Hamlet, Shakespeare)
Jakarta, 27 Maret 2003
Karlina Supelli Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
* (Tulisan ini adalah ringkasan makalah yang disampaikan dalam Diskusi
Sains, Filsafat dan Spiritualitas yang diselenggarakan oleh Penerbit Mizan
bekerja sama dengan Bentara Budaya Jakarta, 19 Maret 2003. Keterbatasan
tempat menyebabkan banyak rujukan yang tercantum dalam makalah tak dapat
dimuat).
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/