Aya sababaraha artikel perkara Marapu. Toong:

1. Menelaah Marapu, Kepercayaan Masyarakat Adat Sumba
http://melayuonline.com/ind/news/read/8991/menelaah-marapu-kepercayaan-masyarakat-adat-sumba

2.Marapu
http://id.wikipedia.org/wiki/Marapu

3.MARAPU SEBAGAI AGAMA SUKU DI PULAU SUMBA
http://www.facebook.com/topic.php?uid=51442338443&topic=8533


========
MARAPU SEBAGAI AGAMA SUKU DI PULAU SUMBA
Jonathan

Marapu adalah "agama asli" yang masih hidup dan dianut oleh orang Sumba di
Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Adapun yang dimaksud dengan agama Marapu
ialah sistem keyakinan yang berdasarkan kepada pemujaan arwah-arwah leluhur
(ancestor worship). Dalam bahasa Sumba arwah-arwah leluhur disebut Marapu ,
berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”.

Karena itu agama yang mereka anut disebut Marapu pula. Marapu ini banyak
sekali jumlahnya dan ada susunannya secara hirarki yang dibedakan menjadi
dua golongan, yaitu Marapu dan Marapu Ratu. Marapu ialah arwah leluhur yang
didewakan dan dianggap menjadi cikal-bakal dari suatu kabihu (keluarga luas,
clan), sedangkan Marapu Ratu ialah marapu yang dianggap turun dari langit
dan merupakan leluhur dari para marapu lainnya, jadi merupakan marapu yang
mempunyai kedudukan yang tertinggi.

Kehadiran para marapu di dunia nyata diwakili dan dilambangkan dengan
lambang-lambang suci yang berupa perhiasan mas atau perak (ada pula berupa
patung atau guci) yang disebut Tanggu Marapu. Lambang-lambang suci itu
disimpan di Pangiangu Marapu, yaitu di bagian atas dalam menara uma bokulu
(rumah besar, rumah pusat) suatu kabihu. Walaupun mempunyai banyak Marapu
yang sering disebut namanya, dipuja dan dimohon pertolongan, tetapi hal itu
sama sekali tidak menyebabkan pengingkaran terhadap adanya Yang Maha
Pencipta.

Tujuan utama dari upacara pemujaan bukan semata-mata kepada arwah para
leluhur itu sendiri, tetapi kepada Mawulu Tau-Majii Tau (Pencipta dan
Pembuat Manusia), Tuhan Yang Maha Esa. Pengakuan adanya Yang Maha Pencipta
biasanya dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat kiasan, itu pun hanya
dalam upacara-upacara tertentu atau peristiwa-peristiwa penting saja.

Dalam keyakinan Marapu, Yang Maha Pencipta tidak campur tangan dalam urusan
duniawi dan dianggap tidak mungkin diketahui hakekatnya sehingga untuk
menyebut nama-Nya pun dipantangkan. Sedangkan para Marapu itu sendiri
dianggap sebagai media atau perantara untuk menghubungkan manusia dengan
Penciptanya.

Kedudukan dan peran para Marapu itu dimuliakan dan dipercaya sebagai lindi
papakalangu – ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang
menjulurkan, sebagai perantara) antara manusia dengan Tuhannya. Selain
memuja arwah leluhur, bentuk agama yang disebut Marapu ini percaya juga akan
bermacam roh yang ada di alam sekitar tempat tinggal manusia sehingga perlu
pula dipuja, percaya bahwa benda-benda dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya
berjiwa dan berperasaan seperti manusia, dan percaya tentang adanya kekuatan
gaib pada segala hal atau benda yang luar biasa.

Untuk mengadakan hubungan dengan para arwah leluhur dan arwah-arwah lainnya,
orang Sumba melakukan berbagai upacara keagamaan yang dipimpin oleh ratu
(pendeta) dan didasarkan pada suatu kalender adat yang disebut Tanda
Wulangu. Kalender adat itu tidak boleh diubah atau ditiadakan karena telah
ditetapkan berdasarkan nuku-hara (hukum dan tata cara) dari para leluhur.

Bila diubah dianggap akan menimbulkan kemarahan para leluhur dan akan
berakibat buruk pada kehidupan manusia. Dalam kepercayaan agama Marapu, roh
ditempatkan sebagai komponen yang paling utama, karena roh inilah yang harus
kembali kepada Mawulu Tau-Majii Tau. Roh dari orang yang sudah mati akan
menjadi penghuni Parai Marapu (negeri arwah, surga) dan dimuliakan sebagai
Marapu bila semasa hidupnya di dunia memenuhi segala nuku-hara yang telah
ditetapkan oleh para leluhur.

