Masyarakat Baduy bukan Pelarian

WARGA suku Baduy luar mengangkut kebutuhan sehari-hari melintasi rumah adat
di Kampung Kadu Ketug, Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Banten,
Rabu (8/4/2009). Masyarakat Baduy berpendapat, mereka merupakan keturunan
pertama yang langsung diciptakan Tuhan di muka bumi bernama Adam Tunggal.*
USEP USMAN NASRULLOH/"PR"

 Suku Baduy tinggal di sekitar pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan
Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yang merupakan tanah ulayat
sesuai dengan Perda Kabupaten Lebak No. 32 /2001 tentang Perlindungan Atas
Hak Tanah Ulayat Masyarakat Baduy. Luas total wilayahnya mencapai 5.136, 58
hektare.

Selama ini, sebagaimana suku lainnya, suku Baduy disebut suku terasing atau
masyarakat pedalaman. Namun, istilah tersebut kini tidak relevan lagi karena
dikonotasikan negatif sebagai masyarakat tertinggal, masyarakat terbelakang.
Untuk menyebut komunitas semacam Baduy sekarang menggunakan istilah
"masyarakat adat terpencil". Dengan demikian, walau menempati daerah
pedalaman yang terpencil, tak mengurangi jati diri dan martabat mereka
sebagai manusia.

Kendati dari segi istilah mengalami perubahan, suku Baduy masih menyisakan
beberapa perbedaan persepsi, misalnya tentang asal-asul dan prinsip
masyarakat Baduy. Persepsi yang beredar di kalangan masyarakat luar yang
bukan Baduy berbeda dengan persepsi masyarakat Baduy sendiri.

Ada pendapat mengatakan, asal-usul masyarakat Baduy sebagai bagian dari
Kerajaan Pajajaran. Masyarakat Banten yang dipimpin Raja Saka Domas (Pucuk
Umun) sebagai pemeluk animisme. Tahun 1525, Maulana Hasanuddin mengislamkan
Banten Utara secara berangsur-angsur, yang tidak masuk Islam mengungsi ke
Parahiyangan atau Cibeo, Kanekes, Banten ( Rafiudin dalam Iskandar dkk,
2001). Masih ada beberapa versi lain tentang asal-usul masyarakat Baduy yang
hampir sama.

Hal ini berbeda dengan pengakuan pemangku adat Baduy. Mereka berpendapat
bahwa masyarakat Baduy merupakan keturunan langsung manusia pertama yang
diciptakan Tuhan di muka bumi, bernama Adam Tunggal. Mereka meyakini
suku-suku bangsa lain di dunia bagian atau keturunan lanjutan dari masa lalu
mereka dengan tugas berbeda-beda. Tanah ulayat mereka diyakini pula sebagai
inti jagat (Dr. Ahmad Sihabudin M.Si. dan Asep Kurnia, 2010). Keyakinan
masyarakat Baduy tersebut persis seperti keyakinan masyarakat di sekitar
Gunung Merapi. Seperti di desa Mbah Maridjan yang meyakini tanah mereka
merupakan pusat kekuasaan di tanah Jawa.

Prinsip hidup

Asal-usul yang diyakini menjadi prinsip hidup masyarakat Baduy yang berlaku
hingga kini. Di antara prinsip yang diyakini adalah carek-lisan-khabar
(perintah, ucapan, dan berita) yang merupakan tugas kesukuan mereka
(wiwitan). Sementara lawan dari ketiga kata itu adalah coret-tulisan-gambar
yang merupakan tugas manusia modern di luar suku Baduy.

Sebagai implementasi carek-lisan-khabar, masyarakat Baduy tetap teguh
menggunakan tradisi lisan atau bahasa tutur. Lebih jauh, masyarakat Baduy
tak mau belajar di sekolah formal dengan alasan bisa merusak tatanan budaya
mereka. Akan tetapi, terutama Baduy luar (penamping), banyak yang pandai
baca-tulis.

