ha33x! kang jebe, uin asa dijebian yeuh. ulah sieun atuh da uin mah moderat.
alias kabeh bener, moal aya nu salah.
nu penting keur didunya kamanusaan mah, cukup ku ngalakonan hade jeung asih
ka sasama be. hn*0catea

2010/10/6 JeBe <[email protected]>

>
>
> Nu ujung2na pemikiran kitu teh, sugan ieu mah nya bah Oca, mawa kana
> pemikiran sufisme, nyaa jadi aliran deui wae..
> Angger weh eta ge ari pas keuna ka nu teu teteg mah jadi asa aing
> pangbenerna oge.
> Jadi? Ah kateuing atuh bah....
> Heheh....
>
> Sent from MobilePhone®
> ------------------------------
> *From: * "Roza R. Mintaredja" <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Wed, 6 Oct 2010 17:10:16 +0700
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *Re: [kisunda] Fw: Alam Semesta, Hawking, dan Tuhan
>
>
>
> AEH BAH WILLY, UIN KATAJI KU PAMADEGAN ANTHONY DE MELLO. GUSTI MAH AYA
> DIJERO BATIN MANUSA JEUNG KUDU DITAMBAHAN DINA PIKIRAN MANUSA. MUN CEUK QS
> AYAT JG SURATNA POHO, OGE MEMPERKUAT MELLO, YEN 'LEUWIH DEUKEUT TIBATAN URAT
> BEUHEUNG' SORANGAN LIN.? KATINGALNA ANU JADI PIRIBUTEUN TEH KUSABAB NEANGAN
> GUSTI KU METODA KALUAR TI 'DIRI". JADI WEH PAREBUT GUSTI AING ANU
> PANGBENERNA. CAG! *0catea
>
> 2010/10/5 Waluya <[email protected]>
>
>>
>>
>> Fisikawan teoritis kasohor Stephen Hawking, medalkeun buku anyar nu
>> kontroversial, "The Grand Design". Buku ieu "ngageunjleungkeun" sabab
>> nyebutkeun yen alam semesta (universe) kabentuk kitu wae, teu memerlukeun/
>> teu aya intervensi ti hal-hal supernatural (Tuhan). Kunaon Hawking boga
>> kacindekan kitu, beda jeung buku nu tiheula nu nyebut-nyebut ayana Tuhan?
>> Jansen H Sinamo, dina tulisan resensi buku dihandap ieu, ngira-ngira
>> Atheismeu sabenerna sarua jeung relijiusitas atawa fanatismeu bawaan
>> masing-masing (bakat insani/ pribadi).
>>
>> Hawking sigana geus tidituna boga "kecenderungan" Atheis, matak
>> kacindekanana ge jauh ti presepsi manehna. Ieu beda jeung Dr Abdus Salam,
>> fisikawan teoritis nu meunang hadiah Nobel, nu mere sambutan waktu narima
>> nobel bari nyutat ayat-ayat Al Quran. Dr Abdus Salam, jalma relijius,
>> penganut Akhamdyah anu taat.
>>
>> Nyanggakeun artikel resensina:
>>
>> Alam Semesta, Hawking, dan Tuhan
>> MINGGU, 3 OKTOBER 2010 | 04:25 WIB
>> JANSEN H SINAMO
>>
>> Sesekali fisikawan bisa juga membuat warta mengejutkan di tengah
>> perkibaran kabar korupsi, konflik, dan politik dewasa ini. Namun, yang mampu
>> berbuat begitu barangkali cuma figur sekaliber Stephen William Hawking,
>> bersama Leonard Mlodinow, melalui buku "The Grand Design" yang terbit 9
>> September lalu.
>>
>> Di halaman 8 buku yang tanpa pengantar itu, Hawking langsung menggebrak:
>> According to M-theory, ours is not the only universe. Instead, M-theory
>> predicts that a great many universes were created out of nothing. Their
>> creation does not require the intervention of some supernatural being or
>> god. Rather, these multiple universes arise naturally from physical law.
>> They are a prediction of science.
>>
>> Alinea inilah yang langsung berkibar di media Amerika dan Inggris, lalu
>> beredar ke seluruh dunia. Kabar ini—bisa ditebak—paling disambut hangat oleh
>> pentolan kaum ateis Inggris yang biologiman terkemuka, Richard Dawkins,
>> dengan berkata, "Darwinisme sudah menendang Tuhan dari biologi…. Sekarang
>> Hawking menyelenggarakan coup de grace."
>>
>> Kubu gereja langsung bereaksi. Imam yang psikolog dan teolog dari
>> Cambridge, Rev Dr Fraser N Watts, berkata, "Sang Pencipta menyediakan
>> penjelasan yang kredibel dan masuk akal tentang mengapa alam semesta ada,
>> dan… lebih mungkin ada Tuhan daripada tidak. Pandangan ini tidak tergerogoti
>> oleh apa yang dikatakan Hawking."
>>
>> Kalangan fisikawan tidak kurang kritisnya. Profesor Peter Woit dari
>> Universitas Columbia bahkan mencela telak buku ini: "Satu cara jitu
>> menaikkan penjualan buku semacam ini ialah dengan menyeret agama masuk.
>> Klaim yang rada konvensional 'Tuhan tak diperlukan' untuk menjelaskan fisika
>> dan kosmologi alam semesta awal menyulut publisitas besar bagi buku ini.
