Warta di dieu :
http://old.id.news.yahoo.com/yn/20110222/twl-kata-pakar-bumi-pada-2050-makin-suli-311bf9a.html
nguatkeun deui prediksi yen dunya ka hareup baris teu puguh rupa
alatan sumber alamna dikedukan pikeun nyumponan pangabutuh manusa,
diantarana: sumber daya alam mineral bahan nyieun imah/bangunan,
kayaning pasir kwarsa, batu kapur atawa batugamping, lempung, jst;
lian ti bahan energi (batubara, minyakbumi, jsb).
Lian ti manfaat keur konservasi sumber daya alam mineral, awi keur
nyieun imah oge manfaat pikeun imah anu tahan kana pangoyag-ngoyag
akibat lini (gempa). Imah tina awi, payus (pas pisan) lamun
diramekeun/dibudayakeun di Tatar Sunda anu aya dina jalur gempa
saperti Bandung Kidul, Garut kidul, jeung Tatar Priangan Timur beulah
kidul sejenna. Jalur gempa (mikrozonasi gempa) bisa diteangan datana
ti kantor kuring (Badan Geologi).
Informasi ti Mh di handap ieu nguatkeun gagasan atawa ideu di luhur,
yen imah tina awi bisa jadi solusi pikeun rumah tahan gempa anu baris
manfaat keur ngurangan korban atawa risiko gempa. Panalungtikan ti
bagean gempa di kantor kuring netelakeun yen tina kajadian gempa
Tasikmalaya taun kamari, tetela imah-imah anu dijieun tina awi (boh
sagemblengna atawa sabageanana tina awi) lumayan salamet nepi ka rada
salamet tina runtuh akibat gempa. Jadi, gagasan atawa ideu anu kasebut
di luhur tadi oge sakumaha dina postingan Mh di handap ieu geus
meunang panguat atawa proofing tina hasil obeservasi.
Kukituna, hade kacida upama Pemerintah Jabar oge sakabeh golongan
masyarakat ngayakeun kampanye imah awi (rumah bambu) pikeun imah tahan
gempa, utamana pikeun daerah-daerah jalur gempa di Jawa Barat. Anu
perlu teh kumaha sangkan masyarakat di eta wewengkon ngarasa pede sok
sanajan imahna tina awi. Dina lebah dieu, urusan disain (model
aristektur imah, anu ieu bagean kang Oca oge Mang Jamal) jeung
sosialisasi manfaatna perlu dilakukeun.
baktosna,
manar
2011/2/23 Ki Hasan <[email protected] <mailto:[email protected]>>
Rumah Bambu Tahan Gempa
Jumat, 18 Februari 2011 | 11:00 WIB
Dulu, rumah bambu identik dengan rumah sederhana milik
keluarga-keluarga miskin dan pas-pasan. Namun, kini, banyak orang
memandang rumah bambu sebagai bangunan tradisional dengan nuansa
pedesaan dan ramah lingkungan. Arsitekturnya pun semakin canggih.
Makanya, rumah bambu sekarang tak sekadar berfungsi sebagai rumah
tinggal saja. Tapi juga untuk rumah makan, tempat santai, bahkan
tempat ibadah, seperti dikutip dari Kontan. Salah satu pembuat
rumah bambu adalah Yuyus Sunandar. Ia mendapat ide ini ketika
bencana tsunami menerjang Aceh pada 2004. Dia pun memproduksi
rumah bambu sejak 2005.
Menurut Yunus, rumah bambu bisa jadi alternatif tempat tinggal
yang tahan gempa karena tingkat elastisitasnya tinggi. Selain itu,
"Bahan bakunya mudah dan murah didapat," kata lelaki 28 tahun ini.
Yuyus kemudian mendirikan usaha produksi rumah bambu bernama NG
Bersaudara di Kedawung, Lemahabang, Karawang, Jawa Barat. NG
merupakan singkatan dari Nice Green. Pesanan tak hanya datang dari
Jawa, Yuyus kerap mendapat order dari Bali. Pesanannya mulai dari
saung hingga rumah. Sebulan, tiga sampai lima pesanan datang ke NG
Bersaudara.
Yuyus menetapkan minimal pesanan rumah satu kamar ukuran 30 meter
persegi dengan harga Rp 1,25 juta per meter persegi. Tiap bulan
omzetnya mencapai Rp 112,5 juta. "Prospek usaha rumah bambu bagus
karena permintaan terus bertambah," ungkap dia. Pemesan biasanya
sudah memiliki rancangan sendiri sehingga Yuyus tinggal
membangunnya saja. Tapi, ada juga pemesan yang meminta Yuyus
merancang dan membangunnya. Pesanan juga pernah datang dari luar
negeri. "Ada juga pemesan dari Tahiti. Jadi, rancangan rumah bambu
dan bahan-bahannya kami kirim. Di sana tinggal dipasang," ujarnya.