Uniknya, seperti pengamatan penulis dan wawancara dengan beberapa penduduk
di sana, cara mereka belajar, yaitu ketika misalnya membeli sabun atau rokok
dihafal mereknya dan di rumah tulisan pada bungkusnya dipakai untuk belajar.
(Penduduk Baduy luar hampir mirip masyarakat bukan Baduy, mandi dengan
sabun, gosok gigi dengan pasta gigi, dan merokok). Atau, mereka belajar
baca-tulis dengan membentuk kelompok belajar di rumah yang dipandu para
sukarelawan.

Budaya masyarakat Baduy yang nonliterat dinilai sebagian kalangan sebagai
bentuk strategi mereka dalam melestarikan prinsip hidup dan adat istiadat
secara turun-menurun. Apa yang disampaikan oleh sesepuh berupa carek
(perintah), lisan (ucapan), dan khabar (berita). Dengan demikian, asal-usul
mereka pun sangat sulit dilacak, kemungkinan untuk menghindari kaji ulang
atau dikritisi.

Masyarakat Baduy juga tidak mengikuti gaya hidup modern. Masyarakat Baduy
luar sekalipun tak mau menggunakan listrik untuk penerangan. Mereka kukuh
menggunakan lampu tempel. Di Kampung Ciboleger, perbatasan antara
perkampungan Baduy dan perkampungan bukan Baduy, hanya dibedakan oleh bentuk
rumah. Rumah baduy berdinding bilik bambu dan beratap rumbia, sedangkan yang
lain berdinding tembok dan beratap genteng. Ketika malam tiba, perbedaan
kian kontras karena soal listrik tadi.

Lawan carek, lisan, dan khabar adalah coret, tulisan, dan gambar. Tiga kata
terakhir merupakan tugas kelompok manusia lain yang modern, yaitu meramaikan
dunia. Yang pada perkembangan mutakhir, adanya berbagai alat elektronik dan
komputerisasi. Ketiganya terpadu atau biasa disebut multimedia. Namun,
kemajuan yang terus bergerak bukan tanpa risiko. Berbagai persoalan terus
terjadi dan tak jarang menelan korban, termasuk manusia sendiri yang menjadi
korbannya.

Bukan pelarian

Banyak literatur tentang asal-usul masyarakat adat terpencil. Seperti halnya
Suku Tengger dan suku asing di sekitar pegunungan Bromo dan Pegunungan Ijen
di Jawa Timur. Mereka diam di daerah pegunungan karena terdesak seiring
runtuhnya Majapahit dan Blambangan.

Demikian halnya suku Baduy. Beberapa sejarah mengidentifikasi mereka ke
daerah pegunungan Kendeng karena terdesak seiring runtuhnya Pajajaran
setelah masuknya Islam di Banten. Namun, seperti diungkapkan di atas, suku
Baduy menolak disebut pelarian setelah terdesak dari proses islamisasi di
Banten Utara.

Terlepas pengakuan mana yang benar, terpenting adalah keberadaan masyarakat
adat terpencil tidak selayaknya diusik. Keberadaannya sangat berarti bagi
kelangsungan kosmologi. Diketahui, topografi Provinsi Banten terdiri atas
empat kota dan empat kabupaten. Kota Serang, Tangerang, Tangerang Selatan,
Cilegon, Kabupaten Serang, Tangerang, Lebak, dan Pandeglang.

Dari wilayah tersebut, sebagian besar telah padat, berupa kawasan industri
ataupun perumahan yang ekologinya sudah terganggu akibat pesatnya proses
pembangunan. Tinggal dua daerah, Lebak dan Pandeglang yang relatif masih
memiliki kawasan alami. Di Lebak, ada kawasan tanah ulayat masyarakat Baduy.
Sementara di Pandeglang, ada kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon.

Sangat naif jika Baduy, komunitas masyarakat adat terpencil yang menjaga
keseimbangan alam dan keharmonisan sosial terus diusik dan dipolitisasi.
Jika terus diusik, akan berakibat pada rusaknya lingkungan dan lunturnya
keyakinan serta adat istiadat mereka sebagai bentuk kearifan lokal. Biarlah
mereka bertahan bersama budaya tradisi carek, lisan, dan khabar. (Sumarno,
pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Tangerang, Banten)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165655

Kirim email ke