Peluang bisnis tah.
saha nu rek miluan.

(kuring ngomporan meh engke pas hayang boga imah tina awi, geus aya baraya di milis anu bisa mangnyieunkeun. he..he..he..)

On 02/23/2011 10:00 AM, oman abdurahman wrote:

Warta di dieu : http://old.id.news.yahoo.com/yn/20110222/twl-kata-pakar-bumi-pada-2050-makin-suli-311bf9a.html nguatkeun deui prediksi yen dunya ka hareup baris teu puguh rupa alatan sumber alamna dikedukan pikeun nyumponan pangabutuh manusa, diantarana: sumber daya alam mineral bahan nyieun imah/bangunan, kayaning pasir kwarsa, batu kapur atawa batugamping, lempung, jst; lian ti bahan energi (batubara, minyakbumi, jsb).


Lian ti manfaat keur konservasi sumber daya alam mineral, awi keur nyieun imah oge manfaat pikeun imah anu tahan kana pangoyag-ngoyag akibat lini (gempa). Imah tina awi, payus (pas pisan) lamun diramekeun/dibudayakeun di Tatar Sunda anu aya dina jalur gempa saperti Bandung Kidul, Garut kidul, jeung Tatar Priangan Timur beulah kidul sejenna. Jalur gempa (mikrozonasi gempa) bisa diteangan datana ti kantor kuring (Badan Geologi).

Informasi ti Mh di handap ieu nguatkeun gagasan atawa ideu di luhur, yen imah tina awi bisa jadi solusi pikeun rumah tahan gempa anu baris manfaat keur ngurangan korban atawa risiko gempa. Panalungtikan ti bagean gempa di kantor kuring netelakeun yen tina kajadian gempa Tasikmalaya taun kamari, tetela imah-imah anu dijieun tina awi (boh sagemblengna atawa sabageanana tina awi) lumayan salamet nepi ka rada salamet tina runtuh akibat gempa. Jadi, gagasan atawa ideu anu kasebut di luhur tadi oge sakumaha dina postingan Mh di handap ieu geus meunang panguat atawa proofing tina hasil obeservasi.

Kukituna, hade kacida upama Pemerintah Jabar oge sakabeh golongan masyarakat ngayakeun kampanye imah awi (rumah bambu) pikeun imah tahan gempa, utamana pikeun daerah-daerah jalur gempa di Jawa Barat. Anu perlu teh kumaha sangkan masyarakat di eta wewengkon ngarasa pede sok sanajan imahna tina awi. Dina lebah dieu, urusan disain (model aristektur imah, anu ieu bagean kang Oca oge Mang Jamal) jeung sosialisasi manfaatna perlu dilakukeun.

baktosna,
manar



2011/2/23 Ki Hasan <[email protected] <mailto:[email protected]>>

    Rumah Bambu Tahan Gempa

    Jumat, 18 Februari 2011 | 11:00 WIB

    Dulu, rumah bambu identik dengan rumah sederhana milik
    keluarga-keluarga miskin dan pas-pasan. Namun, kini, banyak orang
    memandang rumah bambu sebagai bangunan tradisional dengan nuansa
    pedesaan dan ramah lingkungan. Arsitekturnya pun semakin canggih.

    Makanya, rumah bambu sekarang tak sekadar berfungsi sebagai rumah
    tinggal saja. Tapi juga untuk rumah makan, tempat santai, bahkan
    tempat ibadah, seperti dikutip dari Kontan. Salah satu pembuat
    rumah bambu adalah Yuyus Sunandar. Ia mendapat ide ini ketika
    bencana tsunami menerjang Aceh pada 2004. Dia pun memproduksi
    rumah bambu sejak 2005.

    Menurut Yunus, rumah bambu bisa jadi alternatif tempat tinggal
    yang tahan gempa karena tingkat elastisitasnya tinggi. Selain itu,
    "Bahan bakunya mudah dan murah didapat," kata lelaki 28 tahun ini.
    Yuyus kemudian mendirikan usaha produksi rumah bambu bernama NG
    Bersaudara di Kedawung, Lemahabang, Karawang, Jawa Barat. NG
    merupakan singkatan dari Nice Green. Pesanan tak hanya datang dari
    Jawa, Yuyus kerap mendapat order dari Bali. Pesanannya mulai dari
    saung hingga rumah. Sebulan, tiga sampai lima pesanan datang ke NG
    Bersaudara.

    Yuyus menetapkan minimal pesanan rumah satu kamar ukuran 30 meter
    persegi dengan harga Rp 1,25 juta per meter persegi. Tiap bulan
    omzetnya mencapai Rp 112,5 juta. "Prospek usaha rumah bambu bagus
    karena permintaan terus bertambah," ungkap dia. Pemesan biasanya
    sudah memiliki rancangan sendiri sehingga Yuyus tinggal
    membangunnya saja. Tapi, ada juga pemesan yang meminta Yuyus
    merancang dan membangunnya. Pesanan juga pernah datang dari luar
    negeri. "Ada juga pemesan dari Tahiti. Jadi, rancangan rumah bambu
    dan bahan-bahannya kami kirim. Di sana tinggal dipasang," ujarnya.

