Ledakan Tabung Elpiji Sudah Menjadi Tragedi Nasional
Ganti 45 Juta Tabung Gas!

JAKARTA, (PR).-
Pemerintah didesak segera menarik 45 juta tabung elpiji berukuran 3 kg yang
telah beredar di masyarakat untuk kemudian diganti dengan tabung yang telah
memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Pemerintah harus berani melakukan
itu sebagai bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat.

"Tarik semua tabung gas itu. Ini sudah jadi tragedi nasional. At all cost
(berapa pun biayanya). Sosialisasi hentikan saja dulu, akan buang dana saja.
Lebih baik tarik saja," kata pemerhati kebijakan publik dan perlindungan
konsumen, Agus Pambagio dalam diskusi bulanan di Megawati Institute, Jln.
Proklamasi No. 55 Jakarta Pusat, Kamis (29/7).

Biaya penarikan tabung elpiji itu ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah
karena itu adalah konsekuensi dari kebijakan pemerintah yang salah dan
kurang pengawasan. "Mekanismenya itu pasti ada. Social cost-nya (ongkos
sosial) sudah terlalu besar, ini tanggung jawab pemerintah," ucapnya.

Agus menyarankan agar pemerintah menghentikan dulu sosialisasi penggunaan
tabung elpiji, selama tabung yang sama masih digunakan. Presiden harus
mengambil alih masalah ini agar tidak berlarut-larut," katanya.

Senada dengan Agus, anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Golkar Kamarudin
Syam mengatakan, pemerintah seharusnya menarik 45 juta tabung gas yang saat
ini beredar. "Bukan hanya yang sembilan juta. Karena siapa tahu yang tidak
ditarik itu juga meledak," tuturnya.

Ia menambahkan, pemerintah jangan hanya mengemukakan alasan ekonomi di balik
program konversi berupa penghematan anggaran negara. Pemerintah harus berani
melakukan itu karena pemerintah telah menikmati penghematan. "Dari segi
anggaran sangat bagus. Akan tetapi, pemerintah kurang memperhitungkan
problem ikutannya," katanya.

Direktur Megawati Institute Arif Budimanta mengatakan, tanggung jawab
pemerintah kepada korban ledakan tabung elpiji tidak cukup dengan hanya
menanggung biaya pengobatan, karena kerugian yang diderita korban bersifat
seumur hidup. "Seharusnya ditanggung juga biaya pendidikannya jika itu
seorang anak yang menjadi korbannya. Perhitungkan loss opportunity
(kesempatan yang hilang) yang diderita korban," ucapnya.

Seperti diberitakan "PR" sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan, pemerintah akan segera
menarik peredaran sembilan juta tabung elpiji 3 kg buatan Australia dan
Jepang yang ditengarai tidak memenuhi SNI. Kesembilan juta tabung impor
tersebut adalah yang beredar pada masa awal konversi.

Sementara itu di Bandung, pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan
(Unpas), Acuviarta Kartabi menegaskan, penarikan elpiji 3 kg jangan
dilakukan serentak. Penarikan harus dilakukan secara bertahap dan sebelumnya
pemerintah harus menyediakan tabung pengganti yang memenuhi standar keamanan
dan keselamatan atau ber-SNI.

"Kalau ditarik sekaligus akan menimbulkan kelangkaan. Oleh karena itu,
sediakan dulu penggantinya dan lakukan penarikan secara bertahap. Pertamina
kan memiliki data peredaran tabung, gunakan itu untuk melakukan penarikan.
Prioritaskan daerah yang banyak mengalami insiden ledakan," ujarnya.

Selain itu, menurut dia, prioritaskan juga daerah perbatasan yang
memungkinkan masuknya tabung dari luar yang tidak memenuhi standar. Dalam
menyediakan tabung pengganti, pemerintah harus melakukan kontrol yang lebih
ketat, mulai dari penyediaan bahan mentah, proses produksi, sampai jalur
distribusi.

Hal senada juga dilontarkan Ketua Asosiasi Permesinan dan Pengerjaan Logam
(Aspep) Jabar Sugih Wiramikarta. Menurut dia, pemerintah harus lebih tegas
dalam menerapkan aturan standardisasi produk. Pemerintah juga harus
mempercayakan produksinya pada produsen dalam negeri.

"Perusahaan pabrikan dalam negeri itu pada dasarnya sanggup membuat produk
berkualitas, tinggal keberpihakan pembuat regulasi. Kalaupun harganya
sedikit lebih mahal dari buatan Cina atau impor, apalah artinya jika
dibandingkan dengan keamanan dan imbas positifnya terhadap perekonomian
nasional," ujarnya.

Di sisi lain, Sugih mengatakan, penunjukan pabrikan dalam negeri
memungkinkan pemerintah untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat di
seluruh proses produksi. Jika di lapangan ditemukan produk gagal, klaim dan
sanksinya pun akan lebih mudah dilakukan dibanding terhadap produk impor.

"Berikan kode khusus untuk setiap perusahaan yang memproduksi tabung dan
cantumkan pada tabung produksinya. Menurut informasi yang saya dengar, satu
stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) di Kab. Bandung mengatakan bahwa tabung
produksi 2007-2008 yang diproduksi dalam negeri cukup berkualitas," ujar
Sugih.

Tabung tersebut, menurut dia, diproduksi di dalam negeri dengan menggunakan
bahan baku produksi Krakatau Steel. "Pabrikan lokal sanggup membuat produk
yang lebih berkualitas, kenapa harus mengimpor?" ujarnya.

Menurut Sugih, jika seluruh pabrikan pembuat tabung di tanah air dikerahkan,
dalam satu tahun 45 juta tabung paket perdana tersebut bisa terganti. Dalam
kondisi normal, dengan jam kerja pukul 8.00-16.00 WIB, seluruh pabrik
tersebut diprediksi bisa memproduksi 200.000 tabung dalam satu tahun.

Tidak kompak

Sementara itu, rencana penarikan tabung elpiji 3 kg rupanya belum diputuskan
secara bulat oleh pemerintah. Setelah masalah kenaikan tarif dasar listrik
(TDL), pemerintah kembali tidak kompak dalam menanggapi masalah ledakan
tabung elpiji 3 kg akhir-akhir ini.

Kemarin, Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan tidak akan ada
penarikan. Padahal, satu hari sebelumnya, Agung menegaskan bahwa pemerintah
akan menarik sembilan juta tabung impor dari Australia dan Jepang yang tidak
mengantongi SNI.

"Saya sudah cek ke Sesmenko. Hasil pengecekan, tidak ada instruksi penarikan
sembilan juta tabung. Usul kami dari Kementerian Perindustrian, SPBE harus
melakukan pengecekan kondisi tabung pada waktu pengisian," kata Hidayat.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan,
pihaknya menyerahkan sepenuhnya masalah penarikan tabung elpiji 3 kg kepada
Kemenko Kesra. "Penarikan tabung gas kan sudah ditangani Menko Kesra,"
katanya. (A-150/A-156)***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=150750


2010/6/22 mh <[email protected]>

> Balad uing ngadongeng, yen manehna keur kuriak, kulantaran kitu sementara
> dapur rek dijadikeun
> keur rohangan kulawarga. Nu jadi masalah di dapur aya tabung gas elpiji,
> mangkaning ampir unggal
> poe dina TV sok wae aya beja tabung gas ngabeledug.
>
> Beu, lamun ngurus tabung gas wae urang teh teu bisa, kumaha rek ngurus
> nuklir atuh?
>
> =========
> Tak Usah Malu Akui Gagal Soal Elpiji
>
>

Kirim email ke