Yuyus mendapatkan bahan baku bambu dari Garut, Tasikmalaya,
Banten, dan Bali. Jenisnya beragam, mulai dari bambu wulung atau
bambu hitam, bambu tali, dan bambu betung. Harganya bambu
berdiameter 7 centimeter (cm) saat ini Rp 8.000 hingga Rp 10 ribu
per batang. Lalu, harga bambu dengan diameter 15 cm sampai 20 cm
bisa lebih dari Rp 20 ribu per batang. Harga bambu ini menanjak
sejak akhir 2010. "Terakhir harganya Rp 5.000 per batang untuk
bambu berdiameter 7 cm," kata Yuyus. Bambu, ia menjelaskan,
dipakai sebagai tiang dan bahan anyaman untuk dinding dan
langit-langit rumah.
Namun, Yunus tak melulu memakai bambu. Terkadang, ia juga
menggunakan indukan kayu kelapa untuk tiang dan lantai rumah.
Biasanya, dia mendatangkan indukan kayu kelapa dari Sulawesi dan
Lampung. Harganya Rp 1,7 juta sampai Rp 2,75 juta per meter kubik.
"Harga termahal indukan kayu kelapa yang sudah tua, yang usianya
bisa 150 tahun," ucap Yuyus.
Pemain lainnya adalah Undagi Jatnika Nagamiharja di Cibinong,
Bogor. Dia membagi produknya menjadi dua tipe, yaitu rumah
tradisional dan semi permanen. Rumah tradisional memakai bambu
untuk seluruh bagian. Sementara, atapnya terbuat dari ilalang.
Kalau semi permanen, atapnya terbuat dari genteng dengan lantai
keramik, kusen dari kayu, dan kamar mandi terbuat dari dinding.
Jatnika mematok harga rumah tradisional Rp 1,2 juta per meter
persegi dan semi permanen Rp 1,7 juta per meter persegi. Ia
mengerjakan rumah bambu minimal ukuran 40 meter persegi. Dalam
sebulan Jatnika rata-rata mengerjakan dua pesanan. Omzetnya
mencapai Rp 96 juta per bulan.
Rumah bambu, Jatnika menjelaskan, bisa dipakai untuk tempat
tinggal, rumah kebun, cottage, ruang pertemuan, restoran, dan
vila. "Saya sudah membuat sekitar 200 buah untuk restoran,"
ujarnya. Kini, Jatnika memiliki 75 pekerja yang dibagi dalam tiga
shift. Ia bisa mengerjakan rumah ukuran 40 meter persegi dalam
waktu satu bulan dengan lima pekerja. Ia membuat rumah berukuran
70 meter persegi dalam dua bulan dengan lima pekerja, dan rumah
ukuran 100 meter persegi dalam dua bulan dengan 10 tenaga kerja.
Jatnika menggunakan 100 persen bambu. Namun, ia memakai bambu
berbeda untuk tiap bagian rumah. Satu rumah ukuran 40 meter
persegi membutuhkan lima batang bambu betung untuk tiang, 300
batang bambu tali untuk anyaman, dan 100 batang bambu gombong
sebagai usuk rumah.
Harga bambu pun berbeda tiap jenis. Bambu betung ukuran 3 meter
harganya Rp 70 ribu, bambu gombong berukuran 4 meter harganya Rp
30 ribu, dan bambu tali harganya Rp 8.000 sebatang. Jatnika
mendatangkan bahan baku bambu dari Banten Selatan, Pelabuhan Ratu,
Jampang, dan Jonggol. Ia membeli bahan setengah jadi seperti bilik
dari Jonggol dan tali ijuk dari Tasikmalaya. "Secara keseluruhan
untuk satu rumah bambu bisa melibatkan ratusan orang," ucap
Jatnika. Jatnika yang sudah 20 tahun berbisnis rumah bambu bilang,
ada beberapa trik dalam menebang bambu. Jangan menebang bambu yang
masih ada rebungnya karena akan gampang patah. Penebangan
dilakukan lewat pukul 12.00 karena kandungan airnya sudah
berkurang. "Kalau basah gampang dimakan rayap," katanya.
Selanjutnya, bambu didirikan dan dikeringkan hingga dua bulan.
Setelah itu, bambu diberi obat antihama. Rumah bambu dapat
bertahan 30 tahun. Tetapi, untuk rumah bambu tradisional, atap
ijuknya harus diganti setiap 10 tahun sekali.*(ew)*
Tribun Medan <http://www.tribun-medan.com/>
*Kompas Gramedia* <http://www.tribunnews.com/>
*Redaksi, Iklan, dan Sirkulasi:
Jl Gatot Subroto No 449 D-G, Medan, Sumatera Utara.*
Email: [email protected] <mailto:[email protected]>
Facebook Tribun Medan
<http://www.facebook.com/profile.php?id=100001100231579>, Twitter
Tribun Medan <http://twitter.com/tribunmedan>
*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.tribunkaltim.com/read/artikel/14557