Menurut kepercayaan tersebut ada dua macam roh, yaitu hamangu (jiwa,
semangat) dan ndiawa atau ndewa (roh suci, dewa). Hamangu ialah roh manusia
selama hidupnya yang menjadi inti dan sumber kekuatan dirinya. Berkat
hamangu itulah manusia dapat berpikir, berperasaan dan bertindak. Hamangu
akan bertambah kuat dalam pertumbuhan hidup, dan menjadi lemah ketika
manusia sakit dan tua. Hamangu yang telah meninggalkan tubuh manusia akan
menjadi makhluk halus dengan kepribadian tersendiri dan disebut ndiawa.
Ndiawa ini ada dalam semua makhluk hidup, termasuk binatang dan
tumbuh-tumbuhan, yang kelak menjadi penghuni parai marapu pula.

Hampir seluruh segi-segi kehidupan masyarakat Sumba diliputi oleh rasa
keagamaan. Bisa dikatakan agama Marapu sebagai inti dari kebudayaan mereka,
sebagai sumber nilai-nilai dan pandangan hidup serta mempunyai pengaruh
besar terhadap kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Karena itu tidak
terlalu mudah mereka melepaskan keagamaannya untuk menjadi penganut agama
lain.

Walaupun dalam budaya Sumba tidak dikenal bahasa tulisan, orang Sumba
mempunyai kesusasteraan suci yang hidup dalam ingatan para ahli atau
pemuka-pemuka agama mereka. Kesusasteraan suci ini disebut Lii Ndai atau Lii
Marapu yang diucapkan atau diceriterakan pada upacara-upacara keagamaan
diiringi nyanyian adat. Kesusasteraan suci dianggap bertuah dan dapat
mendatangkan kemakmuran pada warga komunitas dan kesuburan bagi tanaman
serta binatang ternak.

Upacara-upacara keagamaan dan lingkaran hidup yang mereka laksanakan,
terutama upacara kematian, diselenggarakan secara relatif mewah sehingga
memberi kesan pemborosan. Namun bagi orang Sumba, hal tersebut mereka
lakukan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Yang Maha Esa, tanda
hormat dan bakti pada para leluhur, serta menjalin rasa solidaritas
kekerabatan diantara mereka. Pada setiap upacara keagamaan berbagai bentuk
kesenian biasanya ditampilkan pula.

Dapat dikatakan bahwa kesenian merupakan pengiring bagi religi mereka.
Upacara-upacara keagamaan di Sumba selalu dianggap keramat, karena itu
tempat-tempat upacara, saat-saat upacara, benda-benda yang merupakan
alat-alat dalam upacara serta orang-orang yang menjalankan upacara dianggap
keramat pula. Mereka menyembah Mawulu Tau — Majii Tau dengan perantaraan
para marapu yang merupakan media antara manusia dengan Penciptanya.
Setiap kabihu mempunyai marapu sendiri yang dipujanya agar segala doa dan
kehendaknya disampaikan kepada Maha Pencipta. Para marapu itu diupacarakan
dan dipuja di dalam rumah-rumah yang didiami oleh warga suatu kabihu
terutama di rumah yang disebut uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) atau
uma bungguru (rumah persekutuan). Di dalam rumah itulah dilakukan
upacara-upacara keagamaan yang menyangkut kepentingan seluruh warga kabihu,
misalnya upacara kelahiran, perkawinan, kematian, menanam, memungut hasil
dan sebagainya.

Tempat upacara pemujaan kepada para marapu bukan hanya di dalam rumah saja,
tetapi juga di luar rumah, yaitu di katoda, tempat upacara pamujaan di luar
rumah berupa tugu (semacam lingga-yoni) yang dibuat dari sebatang kayu
kunjuru atau kayu kanawa yang pada sisi-sisinya diletakkan batu pipih. Di
atas batu pipih inilah bermacam-macam sesaji, seperti pahapa (sirih pinang),
kawadaku (keratan mas) dan uhu mangejingu (nasi kebuli) diletakkan untuk
dipersembahkan kepada Umbu-Rambu (dewa-dewi) yang berada di tempat itu.

Di dalam suatu paraingu biasanya terdapat pemujaan kepada satu marapu ratu
(maha leluhur). Misalnya, maha leluhur di Umalulu ialah Umbu Endalu dan
dipuja dalam suatu rumah kecil yang tidak dihuni manusia, karena itu rumah
pemujaan tersebut bernama Uma Ndapataungu (rumah yang tak berorang) yang
dalam luluku (bahasa puitis, berbait)disebut sebagai Uma Ndapataungu —
Panongu Ndapakelangu (rumah yang tak berorang dan tangga yang tak berpijak).

