Sabenerna mah eta balikeun deui ka uang baduy rek kumaha ngigelan jaman nu 
ubahna eksponesial (kawas microchip bae nya!). Hukum alam pan silih simbeuh, 
silih adu pangaruh ayeuna mun ceuk urang luar baduy mah pan tos globalisasi, 
watesna lain baduy-banten tapi tos leuwih lega. Kumaha oge  
ucap mang Darwin teu 
bisa disapirakeun " survival for the fittest", tangtuna konteksna leuwih lega 
tina survival geografi, wilayah nepi ka adu isme, pamikiran.

Keur urang sunda khususna urang priangan mang Darwin tos teu bireuk margi 
sunda na tos sunda mataraman, tangtuna bisa oge mun aya nu nyebut aya sunda 
aaraban, wawalandaan, aamerikaan jste. Eta konsekuensi "bersosialisasi, 
berkomunikasi" nu dina sisi dominasi aya pamadegan Darwinisme.

Makarya Mawa Raharja




________________________________
Dari: mh <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Terkirim: Jum, 26 November, 2010 12:30:44
Judul: [kisunda] Kampung Adat - Baraya Kanekes?

  
Masyarakat Baduy bukan Pelarian

 
WARGA suku Baduy luar mengangkut kebutuhan sehari-hari melintasi rumah adat di 
Kampung Kadu Ketug, Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Banten, Rabu 
(8/4/2009). Masyarakat Baduy berpendapat, mereka merupakan keturunan pertama 
yang langsung diciptakan Tuhan di muka bumi bernama Adam Tunggal.* USEP USMAN 
NASRULLOH/"PR"Suku Baduy tinggal di sekitar pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, 
Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yang merupakan tanah 
ulayat sesuai dengan Perda Kabupaten Lebak No. 32 /2001 tentang Perlindungan 
Atas Hak Tanah Ulayat Masyarakat Baduy. Luas total wilayahnya mencapai 5.136, 
58 
hektare.
Selama ini, sebagaimana suku lainnya, suku Baduy disebut suku terasing atau 
masyarakat pedalaman. Namun, istilah tersebut kini tidak relevan lagi karena 
dikonotasikan negatif sebagai masyarakat tertinggal, masyarakat terbelakang. 
Untuk menyebut komunitas semacam Baduy sekarang menggunakan istilah "masyarakat 
adat terpencil". Dengan demikian, walau menempati daerah pedalaman yang 
terpencil, tak mengurangi jati diri dan martabat mereka sebagai manusia.
Kendati dari segi istilah mengalami perubahan, suku Baduy masih menyisakan 
beberapa perbedaan persepsi, misalnya tentang asal-asul dan prinsip masyarakat 
Baduy. Persepsi yang beredar di kalangan masyarakat luar yang bukan Baduy 
berbeda dengan persepsi masyarakat Baduy sendiri.
Ada pendapat mengatakan, asal-usul masyarakat Baduy sebagai bagian dari 
Kerajaan 
Pajajaran. Masyarakat Banten yang dipimpin Raja Saka Domas (Pucuk Umun) sebagai 
pemeluk animisme. Tahun 1525, Maulana Hasanuddin mengislamkan Banten Utara 
secara berangsur-angsur, yang tidak masuk Islam mengungsi ke Parahiyangan atau 
Cibeo, Kanekes, Banten ( Rafiudin dalam Iskandar dkk, 2001). Masih ada beberapa 
versi lain tentang asal-usul masyarakat Baduy yang hampir sama.
Hal ini berbeda dengan pengakuan pemangku adat Baduy. Mereka berpendapat bahwa 
masyarakat Baduy merupakan keturunan langsung manusia pertama yang diciptakan 
Tuhan di muka bumi, bernama Adam Tunggal. Mereka meyakini suku-suku bangsa lain 
di dunia bagian atau keturunan lanjutan dari masa lalu mereka dengan tugas 
berbeda-beda. Tanah ulayat mereka diyakini pula sebagai inti jagat (Dr. Ahmad 
Sihabudin M.Si. dan Asep Kurnia, 2010). Keyakinan masyarakat Baduy tersebut 
persis seperti keyakinan masyarakat di sekitar Gunung Merapi. Seperti di desa 
Mbah Maridjan yang meyakini tanah mereka merupakan pusat kekuasaan di tanah 
Jawa.
Prinsip hidup
Asal-usul yang diyakini menjadi prinsip hidup masyarakat Baduy yang berlaku 
hingga kini. Di antara prinsip yang diyakini adalah carek-lisan-khabar 
(perintah, ucapan, dan berita) yang merupakan tugas kesukuan mereka (wiwitan). 
Sementara lawan dari ketiga kata itu adalah coret-tulisan-gambar yang merupakan 
tugas manusia modern di luar suku Baduy.
Sebagai implementasi carek-lisan-khabar, masyarakat Baduy tetap teguh 
