aya nu sipatna umum, teu kedah atribusi kitu, tapi langsung sae mun
kitu upami bahasanana has.

nulis naon bae nu resep, ku basa sunda tapi, 5000 huruf. cobi kintun
ka [email protected]

aya rubrik panineungan, lalakon baheula
aya rubrik bujangga manik, ngalalakon ngumbara/nyaba ka hiji wewengkon
nu unik, jsb.
jsb.

dihandap tulisan si kuring nu munggaran dimuat koran. jaman kompas
masih lebar teu siga ayeuna....

rubrik Desain Kompas Minggu

 2 Februari 2003



Hikayat Kursi

oleh Jamaludin Wiartakusumah



BILA dicari, benda apa yang meskipun biasa-biasa saja, tapi begitu
menghebohkan dunia politik di Tanah Air, jawabnya adalah kursi. Hanya
kursi. Bukan yang lain. Di dunia politik, istilah ’berebut kursi’
sering dipakai untuk meramaikan pemilihan umum (pemilu). Istilah itu
bukan harfiah atau perumpamaan, ia benar-benar ’sekadar’ berebut kursi
dalam arti sebenarnya. Kenapa kursi? Karena ia memberi tempat bagi
kegiatan manusia yang sangat khas, duduk. Karena kursi di DPR berarti
seonggok kekuasaan.



Selain oleh manusia, duduk dilakukan oleh hewan berkaki dua seperti
monyet, kera, orangutan, dan gorila. Gara-garanya, ya, karena
sama-sama memiliki sendi lutut dan pinggul serta postur tubuh relatif
vertikal. Di dalam ilmu anatomi, konon ada tulang bernama "tulang
duduk" yang letaknya tentu saja di belulang sekitar (maaf) pantat.



Nasib kursi memang beruntung dibandingkan dengan jenis mebel lain. Ia
memiliki makna simbolis yang paling bergengsi yang tidak dimiliki
mebel lain atau artefak desain lain. "Kedudukan" yang berasal dari
"duduk" berarti kekuasaan. Tak heran bila kursi menjadi simbolnya.
Istilah dalam perang atau zaman kolonialisasi, menduduki, berarti
menguasai, tidak hanya duduk-duduk berjemur di pantai, misalnya.



Kata kursi sendiri berasal dari bahasa Arab, kursiyun. Kata ini
terdapat dalam Al Qur’an. Masyarakat kita bahkan mengenal salah satu
ayat yang diberi nama "Ayat Kursi". Dalam bahasa Arab, arash kurshi,
diartikan (kira-kira) sebagai tempat yang teramat tinggi, agung dan
mulia, lapisan yang di atasnya lagi hanya ada Tuhan.



Kursi dan tradisi duduk



Dahulu kala, duduk dilakukan orang pada obyek yang telah disediakan
alam, seperti permukaan tanah, batu, batang pohon tumbang, dan
sebagainya yang masih dilakukan sekarang di alam terbuka atau di
hutan. Kebiasaan duduk di lantai secara dominan dilakukan di
masyarakat nomaden, dan masyarakat menetap di Asia, termasuk Indonesia
dan penganut agama Islam, karena salah satu kegiatan shalat adalah
duduk di lantai. Tradisi ini melahirkan berbagai alas duduk seperti
tikar, permadani di Timur Tengah, dan tatami di Jepang. Karena
keperluan duduk di lantai, karpet yang sebenarnya sekadar pelapis
permukaan lantai supaya empuk diinjak, di kita menjadi alas lantai
untuk duduk juga. Kebiasaan duduk di lantai umumnya dilakukan pada
masyarakat yang komunal- egaliter yang mengedepankan kebersamaan dan
persamaan. Barangkali peribahasa kita, "berdiri sama tinggi, duduk
sama rendah" berasal dari duduk jenis ini. Bukan dari duduk di kursi
yang memiliki ketinggian yang berbeda sehingga "tidak sama rendah" dan
memiliki nilai individual.