>> Saya lebih suka pada naturalisme dan tidak melibatkan Tuhan dalam fisika."
>>
>> Soal publisitas itu, saya sependapat dengan Peter Woit berdasarkan apa
>> yang ditulis Hawking sendiri di bukunya terdahulu, A Brief History of
>> Time—sudah 10 juta eksemplar terjual—bahwa setiap persamaan [matematika]
>> dalam bukunya akan mengurangi oplahnya hingga setengah. Hawking yang sadar
>> betul kekuatan publisitas kini menambah bensin ketenaran buku barunya—selain
>> tak ada rumus apa pun—dengan faktor tak perlunya peran Tuhan tadi. Boleh
>> jadi buku ini kelak berstatus mega-bestseller melebihi karier A Brief
>> History.
>>
>> ***
>>
>> Buku ini mengisahkan sejarah pemahaman fisika tentang alam semesta sejak
>> Yunani klasik. Pemahaman itu kemudian berbeda diametral dengan wacana
>> langit-bumi Perjanjian Lama yang geosentris ketika Copernicus dan Galileo
>> mengedepankan kosmologi baru yang heliosentris.
>>
>> Kosmologi modern semakin jauh berkembang sejak Einstein merumuskan
>> Relativitas Umum dan Hubble—terutama dengan teleskop atas namanya
>> kelak—mengamati bahwa alam semesta memang terus membalon secara akseleratif;
>> kini diketahui sudah 13,7 miliar tahun sejak dentuman besar.
>>
>> Terinspirasi oleh Maxwell yang dengan gemilang berhasil menyatukan
>> fenomena listrik, magnet, dan optik menjadi teori elektromagnetik yang
>> begitu kompak dan elegan, Einstein pun memelopori the holy grail of physics
>> abad ke-20: meringkas dan meringkus semua fenomena alam—yakni gaya
>> elektromagnetik, nuklir lemah, nuklir kuat, dan gravitasi—ke dalam satu
>> rumusan final dan ultimat. Inilah yang disebut Teori Segalahal.
>>
>> Hingga akhir hayatnya, Einstein tak berhasil dalam ikhtiar besar ini.
>> Kemudian dilanjutkan para fisikawan teori sejagat dan setakat ini Teori-M
>> adalah kandidat terkuat bagi teori akbar itu, yang banyak dibahas pada buku
>> ini dalam bahasa yang enak dibaca dan perlu. Konsekuensi teori inilah, jika
>> tuntas terumuskan, akan mengaminkan alinea heboh di atas.
>>
>> Di luar kesimpulan yang "rada prematur" itu, buku ini sendiri sangatlah
>> indah. Sebagai pembelajar fisika lebih dari 30 tahun, saya tetap saja
>> terpesona, baik dengan materi bahasannya yang dahsyat maupun oleh cara
>> Hawking yang begitu jernih menuturkannya.
>>
>> Seorang teman terpelajar dalam sosiologi berkata, "Jika orang fisika teori
>> mafhum The Grand Design, itu biasa. Orang teknik paham, itu juga wajar.
>> Tapi, orang yang cuma kenal fisika di SMA bisa terus membaca dan mengikuti
>> argumennya, itu luar bisa. Ilmuwan sosial seharusnya membaca buku ini."
>>
>> Hal itu benar belaka. Buku ini memang mempertontonkan in optima forma
>> bagaimana seharusnya berargumentasi, membangun wacana yang bermutu, dan
>> mengonstruksi teori yang bagus.
>>
>> Rahasia alam
>>
>> Rudolf Otto melukiskan perasaan tramendum et fascinans saat manusia
>> berhadapan dengan yang kudus, seperti Musa di Sinai menghadapi api di semak
>> kering yang tak terbakar. Namun, gentar dan takjub berdebar ternyata tidak
>> hanya perasaan kaum religius, para fisikawan juga—Hawking termasuk—saat
>> menghadapi rahasia alam yang mahamikro (interior atom) dan misteri kosmos
>> yang mahamakro (alam semesta), serta keajaiban kehadiran insan cerdas dalam
>> konstelasi itu di planet biru yang rentan ini.
>>
>> Ateisme barangkali adalah sebuah bakat insani, sama halnya dengan
>> religiusitas dan fanatisme. Masing-masing melihat hal-hal yang memperkuat
>> kecenderungan hatinya.
>>
>> Karen Armstrong dalam A History of God mengisahkan konsep Tuhan yang terus
>> berevolusi dalam sejarah kita, dan peran manusia di dalamnya ternyata tetap
>> utama membangun dunianya, terutama teologinya.
>>
>> Anthony de Mello bercerita tentang Tuhan yang memilih bersembunyi dalam
>> hati manusia, dan siapa tahu—di kedalaman batin itu—fisika Hawking pun
>> takkan sanggup menjamah-Nya, apalagi memeriksa-Nya.
>>
>> Jansen H Sinamo Fisikawan Lulusan ITB Tahun 1983, Sehari-hari Bekerja
>> sebagai Aktivis Etos Kerja, Tinggal di Jakarta
>>
>>
>   
>

Kirim email ke