menggunakan tradisi lisan atau bahasa tutur. Lebih jauh, masyarakat Baduy tak 
mau belajar di sekolah formal dengan alasan bisa merusak tatanan budaya mereka. 
Akan tetapi, terutama Baduy luar (penamping), banyak yang pandai baca-tulis.
Uniknya, seperti pengamatan penulis dan wawancara dengan beberapa penduduk di 
sana, cara mereka belajar, yaitu ketika misalnya membeli sabun atau rokok 
dihafal mereknya dan di rumah tulisan pada bungkusnya dipakai untuk belajar. 
(Penduduk Baduy luar hampir mirip masyarakat bukan Baduy, mandi dengan sabun, 
gosok gigi dengan pasta gigi, dan merokok). Atau, mereka belajar baca-tulis 
dengan membentuk kelompok belajar di rumah yang dipandu para sukarelawan.
Budaya masyarakat Baduy yang nonliterat dinilai sebagian kalangan sebagai 
bentuk 
strategi mereka dalam melestarikan prinsip hidup dan adat istiadat secara 
turun-menurun. Apa yang disampaikan oleh sesepuh berupa carek (perintah), lisan 
(ucapan), dan khabar (berita). Dengan demikian, asal-usul mereka pun sangat 
sulit dilacak, kemungkinan untuk menghindari kaji ulang atau dikritisi.
Masyarakat Baduy juga tidak mengikuti gaya hidup modern. Masyarakat Baduy luar 
sekalipun tak mau menggunakan listrik untuk penerangan. Mereka kukuh 
menggunakan 
lampu tempel. Di Kampung Ciboleger, perbatasan antara perkampungan Baduy dan 
perkampungan bukan Baduy, hanya dibedakan oleh bentuk rumah. Rumah baduy 
berdinding bilik bambu dan beratap rumbia, sedangkan yang lain berdinding 
tembok 
dan beratap genteng. Ketika malam tiba, perbedaan kian kontras karena soal 
listrik tadi.
Lawan carek, lisan, dan khabar adalah coret, tulisan, dan gambar. Tiga kata 
terakhir merupakan tugas kelompok manusia lain yang modern, yaitu meramaikan 
dunia. Yang pada perkembangan mutakhir, adanya berbagai alat elektronik dan 
komputerisasi. Ketiganya terpadu atau biasa disebut multimedia. Namun, kemajuan 
yang terus bergerak bukan tanpa risiko. Berbagai persoalan terus terjadi dan 
tak 
jarang menelan korban, termasuk manusia sendiri yang menjadi korbannya.
Bukan pelarian
Banyak literatur tentang asal-usul masyarakat adat terpencil. Seperti halnya 
Suku Tengger dan suku asing di sekitar pegunungan Bromo dan Pegunungan Ijen di 
Jawa Timur. Mereka diam di daerah pegunungan karena terdesak seiring runtuhnya 
Majapahit dan Blambangan.
Demikian halnya suku Baduy. Beberapa sejarah mengidentifikasi mereka ke daerah 
pegunungan Kendeng karena terdesak seiring runtuhnya Pajajaran setelah masuknya 
Islam di Banten. Namun, seperti diungkapkan di atas, suku Baduy menolak disebut 
pelarian setelah terdesak dari proses islamisasi di Banten Utara.
Terlepas pengakuan mana yang benar, terpenting adalah keberadaan masyarakat 
adat 
terpencil tidak selayaknya diusik. Keberadaannya sangat berarti bagi 
kelangsungan kosmologi. Diketahui, topografi Provinsi Banten terdiri atas empat 
kota dan empat kabupaten. Kota Serang, Tangerang, Tangerang Selatan, Cilegon, 
Kabupaten Serang, Tangerang, Lebak, dan Pandeglang. 

Dari wilayah tersebut, sebagian besar telah padat, berupa kawasan industri 
ataupun perumahan yang ekologinya sudah terganggu akibat pesatnya proses 
pembangunan. Tinggal dua daerah, Lebak dan Pandeglang yang relatif masih 
memiliki kawasan alami. Di Lebak, ada kawasan tanah ulayat masyarakat Baduy. 
Sementara di Pandeglang, ada kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon.
Sangat naif jika Baduy, komunitas masyarakat adat terpencil yang menjaga 
keseimbangan alam dan keharmonisan sosial terus diusik dan dipolitisasi. Jika 
terus diusik, akan berakibat pada rusaknya lingkungan dan lunturnya keyakinan 
serta adat istiadat mereka sebagai bentuk kearifan lokal. Biarlah mereka 
bertahan bersama budaya tradisi carek, lisan, dan khabar. (Sumarno, pemerhati 
masalah sosial budaya, tinggal di Tangerang, Banten)*** 


http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165655



Kirim email ke