Menurut kepercayaan orang Umalulu, Umbu Endalu mendiami rumah tersebut
secara gaib. Secara lahir rumah itu tampak kecil saja, tetapi secara gaib
rumah itu sebenarnya merupakan rumah besar. Mereka menganggap Umbu Endalu
senantiasa berada di dalam rumah tersebut, karena itu tangga untuk naik
turun ke rumah selalu disandarkan. Rumah permujaan Uma Ndapataungu disebut
juga Uma Ruu Kalamaku (rumah daun keIapa) karena atapnya dibuat dari daun
kelapa; dan Uma Lilingu (rumah pemali), karena untuk datang dan membicarakan
rumah tersebut harus menurut adat atau tata cara yang telah ditetapkan oleh
para leluhur pula. Uma Ndapataungu berbentuk uma kamudungu (rumah tak
bermenara) dan menghadap ke arah tundu luku (menurut aliran air sungai,
hilir ) serta terletak di bagian kani padua (pertengahan, pusat) dari
Paraingu Umalulu. Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah
pemujaan itu ialah kayu ndai linga atau ai nitu (cendana) yang digunakan
untuk tiang-tiang (jumlah seluruh tiang dari rumah pemujaan ini ada enam
belas buah tiang), atap dan dinding dari bahan ruu kalamaku (daun kelapa),
tali pengikat dari bahan huaba (selubung mayang kelapa).
Bahan-bahan tersebut harus diambil dari suatu tempat yang bernama Kaali —
Waruwaka dan sekitarnya. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan di Uma
Ndapataungu ialah upacara Pamangu Kawunga yang dilaksanakan empat tahun
sekali, yaitu bertepatan dangan diperbaikinya tempat pemujaan tersebut; dan
upacara Wunda lii hunggu — Lii maraku, yaitu upacara persembahan yang
dilaksanakan setiap delapan tahun sekali.

Menurut pandangan orang Sumba, manusia merupakan bagian dari alam semesta
yang tak terpisahkan. Hidup manusia harus selalu disesuaikan dengan irama
gerak alam semesta dan selalu mengusahakan agar ketertiban hubungan antara
manusia dengan alam tidak berubah. Selain itu manusia harus pula
mengusahakan keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang ada di
setiap bagian alam semesta ini. Bila selalu memelihara hubungan baik atau
kerja sama antara manusia dengan alam, maka keseimbangan dan ketertiban itu
dapat dipertahankan.

Hal tersebut berlaku pula antara manusia yang masih hidup dengan arwah-arwah
dari manusia yang sudah mati. Manusia yang masih hidup mempunyai kewajiban
untuk tetap dapat mengadakan hubungan dengan arwah-arwah leluhurnya. Mereka
beranggapan bahwa para arwah leluhur itu selalu mengawasi dan menghukum
keturunannya yang telah berani melanggar segala nuku — hara sehingga
keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya terganggu.

Untuk memulihkan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh perbuatan manusia
terhadap alam sekitarnya dan mengadakan kontak dengan para arwah leluhurnya,
maka manusia harus melaksanakan berbagai upacara. Saat-saat upacara
dirasakan sebagai saat-saat yang dianggap suci, genting dan penuh dengan
bahaya gaib. Oleh karena itu, saat-saat upacara harus diatur waktunya agar
sejajar dengan irama gerak alam semesta. Pengaturan waktu untuk melakukan
berbagai upacara itu didasarkan pada kalender adat, tanda wulangu. Dalam
jangka waktu kehidupan tiap individu dalam masyarakat Sumba ada saat yang
dianggap genting atau krisis, yaitu saat kelahiran, menginjak dewasa,
perkawinan dan kematian. Pada saat-saat seperti itulah upacara keagamaan
biasanya dilaksanakan.

* Wikipedia => (P. Soeriadiredja).
http://www.facebook.com/topic.php?uid=51442338443&topic=8533

2011/3/14 Jalak Pakuan <[email protected]>

>
>
> Ceuk urang dinya mah marapu mah adat nunjukeun hurmat, cinta ka leluhur,
> ari agama na mah mayoritas katolik, sabagean leutik karesten.
>
> Makarya Mawa Raharja
>
>
>  ------------------------------
> *Dari:* Roza R. Mintaredja <[email protected]>
> *Kepada:* [email protected]
> *Terkirim:* Sen, 14 Maret, 2011 17:37:23
> *Judul:* Re: [kisunda] Budaya - Pasola, Pesta Rakyat Sumba?
>
>
>
> cing Baraya aya anu uninga, kumaha bag baganna agama MARAPU teh?
>
> 2011/3/6 Ki Hasan <[email protected]>
>
>>
>>
>> Cing sugan aya baraya nu kungsi ngaprak ka Sumba, cing dongengkeun
>> pangalamanana.
>>
>>
>>
>> Dipublikasikan pada *Radio Nederland Wereldomroep* (http://www.rnw.nl)
>>
>> ------------------------------
>> Pasola, Pesta Rakyat Sumba
>> Oleh *Alfons Lasedu*
>> Dibuat *2 Maret 2011 14:18*
>>
>>  *Sumba, pulau padang savana dengan kuda-kuda liar menjelajah pulau
>> berbatu warisan leluhur. Hewan unggulan standar mondial itu merambah
>> maraknya perang akbar Pasola, perang melempar lembing kayu sambil memacu
>> kuda.*
>>
>>

Kirim email ke