tulisan dihandap ieu pangalaman kuring jeung urang Kanekes. Punten teu disundakeun. Kenging copy paste ti www.staff.blog.ui.ac.iud
baktos, mrachmatrawyani Urang Kanekes Jual Madu Pagi ini di (29/09) dekat tempat parkir motor Gedung Pusat Administrasi Universitas (Rektorat) ada orang Kanekes (Baduy) menunggu orang yang mau membeli madu dari gunung. Sudah sejak tahun 1990 an orang ini menjual madu di kampus Depok. Baru kali ini lagi kelihatan. Berperawakan kecil, mata kanannya picek , memakai baju pangsi hitam dan memakai ikat kepala warna biru (warna khas orang Kanekes) Yang luar biasa orang Kanekes ini awet muda, masih seperti dulu ketika pertama kali bertemu. Padahal usianya menurut pengakuannya sudah 70 tahun. Pertemuan kali ini, dia membawa anaknya yang nomor dua, mungkin usianya sekitar 40 tahunan. Kalau dulu harga satu botol madu Rp 25.000 kini dia menawarkan dengan harga Rp 50.000. Semua orang yang melewati dia seperti tidak peduli. Tidak heran, karena kebanyakan para pegawai di lingkungan pusat administrasi kebanyakan orang-orang baru. Jaman dulu ketika Dra. Farida Ibrahim, dosen Farmasi FMIPA UI menjabat sebagai Kepala Biro administrasi Kemahasiswaan, madu orang Kanekes selalu habis diborong dan dijual di Klinik Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM). Secara rutin dia datang setiap dua bulan atau tiga bulan sekali. Ketika Dra. Farida Ibrahim sudah tidak bertugas di Rektorat, Kedatangan Orang Kanekes semakin jarang. Lalu di Rektorat datang penjual madu dari daerah Rajagaluh Majalengka yang menjajakan madu dari Sumatera. Berbeda dengan orang Kanekes yang mengandalkan penjualan madunya pada orang yang datang melewatinya, maka penjual madu dari Majalengka ini mencari pelanggan tetap dengan mendatangi ruangan per ruangan di Rektorat. Dan penulis adalah salah satu pelanggannya, karena merasa sama-sama berasal dari daerah Majalengka. Dan juga Kenapa Dra. Farida Ibrahim selalu memborong madu yang dijual orang Kanekes, ternyata Kampung halamannya di Menes daerah Banten yang juga daerahnya Orang Kanekes. Yang patut dikagumi dari Orang Kanekes ini, kegigihannya berjualan madu dari dulu hingga sekarang. Sampai dia sengaja khusus membawa anaknya ke Kampus Depok, mungkin dalam rangka regenerasi, kalau nanti suatu saat bisa menggantikan bapaknya berjualan madu di Kampus UI. Ada sifat dasar orang Kanekes yang luar biasa yang barangkali tidak dipunyai suku lain. Kalau kita memberi alamat kepadanya walaupun tidak jelas rt rwnya, jangan heran kalau suatu saat kemudian akan kedatangan orang Kanekes tersebut. Entah bagaimana caranya mereka bisa menemukan alamat tersebut. Bayangkan, mereka dari daerahnya berjalan kaki untuk menuju rumah kita. Jadi kalau kita merasa masih saudara dengan orang Kanekes, jika kita di jalan bertemu dengan mereka, alangkah baiknya kalau mereka kita bantu dengan menanyakan mau kemana dan mau bertemu siapa, sehingga tidak terlalu lama berputar-putar mencari alamat yang hendak dituju. Kalau kita tawarkan untuk naik kendaraan, pasti mereka akan menolaknya mentah-mentah. ________________________________ From: JeBe <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, December 1, 2010 2:31:42 PM Subject: Re: [kisunda] Kampung Adat - Baraya Kanekes? Gakgakgak.... Resep ari rame teh Keu bae euweuh eusian ge, ngarah haneuteun... Sent from MobilePhone® ________________________________
