Ngawetkeun anu ku lilin salian ti cengek popular oge ka apel.  

Tapi hasil panalungtikan aya gentosna nyelupkeunana sanes kanu lilin anu bahaya 
tapi kanu larutan chitosan , chitosan teh kenging tinu kitin atawa cangkang 
hurang anu atos ngarandapan tahap dilarutkeun, sipatna ieu engke sami sareng 
pelastik / lilin tapi ieu mah aman. Moal cangcaya.

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Dede Tursandi
Sent: Thursday, January 27, 2011 11:18 PM
To: [email protected]
Subject: Bls: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah

 

  

ke punteun motong heula perkawis cengek nu dibedakan lilin teh tiasa jadi awet 
jeung kinclong salirana... saurna mah nya
ke... ke... ke.... asa jadi gaduh ideu ieu teh.. Image removed by sender. 
kumaha nya upami pun istri dibedakan lilin tiasa awet anom sareung kinclong 
moal nya, manawi we tiasa pengkeur alias moal karijut najan dugi ka janten 
nini-nini Image removed by sender. 
(banyol mode on) 

 

  _____  

Dari: mh <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 26 Januari, 2011 21:48:17
Judul: Re: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah

  

Kutan kitu Ibi? Moal matak aya nanaon eta teh, mun jeruk, cengek diwedakan 
lilin?
Mun direndos keur ngaredok, rada liat eta sakadang cengek teh.

2011/1/27 <[email protected]>

  

Ngarah awet, dilapisan ku lilin heula panginten (azas praduga ta' bersalah 
teaa)... Pleus! Ngarah matak pikabitaeun. Teu nyangka nya di china oge aya 
pelak cengek 

Powered by Telkomsel BlackBerry®

  _____  

From: mh <[email protected]> 

Sender: [email protected] 

Date: Thu, 27 Jan 2011 10:25:26 +0800

To: <[email protected]>

ReplyTo: [email protected] 

Subject: Re: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah

 

  

Saliwatan mah cabe impor teh pating gurilap, herang ngagenclang, jiga palastik.
Mun dikirim ti Cina, bisa tahan lila kitu nya?
Cing kunaon nya bisa tahan lila

2011/1/26 <[email protected]>

  

Cabai China Pun Menyerbu Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah dua pekan terakhir cabai rawit merah impor dari 
China dan Thailand menyerbu pasar Jakarta dan sekitarnya. Para pedagang 
mencampur rawit impor yang harganya lebih murah dengan rawit lokal untuk 
menekan harga cabai, yang di pasar Depok mencapai Rp 120.000 per kilogram.

click to enlarge 

Rum (50), Nuryanto (28), Rudy (29), dan Totok (25), pedagang yang ditemui di 
Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (24/1/2011), mengatakan, serbuan rawit 
impor ke pasar induk sudah berlangsung sejak dua pekan lalu.

Menurut mereka, harga rawit merah dari Thailand yang berukuran kecil Rp 55.000 
per kg, sedangkan yang lebih besar Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Para pedagang 
cabai yang membeli rawit dari para pedagang besar di pasar induk mencampur 
rawit Thailand dengan rawit merah lokal yang harganya masih Rp 90.000 per kg. 
Dengan demikian, harga jual rawit merah oplosan di tingkat konsumen bisa 
ditekan.

Rudy dan Rum mengatakan, konsumen paling menggemari rawit merah lokal. Mereka 
lebih baik tidak makan rawit kalau rawitnya dari jenis lain, seperti rawit 
hijau dan rawit putih. Itu sebabnya, sejak harga rawit merah melambung, pasar 
rawit dari semua jenis melemah.

Untuk membangkitkan pasar rawit, para pedagang menengah dan pengecer kemudian 
mencampur rawit merah lokal dengan rawit merah Thailand yang berukuran kecil.

”Itu sebabnya, rawit caplak (rawit merah Thailand) yang kecil lebih mahal 
harganya daripada rawit caplak yang besar. Rawit caplak yang besar tidak bisa 
disamar dalam rawit merah campuran, sedangkan rawit caplak yang kecil bisa,” 
ujar Rudy.

Pedagang pengecer, Herianto (42), mengaku menjual rawit merah campuran seharga 
Rp 85.000 per kg. ”Saat ini jauh lebih menguntungkan berdagang rawit merah 
campuran,” katanya.

Pedagang cabai di Pasar Cengkareng, Jakarta Barat, Sumiyatun, mengatakan, rawit 
merah China dijual Rp 60.000 per kg, sedangkan rawit merah lokal dijual Rp 
80.000 per kg.

Di Pasar Kramat Jati, rawit hijau dari Wonosobo, Jawa Tengah, dijual Rp 35.000 
per kg, sementara rawit putih (rawit berwarna krem kekuningan) dijual Rp 37.000 
per kg.

Masih tinggi

Di Depok, kemarin, harga rawit merah mencapai Rp 120.000 per kg. Berdasarkan 
pengamatan Kompas, bentuk rawit merah ini sama dengan rawit merah Thailand dan 
China. Saat ditanya mengenai kemungkinan ini, para pedagang menjawab tak tahu. 
Meski demikian, mereka memastikan bahwa rawit merah itu produksi tanaman lokal.

Harga cabai rawit merah di Depok pada tiga hari sebelumnya masih mencapai Rp 
90.000 per kg. Para pedagang pengecer tidak tahu apa pemicunya sehingga harga 
cabai rawit merah kembali melambung.

”Saya terpaksa menjual dengan harga ini karena harga dari bandar Rp 110.000 per 
kg,” tutur Wiji (38), pedagang bumbu di Pasar Depok Jaya, Kota Depok, Jawa 
Barat, Senin.

Menurut Wiji, rawit merah yang dia jual itu kualitas super sehingga harganya 
tinggi. Hal itulah yang membuat Wiji tak berani menjual bahan pokok tersebut 
dalam jumlah besar. Dalam sehari dia hanya berani menjual 1 kilogram rawit 
merah.

Hanya berjarak kurang dari 1 kilometer, di Pasar Kemiri Muka, Depok, Senin 
sore, harga cabai rawit merah Rp 100.000 per kg. Pedagang Pasar Kemiri Muka, 
Anis (50), yang menjual 3 kg cabai rawit merah, mengaku, cabai yang dia jual 
dari kemarin belum juga habis.

Anis menjual rawit yang berbeda jenis dengan pedagang lain, tetapi harganya 
sama dengan harga cabai rawit merah. ”Saya tidak tahu ini cabai dari mana. Saya 
beli di sini (Pasar Kemiri Muka) dari bandar dan saya jual di sini juga,” kata 
Anis.

Harga rawit merah lokal di Pasar Cengkareng masih berkisar Rp 80.000 per kg. 
Adapun cabai merah keriting dijual Rp 50.000 per kg, turun dari semula Rp 
58.000 per kg. (NDY/NEL/ART/FRO/PIN/WIN)

 

 

 

 



<<~WRD000.jpg>>

<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke