Kutan teh kitu Ibi, ari sugan teh eta lilin baris jadi penerang jiwa, upama tos kateureuy buleud mah. hehehe
2011/1/27 <[email protected]> > > > Pasti nanaon abah.... > Karunya we engke lambut kedah ngagiling lilin. > Tiasa oge disemprot formalin, janten jengker.... Maksud na teh.. Boh > cengek-na, nya kitu deui nu nuang na. > Tangtangan kanggo ngaronjatkeun produksi lokal yeuh... Yu ah urang melak > cengek diburuan > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * "JeBe" <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Thu, 27 Jan 2011 02:50:07 +0000 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah > > > > Duka disemprot formalin :D > Tapi cenah mah kirang laku bah, da (cenah oge) kirang lada cabena nu impor > mah > > Sent from MobilePhone® > ------------------------------ > *From: * mh <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Thu, 27 Jan 2011 10:48:17 +0800 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah > > > > Kutan kitu Ibi? Moal matak aya nanaon eta teh, mun jeruk, cengek diwedakan > lilin? > Mun direndos keur ngaredok, rada liat eta sakadang cengek teh. > > 2011/1/27 <[email protected]> > >> >> >> Ngarah awet, dilapisan ku lilin heula panginten (azas praduga ta' bersalah >> teaa)... Pleus! Ngarah matak pikabitaeun. Teu nyangka nya di china oge aya >> pelak cengek >> >> Powered by Telkomsel BlackBerry® >> ------------------------------ >> *From: * mh <[email protected]> >> *Sender: * [email protected] >> *Date: *Thu, 27 Jan 2011 10:25:26 +0800 >> *To: *<[email protected]> >> *ReplyTo: * [email protected] >> *Subject: *Re: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah >> >> >> >> Saliwatan mah cabe impor teh pating gurilap, herang ngagenclang, jiga >> palastik. >> Mun dikirim ti Cina, bisa tahan lila kitu nya? >> Cing kunaon nya bisa tahan lila >> >> 2011/1/26 <[email protected]> >> >>> >>> >>> Cabai China Pun Menyerbu Indonesia >>> >>> JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah dua pekan terakhir cabai rawit merah impor >>> dari China dan Thailand menyerbu pasar Jakarta dan sekitarnya. Para pedagang >>> mencampur rawit impor yang harganya lebih murah dengan rawit lokal untuk >>> menekan harga cabai, yang di pasar Depok mencapai Rp 120.000 per kilogram. >>> >>> click to enlarge >>> >>> Rum (50), Nuryanto (28), Rudy (29), dan Totok (25), pedagang yang ditemui >>> di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (24/1/2011), mengatakan, serbuan >>> rawit impor ke pasar induk sudah berlangsung sejak dua pekan lalu. >>> >>> Menurut mereka, harga rawit merah dari Thailand yang berukuran kecil Rp >>> 55.000 per kg, sedangkan yang lebih besar Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Para >>> pedagang cabai yang membeli rawit dari para pedagang besar di pasar induk >>> mencampur rawit Thailand dengan rawit merah lokal yang harganya masih Rp >>> 90.000 per kg. Dengan demikian, harga jual rawit merah oplosan di tingkat >>> konsumen bisa ditekan. >>> >>> Rudy dan Rum mengatakan, konsumen paling menggemari rawit merah lokal. >>> Mereka lebih baik tidak makan rawit kalau rawitnya dari jenis lain, seperti >>> rawit hijau dan rawit putih. Itu sebabnya, sejak harga rawit merah >>> melambung, pasar rawit dari semua jenis melemah. >>> >>> Untuk membangkitkan pasar rawit, para pedagang menengah dan pengecer >>> kemudian mencampur rawit merah lokal dengan rawit merah Thailand yang >>> berukuran kecil. >>> >>> ”Itu sebabnya, rawit caplak (rawit merah Thailand) yang kecil lebih mahal >>> harganya daripada rawit caplak yang besar. Rawit caplak yang besar tidak >>> bisa disamar dalam rawit merah campuran, sedangkan rawit caplak yang kecil >>> bisa,” ujar Rudy. >>> >>> Pedagang pengecer, Herianto (42), mengaku menjual rawit merah campuran >>> seharga Rp 85.000 per kg. ”Saat ini jauh lebih menguntungkan berdagang rawit >>> merah campuran,” katanya. >>> >>> Pedagang cabai di Pasar Cengkareng, Jakarta Barat, Sumiyatun, mengatakan, >>> rawit merah China dijual Rp 60.000 per kg, sedangkan rawit merah lokal >>> dijual Rp 80.000 per kg. >>> >>> Di Pasar Kramat Jati, rawit hijau dari Wonosobo, Jawa Tengah, dijual Rp >>> 35.000 per kg, sementara rawit putih (rawit berwarna krem kekuningan) dijual >>> Rp 37.000 per kg. >>> >>> Masih tinggi >>> >>> Di Depok, kemarin, harga rawit merah mencapai Rp 120.000 per kg. >>> Berdasarkan pengamatan Kompas, bentuk rawit merah ini sama dengan rawit >>> merah Thailand dan China. Saat ditanya mengenai kemungkinan ini, para >>> pedagang menjawab tak tahu. Meski demikian, mereka memastikan bahwa rawit >>> merah itu produksi tanaman lokal. >>> >>> Harga cabai rawit merah di Depok pada tiga hari sebelumnya masih mencapai >>> Rp 90.000 per kg. Para pedagang pengecer tidak tahu apa pemicunya sehingga >>> harga cabai rawit merah kembali melambung. >>> >>> ”Saya terpaksa menjual dengan harga ini karena harga dari bandar Rp >>> 110.000 per kg,” tutur Wiji (38), pedagang bumbu di Pasar Depok Jaya, Kota >>> Depok, Jawa Barat, Senin. >>> >>> Menurut Wiji, rawit merah yang dia jual itu kualitas super sehingga >>> harganya tinggi. Hal itulah yang membuat Wiji tak berani menjual bahan pokok >>> tersebut dalam jumlah besar. Dalam sehari dia hanya berani menjual 1 >>> kilogram rawit merah. >>> >>> Hanya berjarak kurang dari 1 kilometer, di Pasar Kemiri Muka, Depok, >>> Senin sore, harga cabai rawit merah Rp 100.000 per kg. Pedagang Pasar Kemiri >>> Muka, Anis (50), yang menjual 3 kg cabai rawit merah, mengaku, cabai yang >>> dia jual dari kemarin belum juga habis. >>> >>> Anis menjual rawit yang berbeda jenis dengan pedagang lain, tetapi >>> harganya sama dengan harga cabai rawit merah. ”Saya tidak tahu ini cabai >>> dari mana. Saya beli di sini (Pasar Kemiri Muka) dari bandar dan saya jual >>> di sini juga,” kata Anis. >>> >>> Harga rawit merah lokal di Pasar Cengkareng masih berkisar Rp 80.000 per >>> kg. Adapun cabai merah keriting dijual Rp 50.000 per kg, turun dari semula >>> Rp 58.000 per kg. (NDY/NEL/ART/FRO/PIN/WIN) >>> >> >>