    Yuyus mendapatkan bahan baku bambu dari Garut, Tasikmalaya,
    Banten, dan Bali. Jenisnya beragam, mulai dari bambu wulung atau
    bambu hitam, bambu tali, dan bambu betung. Harganya bambu
    berdiameter 7 centimeter (cm) saat ini Rp 8.000 hingga Rp 10 ribu
    per batang. Lalu, harga bambu dengan diameter 15 cm sampai 20 cm
    bisa lebih dari Rp 20 ribu per batang. Harga bambu ini menanjak
    sejak akhir 2010. "Terakhir harganya Rp 5.000 per batang untuk
    bambu berdiameter 7 cm," kata Yuyus. Bambu, ia menjelaskan,
    dipakai sebagai tiang dan bahan anyaman untuk dinding dan
    langit-langit rumah.

    Namun, Yunus tak melulu memakai bambu. Terkadang, ia juga
    menggunakan indukan kayu kelapa untuk tiang dan lantai rumah.
    Biasanya, dia mendatangkan indukan kayu kelapa dari Sulawesi dan
    Lampung. Harganya Rp 1,7 juta sampai Rp 2,75 juta per meter kubik.
    "Harga termahal indukan kayu kelapa yang sudah tua, yang usianya
    bisa 150 tahun," ucap Yuyus.

    Pemain lainnya adalah Undagi Jatnika Nagamiharja di Cibinong,
    Bogor. Dia membagi produknya menjadi dua tipe, yaitu rumah
    tradisional dan semi permanen. Rumah tradisional memakai bambu
    untuk seluruh bagian. Sementara, atapnya terbuat dari ilalang.
    Kalau semi permanen, atapnya terbuat dari genteng dengan lantai
    keramik, kusen dari kayu, dan kamar mandi terbuat dari dinding.

    Jatnika mematok harga rumah tradisional Rp 1,2 juta per meter
    persegi dan semi permanen Rp 1,7 juta per meter persegi. Ia
    mengerjakan rumah bambu minimal ukuran 40 meter persegi. Dalam
    sebulan Jatnika rata-rata mengerjakan dua pesanan. Omzetnya
    mencapai Rp 96 juta per bulan.

    Rumah bambu, Jatnika menjelaskan, bisa dipakai untuk tempat
    tinggal, rumah kebun, cottage, ruang pertemuan, restoran, dan
    vila. "Saya sudah membuat sekitar 200 buah untuk restoran,"
    ujarnya. Kini, Jatnika memiliki 75 pekerja yang dibagi dalam tiga
    shift. Ia bisa mengerjakan rumah ukuran 40 meter persegi dalam
    waktu satu bulan dengan lima pekerja. Ia membuat rumah berukuran
    70 meter persegi dalam dua bulan dengan lima pekerja, dan rumah
    ukuran 100 meter persegi dalam dua bulan dengan 10 tenaga kerja.

    Jatnika menggunakan 100 persen bambu. Namun, ia memakai bambu
    berbeda untuk tiap bagian rumah. Satu rumah ukuran 40 meter
    persegi membutuhkan lima batang bambu betung untuk tiang, 300
    batang bambu tali untuk anyaman, dan 100 batang bambu gombong
    sebagai usuk rumah.

    Harga bambu pun berbeda tiap jenis. Bambu betung ukuran 3 meter
    harganya Rp 70 ribu, bambu gombong berukuran 4 meter harganya Rp
    30 ribu, dan bambu tali harganya Rp 8.000 sebatang. Jatnika
    mendatangkan bahan baku bambu dari Banten Selatan, Pelabuhan Ratu,
    Jampang, dan Jonggol. Ia membeli bahan setengah jadi seperti bilik
    dari Jonggol dan tali ijuk dari Tasikmalaya. "Secara keseluruhan
    untuk satu rumah bambu bisa melibatkan ratusan orang," ucap
    Jatnika. Jatnika yang sudah 20 tahun berbisnis rumah bambu bilang,
    ada beberapa trik dalam menebang bambu. Jangan menebang bambu yang
    masih ada rebungnya karena akan gampang patah. Penebangan
    dilakukan lewat pukul 12.00 karena kandungan airnya sudah
    berkurang. "Kalau basah gampang dimakan rayap," katanya.

    Selanjutnya, bambu didirikan dan dikeringkan hingga dua bulan.
    Setelah itu, bambu diberi obat antihama. Rumah bambu dapat
    bertahan 30 tahun. Tetapi, untuk rumah bambu tradisional, atap
    ijuknya harus diganti setiap 10 tahun sekali.*(ew)*

    Tribun Medan <http://www.tribun-medan.com/>
    *Kompas Gramedia* <http://www.tribunnews.com/>

    *Redaksi, Iklan, dan Sirkulasi:
    Jl Gatot Subroto No 449 D-G, Medan, Sumatera Utara.*
    Email: [email protected] <mailto:[email protected]>
    Facebook Tribun Medan
    <http://www.facebook.com/profile.php?id=100001100231579>, Twitter
    Tribun Medan <http://twitter.com/tribunmedan>

    *Dapatkan artikel ini di URL:*
    http://www.tribunkaltim.com/read/artikel/14557





Kirim email ke