Kebiasaan duduk dengan menggunakan fasilitas lutut dan tulang pinggul
dan (maaf) pantat lalu berkembang. Pada beberapa situs ditemukan batu
dalam bentuk yang diolah yang diketahui sebagai perlengkapan untuk
duduk. Belakangan, pada awal kursi mulai dikenal, manusia
menggunakannya untuk keperluan kekuasaan. Waktu itu hanya mereka yang
memiliki kekuasaan atau kemuliaan saja yang berhak duduk di atas
kursi, raja, ratu, atau penguasa jenis lain. Para penggawa cukup
berdiri atau duduk di lantai. Ini, misalnya, dapat dilihat pada
dinding Candi Borobudur atau piramid di Mesir.



Kursi sebagai media ekspresi



Kursi adalah salah satu dari jenis mebel yang karena memiliki fungsi
khas bagi kegiatan manusia dengan segala simbol yang dilekatkan
padanya, lalu menjadi media ekspresi para arsitek atau desainer untuk
bereksperimen mewujudkan suatu gagasan. Karya-karya mereka membuat
kursi-selain hal lainnya-juga lalu menjadi semacam barometer bagi
perubahan sosial. Zaman biasanya memiliki ciri umum atau semangatnya,
seperti zaman modern yang ditandai dengan kursi karya pelopor
Modernisme yang sekarang menjadi klasik. Kursi Barcelona karya Mies
van de Rohe dan Grand Comfort karya Le Corbusier, Wassily Chair karya
Marcel Breuer, untuk menyebut karya dan nama, menjadi ikon desain
modern kubu Bauhaus-Jerman. Adapun, desain kursi yang dianggap
prototip desain modern adalah kursi Zigzag dan Merah-Biru karya
desainer Belanda, Gerriet Rietveld, yang memvisualisasikan gagasan
estetika de Stijl.



Sementara dari Skandinavia, kursi karya Hans J Wegner, Arne
Jacobsen-keduanya dari Denmark-dan Alvar Aalto dari Finlandia, serta
Bruno Matsson dari Swedia ikut memberi sumbangan besar ke dalam desain
modern dengan warna tersendiri. Dari Amerika, muncul nama George
Nelson, Charles & Ray Eames, dan Harry Bertoia. Desainer mebel
Denmark, Hans J Wegner, dijuluki "Raja Kursi", karena desain kursi
yang dihasilkannya melampaui siapa pun, 500 unit selama 60 tahun
kariernya di dunia desain mebel. Wegner memulai membuat desain kursi
dengan cara mereduksi dari kursi yang ada untuk dibuat lebih
sederhana, baik dari segi bentuk maupun dari segi kuantitas material.
"Desain kursi belum selesai sampai seseorang duduk di atasnya" adalah
ungkapannya yang sangat terkenal yang menunjuk pada fungsi atau
kegunaan sebuah kursi yang bukan apa-apa, hanya untuk duduk.



Setelah lama tidak terdengar di kancah mebel kontemporer, Perancis
muncul melalui karya Philip Starck dengan garis-garis sensual khas
Perancis. Sementara, Italia sudah sejak lama terkenal dengan
desain-desain yang sangat berani, baik dalam segi penggunaan bentuk
dan pemakaian material.



Kursi untuk rumah Indonesia



Meskipun kita tumbuh dalam tradisi mebel berukir yang kuat, kita
bahkan memiliki daerah yang terkenal dengan itu, Jepara, kiranya
tidaklah berlebihan jika kita juga hendaknya melihat besaran rumah
yang ada. Mebel-mebel berukir memerlukan ruangan yang relatif besar.
Selain karena warna kayu jati, mahoni, atau nyatoh yang cenderung tua
akan memberi kesan ruangan gelap, juga karena masalah keleluasaan
visual di dalam ruangan. Mebel yang relatif praktis untuk hunian
dengan ruangan yang relatif kecil sebaiknya mebel dengan desain
praktis, bersih dari ornamen dan untuk kemudahan mobilitas, mebel yang
dapat dibongkar-pasang (knock down).



Salah satu unsur dalam desain adalah nostalgia. Mebel-mebel antik di
pasang di rumah untuk keperluan itu mengingatkan pada sejarah.
Sebaiknya-seperti juga mebel berukir-tempatkan dalam jumlah sedikit
supaya kehadirannya terasa dan dibuat kontras dengan koleksi lainnya.



Dalam desain mebel, ukiran pada permukaannya memiliki makna yang
barangkali seperti pangkat dalam baju tentara: semakin banyak, semakin
tinggi jabatannya, yang dalam desain mebel, barangkali lebih dipahami
sebagai lebih mewah atau semakin mahal. Padahal, belum tentu semakin
indah apalagi -ukiran itu-berfungsi praktis.



Kursi dan kenyamanan



Duduk di kursi memang menyenangkan dibandingkan duduk pada batu atau
kayu seperti dilakukan di hutan. Akan tetapi, masing-masing orang
memiliki daya tahan melakukan duduk. Kursi yang nyaman
sekalipun-umumnya didesain dengan mempertimbangkan ergonomi-akan tetap
membuat pegal badan karena faktor lamanya waktu duduk berpengaruh
terhadap tingkat kenyamanan masing-masing pemakai. Jok di pesawat atau
mobil sedan relatif nyaman, tetapi ketika duduk dari Frankfurt ke
Jakarta atau bermobil dari Jakarta ke Bali, seberapa nyamannya jok
tetap saja membuat badan pegal. Jadi, bukan kursi yang salah, tetapi
Anda duduk terlalu lama!

Jamaludin Wiartakusumah
Pemerhati masalah desain tinggal di Bandung



On 3/7/11, Dudi Herlianto <[email protected]> wrote:
> upami kitu mah, damel we atribusi enggal. misalkeun 'pemerhati politik'
> xixixixi
>
> 2011/3/7 mang jamal <[email protected]>
>
>> kang Maman, umumna nulis di koran, disaluyukeun sareng widang akademik
>> urang. basa legegna mah, atribusi tea. jadi mun hiji dokter nulis soal
>> pulitik, moal dimuat. da widangna soal  kasehatan hehe.
>>
>> On 3/5/11, Maman <[email protected]> wrote:
>> >
>> >
>> > Hayang Diajar Nulis di Koran
>> >
>> >
>> >
>> > Fokus we kana hiji hal, tong loba nulis
>> > berbagai hal, tong loba omong berbagai hal.
>> >
>> >
>> >
>> > Dina kaping 15 Januari 2011 kuring ngilu ”Pelatihan Nasional Menulis
>> > Artikel,  di Kantor Galamedia Bandung”. Kuring
>> > sumanget pisan ngilu eta pelatihan sabab boga cita-cita hayang
>> sakali-kali
>> > bisa
>> > nulis dina media koran. Kaduana kuring oge hayang boga kabisa tulas
>> > tulis
>> > dina
>> > media Korang. Katiluna kataji  oge ku
>> > iklanna pedah nu mere pelatihan teh gegedug anu sapopoe aktif dina koran
>> > Pikiran Rakyat.
>> >
>> >
>> >
>> > Saenggeus diumumkan di Harian Umum Pikiran Rakyat tanggal 29 Desember
>> 2010,
>> > dina poe  Senen  tanggal 3 Januari 2011 kuring buru-buru  daftar jadi
>> > peserta. Hariwang bisi teu
>> > kabagean tempat,  pas daftar  geuningan karek aya 3 urang anu daftar.
>> Dina
>> > poe H na, kuring datang pang isuk-isukna. Nu ngilu  pelatihan kirang
>> > langkung aya kana 40 jalmian.
>> >
>> >
>>
>
>
> --
> d-: dudi herlianto :-q
> paciringan.wordpress.com
> kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk
>


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke